ALINA
Oleh: adelio riffo putra Ramadhan
“hop!”
Namaku Alina! Aku adalah gadis yang agak aneh, Aku tinggal bersama ayahku yang sangat aku cintai! Yah, aku sangat berbeda dari orang lain. “ALINA! ALINA!” karena aku…
“aku datang ayah!” (suara robekan)
“oh? Itu jatuh lagi…’
Aku terbuat dari kain dan kapas.
“Lagi? Bukankah sudah kubilang pada mu? Kau tidak boleh mengangkat barang berat.” Ujar ayah
“maaf. Tapi, tapi! Aku ingin menunjukkan ini pada mu ayah! Lihat aku menemukan bunga di taman! Indah bukan?”
“ya a-aku tahu. Terimakasih alina”
Aku tinggal di sebuah rumah bersama ayah. Ayah itu sangat baik. Dia menjahit kembali lenganku yang jatuh, membersihkan pakaianku yang kotor karena tanah, dan kami saat malam selalu membaca cerita sebelum tidur bersama! Ayah sangat memperhatikanku. Tapi aku tau. Seseorang yang sangat ayah cintai bukanlah aku, alina si boneka, tetapi putri kandungnya alina. Di suatu hari di dapur wajah ayah menjadi merah setelah minum, dan dia memberitahuku.
“kau tau… aku sudah membuat boneka sejak aku masih kecil. Aku menikah pada usia 27 dan aku memiliki seseorang putri yang manis. Tapi aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Dan tidak pernah melihat apapun yang ada di sekitarku. Dan aku pun dihukum. Ketika putriku berusia 5 tahun, istriku membawanya pergi bersamanya”
“apakah itu membuatmu sedih ayah?” ujar alina
“ya itu membuatku sedih. Dan aku baru tau saat aku kehilangan mereka… aku dan istriku selalu bertengkar, tapi setelah dilihat-lihat dia terlalu baik untukku. Dan aku… aku mencintai putriku alina… bahkan sekarang 30 tahun kemudian, jika aku memiliki kesempatan aku ingin melihatnya sekali lagi…” ujar ayah sambal menangis
“lalu aku memanjakan diriku untuk membuat boneka lagi, untuk mengusir kesedihanku. Dan begitukah cara kau lahir alina! Sungguh keajaiban!”
“Alina adalah anak dari keajaiban!” ujar alina dengan kegirangan
“haha ya kamu adalah boneka ajaib!” ujar ayah
Aku tidak pernah bosan 30 tahun terakhir berkatmu. Ayah selalu tersenyum, tapi sebenarnya, dia sangat sedih…
“ayah! Ayah, ayo kita pergi menemuinya! Alina yang asli!” ujar alina dengan kegirangan
“hah? Apa?” ujar ayah yang terkejut
“apa ayah tidak tau dimana alina yang aslina asli tinggal?” ujar alina dengan polos nya
“bukan, aku punya alamatnya disini….”
“apa itu?”
“ini adalah surat kematian istriku. Aku menerimanya sekitar 2 tahun lalu…”
“Ayo pergi!”
“t-tidak bisa aku tidak bisa melihat putriku lagi”
“kenapa tidak?”
“aku tidak memiliki wajah untuk melihat putriku setelah sekian lama…”
“wajah? Tapi ayah, wajahmu baik-baik saja. Apakah ayah kehilangan beberapa bagian diwajah ayah?” ujar alina dengan polos nya
“haha lupakan saja. Aku mendapatkan semua bagian yang kubutuhkan”
Akan lebih baik jika alina adalah alina yang asli… alina si boneka tidak bisa menandingi alina yang asli. Padahal aku selalu ada disisinya.
“alina ingin membawanya juga!” ujar alina dengan maksa
“ini berat, jadi kau tidak bisa”
“apa aku tidak berguna?” ujar alina dengan wajah yang sedih
“…”
Ayah ketoko bunga
“tolong bunga merah ini satu”
“terimakasih” penjaga toko
“alina! Maukah kau memegang ini untukku?” ujar ayah sambal memberi bunga kepada alina
“wah! Aku mau!!” ujar alina dengan senangnya
“astaga. Apakah gadis itu boneka?” ujar pejaga took bunga
“ya” ujar ayah
“apakah aku terlihat menakutkan?” ujar alina dengan wajah yang sedih
“haha tidak. Belakangan ini jarang terlihat., tapi… di negara ini dahulu kala, salah satu kreasi pengrajin akan memiliki jiwa, jika dia menciptakan nya dengan sangat hati-hati. Anda pasti senang karena diciptakan oleh pengrajin yang hebat nona!”
“Ya!!! Ayah itu luar biasa! Dia selalu memperbaiku, memelukku, dia hangat seperti matahari, dia baik, dia kuat, dan, DAN! Dan janggutnya!” ujar alina dengan sangat bersemangat
“hahaha, ya aku tahu aku tahu!” ujar penjaga took bunga
Setengah tahun kemudian…”
*uhuk uhuk!* suara batuk
Ayah tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.
“ayah ini makananmu!”
“terim- Uhuk Uhuk. Terimakasih alina… alina. Ambil ini…” ujar ayah dengan suara yang sangat lemah
“apa ini?” ujar alina dengan bingung
“ini adalah surat, bwa ini ke toko… *uhuk uhuk* bunga…”
“berikan ini ke bibi penjual bunga?”
“ya”
“wah ini pertama kalinya aku mengirim surat!”
“ dam satu lagi… a.. alina… ini untuk putriku tercinta” saat itu ayah menghembuskan nafas terakhirnya
“ayah… ayah?”
Sejak hari itu ayah berhenti bergerak. Dan saat alina tertidur. Alina bermimpi…
“alina, alina!”
“ayah!”
“aku sangat… ingin bertemu dengan mu amy!” ayah sambal memeluk alina yang asli
Alina pun terbangun dari mimpi nya
“hah! Ayah…” muka alina pun berkaca-kaca
*ini untuk putriku tercinta…*
“aku harus mengantarkannya… Aku harus mengantarkan!”
Keesokan harinya, untuk pertama kalinya, aku meninggalkan rumah sendirian.
“oke, ayo pergi! Tunggu sebentar, ayah! Aku pasti akan mengantarkan suratmu! Untuk alina yang asli, yang ingin ayah lihat sejak lama!”
Hari ke-1 aku memberikan surat itu kepada bibi penjual bunga. Dia membaca surat itu dengan lama, lalu mengelus kepalaku. Hari ke-3 ini pertama kalinya aku pergi sejauh ini! Hari ke-7 pakaianku berlumuran lumpur. Tetapi surat itu tidak basah! Hari ke-14 mantel ku jadi berantakan. Padahal ayah memberikan mantel ini pada hari ulang tahunku, dan aku menyukai mantel ini… hari ke-18 aku kehilangan sepatu kanan ku. Tubuh ku mulai kaku dan berat. Hari ke-27 aku terjatuh dan seorang wanita yang baik hati menolongku. Dia membawaku ke kota terdekat. Hari ke-32 lengan kananku terlepas. Ayah tidak disini unutuk memperbaiku lagi. Syukurlah bukan kaki ku yang terlepas… aku masih bisa melanjutkan perjalan… hari ke-37 aku akhirnya menemukan rumah alina yang asli.
“aku harus memberinya surat ini…! Aku ingin memberitahunya betapa ayah mencintainya…!”
*ding dong* alina mempencet tombol bel rumah alina yang asli
*pintu dibuka*
“hai! Apakah anda alina yang asli?
“asli? Hmm, ya aku alina. Kamu siapa?”
“um, ini! Surat ini dari ayah mu alina!”
“apa? Aku tidak mempunyai ayah. Jika anda ingin membuat lelucon silahkan pergi.”
*BOM!!! Pintu di tutup dengan kencang
*ding dong ding dong*
“…”
“surat ini penting!. Ini dari ayah!”
“PERGILAH!”
Alina si boneka pun sedih dan perlahan pergi dari rumah alina yang asli. Alina si boneka pun merenung sambal melihat surat yang gagal yang ia berikan kepada alina yang asli.
“ayah…” alina menangis
Kemudian angin berhembus dan menerbangkan kertas yang di pegang alina.
“ah! Tunggu! Tidakkk! TIDAKKK!!!! Uh…” alina meliha suratnya basah
“Aku selalu saja merepotkan ayah, tidak peduli bagaimana pun aku terlihat. Aku tidak bisa menggantikan alina yang dicintai ayah, tapi meskipun begitu, ayah tetap mencintaiku, alina yang palsu. Jadi setidaknya, paling tidak aku ingin memberikan surat ini padanya…! Surat ayah… semuanya berantakan sekarang…” alina si boneka pun menangis dengan terseduh-seduh sambil melihat surat yang dititipkan oleh ayahnya. Isi suratnya…
“untuk alina, pada saat kau membaca surat ini. Mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini. Melihat kembali aku telah menghabiskan 40 tahun terakhir memikirkanmu. Kau adalah cahaya bagi hidupku. Ketika aku mencapai titik terendah ku. Alina. Kau adalah anak manis dan baik hati, kau suka membuat masalah, tapi. Setiap saat waktu yang kuhabiskan denganmu selalu menyenangkan. Aku minta maaf karena aku hanya bisa memberimu tubuh yang tidak nyaman. Setiap kali aku melihat foto putriku, aku berharap agar bisa membuatmu menjadi manusia sejati. Aku selalu berdoa agar kau selalu hidup bahagia bahkan setelah aku tiada. Aku mencintaimu, putriku yang lain, alina.”
“mmf… alina… alina…”
ALINA DICINTAI OLEH AYAHNYA!!!
“mmf… Waaaaaaaaaaaa!” alina menangis dengan kencang
Alina pun melanjutkan perjalanan tanpa arah. Hari ke-37 tubuhku akhirnya berhenti bergerak. Malam itu tubuhku yang dingin bermimpi. Itu adalah mimpi yang hangat, mimpi yang bahagia. Mimpi dimana ayah memperbaiki lenganku seperti biasa. Suatu hari alina terbangun disebuah rumah yang tidak dia ketahui.
“Nn… Mn…” alina yang terbangun
“oh kau sudah bangun? Kau tau? Au hampir dibakar dengan api di tempat sampah”
“dimana ini?” ujar alina sambil kebingunan.
“ini adalah rumahku” ujar bibi penjual toko bunga
“bibi?”
“sebelumya ayahmu memintaku untuk menjagamu jika sesuatu terjadi padanya. Mulai sekarang kau bisa tinggal disini. Dari dulu aku ingin mempunyai rumah yang gaduh!” ujar bibi penjual bunga
Sejak hari itu, bibi penjual bunga mengajariku banyak hal. Dia memberitahuku kalau ayah sekarang berada di tempat yang disebut dengan surge, meskipun aku tidak dapat melihatnya lagi, tetapu hati kami terhubung. Dan, bagaimana menulis surat untuk orang yang kamu cintai. Untuk ayah di surga aku bahagia hari ini. Dari alina.
Cinta yang dia terima dari ayahnya. Emosinya yang dirasakan. Semuanya nyata!