Hari sudah sore, tetapi matahari masih bersinar terik di atas sana. Memang sudah tidak sepanas tadi siang, tapi tetap terasa hangat. Beberapa orang terlihat berbincang, sangat menyenangkan hingga mengabaikan sekitarnya. Beberapa lagi duduk dan berkutat dengan gadgetnya, menyumpal telinga dengan earphone, tanpa tahu di sekitar mereka tumbuh suasana hangat.
Gaura senang menghabiskan waktunya di taman kota. Seperti hari ini, setelah kelas siangnya berakhir, bukannya pulang ke rumah, Gaura malah duduk di taman kota. Asyik memperhatikan anak-anak yang sedang berlarian dan tertawa riang.
Dulu Gaura pernah ada di posisi mereka. Bermain dengan riang gembira, tanpa tahu jika hidupnya tidak baik-baik saja.
Gaura masih ingin duduk di sana. Diam memandangi keramaian yang terasa hangat lebih lama lagi. Tapi jarum jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 17.15 pm. Sudah seharusnya Gaura pulang ke rumah. Meski pulang bukanlah hal yang Gaura inginkan.
Ada beberapa hal yang ingin Gaura tanyakan. Mengapa rumah itu diciptakan? Mengapa rumah itu tidak sehangat kata itu sendiri? Mengapa rumah itu terasa sangat menyiksa, membuat Gaura merasa sesak tiap kali berada di dalamnya? Apa memang rumah itu diciptakan untuk membuat Gaura tersiksa?
Jika iya, siapa yang harus Gaura salahkan? Tuhan kah? Papa nya kah? Mama nya kah? Atau semuanya?
Mengapa mereka gemar sekali membuat Gaura menangis di pojok kamarnya?
Gaura meraih tote bag nya, kemudian berjalan perlahan meninggalkan taman kota.
"Gaura, hai! Ngapain di sini?"
Gaura menatap lelaki di hadapannya. Itu Qillon, satu-satunya teman di kampusnya yang selalu ada di saat Gaura mencapai titik lelahnya.
"Main,"
"Sendirian?"
"Iya,"
"Mau gue temenin? Mumpung gue gak ada acara abis ini," Qillon menawarkan.
Gaura menggeleng tegas. Qillon tidak perlu melakukan itu.
"Gue udah mau pulang kok,"
"Yaudah gue anterin lo pulang,"
"Gak perlu Qil, gue bisa sendiri,"
"Kali ini aja Ra, terima niat baik hue oke? Besok-besok lo boleh nolak ajakan gue kayak biasanya. Tapi kali ini jangan ya?" Qillon menatap lekat mata Gaura.
"Lo tau sendiri kan Qil, kalau fans lo itu brutal? Gue gak mau jadi sasaran tindak kekerasan mereka."
"Ada gue Ra. Mau ya?"
Akhirnya Gaura mengangguk. Mengiyakan keinginan Qillon.
"Pesan gue satu Qil, nanti lo langsung pulang, jangan jawab satu pertanyaan pun yang lo denger nanti,"
"Iya iya, Ra, lo tenang aja,"
Qillon memberhentikan motornya di depan gerbang rumah Gaura. Tapi sebelum Gaura membuka gerbangnya, seseorang keluar dari sana.
Qillo sadar jika raut wajah Gaura berubah. Ada ketegangan yang sangat jelas di sana. Sebenarnya siapa pria paruh baya itu?
"Baru pulang Ra?"
"Iya Pa,"
"Cepat masuk."
Itu perintah. Gaura sangat tahu itu. Maka dengan segera Gaura masuk ke dalam, tanpa menoleh sedikit pun pada Qillon. Bahkan Gaura tidak mengucapkan terimakasih pada temannya itu.
"Teman Gaura?"
Qillon tidak ingin menjawab seperti permintaan Gaura. Tetapi Qillon merasa bersalah jika mengabaikan seseorang yang lebih tua dari nya.
"Iya Om,"
Wajah Papa Gaura melunak. Ada kelegaan terpancar dari wajahnya.
"Saya titip Gaura ya, pastikan dia tidak bersedih," Qillon bingung. Mengapa Papa Gaura berkata seperti itu?
"Iya Om," maka Qillon hanya bisa mengiyakan. Lagi pula sejak awal Qillon merasa perlu menjaga Gaura dengan sepenuh hatinya.
"Saya pikir Gaura tidak memiliki teman, tapi ternyata dugaan saya salah. Saya senang mengetahuinya." ada senyum yang tersungging di wajah Papa Gaura.
Sebenarnya ada apa dengan Papa Gaura?
"Papa tidak jadi pergi?" seorang wanita paruh baya keluar dari gerbang rumah.
"Sebentar lagi, sedang mengobrol dengan teman Gaura."
"Oh teman Gaura ya?" ada binar di kedua mata wanita paruh baya itu. Mungkin beliau Mama Gaura.
"Tante titip Gaura ya, kalau dia rewel ajak saja makan es krim," senyum di wajah kedua orangtua Gaura semakin mengembang. Dan semakin bingung pula Qillon dengan kondisi keluarga Gaura.
Sejak awal Qillon memang menebak keluarga Gaura tidak seperti keluarga lainnya. Hal itu bisa Qillon lihat dari ucapan Gaura sebelum ini, juga dari gelagat aneh Gaura setiap kali Qillon menawarinya untuk berangkat dan pulang bersama.
Dan esok harinya, ketika Qillon berinisiatif menjemput Gaura, gadis itu sudah rapi dengan highwaist jeans dan kemeja kuning nya yang membuatnya terlihat bersinar.
Qillon sering memperhatikan Gaura diam-diam. Apapun yang Gaura pakai selalu cocok. Membuatnya enak dilihat, tidak mengganggu pemandangan.
"Ra,"
"Kenapa Qil?"
"Jadi pacar gue mau?"
"Hah gimana?"
"Jadi pacar gue Ra, mau ya?"
"Gak jelas Qil. Berangkat aja yuk keburu telat, ada kuis habis ini,"
"Jawab dulu Ra."
"Nanti. Gue jawab nanti. Sekarang kita berangkat dulu."
"Oke, janji ya,"
"Iya janji,"
"Kelingkingnya mana?" mereka pun menautkan jari kelingking mereka.
Mereka sudah sampai di kampus. Sekarang mereka berjalan menuju kelas, karena kebetulan mereka ada kelas yang sama.
"Ra, kalau ada masalah jangan dipendam sendiri ya, keluarin aja semuanya. Kalau lo butuh sandaran, bahu gue selalu siap jadi sandaran lo."
"Kenapa ngomong gitu?"
"Gak papa, pengen aja,"
"Apaan sih Qil,"
Qillon tersenyum melihat Gaura tersenyum tipis. Semangatnya semakin membara untuk membuat Gaura bahagia mulai hari ini.
"Jadi jawaban lo gimana?" Qillon menagih janji Gaura.
"Emangnya lo suka sama gue?"
"Iya. Bisa dibilang, gue suka sama lo sejak ospek,"
"Kok bisa?"
"Lo lucu. Gue inget waktu itu lo mau nendang bola, tapi malah sepatu lo yang kelempar. Terus lo kalau lari rambutnya jungkit-jungkit, lucu Ra,"
"Ih itu kan aib Qil!"
"Iya, tapi lucu Ra, rasanya gue pengen masukin lo ke karung terus gue kenalin sama Bunda sama Ayah,"
"Biar apa?"
"Biar dibolehin nikah,"
"Heh."
"Jadi gimana Gaura? Lo mau jadi pacar gue?" Qillon menghentikan langkahnya, menatap Gaura yang terlihat sangat cantik.
"Iya, tapi sebelum itu lo harus tau satu hal Qil,"
"Apa Ra?"
"Keluarga gue gak baik-baik aja. Gue sendirian. Orangtua gue lengkap, tapi gue ngerasa gak punya orangtua. Mereka sibuk sama dunia mereka sendiri. Dan mereka menutup gue dari sana."
"Gimana pun itu, lo harus yakin satu hal Ra. Mereka tetap sayang sama lo. Mereka tetap mikirin lo kapan pun itu. Gue jamin itu."
"Tapi Qil—"
"Ssstt, udah ya sayang, berhenti berpikiran yang gak baik. Itu cuma nambah beban pikiran kamu,"
Wajah Gaura memerah. Ia tidak pernah menyadari jika Qillon sangat tampan. Pantas saja banyak yang mengidolakan Qillon. Gaura jadi merasa ia tidak pantas untuk Qillon.
"Ayo ke kelas. Atau mau bolos aja?"
"Ke kelas Qil."
Besok-besok, Gaura akan mengerti apa yang menyebabkan Orangtuanya mengabaikannya. Besok-besok Gaura akan memahami, sejauh mana Orangtuanya menyayanginya. Besok-besok Gaura akan tahu, jika Qillon adalah titipan Tuhan yang paling berharga untuknya.
—The End—
1039 kata:)
iya tau kok ini pendek. but it's okay karena aku menyelesaikan ini dalam waktu 1 jam. Di saat aku lagi gak ada ide apa-apa, I think it's good.
So, jangan lupa komen dan bantu ramaikan ya teman teman🌷
Jangan lupa juga baca cerita aku yang lain🫶