Matahari yang menyinari wajahku dan wajahnya, mata yang sipit sangat ingin melihat cahaya matahari tangan yang melindungi kelopak mata agar tidak tekena paparan. Dua jiwa yang sedang mencari bunga hatinya entah dimana itu.
Dua jiwa itu yang sedang mencari satu sama lain kini sedang berada di lapangan hijau yang tidak terlalu luas, murid-murid berlari-lari kecil untuk mengambil barisan nya,tidak lama barisan pun mulai tertata rapi, murid-murid yang siap untuk mengikuti upacara dipagi hari.
Aku melangkah sedikit demi sedikit,"aaww" aku kaget ada seseorang yang menabrakku entah itu siapa aku tidak tahu,aku menolehkan kepala dan menunjukkan wajah ku kepadanya,"maaf-maaf aku tidak sengaja apa kau tidak apa-apa" kalimat yang begitu sopan terdengar ditelingaku bahkan gendang telingaku pun seperti menyambut nada suara itu dengan lembut dan indah.
Bukan hanya suara yang sopan tetapi wajahnya yang manis, bulu mata lentik yang rapi seperti sudah disisir terlebih dahulu,dan hidung yang mancung seperti sahrukan,tetapi aku tidak ingin melihat wajahnya begitu lama aku seketika menundukan pandangan ku dari wajahnya " ti-ti-tidak apa-apa" aku menunuduk lalu lari dari hadapannya,aku sempat bertanya kepada diriku mengapa aku gugup dihadapannya padahal aku tidak pernah segugup ini.
Suara yang ramai bersorak sana sini terdengar begitu riweh dengan makanan-makanan yang lezat dan minuman-minuman segar. Aku berjalan pelan ingin mecari makanan, kepala ku yang terus toleh menoleh melihat makanan lezat. "Rio sini" aku mendengar nama yang mengguncangkan hati ku "iyaaa sebentar" suara yang pernah ku dengar itu seperti suara orang yang menabrak ku kala itu, aku menoleh ke belakang aku melihat ia sedang membeli roti bakar,roti bakar dengan selai coklat dan sedikit gosong bau yang semerbak memasuki hidung ku rasa ku tiba-tiba ingin membeli roti itu,aku mengunjungi warung roti itu.
"Buu beli rotinya 1 rasa coklat keju" kataku yang sangat kelaparan,"iya nduk ditunggu ya" aku melihat sekilas wajahnya hati ku seperti baru saja tumbuh benih aku tidak tau itu benih apa, aku sedikit melihat dari pandangan sebelah mataku seperti ada yang melihat ku seketika aku langsung melihat dari samping ternyata itu Rio. Aku mulai geer pada saat itu tidak tahu kenapa jantung ku ini jadi berdebar lebih cepat.
Di kursi panjang berwarna coklat tua Rio menduduki kursi itu "bagaimana iz kamu sudah mendapatkan ide untuk perpisahan angkatan kita tahun ini" kata Rio yang bertanya kepada Faiz "nahh untung kamu bertanya yo, jadi untuk panggung nya akan dihiasi bunga-bunga dan diatas langit-langit nya akan diberi lampu kecil dan untuk belakang nya akan ditempelkan spanduk angakatan kita untuk kursi sudah siap tinggal dipasangkan sarung kursi" faiz menjelaskan kepada Rio untuk perpisahan angkatan mereka.
Perpisahan angkatan SMA Nusa bangsa kelas XXIII pun telah tiba,di perumahan kecil terdapat jendela kamar yang terbuka dan tepat ada matahari yang terbit yang memantulkan sinarnya kekamar berwarna ungu,gaun dan hijab sudah dikenakan pada wanita cantik gaun yang dihiasi pernak pernik seperti mutiara yang baru diambil dikerang yang indah gaun yang berwarna coklat biru tua dan ditambah kan dengan hijab yang menutupi helaian demi helaian rambut,"Masyaalloh tidak ku sangka akan seindah ini" kataku yang takjub atas Rahmat yang Allah berikan kepadaku, aku berlalari dengan hati yang riang ingin mecari sepatu,aku melihat sepasang sepatu yang indah berwarna biru dihiasi dengan manik-manik mungil yang lucu dan aku sandingkan penampilan ku dengan tas yang diberikan oelh ibu ku.
Aku barlari tidak sabar sangat ingin mengunjungi acara perpisahan itu,setelah aku sampai aku masuk aku kaget ada Rio di depan pintu bersama dengan teman nya Rio yang memakai baju yang serasi dengan Jaz bitu tua dan dadi hitam,Rio menatapku tetapi aku tidak ingin melihatnya aku jadi grogi kalau melihat dia entah mengapa rasa itu masih menghantui ku. Aku pun melihat kursi yang sudah tersusun rapi, aku mendengar suara yang sedang memanggil ku "Zahra Zahra Zahra" yaa itu nama ku Zahra althafun nissa aku yang diberikan pada nenekku menoleh kebelakang itu adalah teman dekat ku siffatul Khusna aku langsung berlari dengan senyuman indahku.
Acara pun dimulai pembukaan dari kepala sekolah pun tiba, aku terharu karena sudah bisa sekolah disekolah impian ku yaitu Nusa bangsa,air mata ku menetes membasahi pipi ku yang sudah dihiasi bedak aku diberi selembar tisu untuk mengelap pipiku,nama ku pun di sebut aku maju dengan wajah yang bangga,sepatuku menghentukkan tangga panggung dan menaiki tangga satu per satu ketika aku bersaliman pada guru yang bearada diatas panggung aku mendengar mc acara menyebut nama yang tidak asing di kepala ku "Muhammad Rio Al Furqon" jantung ku yang terus berdebar kencang, dengan sigap aku pergi menuruni tangga.
Acara pun selesai, aku berpelukan dengan temanku dan menumpah kan setetes air mata yang terus ingin menetes, bersalim dan bersalaman dengan guru ketika aku sendang ingin pamit kepada salah satu guru,guru itu memanggil salah satu murid nya "Riooo" Rio datang mengahampiri guru itu "iya ada apa Bu" kata yang sederhana membuat telingaku ingin terus mendengar nya "ayo nak foto dulu sebentar kalian berdua disamping ibu yaa" aku dan Rio saling bertatapan itu kali pertama kita betatapan cukup lama
"Baik Bu" aku kaget aku mengucapkan kalimat sama dan serentak bersama,setelah beberapa foto di ambil ibu guru itu seketika bertanya kepada kita berdua "ingin kuliah dimana nak" lagi dan lagi serentak aku menjawab jawaban yang sama "Cairo Bu" tangan ku yang mulai berkeringat dingin jantung ku yang berdebar kencang rasa ku ingin pergi dari tempat itu "Masyaallah jawaban yang serentak semoga kalian bisa kuliah bareng disana ya" ucap guru itu yang memberi ku semangat "terimakasih banyak Bu".
Beberapa minggu kemudian,aku sedang duduk di sofa empuk pemberian dari ayah ku dan membaca buku, aku mendengar ketokan pintu "tok-tok-tok" aku bersigap untuk cepat-cepat mengambil hijab. Ketika aku menuruni tangga aku merasa akan ada yang seseorang yang menempatkan hatiku aku berjalan pelan menuju ruang tamu aku melihat seorang laki-laki yang berpakaian rapi dan sorban yang menutupi kepalanya dan wanita yang mamakain hijab panjang"ayo nak ini ada tamu" ibu memanggilku untuk cepat duduk bersamanya "iya Bu" aku segera duduk disamping ibu. Aku kaget melihat Rio yang duduk di depan ku ia tiba tiba berbicara soal perasaan "maaf Zahra aku sudah lama menaruh perasaan kepada mu dari kita kelas 1 SMA aku sudah mulai menyimpan rasa ku tapi aku hanya diam dan tidak mengakui nya apakah kamu ingin menerima lamaran ku dan pergi ke cairo bersamaku" aku seketika lupa caranya bergerak dan berbicara aku berusaha untuk berbicara "a-a-a-apa be-bettul yang kamu katakan apa ini hanya sekedar perjodohan saja?" aku menjawab dengan takut dan ragu "tidak Zahra aku betul-betul ingin serius kepada mu" aku langsung merasa aku yakin kepada Rio aku langsung menjawab "aku menerima lamaran mu" ia begitu bahagia ketika mendengar jawabanku ibu ku dan ibu nya langsung mengurus semua pernikahan ku dan setelah menikah aku dan Rio pergi bersama ke Cairo untuk kuliah bersama.