Dia adalah gadis desa yang ayu nan lembut. Bapaknya hanya seorang petani dan ibunya seorang dukun anak. Hidup sederhana namun bahagia, itulah yang dirasakan oleh Ayu ningsih parawati. Nama ayu, yang sama dengan wajah ayunya. Walaupun bukan orang kota, tapi kulitnya putih bersih, tinggi badan yang tidak terlalu tinggi dan pipi chuby.
Ayu, bisa dibilang kembang desa. Parasnya yang ayu tak membuatnya sombong, ia tetap rendah hati. Sifat itu lah yang membuat dirinya banyak teman. Bagaimana tidak? sudah cantik dan tetap baik. Kurang apa coba??. Ayu juga tergolong gadis cerdas di desanya. Banyak pada pria memuja, bahkan ada yang dengan lantang melamar dirinya. Tapi, itu semua ia tolak.
Ia masih belum ingin menjalin hubungan, itulah alasan yang ia gunakan saat para pria melamarnya. Entahlah, Ayu merasa jika dirinya memang belum bisa menjalin suatu hubungan. Hingga, desa itu didatangi para pemuda pemudi KKN.
Ayu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pemuda itu, pemuda kota dengan paras menawan. Tubuh gagah dan lesung pipi yang menambah kadar ketampanannya. Ayu merasakan sebuah cinta, debaran yang belum pernah ia rasakan. Pria itu adalah cinta pertamanya.
Ayu mulai mendekati pria itu, dan ternyata pria itu bernama Awan Praditya. Ia memanggilnya kak Awan. Awan adalah pemuda kota yang berparas tampan, banyak para gadis tergila gila padanya, bahkan ada yang rela menjadi pemuas nafsunya saja. Ya, Awan adalah seorang playboy kelas kakap. Rayuan maut adalah andalannya.
Saat melihat gadis desa Cantik, membuat jiwa playboy nya bangkit. Apalagi setelah ia tahu, gadis itu jatuh cinta padanya. Gadis berparas cantik, lugu dan sangat polos. Sepertinya kehidupan desa membuat dirinya tumbuh menjadi gadis polos. Awan mencoba mendekatinya, dan ternyata mudah saja. Ia menjalin hubungan dengan gadis polos itu.
Hingga suatu malam,
" Kak Awan kita kenapa harus masuk hutan?? " tanya Ayu lugu.
" Sssttt, diamlah sayang.. apakah kamu mau menjadi pacar sungguhan ku?? " tanya Awan. Ia telah membuat rencana besar, digelapnya hutan dia sudah menyiapkan semuanya.
" apakah selama ini kita bukan pacar sungguhan?? " tanya Ayu bingung.
" Kita pacar sungguhan. Apakah kamu mencintai ku ayu?? "
" Sangat!! Aku sangat mencintai mu kak. "
" Baik, kamu harus menuruti semua kata kata ku oke. " senyum Awan, senyum dengan kedua lesung pipi itu menambah kesan imut dan ganteng. Ayu hanya menganggukkan kepala tanda setuju.
Ditengah hutan yang sepi itu, tepatnya dibawah pohon beringin besar. Awan melakukan hal yang seharusnya dilakukan saat sudah menikah, ia mengambil mahkota berharga gadis polos itu. Ayu hanya menangis, badanya lemas, Awan memaksanya melakukan hal kotor itu. Dirinya menyesal, dia memang polos, tapi dia juga tahu apa yang dilakukan Awan padanya adalah hal yang zina, dosa besar.
Awan terus menyiksa Ayu, bahkan Ayu sudah terkapar tak berdaya dia masih melanjutkan hal tidak baik itu. Tangisan ayu mulai mereda, tubuhnya lemas tak berdaya. Rasa kantuk menyerang, dia tertidur. Di tidur pulasnya Ayu, Awan mencoba menghilangkan bukti. Dia tidak ingin menikah dengan gadis desa. Ia membunuh Ayu di tidur lelapnya. Ayu sempat sadar, ia melihat sendiri tangan Awan yang memegang pisau dan
Cappppp
Ahhh
Ayu tewas di tempat, saat nyawanya masih di ujung sekat leher dia berbicara " Tunggu aku... " dan setelah itu Ayu benar benar tewas. Awan tersenyum puas, dengan begini dirinya bebas. Andai saja ini kota, dirinya sudah mengurung Ayu di hotel dan membuat manipulasi kebohongan. Karena ini desa, dan adat istiadat yang terlalu kolot menurut Awan membuat dirinya terpaksa membunuh Ayu, toh ia juga sudah menikmati tubuh gadis perawan itu.
***
Setelah beberapa bulan,
Awan kembali ke kota, masa KKN sudah usai. Warga desa masih berduka, kembang desanya mati dengan keadaan menggenaskan. Ya, Awan membuat kejadian itu seolah olah Ayu di serang babi hutan. Dan bodohnya, semua tak ada yang menyadarinya. Ia juga membuat drama, dirinya ikut terpukul, seolah olah menangis padahal di hatinya biasa saja.
Di rumah Awan,
Dia merebahkan tubuh lelah nya di kasur empuk miliknya. Awan tinggal sebatang kara, dirinya hanya seorang anak panti asuhan yang mencoba bangkit dari sisi kelam dunia. Awan memanfaatkan wajah tampannya sebagai pengumpulan pundi pundi rupiah. Malam malam di lalui Awan dengan tenang.
Hingga, pada hari ke- 100 kematian Ayu, dia mulai merasakan hawa di rumahnya sedikit aneh. Dari lampu yang mati sendiri, TV yang kadang menyala sendiri dan suara tangisan. Ia mulai takut, banyak dugaan yang berkeliaran di benaknya " Apakah Ayu balas dendam?? " gumam Awan pada dirinya sendiri " Tidak mungkin!!! dia sudah mati!! " elak Awan.
Dan hari ini adalah hari persis kematian Ayu yang ke-100. Dan tepat malam ini, dimana malam dirinya mengambil mahkota gadis itu, terbayang dengan jelas wajah melas Ayu. Tapi, Awan tetap menepisnya.
ting tong..
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Awan mulai tidur. Di tidur singkatnya, dia mulai mendengar suara tangisan memohon, tangisan itu seperti familiar. Dan ya, tangisan itu tangisan Ayu. Selimut yang melekat di tubuhnya ditarik paksa kebawah, dengan takut takut kepo. Awan mengikuti arah gerak selimut itu, dan tepat di bawah ranjangnya, ada pocong kecil dengan wajah menyeramkan tidur. " Deg deg deg" jantung Awan tak terkendali.
Ia segera bangkit dari kamar itu, dia berlari keluar. Namun, secara tiba tiba Tv menyala, membunyikan volume dengan nada keras. Ketakutan itu semakin meraja lela, keringat dingin sudah bercucuran. Awan masih terus berusaha keluar dari rumahnya.
Klik..
Gelap, ruangan itu gelap. Lampu mati secara tiba tiba. Awan semakin takut " TOLONG!!!! " Teriak Awan. Tapi naas teriakan itu bagaikan angin sunyi yang tidak akan pernah di dengar orang di luar. Teriakan Awan semakin menggelegar di ruangan gelap itu. Dia sudah berjongkok dengan celana yang sudah basah kuyup.
Volume Tv itu semakin keras, kompor dapur tiba tiba menyala dan seketika mati. Suara gemericik air dari dalam kamar mandi terdengar jelas. Matanya menjelajah ruangan gelap itu, hatinya sudah kalut. Suara memohon Ayu terdengar jelas. " Aku mohon Ayu!!! Maafkan aku huhuhuuuu" isak tangis Awan pecah.
sekarang dia tahu, Ayu balas dendam padanya. Hatinya kalut, semua sudah terlambat. Dengan secepat kilat lampu para ruangan itu menyala, dan secepat itu pula Awan melihat wajah pucat Ayu. Jantungnya berdegup semakin keras. Wajah Ayu memang masih cantik, tapi itu terlalu pucat. Mata sedunya sekarang penuh dengan, kakinya sudah melayang di udara. " Ayu aku mohon maafkan aku!!! " mohon Awan.
" TIDAKKKK!!!! aku butuh pendamping untuk melangkah bersama anakmu!!! " Seru Ayu. Ayu bagaikan hantu cantik kesepian, wajah polosnya tersirat luka dan benci.
" aa-pa makk-sud mu ayu?? " tanya Awan tersedat sedat. Jantung nya bertambah berpacu cepat. Kakinya benar benar lemas. Ia sangat takut.
" ini anak kita. " suara lembut yang menakutkan, gelak tawa jahat memenuhi ruangan itu. Pocong kecil itu anaknya, bagaimana bisa??
Dan dengan sekali ayunan, kuku runcing Ayu mengenai jantung Awan. Dan seketika itu pula Awan menghembuskan nafas terakhir. Arawah dari tubuhnya langsung keluar. Saat itulah Ayu membawa nyawa Awan pergi ke dunia yang seharusnya bersama pocong kecil itu. Meninggalkan jasad Awan yang menggenaskan.
Tamat.
Hai hai 🤗
Terima kasih yang sudah mampir baca 😊
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa 😘
#Salam hangat😉
#AuthorAmatir😌
Dan, jangan lupa Baca karya Author yang sama - sama cerpen berjudul " Jelmaan Peri. "
Mampir juga ke karya novel Author yang berjudul " Lake of love ( end) & " Permainan takdir (on-going)
Di setiap baca karya author jangan lupa jejaknya ya 😘🤗
# Author masih belajar, mohon saranya 😍
Terima kasih!!