Berlari terengah engah, mereka masih mengejar Ciara. Sekelompok pembunuh mengincar kepala Ciara dan mereka membawa senjata tajam disakunya. Ciara berlari Tampa melihat arah pada malam itu, ia hampir putus asa dengan keadaannya.
"Ayah...ibu, kembalikan aku kerumah" gumam Ciara sambil menahan tangisnya
Ketika hampir berhasil melewati gang sepi itu, tiba tiba ada satu orang pembunuh yang berhasil menghadangnya didepan. Ia ingin berbalik, namun sepertinya Ciara sudah terkepung
"Sepertinya ini memang sudah ajal mu nak," ujar salah satu pembunuh itu
Ia memukul Ciara sampai terjatuh ke bawah, lalu menarik rambut Ciara dan langsung mengarahkan pisau kelehernya
"Itu makanya kamu jangan sok ikut urusan orang dewasa." kata pembunuh itu yang tersenyum sinis
Ciara tengelam dalam lamunannya, berfikir antara hidup dan mati dia benar benar sudah putus asa
"Selamat tinggal..."
Dor..! Suara tembakan yang bergema
Ia terkapar, pembunuh tadi tertembak dikepalanya.
"Waduh, kalian terlalu sadis sama perempuan ya... Itu ngak baik, lihat gadis itu ketakutan," ucap sesosok laki laki yang mengenakan jaket hitam
Ia membuka masker kelinci miliknya dan langsung tersenyum kearah Ciara,
Ciara tertegun melihat laki laki itu segera ia menyadari orang yang melihatnya itu,
"Mora!" ucap Ciara kaget
"Ya ini aku, kelinci kecil." balas Mora
Pembunuh yang tersisa langsung menikam kearah Ciara, namun ia menghindar kebelakang dan berlindung di sebuah tumpukan.
Mora yang melihat itu langsung mengeluarkan senapannya yang kedua dan menembak dengan brutal
Dor! Dor! Dor!
Seketika pembunuh itu tewas ditempat, tak bergerak sedikitpun bahkan tak bernafas. Mora segera menyimpan senapannya dan menghampiri Ciara,
Ia melihat Ciara berlindung dengan ketakutan dan menangis kecil. Segera Mora menarik tangan Ciara dan langsung merangkulnya pergi dari tempat itu.
Dan benar saja, banyak petugas yang langsung mengepung tempat itu setelah mereka pergi.
Mereka berhenti disebuah tangga yang mengarah ke lorong bawah tanah. Setelah masuk ke lorong itu, terlihat pintu bar yang terkunci rapat.
Mora langsung mengetuk pintu bar sambil berkata, "kami membawa yang kau mau Roger"
Klek, pintu itu terbuka dan terlihat banyak orang didalamnya yang sedang bersenang-senang
Mereka berdua masuk dan duduk menghampiri meja layanan, Mora meletakkan tas besar diatas meja. Seseorang yang terlihat seperti bos membuka tas itu Dangan tenang, ia adalah Roger yang dimaksud mora
Bau bususk menyebar seisi bar, diperlihatkannya kepada semua pengunjung di bar isi tas itu.
Isinya sebuah kepala, kepala pria berusia 40 tahun yang matanya sudah keluar begitu pun dengan wajahnya yang hancur.
Orang yang didalam bar berteriak kesenangan melihat kepala itu. Ya, ternyata itu adalah kepala dari pemerintah yang memimpin pasar gelap secara diam diam.
Segera roger memberikan imbalan pada mereka berdua, sebuah amplop yang berisi segepok uang. Merasa puas dengan hasil kerja mereka, roger ingin memberi mereka tawaran baru
"Sungguh disayangkan cuma sampai disini pertemuan kita ya," ucapnya
"Huft, ada apa? Kau masih ingin kami berkunjung ya," jawab Mora
"Kamu ternyata tahu betul maksudku Mora akazi" gumam roger
"Baiklah, siapa lagi" balas Mora
"Ini, seorang siswa yang memiliki kepribadian anti sosial. Dia sebelumnya telah membunuh salah satu siswi dikelasnya, yang siswi itu sendiri adalah keluarga dari anggota kami Jadi..." Gumam roger
"Bawa dia hidup hidup kesini" lanjut orang itu
"Hmm...baiklah, selama bayaranya dua kali lipat aku sih Fine fine aja" sahut Mora
"Tak masalah." Jawab orang itu
Meraka berdua pun pergi dari sana dan kembali ke markas mereka. Sebuah taman bermain tua yang usang merupakan tempat persembunyian mereka
Mora meminta Ciara bekerja sama dengannya lagi, sebagai imbalan Mora akan terus melindungi Ciara. Tampa pikir panjang Ciara langsung menyetujui perkataan Mora
"Benarkah, kamu mau kulindungin terus ya...lucu sekali" ungkap Mora
"Bukan apa apa, aku memang pada dasarnya udah lemah" balas Ciara
"Makanya kamu pengen Deket Deket sama aku yaaa," usil Mora
"Kamu berlebihan kalau mikir gitu, tapi tetap aja yang tadi itu makasih banyak" ujar Ciara
"Tentu, tapi ngak ada salahnya aku mikir gitu kah hehe" kata Mora
"Terserah deh." jawab Ciara
Mereka langsung tertidur lelap pada malam itu, sebelum perjalan lainnya mereka lakukan diesok hari
Sebelumnya, sedikit Kilas balik tentang kisah mereka berdua
Ciara, dia adalah orang anak dari pengusaha kaya raya di kota berybell. Sebuah kota biru yang dipusat kotanya terdapat lonceng bell besar yang megah. Awalnya Ciara dan keluarganya baik baik saja.
sampai akhirnya datang seseorang yang tak diundang. Orang tua Ciara mengasuh seorang anak dari panti asuhan yang seangkatan Ciara, seorang anak yang benar benar penurut.
Namun itu tak berlangsung lama, saat mereka berumur 12 tahun, shery(anak asuh orang tua Ciara),menjadi penggerutu dan terhasut oleh hawa nafsunya.
Alhasil ia dengan teganya menelantarkan Ciara saat mereka pindah kota. Ia sengaja membuat Ciara tersesat dan hilang di tempat asing.
Sampai sekarang Ciara masih mencari jalan pulang dengan cara apapun, salah satunya bekerja sama dengan Mora untuk bisa meninggalkan kota ini
Disisi lain, Mora adalah anak yang tak memiliki orang tua, ia dibuang. Ia tak memiliki apapun dan akhirnya memilih menjadi kaki tangan Roger yang telah melatihnya sedari kecil.
Berdiri diatas ambang kematiannya, namun ia masih hidup dan bertahan di dunia karena bantuan Roger, dan dari sana dia benar benar patuh, Tampa sadar ia sudah seperti kelinci percobaan Roger
Keesokan paginya mereka bergegas menyelinap sebagai siswa di sekolah itu. Dibantu oleh komplotan Roger untuk membuat surat surat palsu dan berakhir di kelas yang sama dengan target.
"Baiklah anak anak, kalian kedatangan teman baru" ucap guru yang mempersilahkan mereka berdua masuk
"Halo, namaku kira dan ini simi" ucap Ciara yang memalsukan identitasnya
"Kami senang bisa bertemu dengan kalian, dan semoga bisa cepat akrap." lanjut Ciara
Mereka berdua pun langsung duduk di bangku kosong yang sudah disiapkan sebelumnya. Ya, tepat disebelah target
Krik! Bunyi bell istirahat, mereka melihat target diam tak berkutik
*Siapa lagi* batin Mora
Ciara dengan tak sengaja menjatuhkan penghapusnya kedekat target, ia lalu bergerak mengambil penghapusnya
Ia berusaha mencari informasi yang mungkin terlewatkan, namun tak ada yang terjadi. Ketika Ciara kembali berdiri, target itu membuka mulutnya yang kering
"Namamu kira kan," ucap target
"...Ya" sahut Ciara dengan pelan, jantungnya berdetak kencang karena gugup, sementara itu Mora terus mengawasi secara diam diam
"Namaku riy, senang bertemu dengan mu," ucap riy yang mengulurkan tangannya
Ciara makin ketakutan dan meraih tangan riy dengan perlahan, "ya..." Sahutnya
"Tanganmu dingin, apa kau ketakutan?" Ucap riy yang mengintrogasi
"Aapa..." takut Ciara
"Ah, maaf dia emang gitu agak pemalu jadi gugup ketemu orang baru," ucap Mora yang tiba tiba menghampiri mereka. Mora langsung melepaskan tangan riy dari Ciara
Sontak wajah riy menjadi redup, ia seperti tak senang dengan kehadiran Mora, disisi lain Mora yang membawa Ciara kembali duduk lalu segera menasehatinya,
"Apa yang kamu pikirin, itu bisa bahaya kau tau" ucap Mora
"Maaf, aku akan lebih hati hati." sahut Ciara yang lega
Karena tak mendapat apapun pada hari ini, mereka kembali merencanakan hal lain diesok hari. Mereka berbincang di atap sekolah namun belum selesai bicara mereka melihat riy menyeret seseorang ke belakang sekolah. Mereka melihatnya dengan jelas, dimana riy menguburkan jenazah itu
Ciara tak bisa melihat itu, iya berlutut dan tak berhenti gemetaran melihat yang dilakukan riy
Mora yang menyadari keadaan Ciara segera menenangkannya,
"Hentikan itu, jangan memikirkannya lagi. Kau tak akan mengalaminya Ciara! Aku janji itu tak akan pernah terjadi padamu, apapun caranya" ucap Mora
seperti Lima tahun lalu saat pertama kali mereka bertemu dan menjadi rekan.
Dari atas tiba tiba mereka mendengar suara dentuman keras, dan teriakan teriakan di lantai bawah
Mereka kembali kekelas, namun semua sudah usai. Seisi kelas malah menjadi banjir darah, apa yang dilakukan riy malah tertimpa pada mereka. Riy ternyata menaruh dendam yang besar seisi sekolah,
Selantai sekolah tercecer bensin, lalu datang riy dari arah yang berlawanan. Riy melihat mereka datang dan segera tersenyum sambil memegang korek api ditangan nya.
"Tak usah saniwara, kakak..." ucapnya
Mora tertegun mendengar perkataan riy,
"Kau tak mengginggatku? Ini aku...key," lanjutnya
Masa lalu masuk kelamunannya, Mora menggingat key adiknya. Yang dulunya terpisahkan saat mereka dijual belikan oleh orang orang.
"Key..." gumam Mora
"Iya..ini aku..." ujar key yang basah karena bensin dan lalu berjalan perlahan kearah Mora sambil mengeluarkan korek api dari sakunya
Ciara yang melihat itu segera menyadarkan Mora, namun Mora tak berkutik. Ia tenggelam didalam lamunannya,
Ciara menghalangi Key yang mendekati Mora, namun key menendangnya sampai tehantam keras ke dinding
"Kakak...akan ikut bersamaku kan..." gumam key yang membakar tubuhnya,
"Tidak! Hentikan!" Teriak Ciara
"Mora! Mora!" kata Ciara
Fussh, key membakar tubuhnya dan lalu dengan cepat memeluk Mora, tak hanya itu dia mendorong Mora kejendela.
"Crack!" Kaca itu pecah dan mereka berdua jatuh dari lantai lima dengan keadaan terbakar
Keadaan menjadi lamban, Ciara melihat Mora jatuh dengan tatapan kosong. Baru kali ini dia melihat sisi kelam Mora,
Namun tiba tiba kakinya tergerak, ia ikut melompat dan menyusul mereka berdua. Dengan segera Ciara menendang key yang tengah memeluk Mora, key terlepas dan Ciara meraih tubuh Mora.
Ia melihat celah dimana ada jendela
di lantai dua. Lalu dengan sekuat tenaga ia mendorong Mora masuk ke ruangan itu,
"Bertahanlah," ucap ciara
Mora terhempas dan masuk dengan selamat keruangan itu
"Mora!" Teriaknya
Terdengar suara Ciara dibenak Mora, ia perlahan melihat sebuah cahaya. Dengan sekejap ia tersadar, segera melihat kearah jendela
Keadaan menjadi lamban...ia melihat Ciara sudah terkapar tak bernyawa dilantai paling bawah, dengan berlumuran banyak darah.
Tubuhnya tertusuk rasa takut, ia tak percaya dengan yang terjadi. Tangannya gemetaran dan matanya menetes,
"Ciaraaa!" Teriak Mora dengan keras penuh penyesalan
Latar belakang menjadi kelam, Roger menutup rekaman itu. Ia menyeruput kopinya dimeja sambil tertawa puas,
"Kerja yang bagus anak ku! HAHAHAHA, ini adalah pertunjukan terindah sepanjang tahun" tawanya terbahak bahak
"Kini kau bisa menjadi lebih kuat Mora, aku sudah menyingkirkan bebanmu, satu orang pengecut dan pembunuh tak berguna." ucap Roger yang tertawa puas
Di pemakaman kedua orang itu, Mora termenung sejenak lalu ia menghitung,
"38..." hitungan terakhirnya
"Sudah 38 orang banyaknya..." gumam Mora
"Yang kau bunuh, ayah bajingan" ucapnya
Latar kembali redup, dan kisah ini telah usai sejenak