Halaman luas itu ditumbuhi rerumputan hijau dan beberapa macam bunga dari suku Asteraceae yang sengaja ditanam pada tempat-tempat tertentu, mengelilingi sebuah bangunan rumah Joglo yang cukup besar. Kemudian ada sebuah pohon Foxtail Palm pada salah satu sudutnya. Dan didekat pintu pagar kayu jati yang dicat glossy ada sebuah pohon mangga berdaun lebat.
Lalu gazebo bergaya jepara berukir rumit itu berada tepat di sisi kiri pintu pagar. Berdiri kokoh dengan atap genteng keramik berwarna merah bata, mengkilat dibawah cahaya matahari. Tepat di belakangnya ada sebuah kolam ikan yang cukup luas dan hanya dihuni beberapa pasang ikan koi warna-warni.
Tengah hari yang panas, langit biru bersih tidak bersaput awan. Angin bertiup membawa udara lembab yang membuat tubuh tidak nyaman. Untuk sebagian orang, berdiam diri dalam rumah dengan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berada diluar, meski sekedar duduk diteras rumah sambil menikmati sapuan angin yang sama sekali tidak sejuk dan malah membuat gerah.
Summer, gadis kecil itu duduk sendiri di pintu gazebo yang teduh. Ia melamun menatap langit biru yang menggantung tinggi diatasnya. Sedangkan tangan mungil miliknya mendekap erat boneka beruang dipangkuannya. Udara panas yang sangat lembab sama sekali tidak mengganggunya. Buktinya, kipas angin yang sengaja diletakkan dalam gazebo agar bisa digunakan saat ia kepanasan tidak dihidupkan.
Boneka beruangnya bernama Ai, itu nama pemberian dari ibunya. Dalam bahasa mandarin dan bahasa jepang Ai berarti cinta. Summer yang cerdas masih ingat dengan jelas kata-kata ibunya satu tahun yang lalu, saat hari ulang tahunnya yang kelima.
Sembari mengelus kepala bonekanya, Summer berkata, tepatnya ia bergumam “Ai, kenapa mama belum juga datang menjemput kita. Aku sangat merindukannya.”
Tentu saja Ai tidak menjawab, ia hanyalah boneka beruang, benda mati, yang mendengar saja mungkin tidak mampu, lalu bagaimana ia mau menjawab, Ai ini memang tidak bisa bicara bukan karena ia bisu, ia memang tidak diciptakan sebagai makhluk hidup. Namun pemiliknya ini selalu saja mengajaknya bicara, seolah ia bisa mendengar.
Li Xia yang sedari tadi hanya memerhatikannya dari teras rumah, akhirnya memutuskan untuk mendekatinya.
“Summer, makan dulu.” ia duduk disamping gadis itu dengan nampan kecil dipangkuannya.
Sejak kemarin malam perut kecil gadis itu sama sekali belum terisi makanan apa pun barang sesuap. Li Xia benar-benar khawatir dengan kesehatannya. Sejak satu bulan lalu, Summer menjadi susah makan, sekarang tubuh yang dulunya berisi dan segar itu semakin kurus seiring bergantinya hari. Bahkan iris biru miliknya yang sejernih air laut itu semakin kuyu. Gadis kecil yang duduk disampingnya ini sungguh menyedihkan.
Bukannya Li Xia tidak tahu apa yang membuat gadis kecil itu enggan makan. Namun ia memilih untuk tidak mengungkitnya. Lebih baik diam daripada membuat kesalahan baru yang akhirnya hanya akan membuat gadis kecil itu semakin menderita.
Li Xia kembali membujuk gadis itu. “Sayang, lihat ini. A yi sudah masak sup jamur kesukaan kamu. Kamu makan, ya.”
Gadis kecil itu menggeleng lemah, lalu berkata dengan pelan “Aku akan makan jika mama sudah datang, A yi.”
Li Xia hanya mampu tersenyum kecut begitu mendengar jawaban gadis itu. Ia memandang sedih wajah imut yang penuh harap itu. Li Xia mengingat kejadian dua bulan lalu, saat ia tidak sengaja bertemu dengan Tiffani, ibu kandung Summer. Dan calon suami sahabatnya itu, di Virginia.
Entah seperti apa nasib Summer jika Li Xia tidak menabrak mobil ayah tiri gadis itu. Meski mereka berdua berencana membuangnya di panti asuhan bukan di jalanan. Li Xia yakin, keadaan gadis itu pastinya lebih buruk dari sekarang.
Walaupun Summer masih kecil dan belum tahu banyak hal, ia pasti akan sangat terpukul jika ditinggal begitu saja di pantai asuhan. Namun bersamanya, setidaknya gadis kecil itu mendapatkan perhatian penuh. Ia tidak perlu berbagi dengan anak-anak lain di panti asuhan sana, dan ia tidak akan merasa dibuang oleh ibunya sendiri.
Ia sungguh tidak menyangka jika Ethan, mantan tunangannya itu bisa sangat kejam pada gadis kecil seperti Summer. Dan lebih gila lagi, ibu gadis kecil itu. Demi menikahi seorang bajingan kaya raya dari keluarga Malory, ia sampai rela membuang darah dagingnya sendiri.
Li Xia mengelus pelan rambut sebahu milik Summer yang dikuncir kuda, dengan penuh kasih. Selayaknya ia adalah ibu dari gadis kecil itu.
“Sayang, kamu harus makan. Kalau kamu tidak makan nanti mama sedih.” Li Xia melirik gadis itu, “Summer tidak mau bukan, kalau mama Summer sedih.” sambungnya dengan suara lembut. Sejauh ini gadis kecil itu mau makan setelah mendengar kebohongan bodohnya itu, meski hanya beberapa suap.
Dalam hati Li Xia kembali tersenyum kecut dengan apa yang baru ia katakan pada Summer. Sampai hari ini entah sudah berapa kali ia membohongi gadis itu. Benar, sejak awal Li Xia sudah menipunya. Membawanya pulang dengan alasan yang sebenarnya tidak pernah ada, sebuah alasan yang ia karang begitu saja tanpa memikirkan akibatnya dikemudian hari.
Melihat Summer yang setia menunggu ibunya datang menjemput, tidak hanya membuatnya sedih ia juga merasa marah. Bahkan terkadang Li Xia menjadi kembali menyalahkan tuhan, ia menganggap tuhan begitu tidak adil dan kejam. Bagaimana mungkin seorang gadis kecil seperti Summer harus menderita, dimana ia membaca pun belum lancar. Bukankah tuhan itu Maha Kuasa, lalu kenapa tuhan tidak membuat hidup gadis kecil itu mudah. Kenapa ia harus dibuat sengsara.
Sebenarnya Li Xia bisa saja nekad, berkata jujur pada gadis kecil itu, jika ibunya tidak akan datang, ia sudah membuang Summer demi menikah dengan pria kaya. Namun ia kembali mengingatkan dirinya sendiri jika Summer pasti akan sangat terluka, karena Li Xia juga pernah mengalaminya.
“A yi,” panggil gadis itu dengan suara lirih.
Li Xia bergeming.
“A yi,” panggilnya sekali lagi, tangannya yang mungil menyentuh pelan punggung tangan milik Li Xia.
Li Xia mengerjab kaget. Ia lalu menelengkan kepala, menatap mata biru laut milik gadis itu “Ya, Sayang. Ada apa?” kata Li Xia kepada Summer dengan senyum lembut dibibirnya.
Summer menatap Li Xia cukup lama. Ada sedikit keraguan dimata gadis itu, namun akhirnya ia membuka suara dengan canggung “Li Xia A yi, would you please to call my mom. I miss her and i want to hear her voice.”
Untuk sesaat Li Xia menatap wajah Summer yang penuh harap. Wajah yang memohon. Kemudian Li Xia tersenyum lembut ketika akhirnya ia menjawab dengan kikuk. “Em... kita saat ini berada di negara yang berbeda dengan mama kamu, dan jaraknya sangat jauh. Jadi sangat tidak mungkin kita bisa menghubunginya dengan telepon atau apa pun.”
Lagi-lagi sebuah kebohongan yang terlalu tidak masuk akal. Li Xia merasa dirinya sangat bodoh, ia benar-benar malu pada dirinya sendiri. Kenapa ia selalu tidak bisa membuat alasan yang benar.
Setidaknya sedikit masuk akal. Bagaimana jika ternyata Summer telah mengetahui banyak hal, walaupun gadis kecil itu belum lancar membaca, namun bagaimana jika ia sudah mendengar banyak informasi. Bukankah ia sendiri bisa melihat jika Summer cerdas.
Li Xia rasanya ingin memukul kepalanya sendiri dengan martil atau mungkin menumbukkan kepalanya pada patung banteng yang ada di kota kelahirannya. Mungkin saja setelah kepalanya pecah ia bisa menjadi sedikit pintar.
Summer perlahan menunduk sedih. Sungguh, bukan jawaban itu yang ia ingin dengar.
Seharusnya, satu bulan yang lalu ibunya sudah datang menjemput. Summer yakin dirinya tidak salah menghitung, selama ini ia selalu mendapatkan nilai sempurna dalam pelajaran hitung menghitung dan berhasil membuat iri beberapa temannya. Jadi ia tidak akan meragukan hasil perhitungannya. Tetapi kenapa mama belum juga datang, pertanyaan itulah yang selama sebulan ini memenuhi kepalanya.
Sejujurnya, gadis kecil itu sudah mulai menduga-duga. Namun tidak satu pun dugaannya yang ingin ia percayai. Karena semua dugaan itu terdengar sangat menakutkan untuknya. Seperti sebuah firasat buruk, sangat buruk.
Dalam hati, gadis kecil itu kembali menghitung berapa hari yang sudah ia lewati di rumah Li Xia. Sembari menggerakkan sepuluh jarinya secara bergantian.
Enam puluh empat, Summer menatap keempat jari kirinya yang ditekuk kedalam, menyisakan jempolnya yang berdiri tegak.
Berarti sudah dua bulan lebih ia tinggal di rumah Li Xia. namun kenapa ibunya tidak kunjung datang. Summer masih mengingat dengan jelas, janji ibunya saat melepasnya di bandara. Satu bulan, hanya satu bulan saja. Mama akan menjemput kamu, Sayang.”
“Sekarang sudah lewat dari dua bulan.” ucapnya dengan pilu. Suaranya lirih, namun bisa ditangkap dengan jelas oleh Li Xia yang duduk disebelahnya.
Namun wanita itu hanya diam, seolah ia tidak mendengarnya. Karena sesungguhnya ia benar-benar tidak tahu dengan apa yang harus ia katakan. Li Xia merasa dirinya serba salah.
Pikiran gadis kecil itu berkelana semakin jauh. Kemudian mempertemukannya dengan kekhawatiran yang selama satu bulan terakhir ini menghantuinya.
Sungguh Summer tidak bisa berhenti mencemasakan tentang nasibnya sendiri. Ia takut jika ibunya tidak akan pernah datang, dan janji itu hanya omong kosong. Summer sangat mencintai ibunya, ia menginginkan berada disamping wanita itu, selamaya, dimanapun berada, dan bagaimanapun keadaan mereka. Meski Li Xia teramat baik dan peduli padanya, sampai bisa dikatakan hampir menandingi ibunya sendiri. Summer tetap memilih ibunya.
Wanita berparas cantik yang memiliki senyum malaikat itu, dimata Summer adalah seorang dewi. Li Xia bagaikan peri Tinker Bell dalam film animasi Walt Disney yang sering ditontonnya setiap akhir pekan bersama pengasuhnya. Namun sekali lagi, dimata Summer ibunya lah yang terbaik, dan sangat berharga untuknya.
Summer merasa dadanya teramat sesak, seakan udara tengah ditarik paksa dari paru-parunya. Ia meneteskan air mata.
Akhirnya gadis kecil itu menangis juga setelah berhari-hari ia menjaga air matanya agar tidak tumpah.
***
“Selamat pagi, Ma.” Summer mengecup lembut pipi wanita yang tengah meletakkan segelas susu diatas meja.
“Pagi, Sayang.” wanita itu menoleh dan menatapnya sejenak dengan senyum lembut dibibirnya. Kemudian ia kembali sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Summer menarik kursi di depannya lalu meletakkan tas punggung dan sebuah frame berukuran cukup besar disana.
”Ma,”
“Ya, Sayang.” wanita itu sudah melepas apronnya dan sekarang ia berjalan menuju meja makan.
“Jeng, jeng....” Summer mengangkat frame itu dan menunjukannya dengan senyum lebar.
Li Xia menatap lukisan wajahnya yang ditunjukan gadis remaja dihadapannya itu dalam diam. Daripada membuatnya kagum lukisan itu lebih membuatnya teringat akan seseorang dimasa lalu.
Lukisan itu memiliki sapuan kuas yang halus, namun tetap terlihat.
Komposisinya terbuka dengan akurasi pencahayaan yang tegas. Mengingatkan pada impression, Soleil Levant karya Claude Monet. Namun lebih mengingatkannya pada James Kertia.
“Bagaimana, Ma. Ini karyaku bagus tidak.”
Pertanyaan yang dilontarkan Summer itu menyadarkannya dari lamunan sesaatnya. “Bagus, bagus sekali.”
Li Xia mencuramkan alisnya, ia tidak yakin jika Summer yang melukisnya sendiri. “Tapi, benar itu karya kamu.” tanyanya hati-hati.
Selama ini Summer tidak pernah menunjukkan bakat apa pun padanya. Jadi pertanyaan itu wajar saja ia lontarkan. Bukannya Li Xia meremehkannya, barang sekali saja ia tidak pernah meremehkan gadis itu. Ia sangat menyanyangi Summer, namun ia tidak akan mengatakan kebohongan lagi demi membuat gadis itu senang, meski hanya sebuah kebohongan kecil. Karena Li Xia sudah kapok berbohong. Ia juga sudah berjanji untuk tidak pernah membohongi Summer lagi.
“Of course, this work is original of Summer.” ucapnya dengan sedikit kesal. Tapi Li Xia tahu jika itu hanya sebuah kekesalan yang dibuat-buat. Bertahun-tahun hidup bersama membuatnya paham dengan sikap gadis itu.
“And this is special aku buat untuk ulang tahun mamaku yang tercantik. But mamaku malah tidak percaya jika anaknya yang imut ini bisa melukis seindah karya Claude Monet. Oh, poor Summer.”
Summer mengakhiri ucapannya yang panjang itu dengan mimik wajah dibuat sesedih mungkin. Membuat Li Xia mendesah lelah dan geleng-geleng kepala dengan kelakuan gadis remaja yang sudah lima tahun ini memanggilnya mama.
“Happy Birthday, my mom.” Summer mengucapkannya dengan suara lucu dan ekspresi wajah yang ia buat seimut mungkin.
“Terimakasih, Sayang.”
Li Xia tersenyum lembut, dan menerima lukisan itu.
*
“By the way, sejak kapan kamu melukis. Mama tidak pernah melihat kamu melakukannya.”
Saat ini, keduanya tengah menikmati sarapan mereka. Li Xia menatap Summer yang tengah sibut memotong telur goreng miliknya.
“Sudah lama, emm... kira-kira sudah setengah tahun lebih.” jawab Summer dengan santai.
“Tapi selama ini kamu tidak pernah meminta alat lukis pada mama.”
“Oh... itu aku mendapatkannya gratis dari... “ seperti teringat akan sesuatu Summer tidak melanjutkan kalimatnya.
“Dari siapa?”
“Dari seseorang.”
“Seseorang siapa?” Li Xia meletakkan sendok ditangannya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Seingatnya baru kali ini Summer memberinya jawaban yang sedikit berbelit. Membuatnya mau tidak mau mencurigai gadis itu. Jujur saja ia jadi mulai kesal. Sepertinya Summer menyembunyikan sesuatu darinya. Entah apa itu, Li Xia ingin tahu. Kenapa? Ia tidak tahu. Hanya ingin tahu saja, mungkin.
“Teman,”
“Teman?” Li Xia mengerutkan dahinya, ia semakin curiga. Seharusnya gadis itu mengatakannya sejak awal. Mungkin ia akan langsung percaya.
“Iya,”
Ketika Li Xia hendak mencari kebenaran pada manik biru laut itu, datanglah Pak Karto, tukang kebunnya. Pria paruh baya yang gemar memakai kaos putih bertuliskan Jogja Istimewa itu menghampirinya dengan langkah tergopoh.
“Maaf mengganggu, Bu Li Xia.”
“Ya... ada apa, Pak.” Li Xia menatap pria paruh baya bertubuh kurus dan berkulit sawo matang itu dengan tatapan datar.
“Di luar ada suami istri bule ingin bertemu panjenengan.”
Li Xia mencuramkan alisnya, “Siapa?”
“Mboten ngertos, Bu.”
“Sepertinya belum pernah kesini.” tambah Pak Karto.
“Ya sudah, suruh masuk saja.”
“Baik, Bu.”
*
Summer berjalan mengekor dibelakang Li Xia, mereka melintasi ruang tamu yang cukup luas menuju teras rumah, dimana pasangan orang asing itu tengah menunggunya.
“Li Xia,”
Wanita itu memakai dress panjang hingga sebatas mata kaki. Rambutnya bergelombang, dibiarkan tergerai dan berwarna cokelat terang. Wajahnya cantik, ia berdiri menjulang dihadapannya, kali ini tanpa sepatu berhak 10 cm.
“Tiffani.” suaranya hampir tidak terdengar.
“Ma, aku beranagkat sekarang.” Summer lalu mencium pipi Li Xia dan melangkah begitu saja, seakan Tiffani tidak ada disana.
“Summer,” Tiffani mencekal lengan gadis remaja itu untuk menghentikan langkahnya.
Summer tidak menatap Tiffani saat ia menoleh, tapi lengannya yang wanita itu pegang. “Tolong lepaskan tangan saya.” barulah kemudian ia menatap Tiffani sejenak.
“Ini mama, Sayang.” Tiffani memandang Summer dengan penuh harap, lalu ia melanjutkan ucapannya. “Kamu masih ingat mama, bukan?”
“Tentu saja aku ingat.” gadis remaja itu meliriknya dengan seulas sunyum tipis disudut bibirnya. “Bagaimana mungkin aku melupakan ibu yang telah membuangku.” sambungnya tajam.
****
Glosarium:
A yi: Bibi (bahasa Mandarin)
Panjenengan : Anda
Mboten ngertos : Tidak tahu