Di malam yang dingin sebuah mobil melaju melewati jalanan hutan yang sepi dan sunyi. Mobil itu berisikan sepasang suami istri dan buah hati mereka yang berusia lima tahun. Tiba-tiba sebuah rusa menyembul dari balik pepohonan dan berlari menyebrang jalan. Sontak sang pengemudi mobil membanting stir ke kiri, berusaha menghindari hewan tersebut. Namun naasnya mobil itu malah menabrak sebuah pohon besar yang ada di tepi jalan.
Sang mentari menyapa pagi hari dengan senyumnya yang sangat mengagumkan hati. Senyumnya memancarkan cahaya, masuk kedalam sebuah bilik bernuansa pink milik seorang gadis. Perlahan mata sang gadis terbuka saat merasakan hangat di sebagiaan wajahnya. Gadis itu terbangun kemudian berlari kecil kearah jendela kamarnya. Dial mengamati semua aktivitas orang-orang di sekitar rumahnya. Namun saat segerombolan. siswa SMA melewati rumahnya, dia bertepuk tangan sambil tersenyum riang.
Yeah, gadis itu bernama Anastasia, dia adalah gadis remaja berusia 18 tahun, penyandang autis. Dia memiliki tampang rupawan dan rambut lurus panjang. Anastasia dulunya seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan, namun nasibnya berubah saat sepasang suami istri kaya yang tak kunjung memiliki anak mengadopsinya. Saat itu umurnya sekitar delapan tahunan. Setelah beberapa tahun mengadopsinya keajaiban tiba- tiba datang, ibu angkat Anastasia hamil. Wanita itu melahirkan seorang gadis berparas cantik bernama Amora.
ANASTASIA!" Teriak wanita setengah baya dari lantai dasar rumahnya. Mendengar teriakan itu Anastasia berlari kecil menghampiri sumber suara.
Di meja makan sudah ada ayah dan Amora yang sibuk dengan gawannya, dan bunda yang sedang menyiapkan makanan.
"Anastasia, kemari sayang!" Bunda menarik kursi untuk diduduki putri sulungnya.
Anastasia pun duduk di kursi yang disiapkan sang ibu.
"t-terima kas-sih" Bunda membalas dengan senyum hangatnya.
Selama sarapan hanya terdengar aduhan sendok dan dan garpu saling bergesek membentuk suara khas. Tak ada candaan yang mengiringi sarapan, tak seperti biasanya, adik tirinya selalu mengeluarkan lelucon yang membuat ayah dan bunda tertawa.
Bibir atasnya terangkat ingin mengeluarkan kalimat, tapi rasa takut menghalangi seakan membangun tembok tinggi nan besar. Dia takut di tolak dan di marahi lagi dan lagi.
"B-bubda, ayah Anas i-ingin sekolah kay-yak d-dulu lagi" dengan perlahan Anas mengutarakan. permintaannya.
Dia tidak berani mengangkat kepala tubuhnya mulai bergetar mengeluarkan butir-butir keringat dingin. Sedangkan sang bunda kini memalingkan wajah kearah suaminya. Tahu yang harus dihatapi di keadaan selanjutnya. Pria paruh baya itu sadar jika dirinya ditatap dengan perlahan dia menoleh kearah putri sulungnya, lalu mengeluarkan sebuah kata.
"Tidak...!"
Emosi aneh mulai mengalir memenuhi tubuhnya, menandakan tidak terima atas ponolakan sang ayah. Marah, kesal, sedih, kecewa tercampur menjadi satu, tapi diantara itu yang paling mendominasi adalah marah.
Gadis berambut hitam panjang itu bangun dari duduknya melompat ke meja makan. Yeah lagi-lagi Anastasia tantrum, dia mengacak-acak piring gelas dan apa saja yang ada di meja makan. Bunda yang melihat anak tirinya mulai tak terkendali itupun memanggil beberapa pria berbadan kekar datang untuk menahannya. Sarapan pagi itu berakhir kacau seperti sarapan-sarapan sebelumnya.
Malam yang begitu tenang menemani indahnya suasana rumah di malam hari. Samar-samar terdengar suara burung hantu memecah kegelapan malam, Langit penuh bintang bertebaran menemani sang raja malam gagah berani menebarkan gemerlap cahaya.
Suara langkah kaki menggema di lorong rumah berujung ratusan meter. Kibasan daster putih panjang mengiringi langkah-langkah. Seorang gadis berhenti di ujung lorong tepat di depan sebuah pintu besar bertuliskan Anastasia.
Krek... Suara pintu di buka.
"Adik mengapa kamu disini?"
Wanita berambut lurus itu memainkan jari-jari tangannya pertanda tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Gadis berdaster putih bersih itu mulai tertawa sarkas tawanya menggema di seluruh ruangan. Membuat lawan bicaranya tidak tenang. Virus panik mulai menyebar keseluruh tubuh, membuat tubuh sang gadis mulai bergetar hebat. Walau tawa sang gadis telah berhenti, tapi itu masih menggema di kepalanya.
"Sebentar lagi ayah dan bunda akan membuang anak tidak berguna sepertimu." Ucap Mora diikuti tawa jahatnya.
Anastasia mulai meracau tidak jelas, dia terus mengatakan tidak dan tidak, sesekali dia juga menjerit. Cairan bening mulai keluar dari matanya. Dia menangis diikuti gerakan tangan tidak jelas. Setelah puas melihat sang kakak menderita Mora pergi begitu saja
seakan tidak terjadi apa-apa.
Pandom jam menunjukkan pukul dua belas malam, terdengar alunan musik dari lantai dasar. Penghuni rumah terganggu, mereka turun dari ranjangnya pergi ke sumber suara untuk memenuhi rasa penasaran.
Seorang gadis berwajah cantik dengan rambut hitam panjang berkilau sedang fokus dengan jari-jarinya menelusuri keyboard piano. Sudah ada beberapa orang disekitarnya, mereka kagum dengan permainannya. Nada-nadanya yang indah membuat mereka tenggelam dalam melodi.
Di antara orang-orang yang mengelilingi piano ada satu orang yang memasang wajah tidak suka, siapa lagi kalau bukan Mora. Gadis itu takut, takut kalau orang tuanya mengabaikan dirinya lagi seperti dulu. Dimana yang selalu diperhatikan selalu Anastasia, karena penyakit yang di deritanya.
Sejujurnya ayah dan bunda memiliki alasan tertentu untuk tidak menyekekolahkan Anastasia. Mereka takut kalau Anastasia dirundung karena penyakit yang di derita dan juga karena pikirannya yang tidak seperti anak-anak pada umumnya, sehingga membuat Anastasia sulit memahami pembelajaran di sekolah. Namus saat mendengar Anastasia bermain piano mereka sadar, semua anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing- masing, yang mereka lakukan hanya harus mendukung apapun pilihannya.
Alasan Anastasia bisa mahir bermain piano cukum mengagumkan. Dia hanya melihat adiknya yang sedang berlatih piano dengan pelatihnya, setelah itu dia mempraktekkannya saat tidak ada seorangpun di rumah.
Tiga hari telah berlalu, terlihat seorang gadis berseragam putih hijau mengenakan. sepatu pantofel hitam dengan rambut dikuncir kuda sedang berdiri di depan sebuah gerbang. Di atas gerbang terdapat sebuah tulisan, bertuliskan Jakarta Music School.
Gadis itu perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam area sekolah. Langkah demi langkah dilaluinya, banyak manik mata yang menatapnya kagum. Sementara itu sang gadis merasa tidak nyaman dan rasa gelisah mulai melanda, namun tiba-tiba ada seorang gadis menggandeng tangannya. Gadis itu menariknya pergi dari keramain.
Sudah beberapa bulan Anastasia bersekolah di Jakarta Music School kemampuannya bermain alat musik juga meningkat, tidak hanya itu dia juga memiliki teman yang selalu mendukungnya yaitu Hana. Gadis yang menolongnya saat pertama kali masuk sekolah.
Namun tidak semudah itu, Anastasia masih sering di bully jika tidak bersama Hana. Orang-orang yang membully biasanya siswi-siswi yang iri dengan bakat dan kecantikannya. Yang lebih menyebalkannya lagi, beberapa kali Anastasia mendapat perlakuan pelecehan dari kakak kelasnya. Tidak hanya masalah dalam bergaul Anastasia juga mendapat masalah dalam pelajaran tertulis, ia sering mendapat nilai di bawah kkm. Anastasia hanya bisa bermain musik, tidak bernyanyi atupun pintar mempelajari note.
Panggung tertata rapih, lampu-lampu sorot telah terpasang sempurna, dan tidak lupa para penonton yang berdatangan memenuhi kursi yang telah di sediakan. Malam ini adalah babak final perlombaan piano paling bergengsi selndonesia. Anastasia adalah peserta yang mewakili sekolahnya di babak final melawan Yogyakarta Music School, Malam ini jurinya sepesial, yakni pianis yang sudah Go internasional.
Kompetisi di mulai, tirai merah di tarik ke sisi kanan dan sisi kiri, memperlihatkan seorang remaja laki-laki yang sudah siap dengan pianonya. Permainannya dimulai, harmoni yang keluar membuat para juri terkagum bahkan ada yang sampai berdiri.
Sekarang giliran Anastasia. Malam ini gadis itu terlihat sangat cantik dengan balutan dress hitam dan riasan tipis-tipis. Dia sudah bersiap dengan pianonya, namun saat ingin menekan keyboard dia terdiam, membuat para juri dan penonton bertanya-tanya.
Sebuah ingatan terlintas di kepalanya lalu dia mulai menekan keyboard. Semua orang terhanyut dalam permainannya, kecuali salah satu juri wanita. Wanita paruh baya itu. memasang muka kaget sekaligus haru.
"Ketemu"