"Namaku Bayu Adi Tama, pria yang kalem dan sederhana. Aku sudah menikahi seorang wanita, dia adalalah Rannia dan kami sudah memiliki dua buah hati yakni Fattan dan Bovan. Pernikahan kami sudah menginjak tahun ke 5, Anak pertamaku Fattan berusia 4 Tahun dan adiknya Bovan berusia 2 Tahun.
Aku tingggal di desa, namun karena pekerjaanku di sebuah pemerintahan jadi mau tidak mau mengaharuskanku merantau ke kota. Berhubung aku baru bekerja, akupun belum bisa membawa istri dan anakku ikut serta tinggal ke kota bersamaku.
Aku menginginkan keluarga kecilku bahagia dengan kerja keras tanggung jawabku. namun apa daya ketika iblis justru memberikanku sejuta kenikmatan di kota, hingga membuatku hampir kehilangan istri dan anak anak karena ulahku. Ya! benar,Aku yang mencoba bermain Api dengan rekan kerjaku yang masih single.
Aku sebagai lelaki Normal, kadang kala tidak bisa melihat lawan jenisku terus mergoda. apalagi yang menggoda seorang gadis yang berpengalaman, Gadis tersebut adalah tetangga yang kebetulan berdekatan dengan tempat yang aku tinggali. yang mana kedua orangtuanya juga mempercayaiku untuk melindungi anak gadisnya.
Hingga lambat laun ada rasa ketertarikan antara aku dan dirinya. Terkadang membuat otak mesumku pun kerap menghampiri. hal tersebut membuatku hampir gila dan ingin menjauhinya. Bagaimana caraku mengendalikannya selama berbulan bulan sudah tanpa kehangatan seorang istri, tetapi justru selalu berdekatan dengan gadis cantik nan menggoda.
Entahlah..
* SUATU HARI*
"Hallo.. Mas Bayu, apakah hari ini kamu mau berangkat kerja bersamaku?" Sapa Delina naurach.
Dia gadis tetanggaku yang kebetulan adalah rekan kerja satu timku. Delina gadis yang pintar,seksi dan cantik. Banyak Rekan kerja yang kerap menggoda dan ingin melamarnya. di usia yang sebaya denganku yakni 34 tahun, sayangnya ia belum juga ingin menikah.
"Ya Lin? Apa kamu nggak di antar oleh ayahmu?" Jawabku.
"Aduuh mas, Ayah nggak bisa antar aku karena sedang sakit. Ini kunci mobil ada di tanganku"
"Lalu kamu yang mau bawa mobil sendiri? Memangnya bisa Lin?"
"Bisa, kan ada mas Bayun, aku pernah lihat kamu bawa mobil pak Bakhtiar atasan kita"
"Nggak usah makasih banyak Lin, aku udah ada motor. lagian gak enak kan kalo teman teman pada lihat"
Aku menolaknya karena aku merasa tidak enak hati bila rekan di kantor melihat kami, apa kata semua orang nanti.seorang lelaki beristri jalan bersama dengan seorang gadis. Namun Tiba tiba Ayah Delina yang mendengar percakapan kami dari dalam pun Akhirnya ikut keluar rumah.
"Nak Bayu.. benar kata Lina, nak Bayu bareng saja dengan Lina. kasian Lina anak tunggal karena nggak punya saudara lagi. jadi begini deh, kalo bapak sakit repot gak ada yang antar. Bapak udah tua kalau lagi sakit takutnya nggak fokus nyetirnya. tolong nak Bayu berkenan bareng Lina ya?" Pinta Ayah Lina kepadaku.
Apalah dayaku jika lelaki paruh baya itu meminta tolong kepadaku. Dan akhirnya aku menuruti ucapan pak Hendra ayah Delina.
Setelah ditengah perjalanan kami, Delina memulai membuka pembicaraan. Entah mengapa kali ini ia begitu bersemangat dan banyak bicara dengan topik yang menjurus kedalam hal percintaan.
"Mas Bay, gimana kabar anak istrimu? Kita hampir 4 bulan kerja bareng. Nggak kerasa ternyata kita udah saling kenal ya?"
"Alhamdulillah mereka baik semuanya. Iya Lin, bulan depan aku mau pulang pas tanggal merah 3 hari tuh lumayan buat tengokin mereka. Aku dah kangen kampung".
"Alaah! Kangen kampung apa kangen ranjang istri?" Goda Lina kepadaku sambil tersenyum genit, hingga membuatku terkekeh tersipu malu.
Deg..
Jantungku berdebar dengan ucapan Delina barusan,bagaimana bisa seorang gadis bicara masalah ranjang. Apa dengan kehidupan kota membuatnya bicara seberani itu? Atau jangan jangan Delina sudah terjebak pergaulan bebas?. Hatiku terus bertanya tanya penuh dengan rasa ingin tahu.
"Jangan ngaco deh kamu Lin, emangnya kamu paham apa masalah ranjang?" Aku berusaha memancing bagaimana reaksi jawaban Lina.
"Ya ampun mas, aku tuh seumuran kamu kali!.. Ya masa sih masih sok polos haha" tiba tiba Delina mencubit pipiku sembari terkekeh.
"Aku gak percaya kamu masih perawan Lin"
"Jangan sok tau deh mas!.. Gini gini juga masih perawan tau?"
"Alaah! Perawan apaan" ucapku sambil memajukan bibir bawahku bahwa aku tidak mempercayainya.
HENING..
"Mas, tar malem nonton bioskop yuk! Sama yang lainnya juga kok" ajaknya.
"Ogah, aku udah punya istri. Gak usah ngrayu! Nggak usah ngajakin yang punya istri Lin, tak mempan.
"Sombong sekali Siapa juga yang rayu. Mau nggak mas? Rame rame kok sama Dimas, Astri, Widya dan Doni"
"Mereka kan emang pacaran, lha kita kan nggak Lin. Kamu ngajakin yang lain aja deh, aku nggak enak" tukasku.
"Emang kenapa? Kan cuma nonton doang nggak ke kelab malam mas" ajaknya.
"Aku takut kamu Nodai Lin" candaku sambil tersenyum genit.
"Hadeeh.. mas Bayu, Sok ja'im ternyata Suhu! Hahaa" ledeknya.
" Suhu! Dirika kulkas? Nggak gitu Lin, Aku kasian aja kalo kamu jadi obat nyamuk mereka berempat.kamu juga sih, banyak perjaka ngantri malah pengen jalannya sama bapak dua anak".
"Udah gak usah G.R deh mas, aku ngajakin juga karena tau kalo kamu kesepian juga. Harusnya terimakasih sama aku yang mau ngajakin cari hiburan".
"Iya--iya! Yaudah ok deh, tar malam kita jalan".
***
Malam semakin larut setelah kami usai bekerja. Aku bersama kelima teman termasuk Lina menuju gedung bioskop
Kami menonton drama romance ala film barat. Yang tentu Banyak adegan 21+ meskipun sudah di sensor tetap saja ada banyak potongan adegan pa nas tersebut. dan tentunya membuat otak mesumku terbakar. Begitupun dengan Lina yang aku lihat ia tampak meremas lenganku, tak jarang menyandarkan kepalanya kepundakku.
Seusai kami menonton film. Kami makan malam bersama ke empat teman kami. Lalu mereka pulang lebih awal, aku dan Lina pun terpisah dengan mereka. Lina pulang besamaku. Tak disangka mobil Delina justru mesinnya sulit di hidupkan. Lalu tiba tiba gerimis hujan pun datang secara tiba tiba. Jam sudah menunjukkan hampir pukul dini hari.
Kricik..kricik..kricik..
"Waah.. mas hujan, gimana hih" ucap Delina
" Ya.. mau gak mau kita tunggu reda, mobilmu mogok. Sepi udah gak ada orang Lin, bengkel juga jauh.
"Aku menyukaimu sejak tiga bulan ini mas bayu, entahlah setiap dekat denganmu nafasku dan ke normalanku terus bergejolak. Aku ingin me milikimu mas Bayu, aku udah nggak bisa menahan rasa ingin ini" Delina membatin dan terus mencari cara agar kesempatan malam indahnya bersama Bayu tak kan sia sia.
"M--mas Bayu, sebaiknya kita cari penginapan yuuk!" Pinta Delina gugup.
"A--apa! Menginap? Hotel maksud kamu Lin?" Ucapku.
"I--iya mas kamu mau kan? Aku yang bayar. Habisnya hujan, mobilku juga mogok"
SESAMPINYA DI HOTEL..
Delina memesan satu kamar kepada resepsionis, entah bagaimana ia bisa mendapatkan satu kunci kamar Tanpa banyak pertanyaan dari pihak hotel yang mengetahui kami bukanlah sepasang suami dan istri.
Ceklek..
Pintu terbuka lebar dengan kamar yang sedang luasnya, dengan ranjang yang lembut terbalut sepray putih bersih. Kamar mandi lengkap dengan bhathub.
"Kamu nggak lagi nafsu sama aku kan Lin?" Aku menatap tajam Delina.
"A--aku nyaman sama kamu mas, aku menyukaimu mas Bayu. Maafkan aku mas entah sejak kapan rasa itu tumbuh. Yang pasti malam ini aku ingin kan sesuatu darimu mas" Delina mengusap lembut dadaku, iya terus inginkan sesuatu dariku Dengan perlahan membuka satu persatu kemejaku.
"Jangan Lin, aku sudah menikah dan memiliki dua anak. Aku tidak mau menodai pernikahanku"
"Jangan bohong mas, aku tau kamu nyaman dan menyukaiku sejak lama juga kan? Sejak kamu aku rawat saat sakit. Kamu mengelus lembut pipiku. Dan kamu berucap kalau kamu menyukaiku namun terhalang oleh statusmu bukan" tukasnya dengan nada memaksa.
"Lakukan mas Bayu"
Entah se*Tan apa saat malam itu yang merasuki jiwa mesum kami. Hingga tak terkendali. Ku akui telah lama juga aku sangat mengagumi gadis cantik dan seksi tersebut, begitupun dengan Delina yang begitu menyukaiku. Pada akhirnya kami melakukan hubungan yang lebih intim dan penuh cinta yang selama ini telah kami saling tahan.
"Maafkan aku istriku, anakku. Mungkin hanya Kata kata tersebut ku ucapkan. Aku menyadari perbuatanku salah yang bisa membuatku menyesal seumur hidup. namun aku juga menginginkan Delina. Mungkin bisa dibilang aku adalah suami dan ayah yang rakus duniawi.
Argh..ughh..
Di malam yang panas ini, Desahan Delina dan aku pun tak tertahankan. Kami begitu saling menikmati memadukan gairah gairah surgawi yang tak tertahankan.tanpa memikirkan resiko besar yang ku tanggung kedepannya. Yakni terjebak oleh Nafsu bersama rekan kerjaku.
BERSAMBUNG..
LANJUT JIKA ADA 10 LIKE☺️🙏.