Malam sudah larut tetapi aku dan casandra kekasihku masih nyaman berada di hutan ini, ini adalah tempat favorit kami untuk menghabiskan malam minggu.
Aku dan casandra sudah berpacaran selama 6 bulan dan sekarang ia makin cantik saja, wajahnya cantik seperti orang Belanda dengan hidung mancung mata bulat dengan warna hijau, ditambah rambutnya yang keemasan membuat ia semakin mencolok di antara kekasih teman-temanku, aku sangat bangga dengannya.
Ia sangat suka dengan makanan Indonesia katanya itu mengingatkan nya dengan pengasuhnya dulu, ia benar-benar wanita yang sempurna, aku memiliki keinginan untuk menikahinya, dan sepertinya inilah waktunya.
"Hei Casandra apakah aku boleh bertanya"
Ucapku dengan lembut sambil mengusap tangan mulusnya.
"Tentu saja tanyakan apa yang ingin kau tanyakan"
Jawabnya dengan nada yang lembut dan juga anggun.
"Kita ini sudah cukup lama berpacaran tetapi kenapa aku tidak tahu dimana kau tinggal?, dan siapa keluargamu? "
Tanyaku tetapi entah kenapa mukanya berubah menjadi masam seakan sangat malas untuk menceritakan itu.
"Aku akan menjawabnya tetapi setelah ini ku mohon jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu"
Ucapnya dengan lirih dan juga air mata yang sudah mulai muncul, aku mengangguk lalu kupeluk ia dengan erat setelah itu ia menceritakannya.
"Namaku adalah Casandra Van De Vries, aku lahir di keluarga bangsawan Belanda dan pindah ke Hindia Belanda ini, aku pindah dengan Ayah dan juga ibuku, awalnya semuanya baik baik saja tetapi.....entah kenapa para Pribumi mulai melawan"
Ia terisak saat menceritakan nya sepertinya ini cerita yang sangat sedih, tetapi kenapa ia bercerita seolah-olah ia hidup pada zaman penjajahan Belanda?
"Aku mencintai seorang Pribumi tetapi Ayahku malah membunuhnya, pertikaian mulai terjadi dan para Pribumi mulai memberontak, aku masih ingat saat itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Ayahku baku tembak dengan prajurit pribumi, Ayahku menang dengan banyak luka tetapi.....itu membuatku harus pindah ke Belanda lagi"
Ia bercerita lagi tetapi entah kenapa ini malah menjadi seperti kisah pada zaman Belanda.
"Aku tinggal di rumah besar di jalan Xxxx nomer xxxxx, Ayahku tinggal di sana tetapi ibuku sudah pergi ke tempatnya, kalau kau ingin mengunjunginya datang saja ya"
Ucapnya tak nyambung ia seperti menutupi sesuatu, tetapi sebagai kekasih yang baik aku tak memotong ucapannya, lalu aku berjanji untuk datang ke rumah Casandra, aku ingin meminta restu kepada Ayahnya dan aku juga ingin mengunjungi keluarganya, aku sangat penasaran akan hidupnya.
Akhirnya waktu yang ku tunggu pun tiba pada hari minggu ini aku akan pergi ke rumah Casandra, setelah kejadian malam itu Casandra langsung berpamitan pulang lalu aku ditinggal sendirian.
Aku naik angkot untuk kerumah Casandra walaupun mas sopir melihatku aneh seakan-akan aku sedang turun di tempat yang tak lazim tetapi aku tetap turun di depan rumah itu.
Aku sudah siap dengan baju santai ku dan juga bunga mawar yang ku petik langsung dari kebun ibu, dan juga ibu membawakan satu keranjang bunga untuk Casandra dan keluarga.
Saat melihat depan rumah Casandra aku langsung tertegun, rumahnya sangat besar dengan gaya ala Victoria dan juga cat putih yang mengelilingi hampir keseluruhan bangunan, owh kenapa aku baru tahu Casandra orangnya sangat kaya, padahal ia sangat suka makan di warung sederhana, owh kenapa aku baru sadar.
Ku ketuk pagar rumah itu dengan tanganku lalu tidak lama ada seorang laki-laki paruh baya yang membukakan pagar itu, laki-laki itu sepertinya pembantu di rumah ini.
Laki-laki itu diam saja lalu mengantarku ke depan pintu rumah Casandra, saat ia buka pintu itu aku langsung di sambut Casandra yang ternyata malah memakai gaun cantik khas Noni Belanda, kenapa ia memakai gaun itu? dan kenapa rambutnya yang biasanya di gerai itu malah di sanggul dengan bunga-bunga yang melekat di rambutnya? apakah ini tradisi keluarga nya untuk menyambut tamu?
"Ayo ikut aku, Ayah sudah menunggu mu"
Ucap Casandra lalu menggenggam tanganku menuju ruang tamu yang sangat mewah ini.
Saat aku bertemu dengan Ayah Casandra sangat terlihat bahwa ia adalah orang Belanda tulen, bahkan logatnya pun masih rada Belanda.
Tidak berapa lama datang bibi yang membawakan minuman, bibi itu memakai kebaya dan dengan logat Jawa yang kental, bibi itu seperti orang Pribumi pada zaman dulu
Setelah berbincang-bincang dan juga berbasa-basi sebentar akhirnya aku ingin pulang, tetapi sebelum aku keluar rumah itu aku diberi Casandra sebuah surat dan topi yang ia gunakan tadi, aku bingung apa maksudnya tetapi ia menyuruhku membacanya saat di rumah saja nanti.
Saat di rumah aku membaca surat itu bersama ibu, ternyata Casandra mengisahkan cerita yang sebenarnya, ia sebenarnya adah Noni Belanda yang mendiami rumah besar itu dan saat ku cari di internet ternyata rumah yang ku datangi tadi adalah rumah besar tak berpenghuni dan sudah terbengkalai milik keluarga Van De Vries, yaitu keluarga Casandra sendiri.
Ternyata Casandra memintaku untuk menemukan jasadnya dan juga Ayahnya akhirnya aku melapor ke polisi tentang itu lalu rumah itu di datangi polisi dan di temukan kerangka 2 manusia yang berada di dalam ruang bawah tanah, dan setelah ku cek ternyata itu kerangka Casandra yang masih memakai gaun coklat yang aku liat di rumahnya itu, lalu kerangka Ayahnya yang masih memakai pakaian yang ku lihat saat di rumah itu.
Casandra Van De Vries aku harap kau sudah tenang, kamu itu kekasihku yang berharga, dan akan selalu ku kenang!!
Tetapi di belakang surat Casandra mengatakan kalau ia tidak ingin cerita ini diketahui orang, ia akan mendatangi orang yang membaca cerita ini pada malam hari dan duduk di samping tempat tidur si pembaca itu sendiri hihihi~~~
#aku akan selalu menakut-nakuti kalian hihihi👀😶