Ratih wahyuningtyas
Gadis sederhana yang lahir didalam sebuah keluarga yang hangat akan kasih sayang.Dia anak kedua dari dua bersaudara.Ibunya sudah meninggal ketika Ratih masih kecil.Ratih tinggal bersama tantenya disurabaya, sedangkan ayahnya tinggal sendiri di Magetan.
Tahun ini Ratih telah lulus kuliah dengan nilai yang sangat baik, dia memiliki seorang kekasih yang sudah dipacarinya selama 5tahun terakhir.Ratih adalah sosok wanita yang setia, dia menjaga hatinya untuk seorang yang ada dihatinya.
Tapi tidak tahu kenapa Ratih memutuskan hubungannya dengan Atha begitu saja.
"Sepertinya aku akan kembali ke Magetan."
kata-kata Ratih membuat Wina kaget
Wina adalah teman dekat Ratih sejak masih duduk di bangku SMA.
"Kenapa mendadak sekali?"
Ratih tidak menjawab dia hanya bersandar dibahu sahabatnya itu sambil menitikkan air mata.Wina mulai memeluk sahabatnya itu, tidak ada kata yang terucap dikedua mulut mereka hany air mata yang mulai membasahi kedua bahu mereka.
Hari ini Ratih kembali ke Magetan, lambaian tangan Wina mengantarkan kepergian Ratih.Ratih kembali dalam tengah-tengah keluargany yang hangat meninggalkan kota dimana sahabat dan masa lalunya berada.
Ratih membawa semua kenangannya bersama Atha dan memutuskan semua komunikasi dengannya.Wajah sedih Ratih membuat Sinta kakak Ratih merasa cemas.
" Kenapa kamu kembali kesini?"
Sinta duduk disamping adiknya yang tengah melamun
Sinta Ningrum kakak perempuan Ratih yang selalu menjaga Ratih meskipun mereka tidak berdekatan.Dia telah menggantikan sosok ibu di mata Ratih.Dia sudah menikah dengan Agung Winarto dan memiliki dua orang anak bernama Vita dan Doni.
" Memangnya kalau aku ingin bekerja dan tinggal bersama Ayah tidak bolehkah?"
Sinta menggenggam tangan Ratih dan menatapnya dalam-dalam, dia tahu adiknya sedang mengalami sebuah masalah.Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Sinta mulai memeluk Ratih.
Dari kejauhan sang ayah melihat kedua anaknya yang tengah bersedih.Dia mendekat dan memeluk kedua anaknya dengan hangat.Tangisan Ratih semakin menjadi, bukan karena sedih tapi karena Ratih merasa bahagia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya.
Perlahan Ratih mulai menceritakan masalahnya.
" Ratih tidak salah kan yah?"
" Tidak....Ratih tidak salah, Ratih sudah dewasa Ratih tahu apa yang baik dan tidak untuk diri Ratih.
Beberapa bulan berlalu, Ratih sudah mulai melupakan Atha.Dia mulai terbiasa dengan kota Magetan yang dingin.Kini dia telah bekerja disebuah perusahaan sebagai seorang kariyawan magang.Ratih yang memiliki sifat lemah lembut dan baik membuatnya mudah berteman dengan kariyawan yang lain.
Ratih masuk kerja pukul 08.00 wib dan pulang pukul 17.00 wib.Kadang Ratih bosan, dia sangat ingin pergi bersama teman-temannya.Tapi ketika sudah sampai rumah dia malas untuk keluar karena capek.
Ketika bosan Ratih membuat sebuah novel di aplikasi mangatoon, dia tidak pernah tahu kalau dalam aplikasi tersebut ada sebuah Audio room. Ratih iseng masuk dan melihat apa saja yang ada didalam.Kadang dia mendengarkan orang nyanyi, baca puisi, curhat dan lain-lain.
Ketika dia masuk kedalam sebuah room bernama Triangle, tidak sengaja Ratih mendengar seorang pria tengah bernyanyi dengan diiringi sebuah suara gitar.Suara merdu itu berasal dari host disana bernama Owie.
Setelah hari itu Ratih sering datang keroom itu sekedar mendengar Owie bernyanyi dan bercerita dengan orang-orang yang ada disana, Ada Dedes, ICIS, upil, Fitri, Echa dan lain-lain.
Seiring berjalannya waktu, Ratih mulai nyaman dengan kehadiran Owie di hari-harinya.Mereka mulai bertukar nomer Wa dan saling bertukar cerita disana.
Sedikit demi sedikit perasaan mulai tumbuh, perasaan Owie kepada Ratih dan sebaliknya perasan Ratih kepada Owie.Tanpa saling bertatap muka perasaan itu terawat dengan baik.
Meskipun tidak pernah terucap kata suka diantara mereka tapi semua itu jelas terlihat dari sikap Ratih yang mulai cemburu ketika Owie bersama wanita lain.
Owie mulai penasaran dengan sosok wanita yang sering bersamanya.Tapi tidak dengan Ratih, dia tidak pernah melihat Owie dari penampilannya, dia merasakan dengan hatinya.Sosok laki-laki yang membuatnya nyaman.
Suatu hari ada sebauh pekerjaan yang membawa Ratih dan ke tiga rekan kerjanya ke Jakarta bersama bos mereka yang bernama bapak Ridwan, umur my baru 30 tahun dan terlihat jelas dia sangat menyukai Ratih.
Ratih dan yang lain akan berada di Jakarta selama 1 Minggu, 4 hari bekerja dan 3 hari untuk jalan-jalan menikamat kota Jakarta.
Pagi ini Ridwan sudah menyiapkan sebauh rencana untuk menyatakan cintanya kepada Ratih.
Sebauh bunga yang sangat indah berada didepan pintu matanya, bunga itu sangat besar hingga Ratih harus menoleh melihat siapa sosok yang tengah membawa bunga ini didepannya.
" Ratih...aku sudah lama menyukimu, mau kah kamu menjadi wanita dalam hari- hariku.
Ratih hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa, dia memang sosok yang luar biasa namun tidak ad hati untuk dia.Karena mungkin hatinya sudah terisi oleh sosok Owie yang didengar suaranya setiap hari.
" Maafkan aku pak Ridwan, aku sudah memilik seorang kekasih, jadi aku tidak bisa menerimamu.
Wajah takut sangat terlihat pada wajah Ratih, yang dia pikirkan saat ini dia berada jauh dari rumah.Meskipun dia bersama rekan kerjanya, tapi apa pun bisa terjadi.
Tiba-tiba ponsel Ratih berbunyi sebuah panggilan dari Owie.Ratih sangat senang karena panggilan ini telah menyelamatkannya.
" aku sedang berada di Jakarta."
Ratih kaget mendengar kalau Owie berada dijakarta, ini menjadi sebuah kesempatan untuknya agar bisa bertemu dengan Owie.
"Jakartanya dimana?"
"Aku sedang berada disebuah taman."
Ratih berjalan menyusuri taman berharap ini taman yang sama dimana Owie berada.Mereka tidak memutuskan telepon.Dan tiba-tiba
" Bang Owie?"
Suara lembut yang memanggil nama Owie, mengagetkan Owie yang tengah duduk dan langsung berdiri melihat sosok wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
"Ratih...."
" Iya bang ini Ratih..."
Seakan tidak percaya mereka bisa bertemu disini.Owie sangat terpesona dengan wajah Ratih yang cantik, dia tidak pernah menyangka sosok yang sering bersamanya di Audio room begitu cantik.
Hari mulai gelap, dan akhirnya mereka berpisah Ratih kembali ke Magetan dan Owie kembali ke Sumatra.Diperjalanan Owie selalu teringat sosok Ratih begitu pula dengan Ratih merasa nyaman bersama dengan Owie.
Sampai suatu ketika Ratih jarang on di Mt, Wa dari Owie juga jarang dibaca apalagi dibalas.Setiap pagi Owie selalu mengecek ponselnya berharap mendapat sebuah pesan dari Ratih.Owie mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban.
sudah berhari-hari Owie merasa gelisah,hingga akhirnya sebuah pesan masuk keponsel Owie
"Maaf bang....Ratih off. Ayah sedang sakit."
Hanya pesan itu saja, Owie berusaha membalas tapi tidak ada balasan lagi dari Ratih, nomernya kembali tidak dapat dihubungi lagi.
" Aku akan ke Magetan sharlock." tulis Owie
namun tetepa tidak ada balasan apa pun dari Ratih.Owie mengemas barang-barangnya dia sudah memutuskan besok akan pergi ke Magetan.Meskipun sebenarnya dia ragu akan dengan mudah menemukan Ratih disana.
Pagi-pagi sekali Owie berangkat kebandara.Perjalannan dari Sumatra ke Jawa timur cukup jauh membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai.Owie tiba di bandara.Setelah ini diharus pergi ke stasiun menuju ke Magetan.Beberapa kali dia melihat ponselnya belum ada balasan apa pun dari Ratih bahkan pesannya pun belum dibaca.
Owie turun dari kereta.Baru saja keluar ponselnya berbunyi pangilan dari Ratih.
" Bang....kamu ada dimana?"
terdengar suara yang cukup kacau dari Ratih
" Aku ada di Magetan."
" Iya aku tahu...posisi kamu dimana saat ini."
Belum menjawab Owie sudah melihat Ratih tengah berdiri disebrang jalan.Terlihat Ratih tampak kacau.
" Aku sudah melihatmu!.!"
" Apa bang......Ratih masih binggung dengan kata-kata bang Owie.
Tiba-tiba Owie mematikan panggilnya yang membuat Ratih semakin binggung.Hingga akhirnya Ratih melihat Owie berada disebrang jalan tepat dihadapannya.Perlahan Owie menyebrang menghampiri Ratih yang berdiri sambil melihatnya.
Mata Ratih mulai berkaca-kaca, dia berlari menghampiri Owie dan memeluknya.Owie pun juga memeluk tubuh Ratih dengan erat, terdengar samar-samar suara tangisan Ratih.
" Kenapa?" Owie mengusap air mata yang membasahi pipi Ratih.
Perlahan Ratih menceritakan semuanya kalau snag ayah sedang dalam kondisi kritis.Ratih membawa Owie kerumah sakit, disana Owie melihat Sinta kakak Ratih yang juga sedang terpuruk tidak berdaya, matanya sembab dan hidungnya merah sama seperti Ratih.
Ada Agung disamping Sinta yang menyambut Owie denga hangat.Sinta dan Agung sudah banyak mendengar banyak hal tentang Owie dari ratih.tidak heran mereka welcome kepada Owie padahal dia baru pertama kali bertemu.
Kondisi ayah Ratih kembali drop.dokter memanggil Sinta dan Ratih agar masuk kedalam ruangan.Ratih tidak dapat menahan air matanya ketika melihat sang ayah terbaring tidak berdaya.Ratih menggenggam erat tangan sang ayah dan terus menciumnya.
" Ratih...bilang sama Owie."
" jangan berkata apa-apa lagi, ayah harus harus sembuh.
" Ayah... Owie ada disini... Sinta panggilkan ya." Sinta buru-buru keluar memanggil Owie untuk masuk.
Perlahan Owie masuk kedalam ruangan.Dia melihat Ratih yang terus menangis disamping ayahnya.
" Owie...."
" iya om...."
" Om titip Ratih ya."
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sang ayah Ratih menagis semakin menjadi-jadi.Perlahan Owie mendekat berdiri disamping Ratih.meletakkan tangannya diatas tangan Ratih dan ayahnya.
" Owie akan jaga Ratih."
ketika kaliamat itu berakhir, berakhir juga hembusan nafas ayah Ratih.Ratih tidak kuat menahan kesedihan dia jatuh pingsan.Owie membawa keluar Ratih, sedangkan Sinta dan Agung masih didalam.
Hari ini juga ayah Ratih dimakamkan.Ratih berusaha kuat dan mengantar sang ayah diperistirahatan terakhirnya.Ratih dan Sinta saling berpelukan saling menguatkan.
Semua proses pemakaman sudah selsai sang ayah kini telah tenang bersama allah disana.Namun ada perdebatan ketika mereka sampai dirumah.
perdebatan dimana Ratih akan tinggal dan bersama siapa.
" Aku akan membawa ayu kembali ke Surabaya."
" tidak Tante... Ratih akan tinggal denganku saja."
Sinta menggenggam erat tangan Ratih.
" Kamu yakin, kamu saja masih ikut dengan mertua malah mau bawa Ratih kesana."
Ratih hanya diam, pandangannya masih kosong dia masih merasa kehilangan sosok ayahnya.
Owie masuk kedalam ruangan bersama Agung.
" Ratih akan bersama dia." Agung melihat kearah Owie
" Siapa dia..." banyak yang berbisik sambil melihat kearah Owie
" Ayah menitipkan Ratih kepadanya disaat-saat terakhirnya.
Owie menatap Ratih yang masih terdiam dengan tatapan kosong.
" Aku akan menjaga Ratih." kata Owie
" Apa....." semua mata menatap Owie termasuk Ratih.
" Aku akan menikahi Ratih."
" Apa kamu mau menikah denganku Ratih?"
Sejenak semua diam tidak bersuara. Owie menatap Ratih menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Ratih.
Semua mata tertuju kepada Ratih.Dengan bibirnya yang bergetar dan suaranya yang palan.
" Ya aku bersedia."
TAMAT