Flora Joy, adalah seorang gadis yatim piatu. Sejak kecil ia hidup di pantat asuhan. Entah ia dibuang oleh orang tuanya, atau orang tuanya yang meninggal, ia hanya di tinggalkan kalung Rosario berwarna merah, yang selalu ia kenakan di lehernya.
Menginjak usianya yang ke 16 tahun, ia memutuskan untuk hidup mandiri. Sejak ia memasuki dunia SMA, pembullyan yang selalu ia alami di toilet adalah hal yang selalu ia alami setiap hari. Ia hanya dapat berdiam diri dan merenungkan nasibnya, dan membiarkan teman temannya membully dirinya.
***
Hari itu, seorang murid laki laki pindahan datang ke sekolahnya. Laki-laki itu menarik perhatiannya serta semua orang, mungkin karna muka tampannya, ups!
Mukanya yang terlihat putih pucat, tubuhnya yang tinggi, rambutnya yang berwarna putih, serta matanya yang bermata merah menyala. Kata 'Sempurna' mungkin itulah kata yang dapat mendeskripsikan anak laki-laki itu.
Brukk...
Winny, salah seorang pembully Flora mendorongnya, dan membuatnya bersujud di depan anak laki-laki itu. Pastinya, hal itu menjadi bahan ejekan, semua siswa terlihat menertawakan, tapi tidak dengan anak laki laki itu.
"Hey, berdirilah. Kamu, baik baik saja kan?" Tanya anak laki laki itu. Ia menyodorkan tangannya kepada Flora sambil tersenyum manis.
"Ahh...ma-ka-sih" Balas Flora dengan nada yang terbanta-banta. Untuk pertama kalinya, setelah ia keluar dari panti asuhan ada seseorang yang menolongnya.
Pipinya merona merah, bukan karena demam, tapi terharu. Ia pun berlarian menjauh dari anak laki-laki itu serta dari kerumunan banyak orang.
"Cihh, sial" Desis Winny dengan memasang tatapan sebal.
"Menarik" Guman anak laki-laki itu sambil tersenyum menatap Flora yang berlari.
Bel sekolah berbunyi, semua siswa dan siswi memasuki kelasnya masing masing.
Tap...Tap...Tap...
Seorang anak laki laki tampan membuka pintu kelas, dan berdiri di depan pintu dengan wajah tanpa ekspresi. Ia lalu melirik ke arah seorang gadis di pojok dekat jendela, sambil memandang ke luar jendela. Ia adalah Flora Joy.
Ia menginjakkan kakinya kedalam kelas. Berdiri di depan papan tulis, lalu memperkenalkan dirinya.
"Saya Victor Aldegard, seorang murid pindahan yang berasal dari sekolah SS, karena pekerjaan orang tua saya. Salam kenal"
Flora, seperti biasa ia sama sekali tidak peduli dengan keadaan kelas. Kesehariannya di sekolah hanyalah menatap keluar jendela, sambil berfikir "Apa yang ada diluar sana?". Tidak biasanya, pandangannya terkecohkan pada siswa laki-laki baru itu, dia adalah Victor.
Angin yang mengembuskan rambutnya, membuatnya terlihat cantik. Ia menatapnya dengan tatapan bingung. Victor hanya bisa membalas dengan senyuman manis. Serta, Winny yang hanya bisa menatap Flora dengan geram dan sebal.
Bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa Flora pergi ke toilet dahulu, lalu pulang kerumahnya. Ada apa di toilet?
Di dalam toilet itulah, sosok Flora yang sebenarnya terlibat, sosok yang bersembunyi di balik topeng. Siswa yang di kenal dengan tatapan tanpa ekspresi, berprestasi, serta memiliki hati yang hangat. Flora, mengalami pembullyan yang di lakukan oleh Winny serta teman-temannya.
Tubuhnya yang dingin, di balik punggungnya itulah, ia dapat menangis sepuasnya. Tak ada seorang pun yang mengetahuinya kehidupan aslinya di sekolah, bahkan para guru sekalipun.
BRAKK...
Seseorang membanting pintu toilet itu, lalu berkata "Berhenti! Jangan bully dia" Ia adalah Victor, si murid pindahan.
Melihat seseorang memergoki aksinya, Winny dan teman-temannya langsung kabur pergi meninggalkan Flora dengan Victor.
Pakaiannya yang berantakan, rambut yang acak-acakan, serta luka lebam di sekujur tubuhnya membuat Victor berempati dan membawanya pulang bersama kerumahnya.
***
"Ughh" Flora membuka matanya lalu menatap sosok laki laki yang tidur di sampingnya. Siapa yang tidak terkejut melihat ada seorang laki laki asing yang baru ia temui tidur di sampingnya?
"AAAHH!!!"
Teriakannya membangunkan laki laki tampan itu. Ya... ia adalah Victor.
"Ahh, kamu sudah bangun ya?" Tanya Victor sambil membuka matanya. Rambut putihnya serta mata merahnya memancarkan cahaya, membuat Flora tersipu malu.
Ia memalingkan pandangannya dari Victor, "I-iya" Jawabnya dengan gugup, pipinya merona merah lagi.
"Hey..." Victor memanggilnya, lalu terdiam sejenak. Beberapa saat, ia melanjutkan perkataannya. "Aku haus"
"Hah?!"
Aroma darah yang mengiurkan itu menggodanya, Darah segar yang mengalir dari tubuhnya membuat dirinya tak tahan akan godaan.
Ia lalu menarik Flora kepada dirinya, yang membuat Flora menimpa dirinya. Flora berusaha memberontak, ia tak tau apa yang di ingin Victor. Dengan cepat, Victor mencium lehernya, aroma darah segar yang mengalir, membuatnya mengeluarkan taringnya dan menancapkan pada leher Flora.
Sudah cukup lama ia menghisap darah si gadis polos itu tanpa henti. Perlahan-lahan kesadaran yang di miliki Flora mulai menghilang. Ingin ia mendorong menjauh dari laki-laki dingin itu, namun Victor terus memeluknya dengan erat.
"Ughh"
"Ouchh"
"Sa-sa-sakit"
Setelah beberapa saat Victor tak mendengar lagi suara rintihan kesakitan dari Flora. Ia menghentikan dirinya untuk menghisap darah dari gadis yang malang itu. Menyadari bahwa gadis yang darahnya telah ia hisap itu pingsan.
"Sial, aku melupakan hal ini" Victor mengacak-acak rambutnya. Ia hampir terbawa godaan darah Flora, bisa bisa, Flora bisa mati dibuatnya.
***
"Ughh"
Flora terbangun dari tidurnya, kepalanya masih terasa pusing akibat darahnya di hisap habis habisan. Tanpa ia sadari, ia terbangun di dalam kamar rumahnya sendiri. Ia berkaca di depan cermin, sembari memukul mukul wajahnya.
"AAAHHH!!!"
Entah mimpi atau bukan, ia masih tak percaya. Rambutnya yang berwarna hitam itu berubah menjadi putih, kulitnya berubah menjadi pucat, serta matanya berubah berwarna ungu.
Sesekali ia memainkan rambutnya, dan masih tak percaya apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.
Ia melanjutkan keseharian, ia berangkat kesekolah. Tak lupa, ia mengenakan syal untuk menutupi bekas gigitan itu.
Masih seperti biasa, ia tidak berubah sama sekali. Kecuali rasa takutnya dengan Victor. Tetap duduk di pojokan kelas sambil menatap keluar jendela. Terkadang ia juga membaca sebuah buku, entah buku apa yang ia baca.
"Hey, murid baru, ya? Jangan sok cantik kamu! Ini wilayahku!" Bentak Winny kepadanya.
Nada bicaranya yang cukup besar menarik perhatian siswa siswi yang lainnya.
"Wahh, murid barunya cantik"
"Anak orang kaya nih"
"Jawab!" Winny membentaknya sekali lagi, namun perkataannya Riska di gubris oleh Flora. Ia pun geram, dan menarik baju Flora.
"Aku...Flora, bukan anak baru" Jawabnya sambil menepiskan tangan Winny yang sedari tadi memegang pakaiannya.
Sontak pernyataan yang di keluarkan Flora membuat seisi kelas tercengang. Bagaimana bisa, gadis yang terlihat cupu dengan rambut hitam serta matanya yang berwarna kuning itu berubah menjadi seorang dewi.
Tap...Tap...Tap...
Terdengar suara langkah kaki, seseorang datang mendekatinya. Sesosok laki-laki berbadan tinggi, dengan kulit yang pucat serta bercahaya. Ya...siapa lagi kalau bukan Victor.
Ia berjalan melewati kerumunan orang yang mengerumuni Flora, lalu berdiri tepat di hadapan Flora, dan membisikkannya sesuatu. "Hadapi" Satu kata yang membuat si gadis polos tersadar.
Ia kemudian menarik kerah baju Winny dan berkata, "Seorang pembully adalah seorang yang iri" Bisiknya di telinga Winny, ia lalu melepaskan Winny dan pergi meninggalkannya.
Winny hanya bisa duduk terdiam sembari air mata yang terus mengalir membasahi pipinya itu. Menyadari dan merenungkan semua perbuatannya itu. Akhir kata, ia hanya berkata "Kamu benar, maaf"
***
Flora pergi ke area belakang sekolah. Tampaknya ia sadar bahwa Victor mengikutinya sejak ia keluar kelas. Ia kemudian membalikkan badannya dan memanggil vampir laki-laki itu.
"Hey, Victor"
Seperti kilat, Victor langsung berdiri tepat di belakangnya. Sambil meniup telinganya, yang membuatnya menjadi risih serta merona.
Flora lalu membalikkan badannya dan menghadap Victor.
"Kamu, apa yang kamu lakukan padaku?" tanyanya.
"Karena kamu Eve-ku" jelasnya yang tiba tiba memeluknya dengan sangat erat.
"Eve?" Flora tetap berusaha untuk memberontak dari pelukan Victor. Namun semakin ia berusaha, semakin erat pelukan yang Victor berikan.
"Cukup lihat naskah yang telah Tuhan buatkan untukmu" tanya Victor sambil berjalan mendekatinya.
"Le-lepaskan!"
"Kalau begitu..." ia menghentikan perkataannya sejenak, lalu mendekati lehernya, seolah-olah ia mau menghisap darahnya."Karena kamu adalah Eve-ku, kupikir kamu tidaklah cukup bodoh untuk memahami maksudku"
"Hah?"
Ia lalu mengeluarkan taringnya, lalu menancapkan giginya dan menghisap darahnya dengan sangat lembut. Gigitan yang sangat sakit, berbeda dari sebelumnya. mungkin sudah 2 menit ia mengigit darah si polos itu.
"E-eve...Vam-pir"
"Selamat datang kembali, Eve-ku"
(Note: dalam bahasa Yunani, 'Eve' memiliki arti sebagai sumber kehidupan, sang pemberi kehidupan)
By Lisaa Lisaya