Pada tahun itu,di hari ke sepuluh dimusim panas aku bertemu dengannya. Seorang gadis berambut pirang bermata hijau sedang asik memakan permen kapas dibangku taman. Dengan tak memperdulikan sekitar dia bersenandung kecil sambil masih fokus memakan permen kapas di genggaman tangannya
Aku yang saat itu sedang kebingungan mencari alamat dikota besar pun mendekatinya,karena saat itu yang kutemui hanya dia. Perlahan aku berjalan kearahnya berharap dia akan tahu kemana aku harus pergi untuk menemukan alamat yang ku tuju
"Permisi nona!" Ucapku
Dia mendongak menatapku lamat-lamat,astaga setelah dilihat dari dekat wajahnya ternyata cukup cantik. Dengan bibir merah darah,mata bulat namun cukup tajam bila menatap seseorang,rambut yang sedikit bergelombang,kulit yang putih bersih. Benar-benar cantik--batinku
"ya?" Tanyanya sambil tetap mendongak untuk menatapku
"Hmm boleh aku bertanya. Aku sedang tersesat,aku ingin menanyai tentang alamat ini. Apa nona tahu dimana alamat ini?" Tanyaku
"Oh..hm coba kulihat"
Ku sodorkan selembar kertas dimana alamat yang akan ku tuju tertulis disana. Dia menatap lama alamat yang aku berikan,kemudian menatapku dan menatap lagi ke secarik kertas yang tadi ku berikan. Dan begitu untuk beberapa menit selanjutnya terus terulang lagi dan lagi,hingga tiba-tiba gadis itu berteriak dan melompat-lompat kegirangan
Entahlah...aku,tak tahu apa yang terjadi. Dia tiba-tiba bertingkah seperti itu
"Hm..nona?" panggilku
"ooh..ah. Ya,maaf hehe aku terlalu senang!!" Ucapnya sedikit berteriak,aku tetap diam memperhatikannya
orang aneh--batinku
"Oh ah yaa. Maaf akan ku antarkan anda ke alamat ini hehe,ayo ikuti aku!"
"Ah ya terimakasih"
Aku mulai mengikutinya,dengan dia yang memimpin jalan sedangkan aku hanya mengikutinya dari belakang,tapi entah mengapa dia tiba-tiba berhenti dan menoleh kearah ku. Sedangkan aku? aah aku terlihat seperti orang bodoh. Aku malah ikut berhenti dan menatapnya gugup
"ke-kenapa nona?" Tanyaku karena dia yang terus menatapku
"Kenapa kau berjalan dibelakangku?" Tanyanya dengan masih menatapku dengan tajam dan penuh selidik. Tunggu,tajam dan penuh selidik? memangnya aku pencuri? ah sudah lupakan
"eh? mm-memang aku harus berjalan didepan?" Tanyaku lagi dengan salah tingkah,dia tetap diam bergeming ditempat sambil masih menatapku
"M-maksudku kau tadi menyuruhku untuk mengikuti mu kan? da-dan menurutku mengikuti berarti dibelakang.."
Sekarang ekspresinya mulai berubah,dia nampak berpikir
"Ah!! ya! kau benar!" Teriaknya
"Astaga bodohnya aku. Maksudku tuan...kau harusnya berjalan beriringan denganku bukan malah berjalan dibelakangku. Apa kau mau dikira orang sebagai penguntit perempuan cantik?!" Ucapnya menekan kata 'Penguntit'
"Ah..ya m-maaf"
"Hm? kenapa kau minta maaf? ah sudah lah ayo kemarii...berjalan di sampingku!" Gadis itu menarikku agar berada tepat disampingnya
Kami berjalan hingga beberapa menit kemudian hanya ada keheningan, satu sama lain tak ada yang membuka suara. Namun sesekali aku mencuri pandang padanya
"Kau tahu tuan? Bibi Merry sangat baik padaku. Setiap hari dia selalu memberiku makan ditaman tadi" Tiba-tiba gadis itu berbicara sambil masih menatap sekeliling,dan memakan permen kapas yang sekarang tersisa dua sampai tiga gigit lagi
"Eh? kau mengenal bibi Merry?" Ya tentu saja aku terkejut bagaimana tidak,bibi Merry adalah bibiku.
Beliau dulu tinggal didekat rumahku disebuah desa diujung kota,tapi tak lama setelah kematian suaminya dia lebih memilih pindah ke pusat kota dan bekerja ditoko bunga dekat apartemennya. Tapi setelah setahun dia pindah dan jarang ada kabar tiba-tiba datang sebuah surat darinya yang mengatakan bahwa umurnya yang tak lagi panjang karena kanker darah yang ia miliki mulai sampai pada stadium akhir. Dan beliau meminta agar saat dia meninggal aku bersedia menempati apartemennya. Dan sekarang disinilah aku,sedang berjalan menuju apartemen bibi Merry yang akan ku tempati sekalian aku mencari pekerjaan di kota
"Ya. Tentu saja beliau adalah tetangga apartemenku, bibi Merry begitu baik padaku. Tapi sayangnya umurnya tak lagi panjang" Gadis itu membuang stik permen kapasnya ketempat sampah
"Oh ya...kita belum kenalan bukan?" Gadis itu menyodorkan tangannya ke arah ku
"Eh hmm ya!" Aku menyambut tangannya dengan tanganku
"Namaku Vieze Duiven, kau bisa memanggilku Vie!" Terang gadis itu padaku
"Ah. hmm namaku Davin,kau bisa memanggilku Vin" Balasku
Vie tersenyum padaku dan mengangguk,kemudian kita kembali melanjutkan perjalanan ke apartemen bibi Merry. Sesampainya di luar gedung aku melihat sekitar,ada taman bunga dilura gedung tepat di halaman. Kemudian ku lihat gedung apartemennya lumayan tinggi menurutku,mungkin sekitar sepuluh sampai lima belas lantai
Kami kembali berjalan masuk ke dalam apartemen dan ternyata tidak banyak orang yang tinggal disini terbilang cukup sepi untuk apartemen yang dibangun dikota besar dan ramai penduduk. Apartemen ini tidak terlalu berada dipusat kota,namun juga tidak terlalu berada dipinggir kota
Vie dan aku kini sudah memasuki lift dia menekan beberapa tombol angka dan lift pun bergerak naik,tepat di angka 10 lift berhenti. Aku dan Vie keluar dengan Vie yang berjalan terlebih dulu
Saat aku sedang melihat-lihat dalam gedung tiba-tiba aku menabrak seseorang,dan ah.. ternyata itu Vie. Dia menoleh dan menatapku sebal
hei ada apa? batinku
"Fokus kedapan saat kau berjalan Vin!. Sakit tahu,badan mu besar dan aku kecil. Jika kau menabrak ku seperti itu maka aku yang kesakitan dan mungkin aku yang akan jatuh,untung saja keseimbangan ku baik!!" Kata Vie dengan kedua tangan di pinggang
Astaga gadis ini benar-benar imut
"Hehe maaf aku terlalu asik melihat-lihat"
Vie memutar bola mata,kemudian menekan beberapa angka untuk membuka pintu kamar apartemen. Entahlah itu kamar milik siapa,mungkin milik Vie tapi jika benar itu milik Vie lalu dimana kamar bibi Merry? Atau itu milik bibi Merry? Tapi bagaimana bisa Vie tahu password kamar apartemennya. Sedekat apa mereka dulu?
"Masuklah. Ini kamar bibi Merry!" Vie membuka pintu dengan lebar menyuruhku agar masuk kedalam. Aku menurut masuk kedal dan menyalakan lampu,kulihat kamarnya cukup besar semua tertata dengan rapi
"Vin,aku pergi dulu. Masih ada sesuatu hal yang harus aku lakukan!" Vie berucap ditengah-tengah kesibukan ku melihat-lihat kamar bibi Merry
"Ya, terimakasih Vie. Oh ya,boleh ku tahu berapa password kamar ini?" Tanyaku menghentikan langkah Vie yang hendak pergi
"Oh astaga aku lupa memberi tahumu. Tanggal pernikahan bibi Merry dengan suaminya!" Vie kemudian melangkah kembali setelah mengatakan itu
"Terimakasih!" Teriakku
Aku segera merebahkan diri di kasur,betapa nikmatnya. Bau wangi khas bibi Merry masih tercium di kamar ini,bau bunga lavender
Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian segera memindahkan barang-barangku ke lemari bibi Merry dan menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Dan aku menemukan sebungkus spageti,aku segera memasaknya untuk kumakan. Perjalanan kemari memakan banyak energi ku
Ku bawa spageti itu kemeja makan dan ku makan hingga tandas, kemudian entah mengapa aku kembali memikirkan Vie. Sedekat apa dia dan bibi Merry, bagaimana bisa dia sampai tahu password kamar apartemennya? Ah lupakan terlalu memikirkan sesuatu membuat ku semakin lelah,tapi jika dipikir dia cukup cantik. Bayangkan dia bisa menjadi milikku astaga betapa bahagianya aku memiliki pasangan secantik itu meski sedikit cerewet. Eh? Hei?! apa yang kupikirkan? astaga sadar Vin sadaarr! jangan berfikir yang aneh-aneh. Sudah lebih baik aku tidur!
Aku berjalan ke kasur setelah mencuci piring bekas makanku tadi,kurebahkan diri disana. Ah, nyamannya. Perlahan mataku tertutup dan aku tertidur
🍁🍁🍁
"Daviin...apa yang kau lakukan? kau membunuh orang tua ku! hanya demi tahta kerajaan ku?!! dasar pembunuh!" Seorang gadis berbaju gaun putih berteriak marah padaku. Astaga memang apa yang ku lakukan? kenapa dia begitu marah? dan kenapa dia bilang aku membunuh orang tuanya?
ku tatap sekitar,hei?!!. Dimana ini? kenapa banyak orang yang mengelilingiku? dan... orang-orang itu..memiliki..tunggu apa? Sayap? astaga ada apa ini?
"Karena kau aku rela melawan orang tua ku hingga menjadi Merpati yang Tak Suci!. Karna kau! aku bahkan rela menentang keluarga ku,tapi apa ini yang ku lihat? kau membunuh orang tua ku?!"
A-aku benar-benar tidak tahu ada apa. Dan kenapa tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri,tubuhku berlari dia bergerak sendiri. Aku melihat kebelakang orang-orang--eh bukan orang bersayap mengejar ku . Aku menatap depan lagi dan tunggu aku mau kemana? itu apa? lingkaran biru terang itu apa? apa aku akan kesana? apa itu seperti yang aku sering lihat di film? portal? hei-hei aku semakin dekat dengan portal(?) itu hei!!!
🍁🍁🍁
Deg
Aku terbangun dan ternyata itu hanya mimpi,oh astaga! eh tapi apa ini,kenapa kalung ku terlihat..bersinar(?)
Ya kalung,kalung pemberian kakekku. Dia bilang aku harus menjaga kalung ini baik-baik,karena suatu saat akan ada pemilik aslinya akan mengambil kembali kalung itu. Entahlah siapa pemilik asli kalung ini,aku tidak tahu dan tidak terlalu memikirkannya
Aku bangun dari tempat tidur dan pergi berjalan menuju jendela,ku sungkap tirainya...yah sudah malam. Sepertinya aku tertidur cukup lama
Tok tok tok
Pandanganku teralih pada pintu,ada seseorang yang bertamu?
Ku langkahkan kaki ke arah pintu dan kubuka, ternyata itu Vie
"Hai,apa aku mengganggumu?"
"Tidak,silahkan masuk!" Ujarku
Dia masuk tanpa ragu mendudukkan dirinya di sofa sambil membuka sebuah bungkus makanan yang ia bawa
"Kemari,ayo makan bersama ku. Aku tahu kau pasti belum makan kan?. Ayo kemari kita makan bersama!" Vie menatapku sambil tetap membuka bungkus makanan
Aku berjalan mendekat dan mendudukkan diri sedikit jauh darinya
"Kemari! jangan jauh-jauh,sini lebih dekat!" Vie manarikku mau tak mau aku duduk lebih dekat dengannya
"ini makan! aku tadi pulang kerja dan tiba-tiba terpikir dirimu. Jadi aku belikan ini toh aku juga belum makan,kau pasti juga belum makan kan?" Katanya panjang lebar,astaga kenapa dia suka sekali banyak bicara? benar-benar cerewet! Untung cantik--eh?
Kami makan dengan lahap,enak. Adalah satu kata yang pas untuk makanan ini. Hingga kami selesai makan Vie mulai bercerita tentang banyak hal,dari mulai pekerjaannya,bibi Merry saat masih hidup,dan banyak lagi.
Tapi tiba-tiba itu terhenti karena Vie yang tanpa sengaja melirik ke arah kalungku. Sebuah kalung berbandul kunci kecil dengan sebuah permata kecil berwarna putih sedikit kebiruan di bagian lingkaran kunci,Vie menegang. Dia menatapku dan menatap kalung ku bergantian
"V-vin. I-itu, kalung"
"Oh ini,ini kalungku!" Ku lepas dan ku berikan padanya. Mungkin dia ingin melihat kalung ini? Atau mungkin menurutnya kalung ini bagus sehingga dia ingin melihatnya. Yah setidaknya itu yang ada dipikiran ku
Vie menerimanya dengan sedikit--entah lah. Bergetar? Dia--gugup? atau takut? Tapi kenapa?
Dan tanpa aba-aba Vie pergi keluar dari kamar apartemen ku. Dan menaruh Kalung itu di meja,dia berlari pergi keluar. Sedangkan aku hanya diam ditempat bingung dengan apa yang terjadi
"Kenapa?" Tanyaku pada diri sendiri
Setelah kejadian itu berhari-hari kemudian Vie selalu menghindari ku dan aku juga tak ambil pusing. Mungkin dia sibuk--pikirku. Tapi sebenarnya sedikit saja aku juga ingin tahu kenapa dia bersikap seperti itu saat itu?
Aku melakukan kegiatan seperti biasa,dan oh ya. Aku sudah bekerja disalah satu pusat perbelanjaan dikota. Dan hal itu sedikit banyak mengalihkan pikiranku dari Vie
Hingga suatu hari sepulang aku bekerja,aku melihat seekor burung merpati berwarna putih--bukan,bukan putih bersih. Tapi putih sedikit gelap mendekati hitam sepenuhnya. Merpati itu sepertinya tak bisa terbang,dan ya benar saja saat ku dekati kaki burung itu ternyata terluka. Ku ambil dia dan ku bawa pulang ku obati luka burung itu. Aku bingung harus ku taruh dimana burung ini? apa aku belikan sangkar saja?
Aku berjalan mengelilingi kamar dan eh? apa ini sebuah sangkar perak? di sudut kamar? apa ini milik bibi Merry dulu? apa bibi Merry dulu memelihara burung? ah sudah lah ku pakai saja untuk burung ini
"Cepat sembuh ya. Agar kau bisa kembali terbang bebas!" Ucapku pada burung merpati itu, sedangkan si merpati dia hanya menatap ku. Mungkin dia tidak mengerti apa yang ku katakan
Dan setelah aku menemukan burung merpati itu aku tidak pernah bertemu dengan Vie,entah pergi kemana dia. Berkali-kali coba ku datangi kamarnya tapi selalu sepi,seperti tak ada orang. Aku mulai khawatir,tapi aku tetap mencoba berfikir positif. Mungkin dia pulang ke kampung halaman
Dan tibalah disuatu malam,dimana sesuatu yang tak pernah terbayang oleh ku terjadi. Malam itu tepat bulan purnama pada hari terakhir musim panas,aku terbangun dari tidur karena merasa haus. Ku raba nakas sebelahku tak ada gelas air,ah rupanya aku lupa tidak menaruh gelas air disana. Saat aku bangun tiba-tiba kalung ku bercahaya terang--sangat terang. Aku memegangi kalung ku sambil berjalan menuju dapur untuk mengisi air minum
Tapi... tiba-tiba aku seperti melihat sesuatu di ruang tamu. Tempat ku meletakkan sangkar dan burung merpati,aku melihat seperti bayangan seseorang. Atau bukan? tunggu ada bayangan aneh lagi. Dia--orang itu--memiliki sayap? What? hei?!! sayap? apa dia malaikat maut? atau siapa?
Coba ku dekati dia,dan kalungku semakin bersinar terang setiap langkah yang ku ambil untuk mendekatinya
Prang,UPS sial. Aku menyenggol guci keramik,dan sialnya lagi aku tertangkap basah sedang mengintipnya didalam kamarku sendiri. Saat aku kembali melihat ke depan dimana bayangan itu muncul ah sial. Bayangan itu menghilang!
Aku berjalan mendekati sangkar burung kulihat sekitar tak ada siapapun burung merpati ku juga hilang. Hanya--ada beberapa bulu burung di lantai,kalung ku juga sudah tak lagi bercahaya. Aku menggaruk kepala ku,apa yang sebenarnya terjadi? dan kemana burung merpati ku hilang? Ah sudah! Lupakan mungkin saja aku sendiri yang melepaskannya hanya mungkin aku lupa, atau mungkin sekarang akulah yang sedang bermimpi. Ya pasti begitu!
Aku kembali ke tempat tidur mencoba untuk terlelap kembali,hingga pagi hari aku terbangun karena sinar sang mentari yang mengintip malu-malu lewat celah tirai jendela
Ku renggangkan otot tubuhku, kemudian berjalan ke arah kamar mandi sambil membawa handuk dan melakukan rutinitas ku yang biasa ku lakukan setiap pagi. Sarapan dan membersihkan rumah,betapa terkejutnya aku melihat kondisi rumah. Guci keramik yang sudah tidak berbentuk--pecah. Kemudian aku melihat ke arah sangkar perak tempat burung merpati aku kurung--ah tidak bukan kurung kalimat itu terlalu kejam. Lebih halusnya aku menempatkannya
Aku terkejut bukan main,ternyata semua yang kulihat semalam adalah nyata! Nyata!!
Astaga benar,aku-aku benar-benar melihat manusia bersayap. Ini gila aku tak habis pikir bagaimana bisa ada manusia bersayap ini-ini benar-benar gila!. Aku memberanikan diri mendekati sangkar perak merpatiku
Deg
Sekali lagi aku terkejut,ada bulu burung merpati dibawah sangkar. Bulu dari merpati yang waktu itu aku tolong dan aku tempatkan di dalam sangkar. Ini.....Aneh!
Bibi,apa rumah mu berhantu?
Ah... tidak-tidak. Tidak mungkin hantu itu tidak ada! a-atau malaikat? bukan! pasti bukan. Malaikat itu terlalu suci untuk meninggalkan bulu sayapnya disini. Atau...Siluman? Arrggghhhttt apa yang kupikirkan!! Kenapa semakin hari otakku semakin bermasalah?!!
Hari itu aku duduk diam di gereja,merenungi setiap yang aku alami hari ini. Hingga seseorang datang menghampiri ku,seorang wanita tunanetra yang memakai baju layaknya seorang biarawati
"Nak!" panggilnya
"Eh? iya nyonya? ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku sesopan mungkin
"Kau sedang ada masalah nak?" tanya wanita itu kemudian mendudukan dirinya disampingku
"Ah-ya..aku sedang ada sesuatu. Aku kemarin malam melihat sesuatu yang tak pernah terpikir oleh logika" wanita itu merespon dengan tersenyum
"kau tau nak,banyak hal diluar sana yang tak pernah terpikirkan oleh logika manusia. Contohnya Tuhan,tak ada manusia didunia yang bisa memecahkan rahasia Tuhan dan keajaibannya!" Aku terdiam
"Terkadang kau harus mempercayai keberadaan sesuatu yang tak pernah terpikir oleh logika" Wanita itu berdiri setelah mengatakan itu,dia tersenyum ke arahku dan berjalan pergi menjauh dari ku
Tunggu wanita tadi tidak memakai tongkat, bagaimana bisa dia berjalan menjauh tanpa menabrak sesuatu?. Huft
Aku kembali ke apartemen ku, sesampainya di depan pintu aku melihatnya. Wanita yang beberapa Minggu ini menghilang dari hadapan ku
"Vie?"
Dia menoleh,menatapku
"Hai!" Ucapnya dengan tersenyum. Senyum yang terlihat di paksakan
Aku mempersilahkannya untuk masuk kedalam kamar, kemudian ku bawakan minum dan makanan kecil untuknya dan mendudukkan diri disampingnya
"Apa kabar?" tanyaku
"Baik"
1 menit
2 menit
3 menit
Hening
"Kau-"
"Aku-"
"Kau duluan!" Ucapnya
"Kau...darimana saja selama ini?" Tanyaku,dia tersenyum
"Aku disini" eh? aku diam..
"Maksudmu?" Dia berdiri sedikit menjauh dariku dia pergi menuju tempatku menyimpan sangkar merpati,dia membawanya ke hadapanku
Dia berdiri sedikit menjauh dari sangkar,dan Puff
Dia..berubah. Dia...menjadi seekor burung merpati,merpati yang dulu pernah kuselamatkan dan ku tempatkan di sangkar. Merpati yang semalam menghilang dari sangkarnya
Aku terkejut bukan main
"Tunggu. Kau?"
Merpati--bukan Vie terbang mengelilingi ruangan kemudian masuk kedalam sangkar
"Vie,kau...bukan manusia?!"
Vie terbang keluar dari sangkar dan berdiri di depanku, merubah wujudnya menjadi manusia. Bukan manusia sepenuhnya tapi manusia dengan sayap merpati besar di punggungnya
"Maaf"
Eh?
Aku bungkam,diam,tak mampu berkata. Logika dan hatiku tak dapat merespon
"Maafkan aku..aku-aku mencintaimu. Tapi kau dan aku--kita berbeda! Selama beberapa Minggu aku tinggal bersama mu aku-aku mulai merasa mencintaimu. Aku sudah berusaha agar kesalahan ini tidak terjadi lagi,tapi perasaan ku tak dapat ku bendung. Cinta ini terus mengalir. Awalnya aku berniat terus menyembunyikan identitas ku dan terus bersamamu dalam wujud burung merpati untuk mengambil kalungmu. karena hanya dengan kalungmu aku bisa kembali lagi--kembali menjadi burung merpati yang suci,ta-tapi. Tadi malam tepat bulan purnama wujudku berubah dan tanpa sengaja kau melihatnya,a-aku ingin jujur agar kau tidak menjauh dariku. Maka dari itu kemarin malam aku pergi dari rumahmu dan mencoba menenangkan diri dan menyiapkan mental agar bisa siap menyampaikan kejujuran ini padamu. Maaf!"
Vie terisak. Dia menangis
Aku mencoba mencerna setiap ucapannya. Vie keluar dari kamar apartemen ku dengan berlari setelah menghilangkan sayapnya
Ditengah kebingungan ku kalung ku bersinar,kali ini sinar nya sangat terang dan cukup lama. Jika biasanya Davin akan diam saja kali ini tidak,dia berlari ke kamar Vie
Tok tok tok
"Vie buka pintumu!"
Tak ada sahutan
"Vie!! buka pintumu atau akan ku dobrak!"
ceklek
Vie membuka pintunya dan Betapa terkejutnya dia saat melihat kalungku bersinar
"Ap-apa aku boleh masuk?"
Vie mengangguk
Aku masuk kedalam kamar Vie,ada banyak buku dan diruang tamu. Aku segera mendudukkan diri di sofa dengan kalung yang masih bersinar
"I-ini-"
"Waktu ku untuk menyucikan diri telah tiba!"
"Eh?"
Vie menatapku
"Ya,Waktuku yang terakhir untuk bisa kembali suci dan waktu untuk ku bisa kembali ke dimensi ku telah tiba,dan...ini adalah kesempatan terakhir setelah puluhan tahun"
Aku menatapnya dalam.
"Apa setelah ini kau tak akan kembali kemari?"
Vie mengangguk lemah,aku memang belum mencintai Vie tapi...jika untuk berpisah dengan orang yang sebaik Vie...apalagi Vie adalah orang pertama yang ku kenal dikota ini. Membuat perasaan ku..entahlah. Takut
Aku mencoba untuk meyakinkan diriku,bahwa ini adalah yang terbaik untuk ku dan untuknya
"Vie..." Ku genggam tangannya,dia menatapku
"Pergilah,sucikan dirimu. Bu-bukan berarti aku mengusir mu,aku...hanya merasa ini yang terbaik untuk kita. Kau tahu sendiri bukan kau dan aku tak akan pernah bisa bersama,jujur aku memang belum mencintai mu. Tapi...aku akan merasa sangat kesepian tanpamu,Ingat. Jangan ulangi kesalahan yang sama!"
Detik selanjutnya Vie memelukku,aku menyerahkan kalung ku padanya. Dia memakainya dan merapalkan entah lah mantra mungkin?
Cukup lama...sekitar satu jam hingga
Bhoommm
Vie berubah menjadi seekor burung merpati putih tanpa ada sedikitpun warna hitam di bulunya seperti yang pertama kali aku menemukannya
Tubuhnya bercahaya,Vie menatapku sebentar. Sebuah lingaran yang memancarkan warna biru muda terpampang di depan ku dan Vie. Vie masih menatapku,aku hanya mengangguk meyakinkannya bahwa inilah yang terbaik. Sedetik kemudian Vie mengepak kan sayapnya masuk kedalam lingkaran,dan lubang bercahaya tadi menghilang. Menyisakan butiran-butiran kecil berwarna biru muda yang bercahaya terjatuh ke lantai dan menghilang secara perlahan. Aku menatap lantai tak dapat ku tepis aku--sedih. Aku telah kehilangan sosok teman dan lebih mengejutkannya lagi,temanku bukan manusia.
Beberapa hari kemudian orang-orang sekitar apartemen menanyaiku tentang perginya Vie aku mengatakan pada mereka bahwa Vie pindah ke kampung halaman. Dan akupun memulai hari-hari ku seperti biasa,dan Vie. Dia akan selalu tersimpan diingatanku bersama kenangannya
🍁🍁🍁
THE END
Monmaap yaa kalau agak Nggak nyambung
(ー_ー゛)