Aku termasuk murid teladan di sekolah musik, namun bagi orang tua ku selagi aku belum menduduki posisi pertama di sekolah, semua lomba dan penghargaan yang ku dapat selama ini tak ada artinya.
Sejak kecil aku sudah tertarik dengan biola, orang tua ku mulai melihat bakat ku di bidang musik dan memutuskan untuk menyekolahkan ku di sekolah musik, aku menikmati hari-hari di mana aku belajar nada-nada baru dan di mana alunan musik tak pernah berhenti terdengar di telinga ku,
Bahkan di rumah pun ibu menyiapkan ruangan khusus untuk aku berlatih biola, setiap liburan ibu menyewa seorang guru untuk mengajarkan ku lebih banyak lagu baru dan memperbaiki permainan biola ku.
Semangkin lama hal yang ku anggap menyenangkan itu mulai terasa menyesakan dan memuakan, setiap ada lomba yang di adakan di kota maupun di luar kota orang tua ku selalu mendaftarkan ku bahkan tampa sepengetahuan ku.
Setiap harinya aku harus berlatih dari pagi hingga malam, yang mebuat ku semangkin lama semangkin terbebani, namun hal itu tak membuat orang tua ku puas, ayah selalu mengatakan aku harus latihan lebih keras dari siapapun di sekolah agar aku bisa duduk di peringkat satu.
Namun meski dengan latihan ketat setiap harinya pada akhirnya aku hanya mendapat peringkat dua di sekolah.
Semangkin lama ambisi orang tua ku semangkin menyiksa ku, aku mulai memikirkan hal yang mungkin tak seharusnya ku fikirkan sejak awal.
Aku mengajak diva teman sekelas ku sang peringkat pertama di sekolah itu kerumah untuk berlatih bersama, dan berbincang setelah kelas selesai.
Seperti biasa tak ada orang di rumah, orang tua ku sibuk dengan bisnis mereka, setiap harinya mereka pergi di pagi hari dan baru kembali saat larut malam.
Aku memutarkan alunan musik klasik dan berbincang tentang biola yang ku pelajari dari guru yang sering datang ke rumah, sesekali diva menanyakan banyak tehnik-tehnik bermain biola yang baru ku pelajari,
“ah sebenarnya ini adalah tehnik yang menjadi ciri khas ku saat bermain, namun sepertinya aku akan membongkar semua tehnik bermain yang belum kau ketahui.”
“sungguh, tapi jika itu kau jadikan sebagai ciri khas mu saat bermain sepertinya kau tak perlu memberi tahuku, kita bisa belajar yang lain saja”
“tak masalah aku akan mengajarkan semua yang ku pelajari pada mu hari ini” aku tersenyum lebar. “baiklah jika kau tak keberatan” ia membalas dengan wajah berbinar seperti anak kecil yang di berikan permen.
Aku mengajarkan tehnik-tehnik baru dan diva mulai berlatih dengan biola di tanganya. “ah sepertinya aku juga harus menunjukan biola favorit ku pada mu, biola itu berbeda dari biola lain” aku menjelaskan.
Diva mulai tertarik dengan perkataan ku, aku pun lanjut menjelaskan, “biola itu penuh ambisi dari semua orang yang melihat ku memainkannya, itu adalah biola pertama ku. Tunggu sebentar ya aku akan membawanya ke seni”
Aku masuk ke kamar dan mengambil biola ku. Aku keluar dari kamar dengan tatapan dingin dan perasaan kesal,benci, atau mungkin dendam yang tak tertahankan lagi, aku melihat bagian belakang tubuh diva yang masi memainkan tekhnik yang ku jadikan ciri khas ku dalam memainkan biola ku, ya aku menunjukan rahasia permainanku ku padanya, hal yang selama ini di anggap kelebihan ku hingga aku bisa duduk di posisi ke dua di kelas.
Jadi saat ini sudah saatnya aku mengambil imbalan dari apa yang ku beri, aku memukul kepala diva dengan biola yang ku pegang, diva terjatuh dengan tatapan kaget melihat ku, darah mulai keluar dari luka di belakang kepalanya, namun aku benci melihat tatapanya pada ku yang berhasil membuat ku memukul kepala diva berkali-kali, hingga wajahnya tertutup oleh cairan merah yang mengalir semangkin deras dari luka-lukanya
diva berteriak dengan keras dan menberontak, ia terus berusaha mendorong dan menendangku yang melihatnya dengan tatapan penuh kebencian
Tubuh diva menggeliat mencoba memberikan perlawanan, aku mengarahkan tangan ku di lehernya dan mulaik mencekik dengan sekuat tenaga ku, tubuh diva terguncang cukup kuat deru nafasnya terdengar jelas diantara alunan lagu klasik yang ku putar tadi,
Tangan ku mulai sakit karna mencekik leher itu dengan kuat, tubuh diva tak lagi berontak, aku pun melepaskan tangan ku yang melingkari leher diva
Aku mengambil tali di dalam laci di sebelahku ku, terlihat jelas di mata ku bahwa diva masi berusaha bertahan, ia bernafas dengan lemah tangannya terlihat sedikit bergetar,
“bukankah itu sakit… aku bisa menghentikan rasa sakit mu” aku mengikat leher diva dengan kuat menggunakan tali itu, “aku sudah memberikan semua yang aku punya, sekarang saatnya kau yang memberikan semua yang kau miliki untuk ku bukan”
Terlihat di balik noda merah itu mata diva yang melotot seakan hendak keluar dari kelopak matanya, ia menyentuh wajah ku dengan tangannya yang berlumur darah, aku terus memperkuat ikatan tali hingga akhirnya nafas itu berhenti.
Tubuh diva terkulai dengan anggun di hadapan ku, “selamat tinggal diva, kau bisa membalas ku saat kita bertemu di neraka”
Hari mulai gelap, aku hanya mematung dengan biolaku yang berlumur darah melihat jasad diva di depan ku, hingga orang tua ku pun pulang dengan wajah lelah mereka.
Orang tua ku berlari menghanpiriku denga tergesa-gesa, ibu berteriak histeris melihat tangan dan wajah ku yang berlumur darah.
“apa yang kau lakukan” ayah bertanya dengan panik, “aku akan mendapat peringkat satu tahun ini, dan ini… aku hanya berusaha lebih keras dari murid lainya” aku menatap ibu yang masi pucat pasi karna rasa kaget dan takut yang mengalir ke sekujur tubuhnya.
Kedua orang tua ku memutuskan untuk menyembunyikan mayat itu di garasi belakang rumah yang jarang kami datangi, kami memutuskan untuk melanjutkan hidup dan menutup mata atas kejadian ini
Berita hilangnya diva terus beredar kesetiap pelosok negri, namun ujian musik tetap di laksanakan seperti biasanya.
Hari pengumuman pun tiba, kali ini aku di panggil ke atas panggung untuk memberikan pidato sebagai murid dengan peringkat pertama di sekolah.
Beberapa menit setelah pidato ku selesai, polisi pun tiba di sekolah dan langsung menagkap ku dan kedua orang tua ku tampa memberikan penjelasan apa-pun.
Berbeda dengan orang tuaku aku tau betul hal ini akan terjadi, namun ya kini aku menjadi popular dan mendapat peringkat pertama berkat obsesi kedua orang tua ku…..
-TAMAT-