Tidak ada satupun dari kita yang mengetahui takdir yang telah ditetapkan oleh sang pencipta. Tidak ada yang tahu alasan manusia dilahirkan dan tidak ada yang tahu kenapa kita di pertemukan jika hanya menimbulkan luka belaka. Kisah ini bermula di hari itu, hari dimana aku mencoba hal baru. Oh ya, namaku Ima, Yaima Jannatun Nissa. Dan ini kisahku...
"Akh! Padahal aku gak mau masuk ekskul ipa! Menyebalkan," gerutu ku sambil menarik kedua pipiku ke bawah.
"Yyaaahhh...salah sendiri mengalah dengan mereka, padahal kan kamu bisa menolak." Balas temanku yang sedang menyeruput segelas Boba yang baru saja ia beli.
Aku hanya menghela nafas memikirkan kenapa aku menerima tawaran guru untuk masuk ke ekskul ipa. "Mukanya kasihan, kau gak lihat dia menangis ingin masuk ekskul seni? Bagaimana bisa aku menolak?" Sahutku sambil mengingat wajah teman sekelas ku yang dibasahi air mata.
Hari ini kami semua harus memilih ekskul yang akan kami lakukan setiap Sabtu, tentu aku lebih suka ekskul seni daripada ekskul lain. Namun, hari ini aku harus mengalah ketika melihat mata berkaca-kaca teman kelasku yang begitu ingin masuk ekskul seni. Yyaaahh...aku terpaksa melepaskan ekskul seni itu, lagipula ekskul ipa tidak terlalu buruk.
Tepar setelah pembagian ekskul, bel masuk berbunyi seluruh siswa dan siswi segera berlari menuju kelas tempat ekskul dilaksanakan.
Aku yang mulanya berencana untuk bolos justru dengan terpaksa harus masuk kesana diakibatkan teman-teman ku yang menarik ku ke depan kelas itu dan meninggalkan ku. Aku hanya bisa menghela nafas panjang kemudian mengumpulkan keberanian untuk masuk ke kelas tersebut, kelas yang sama sekali tidak ada seorang pun yang kukenal.
"Kak, ini kelas IPA!" Kata seorang anak lelaki bertubuh kecil yang berdiri menghalangi langkahku dengan sengaja.
Aku mengerutkan kening menatap bocah itu dengan kesal, "iya, ini ekskul ipa, kan?" Tanyaku balik padanya dengan wajah garang. Bocah itu mengangguk namun masih tetap menghalangi langkahku, "awas! Aku mau masuk," ujarku padanya dengan suara yang menahan kekesalan.
"Tapi ini kelas IPA!" Sahut anak itu kali ini dengan suara lantang. Aku yang sudah gak tahan lagi tentunya ikut meninggikan suaraku dengan muka yang berkerut.
Kami berdebat di ambang pintu itu sampai akhirnya sebuah tangan mendorong pelan pundakku sehingga aku dapat masuk dan menerobos bocah itu, aku termenung beberapa saat mencoba memahami situasi.
"Iya, kak. Masuk, kak. Masuk, kak." Sebuah suara lelaki terdengar ditelinga ku dengan sangat lembut. Aku berbalik panik saat melihat sesosok lelaki tinggi berdiri di hadapanku.
Ia adalah lelaki yang mendorongku masuk kedalam kelas, lelaki tinggi bertubuh kurus, lengan berurat yang di letakkan di depan dadanya, rambut hitam pekat yang rapi, serta pakaian yang sedikit berantakan.
"Bisa gak jangan megang-megang?!" Tanyaku dengan suara yang keras karena kesal. Bocah itu tersenyum lebar melihat ku yang begitu pendek, senyumannya sangat indah, kurasa itu adalah pertama kalinya aku melihat anak lelaki tersenyum seindah itu, matanya yang membentuk sabit ketika tersenyum sangat berkilau. Kami berdiri berhadapan dan diantara kami terdapat ambang pintu, mata kamu saling bertatapan selama beberapa detik.
"Iya, kak. Iya, kak," ucapnya masih sambil tersenyum. Aku segera memalingkan wajahku dan berjalan menuju bangku kosong di barisan paling belakang, tawa cekikikan terdengar dibelakang ku. Tentu saja itu dari bocah itu, tawa lucu yang sedikit berat itu keluar dari mulutnya bagaikan melodi.
Selama ekskul ipa, aku terus-terusan melirik ke arah pintu untuk melihat sosok lelaki tinggi itu. Sesekali aku melihatnya tersenyum manis. Jelas aku masih kesal tentang kejadian tadi namun kurasa ini bukan hanya sekedar perasaan kesal.
Sepulang nya dirumah, aku berbaring di ranjangku sambil terus menatap langit-langit kamar. Kejadian itu terus muncul di dalam pikiran ku sehingga membuatku bertanya-tanya, siapa dia? Kenapa dia santai sekali memegang pundakku? Itu adalah pertanyaan yang bertahan meski sudah melewati 2 malam.
"Ada gak cowok yang kamu suka?" Tanya temanku saat kami saling mengirim pesan teks.
Aku merenung sejenak memikirkan hal itu, mencoba jujur dengan diriku itu sulit namun keraguan ku itu hilang ketika aku teringat tentang lelaki pintu itu.
"Ada..." Ketikku sambil mengingat wajahnya. Siapa sangka hari itu akan menjadi hari dimana bibit rasa ini tumbuh. Dan tanggal itu, tanggal 26-02-2022 adalah hari terindah yang kusebut sebagai Awalan.
Semenjak hari itu, cerita baru terus terukir di setiap hari nya. Terkadang ada kala dimana aku begitu senang karena dapat melihatnya tertawa dan mendengar suaranya namun ada kalanya juga aku merasa aneh melihatnya dengan yang lain.
Tak lama setelah pertemuan itu lebih tepatnya satu tahun empat bulan kemudian aku harus menempu jenjang pendidikan selanjutnya dan meninggalkan sekolah yang ada dia nya. Selama empat bulan terakhir ku disana, aku berusaha maksimal untuk menyapanya setidaknya sekali saja. Akan tetapi tidak ada hasil yang kudapat, saat menyapanya untuk pertama kali aku tak mendapat respon apapun darinya, mungkin karena suaraku kekecilan atau memang dia ragu membalas sapaan orang asing.
Ketika acara wisuda, aku dengan senangnya menunggu nya di depan pintu berharap dia hadir namun harapan tidak seperti kenyataan, tidak ada tanda-tandanya disana. Ketika melanjutkan jenjang pendidikan ku, aku pun masih tetap melakukan kebiasaan ku selama sekolah di Mts, yaitu menunggu kehadirannya di pagar. Aku pun selalu memikirkannya meski sudah tidak satu sekolah lagi dengannya, aku selalu berharap sepuluh tahun segera berlalu agar aku dapat melamarnya.
Tapi, sepertinya itu semua mustahil. Karena orang yang selama ini aku sukai, sedang jatuh cinta dengan orang lain. Mendengar kabar itu aku hanya bisa tersenyum berharap cewek itu memperlakukannya dengan baik. Tidak hanya itu, saat mengetahui dia mengejar cewek itu selama berbulan-bulan dan akhirnya mereka berpacaran sontak hati ku sangat sakit. Aku yang tak pernah berharap dia berpacaran, harus mendengar kenyataan itu.
Lelaki yang kusukai, lelaki yang menjadi cinta pertamaku itu, sekarang sedang mengejar orang yang dicintainya. Cukup dengan itu, tapi ternyata dia juga berpacaran dengan nya. Tapi aneh seribu aneh, perasaan ku padanya masih ada. Bahkan tambah dalam dari sebelumnya, aku jadi ingin membahagiakan nya dan menunggunya seperti orang bodoh.
Setahun ku mengenalnya sudah penuh dengan banyak cerita dimulai dari nya, berbagai cerita tentangku semakin banyak. Aku tak dapat membayangkan apa jadinya jika sepuluh tahun mendatang perasaanku padanya masih ada. Jika itu masih ada, aku memiliki tekad untuknya.
Terkadang aku berpikir, jika bisa...aku ingin menjadi bulan dan mengukir namanya di ribuan bintang. Jika bisa...aku ingin menjadi matahari yang hanya menyinarinya. Jika bisa...aku ingin menjadi pohon yang akan selalu melindungi nya disaat dia butuh kedamaian. Walau perasaanku padanya ini tidak diketahui padanya, tapi aku ingin setidaknya dia mengetahui perasaan ku ini dengan cara yang berbeda.
Setelah merasakan semua ini aku paham akan satu hal. Kalau setiap cerita tidak akan pernah tamat, namun bab dalam cerita nya itu yang tamat. Karena mungkin setelah cerita ku denganmu akan terbit cerita ku dengan yang lain.