Aku hanyalah seorang gadis remaja berumur 17 tahun yang bernama raina. Aku hidup bersama adik laki laki yang berumur 3 tahun lebih muda dariku. Hidup dengan menyandang status yatim piatu cukup berat bagiku untuk menjalankan kehidupanku saat ini. Membayar kebutuhan yang cukup banyak diluar batas kemampuan pekerjaan yang kuperoleh menjadi beban terbesar yang aku pikirin disetiap harinya. Aku hanya hidup didalam rumah kecil yang terbilang cukup layak hasil peninggalan kedua orang tuaku. Banyak orang bertanya "kenapa kamu ga di panti asuhan saja?" Dan jawabanku pun selalu " aku ditinggalkan oleh kedua orang tuaku semasa aku beranjak dewasa.aku menyandang status yatim piatu namun, status ini tidak menjadikanku anak yang lemah untuk pasrah atas semua yang akan kuhadapi. Aku memiliki seorang adik laki laki kesayangan yang menjadi satu satunya keluargaku saat ini. Meskipun ia tidak turut mencari nafkah, namun canda tawa nya tiap hari yang terlihat sudah cukup membuatku senang melihatnya tersenyum lebar.
Pekerjaanku pun bisa terbilang serabutan. Tidak ada yang mau menerimaku untuk menjadi pekerja di dalam usahanya, mereka selalu mengatakan " masih kecil itu fokus belajar bukan bekerja-!"
Haha
Mereka tidak tau bagaimana usahaku untuk bertahan hidup menjadi tupang punggung dari sebuah keluarga yang terdirikan oleh seorang kakak dan adik. Aku membutuhkan sosok orang tua, namun apalah daya tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah keadaan menjadi semula. Keluargaku dulu harmonis. Kami hidup dalam keluarga yang cukup layak. Kami bisa makan 3 kali sehari dan kebutuhan yang kami inginkan selalu terpenuhi. Namun sekarang berbeda... kini aku akan menjadi orang dari adik kecilku
Matahari terbit menyinari sebuah jendela kayu yang menjadi satu satunya tempat tinggal yang tersisa untuk kami. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam lorong mataku dan bergegas membuka jendela untuk menukarkan udara yang belalu lalang. Ku ambil handuk di sisi ranjangku kemudian bersiap siap untuk menuju sekolah dan menerima kenyataan pahit yang sebenarnya.
"Dek bangun" ucapku sambil menguncang pelan tubuhnya yang terlelap.
"Eughh" geliat adekku ketika ia dibangunkan dan menyadarkan diri dari alam bawah sadarmya
"Ayo sekolah siap siap udah jam 6 lewat kita harus upacara hari ini" sambil menyiapkan sarapan aku mengambil handuk yang akan dikenakan oleh adikku
Kami pun sarapan bersama dan langsung menaiki sepeda peninggalan ibu yang sudah ia rawat selama 7 tahun lamanya
*sesampainya disekolah
"Ayo sana buruan ke kelasmu,kakak mau parkir sepeda dulu" sambil memparkirkan sepeda dan menguncinya dengan kunci yang ada, aku langsung berlari menuju kelas karna jam sudah menunjukan angka 06:40. Aku berlari menuju kantin untuk membantu budhe yang mempekerjakan ku ketika disekolah. Setiap pagi, aku harus membantunya melayani siswa yang ingin membeli. Pendapatanku pun lumayan, digaji 15 rb sehari sudah cukup untuk membantunya seharian penuh. Ketika bel masukkan tiba, para siswa bergegas berjalan ke lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Dengan terburu buru, aku membuka tas untuk mencari sebuh topi yang akan kukenakan
Boom
Topi itu tidak ada...
"Perasaan aku udah bawa topi hari ini deh,kok bisa ga ada ya?" Batinku sambil merutuki kecerobohanku sendiri.
Aku berlari ke arah lapangan dan berbaris dengan siswa yang bernasib sepertiku juga. Saat upacara selesai, kami di panggil untuk diberi wejangan pagi agar tidak mengulangi kesalahan yang sama
"Udah gede bawa topi aja susah!mau jadi apa kalian?!"
Membawa adik untuk bersekolah hingga jenjang perguruan tinggi adalah cita citaku untuk saat ini. Sudah cukup diriku untuk menjadi anak yang menjadi tulang pungung keluarga. Hidupku menyedihkan.. aku juga ingin kuliah
Saat kecil aku memiliki cita cita untuk menjadi dokter, menjadi seorang yang berjasa bagi orang lain dan menjadi salah satu alasan untuk orang bahagia adalah cita citaku. Ditinggalkan karna alasan takdir adalah hal yang paling menyakitkan di dunia ini. Maka dari itu, aku ingin menjadi dokter yang dapat menyembuhkan orang lain agar tidak merasakan kehilangan seperti apa yang kurasakan
Pulang sekolah aku langsung mengantarkan adikku untuk pulang kerumah dan langsung bekerja menjadi beberapa lembar rupiah yang kubutuhkan.
Saat hendak pergi tiba" adikku yang bernama anan mencegatku dan berkata
"Kak, bentar lagi aku ulang tahun...aku boleh minta kue dan es krim?"
Oh iya, 2 hari lagi anan akan berulang tahun. Anan mengatakan itu terlihat dengan perasaan tidak enak.Aku tahu kalau anan semasa hidupnya tidak pernah merasakan yang namanya perayaan ulang tahun. Saat ia lahir, masa jaya orang tuaku sudah mulai hilang. Kami mulai merasakan hidup susah karna ayah kami pensiun pada akhirnya. Ibukku hanya membantu untuk menjual gorengan yang ia buat setiap harinya. Penghasilannya pun tak menentu, sehari hanya laku paling banyak 30 gorengan. Namun kami tetap bersyukur dengan apa yang kami dapatkan. Selama kami masih makan dengan layak, kami tidak akan pernah merasa kekurangan.
"Iyaa nanti kakak usahain beli ya??kalo gitu kakak kerja dulu buat beliin kue yang kamu mau " ucapku sambil mengacak pelan rambutnya.
2 hari lamanya aku berusaha mengumpulkan uang untuk membelikan anan kue yang diinginkannya.namun aku hanya dapat mengumpulkan uang 40 ribu dari hasil pekerjaanku. Pergi ke toko kue berlabel dengan membawa uang 40 ribu membuat kepercayaan diriku seketika pun turun.
Dengan ketekad an diri, aku bertanya kepada penjual kue dihadapanku
"Mbak kue ini berapa ya?" Tanyaku sambil memegang erat uang 40 ribu yang ada di saku celanaku.
"Kalo yang ini 150rb ya mba, udah include tulisan happy birthday" balas mbaknya dengan jawaban ramah.
"Kalo yang paling murah disini berapa ya?"
"60rb kak udah ukuran paling kecil"
"Yaudah mba nanti saya balik lagi ya lain kali, mau ambil uang dulu" alasanku sungguh klasik, hanya karna tidak membawa uang yang cukup aku merasa sedih dengan usahaku yang tidak dapat membayarkan kue yang anan inginkan. Pulang kerumah membawa sepotong kue bolu yang kubeli di pinggir jalan dengan sebatang lilin yang belum dinyalakan. Kuletakkan kue itu di atas meja yang biasa anan gunakan untuk belajar. Menunggunya pulang dari rumah temannya.
Raina menunggu sang adik pulang hingga ia terlelap dalam tidurnya
Tiba tiba terdengar suara pecahan kaca yang terbanting keras
*prakkk
Raina terbangun dari tidurnya dan langsung bangun untuk memastikan keadaan. Ia melihat sang adik dengan mata yang merah dan mengeluarkan air mata bersama tangannya yang berdarah
"Bahkan untuk membeli seloyang kue pun kakak tidak mampu? ini hari bahagiaku kak kenapa kakak gak pernah bisa wujud in semua keinginanku?! Aku benci sama kakak" teriak anan sambil membanting pintu rumah kuat kuat
Sakit rasanya ketika adik satu satunya membentakmu karna tak bisa mewujudkan keinginannya. Ternyata aku kakak yang pengecut...membeli seloyang kue segarga 150rb belum menjadi kemampuanku untuk mewujudkan keinginannya itu. Aku berjalan ke arah kamar dan membuka lemari mencari sebuh kotak perhiasan yang menjadi satu satunya peninggalan orang tuaku untukku. Ya... itu adalah kalung emas yang diberikan orang tuaku untukku sewaktu aku berusia 2 tahun. Aku ingin menggadaikannya dan membeli seloyang kue yang diinginkan adikku. Buru buru aku mengambil sepeda di gudang dan bergegas ke toko kue yang kudatangin tempo lalu.aku menuliskan sebuah surat kecil yang akan kuberikan untuk adikku nanti
Dari : kakak
Untuk : anan adik kecil
Anan maafin kakak karna belum bisa wujud in kemauanmu untuk beli kue yang kamu mau.kue ini kakak beli dari hasil emas yang kakak jual, dimakan ya dek dan ada sebagian uang yang kakak sisihkan untuk kamu jajan kecil kecil an.bahagia selalu ya adikku anann..kaka izin kerja yang jauh"
Rupanya ini adalah surat terakhir yang anan baca sebelum kecelakaan besar yang menimpa sang kakak hingga dinyatakan sang kakak mengentikan nafas terakhirnya. Dengan perasaan menyesal ia menangis sambil memehang erat kue dan surat yang ia terima.
Berkunjung ke mendiang sang kakak adalah mimpi terburuk sekaligus kenyataan pahit yang harus ia terima. Kini ia merasakan kehilangan yang kedua kalinya....
End