Keluarga Pristio adalah salah satu keluarga yang terpandang di Kerajaan Dereau karena kehebatan mereka menggunakan pedang secara turun-temurun di kerajaan.
Suatu hari Keluarga Pristio mendapat kabar baik bahwa nyonya besar keluarga itu akan melahirkan anak kembar, semua anggota keluarga bersorak amat bahagia.
Kedua putri kembar mereka diberi nama; Berdine Pristio dan Madalyne Pristio. Kedua putri kembar itu dianugrahi bakat dan kecantikan yang luar biasa oleh Dewa, namun sayangnya bakat yang mereka miliki amat bertolak belakang, sampai salah satunya menyesali bakat yang ada pada dirinya, yaitu Madalyne Pristio, putri kedua Keluarga Pristio ini harus merasakan kebencian dari ayahnya sendiri, Kepala Keluarga Pristio, karena bakat berpedang yang dikuasinya melebihi kehebatan ayahnya sendiri, sehingga menimbulkan rasa iri hati pada sang ayah yang tidak lain adalah Jenderal terbaik Kerajaan Dereau.
Madalyne Pristio yang hanya bisa menerima perlakuan kasar ayahnya, terus mengasah kemampuannya berpedang, dengan syarat dia tidak boleh sekalipun keluar dari kediaman kecuali jika ada pertemuan keluarga yang penting, itu pun tidak diperbolehkan menampakkan wibawa seorang ksatria yang sudah tertanam dalam dirinya, apalagi sampai membawa pedang walau dengan alasan menjaga diri sekalipun.
Karena syarat itulah Madalyne Pristio tidak mendapatkan pendidikan yang layak seperti kakaknya, Berdine Pristio. Setiap harinya hanya dihabiskan dengan menerima siksaan dari ayahnya, dan terus mengayunkan pedang, sampai Madalyne tidak memiliki sedikitpun teman yang bisa diajaknya untuk berbicara, kecuali pelayan pribadinya Tiste, dan seorang Jenderal muda dari Kerajaan Yvon yang tidak sengaja ditemui Madalyne saat dia mengendap-endap keluar rumah demi melihat dunia luar.
Madalyne yang kecil dan polos saat itu, tidak sengaja tersesat di pasar. Tidak mungkin Madalyne akan bertanya pada salah satu rakyat yang berkeliaran di pasar tentang di mana rumahnya, Kediaman Keluarga Pristio. Dia hanya akan dicambuk berat oleh ayahnya karena ketahuan kabur dari rumah.
Gadis kecil itu terus berjalan tanpa arah, dia berusaha untuk menahan tangisannya, sampai Madalyne mendengar suara teriakan di gang kecil yang baru dilewatinya beberapa langkah tadi.
Refleks Madalyne langsung berlari ke gang itu kembali, pupil mata gadis kecil itu melebar melihat pemandangan yang sudah tak asing bagi dirinnya. Seorang anak laki-laki yang sepantaran dengannya dicambuk kasar oleh beberapa orang tua dengan perut buncit yang mengelilingi anak laki-laki itu.
Gadis kecil itu menggepalkan erat tangannya, tak tahan dengan apa yang dilihatnya saat ini, dengan penuh wibawa Madalyne melotot pada orang-orang tua dengan perut buncit itu dan melontarkan ancamannya, namun orang-orang tua itu malah tertawa dengan keras dan melayangkan pukulan pada Madalyne, dengan gesit Madalyne berhasil menghindar, tangan kecilnya mulai berbalik untuk mengambil sebilah pisau yang ada di kantong orang tua yang hendak memukulnya tadi.
Mereka semua yang ada di gang kecil itu kaget melihat apa yang baru saja dilakukan gadis kecil ini, tanpa membuang-buang waktu Madalyne langsung menebas perut buncit setiap orang tua tersebut. Cukup 5 detik waktu yang diperlukan gadis kecil itu untuk menjatuhkan 3 orang tua dengan porsi tubuh yang 3 kali lipat lebih besar darinya.
Madalyne mengulurkan tangannya pada anak laki-laki yang dicambuk oleh orang-orang yang kini sudah terkapar itu, anak laki-laki itu terpana menatap Madalyne tanpa sekali pun berkedip. Anak laki-laki itu langsung mengeluarkan sehelai sapu tangan dari kantong celananya untuk membersihkan darah-darah yang berceceran di tangan dan wajah Madalyne.
Kedua anak kecil itu saling melempar ucapan terima kasih, sejak saat itu hubungan mereka jadi terikat, anak laki-laki itu menganggap gadis kecil yang menolongnya sebagai malaikat, dan gadis kecil itu pun juga menganggap anak laki-laki yang ditolongnya sebagai malaikat karena sudah mengantarkan dirinya sampai ke Kediaman Keluarga Pristio dengan selamat. Sejak saat itu anak laki-laki yang ditemui Madalyne selalu datang setiap hari ke halaman belakang Kediaman Keluarga Pristio untuk berlatih pedang dengan Madalyne.
Di usia mereka yang sudah menginjak ke-19 tahun, keluarga Kerajaan Dereau mengirimkan undangan ke Keluarga Pristio, undangan itu berisi tentang pemilihan calon istri untuk Pangeran ke-2 Kerajaan Dereau, Valiant Dereau. Kedua putri kembar yang sudah tumbuh menjadi gadis-gadis yang cantik itu, ikut pada acara pemilihan istri untuk Pangeran Valiant Dereau.
Kepala Keluarga Pristio berharap agar Berdine dipilih oleh Pangeran, alasannya hanya satu, demi menaikkan nama keluarga, berbeda dengan Madalyne yang menginginkan perhatian dari ayahnya.
Saat Madalyne hendak menyapa raja, ratu, dan Pangeran Dereau, kejadian tak terduga terjadi, Madalyne menjadi pusat perhatian di pesta karena tamparan yang dilayangkan oleh Jenderal Pristio padanya. Berkat pertemuannya dengan March Dereau, Pangeran ketiga Kerajaan Dereau itu membela Madalyne yang tidak bersalah, sehingga Jenderal Pristio diberi hukuman penurunan pangkat oleh raja, dari jenderal besar istana menjadi prajurit biasa. Di malam pesta itu Madalyne juga mengetahui hal busuk yang terjadi dalam keluarga kerajaan, tentang Pangeran Hilaire yang hendak diracuni.
Siapa yang akan menyangka bahwa di antara banyaknya putri-putri keluarga besar yang ikut menghadiri pesta di Istana Kerajaan Dereau, yang dipilih oleh Pangeran Valiant adalah Berdine Pristio. Banyak para gadis yang kecewa karena dirinya tidak terpilih, termasuk Madalyne.
Namun di malam itu, Madalyne mendapat ciuman pertama dari orang yang sudah tidak asing lagi bagi dirinya, Evrard Felix. Anak laki-laki yang menjadi malaikat penolongnya selama ini.
Setelah pesta pemilihan itu, tak mungkin Madalyne tidak akan dihukum oleh ayahnya, Kepala Keluarga Pristio. Karena sudah membuat dirinya malu di istana, sekaligus membuat beliau turun pangkat sangat drastis.
Hari-hari demi dilalui Madalyne dengan terus mengayunkan pedangnya sampai berkarat bersama Evrard Felix, termasuk menjadi wadah pelepasan amarah ayahnya sendiri. Amat berbeda dengan yang dialami kakak kembarnyanya, Berdine Pristio. Yang sibuk menghabiskan waktunya hari demi hari dengan banyak belajar mata pelajaran khusus bangsawan di kerajaan, termasuk berkencan dengan Pangeran Valiant.
1 bulan lamanya setelah pesta pemilihan istri untuk Pangeran Valiant, akhirnya datanglah saat di mana acara pertunangan akan dilangsungkan. Berdine sudah siap dengan gaun dan riasannya yang amat memukau, Madalyne hanya bisa menatap kosong pemandangan yang tak pernah dia rasakan, dan mungkin selamanya tidak akan pernah.
Kereta kuda khusus dari istana sudah sampai di kediaman Keluarga Pristio. Pangeran Hilaire, yang menjadi pimpinan pasukan untuk menjemput Berdine Pristio, mengulurkan tangannya pada Berdine untuk menaiki kereta kuda, diikuti oleh kepala keluarga dan nyonya besar Pristio.
Madalyne tidak hadir di acara pertunangan Berdine, karena luka serius akibat cambukan dari ayahnya sendiri. Kepala keluarga Pristio itu melarang keras Madalyne untuk ikut.
Acara pertunangan berjalan dengan lancar dan baik. Esok lusanya Madalyne dan Berdine di undang oleh Raja Dereau untuk menghadiri pesta ramuan teh di kerajaan, saat itulah Madalyne dan Berdine merasakan ada yang aneh dengan tubuh mereka, Madalyne dan Berdine langsung meminta izin pada keluarga kerajaan untuk kembali ke kediaman mereka segera.
Esok paginya Madalyne terkejut menatap penampilan dirinya di depan kaca kamarnya, warna rambut merah kehitamannya kini berubah menjadi merah muda, membuat dirinya kini menjadi persis seperti Berdine. Hantaman pintu kamar mengangetkan Madalyne, pupil mata Madalyne membesar melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini. Berdine Pristio, warna rambutnya persis dengan warna rambut Madalyne dulu, merah kehitaman.
Berdine mengguncang keras tubuh Madalyne, menanyai apa yang sebenarnya telah terjadi pada mereka berdua. Madalyne menatap miris kakaknya kini yang terlihat seperti orang gila, seakan tak rela dirinya menjadi Madalyne, dan Madalyne menjadi dirinya.
Hantaman pintu kamar Madalyne kembali terdengar. Kepala Keluarga Pristio, ayah mereka berdua melotot tajam pada Berdine, lalu menarik kasar rambut Berdine, putri kesayangannya selama ini. Berdine meringis kesakitan dan mencoba untuk memberontak, tapi malah tamparan yang di dapatkannya, pemandangan ini adalah pemandangan sehari-hari bagi Madalyne, yang selalu dia rasakan hampir setiap hari.
Tak tega melihat kakaknya yang meringis sampai banjir air mata itu, Madalyne berniat untuk mengentikan tindakan ayahnya, tapi Madalyne langsung tersadar bahwa kini dia adalah Berdine, dan yang di depannya saat ini adalah Madalyne. Seharusnya kemarahan ayahnya kini tertuju pada dirinya, namun karena paras mereka berdua sangat mirip, yang membedakan hanyalah warna rambut, tapi karena sekarang warna rambut mereka telah tertukar, sudah jelas identitas mereka juga akan tertukar.
Berdine masih memberontak pada ayahnya sambil memberi penjelasan bahwa dia adalah Berdine, bukan Madalyne. Namun ayahnya sama sekali tak mengindahkan ucapan putri kesayangannya itu dan malah menyuruh pelayan yang lewat untuk mengambilkan cambuk, cambuk yang dia lepaskan pada Berdine berbunyi sangat keras, dari gaun putih yang dikenakan oleh Berdine keluar begitu banyak darah.
Setelah puas mencambuk Berdine, Kepala Keluarga Pristio itu langsung menanyakan keadaan Madalyne sekaligus meminta maaf atas apa yang diperbuatnya di hadapan Madalyne yang dia pikir adalah Berdine. Madalyne terkejut melihat ekspresi bersalah ayahnya kini, walau ekspresi itu bukan untuknya, tapi hati Madalyne terasa sangat panas seperti terbakar. Untuk pertama kalinya, dia mulai memiliki rasa benci pada ayahnya itu, atas apa yang dilakukan ayahnya selama ini padanya, tak sekali pun Madalyne membenci ayahnya, namun kini rasa benci itu mulai muncul dan membuncah dengan sangat cepat.
Madalyne menyadari, sampai kapan pun atau barang sedetik pun, laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya kini tak akan pernah menyayanginya, bahkan untuk mengakui bahwa Madalyne adalah putrinya pun, itu mustahil.
Terlintas di pikiran Madalyne saat ini, barang sehari saja... merasakan hidup seperti Berdine.
Kini dalam ruangan itu hanya ada Madalyne dan Berdine, Madalyne hanya menatap rendah Berdine yang kini sedang bersimpuh menahan kesakitan di lantai kamarnya yang sudah kotor karena banyak darah dari Berdine, tak sedetik pun Berdine bergerak, pandangannya hanya terus tertunduk ke bawah.
Madalyne mulai mendekat perlahan ke arah Berdine, membisikkan kata-kata bahwa rasa sakit yang di derita Berdine saat ini adalah rasa sakit yang selalu dia rasakan setiap saat dari kecil, Berdine mulai membuka kembali matanya sambil memeluk erat Madalyne dan berulang kali membisikkan kata maaf pada Madalyne.
Madalyne meminta Berdine untuk tetap menjadi dirinya, hanya sampai minggu depan. Awalnya Berdine menolak permintaan Madalyne, tapi setelah Madalyne berjanji akan mengembalikan warna rambut mereka secepatnya, Berdine jadi menyetujui permintaan Madalyne, tanpa mengetahui apa penyebab warna rambut mereka bisa berubah.
Tapi tak pernah terlintas sekalipun dalam benak Madalyne untuk mengembalikan identitas mereka. Madalyne mengambil pedangnya dan melemparkan pedang itu pada Berdine. Menyuruh Berdine untuk berlatih mengayunkan pedang, lagi-lagi Berdine menolak, dengan alasan untuk berdiri saja dia sudah tidak sanggup. Namun Madalyne menolak alasan Madalyne, karena Berdine dengan penampilan Madalyne yang lemah saat ini, bisa menimbulkan kecurigaan.
Madalyne langsung ke luar dari kamarnya untuk memulai aktifitas Berdine, mempercayakan luka-luka Berdine pada Tiste yang diam-diam sudah tau, bahwa wanita yang lukanya dia rawat saat ini bukanlah nona mudanya, karena tidak ada setitik pun bekas luka pada tubuh wanita yang sedang dirawatnya.
Tiste hanya berpikir tentang satu hal, bahwa wanita yang melewatinya sambil tersenyum kecil padanya saat masuk ke kamar Madalyne tadi adalah nona-nya. Karena Berdine, sekali pun tak pernah tersenyum pada Tiste.
Selama 3 hari kedua gadis kembar itu saling bertukar kebiasaan sehari-hari mereka, setelah Madalyne masuk ke kamar Berdine 3 hari yang lalu, dia langsung mengirimkan surat pada Evrard agar tidak ke kediaman keluarganya dulu dalam satu minggu ini. Evrard membalas surat Madalyne untuk menanyai apa alasannya, Madalyne tersenyum kecil membaca balasan surat dari Evrard dan mulai menuliskan alasan yang sebenarnya pada Evrard, tanpa sedikit pun ia tutupi pada malaikat penolongnya itu.
Namun Madalyne jadi lupa bahwa saat ini dia adalah Berdine, setelah melihat Pangeran Valiant berdiri di hadapannya sambil menyunggingkan senyum lebar. Pangeran Valiant mengajak Madalyne untuk bermain sambil pesta minum teh kecil di istana. Madalyne belum mengkonfirmasi tentang hal ini pada Berdine, tentang hal apa sajak yang dilakukan oleh Berdine dengan pangeran.
Madalyne yang saat ini sedang kacau, malah semakin gelisah saat melihat Berdine melangkah mendekat ke arahnya. Berdine membungkukkan tubuhnya pada Pangeran Valiant memberi hormat, lalu berbisik pada Madalyne tentang kebiasaannya bermanja dengan pangeran. Madalyne menghela nafasnya sejenak dan mengucapkan terima kasih pada Berdine, lalu langsung ikut dengan Pangeran Valiant ke istana.
Madalyne tersentak kaget saat mendengar pangeran mengajak Berdine untuk ikut ke pesta kecil itu, tanpa meminta persetujuan dari Madalyne, Berdine langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Tapi sayangnya Pangeran Valiant hanya bisa menumpangi satu gadis di kudanya, Madalyne dan Berdine jadi gelisah jika identitas mereka ketahuan. Berdine meminta maaf pada pangeran untuk tidak jadi ikut pesta kecil itu, namun pangeran juga menolak permintaan maaf Berdine, memaksa keduanya untuk tetap ikut.
Dalam situasi saat ini, seharusnya yang ditumpangi oleh pangeran di atas kudanya jelas adalah calon istrinya, Berdine. Yang saat ini sedang berganti identitas dengan Madalyne, namun jika harus menunggaki kuda lain, maka orang itu adalah Madalyne yang saat ini memakai identitas Berdine.
Jika Madalyne yang harus menunggangi kuda baru, itu bukanlah hal sulit, namun Madalyne yang sekarang adalah Berdine, gadis yang akan ditumpangi oleh pangeran. Sedangkan Madalyne yang berdiri saat ini tidaklah mahir menunggangi kuda, karena dia adalah Berdine, yang hanya menghabiskan waktu dengan mengasah otak.
Madalyne melirik pada Berdine yang kelihatan tidak tau harus berbuat apa, Madalyne jadi harus memutar otaknya dan mengambil risiko yang berat. Madalyne meminta pada pangeran agar menunggangi kuda bersama Madalyne yang tidak lain adalah Berdine, dan Madalyne yang saat ini memakai identitas Berdine akan menunggangi kuda sendirian. Karena bagaimana pun pangeran tidak tau bahwa Berdine tidak mahir menunggaki kuda.
Pangeran dengan cepat menyetujui tawaran Madalyne, Madalyne langsung ke kandang kuda Keluarga Pristio untuk mengambil kuda yang akan dipakainya, mau tak mau Madalyne harus terlihat seperti orang bodoh saat menunggangi kuda sampai istana. Selama di perjalanan Madalyne merasa kehadirannya tidaklah di anggap, pangeran lebih suka berbincang dengan Berdine tanpa sekali pun melirik ke arah Madalyne dengan penampilan Berdine saat ini, seakan yang di sukai oleh pangeran adalah Madalyne bukan Berdine.
Wangi aroma teh sudah tercium di meja satu-satunya yang ada di taman istana, kue-kue mewah pun sudah terhidang dengan cantik di atas meja. Para pelayan yang sudah berdiri di sana lebih awal pergi meninggalkan taman dan kembali ke istana atas perintah Pangeran Valiant.
Dengan sopan Pangeran Valiant mempersilahkan Madalyne dan Berdine duduk, sebelum menyeruput teh, mereka berbincang singkat beberapa menit, tentang pesta seperti apa yang di inginkan oleh Berdine yang saat ini adalah Madalyne, juga tentang tanggal pernikahan. Setelah topik pembahasan itu habis, pangeran mulai menanyai banyak macam hal pada Madalyne yang saat ini adalah Berdine, tentang bagaimana keseharian Madalyne dia lewati di Kediaman Keluarga Pristio.
Merasa dirinya lagi-lagi tidak di anggap, Madalyne dengan fisik Berdine saat memutuskan beranjak dari meja itu, dengan alasan ingin melihat-lihat bunga di taman. Awalnya pangeran mengajukan diri untuk menemani Madalyne, tapi Madalyne menolak tawaran pangeran, karena Madalyne sudah cukup muak melihat wajah Pangeran Valiant.
Madalyne yang saat ini memakai identitas Berdine, mulai melangkah sambil menikmati pemandangan di taman istana. Langkah Madalyne terhenti tepat di depan sebuah bunga berwarna merah muda yang cukup asing baginya. Madalyne tersentak kaget saat mendengar suara salah seorang pelayan istana yang ada di taman itu mendekat ke arahnya.
Pelayan itu seakan tau apa isi kepala Madalyne saat ini, tanpa diminta dia mulai menjelaskan tentang bunga itu, ‘HYDRADIE’ itulah nama bunga dengan warna merah muda tersebut, mitosnya bunga ini adalah bunga penyihir, konon katanya... bunga itu bisa menukar salah satu bagian dari benda yang saling terikat. Terlebih bunga itu adalah bunga yang dijadikan bahan campuran untuk teh pada pesta teh 3 hari yang lalu.
Madalyne jadi terdiam mendengar penjelasan pelayan itu, Madalyne bertanya pada pelayan tersebut tentang siapa yang menanam bunga HYDRADIE ini, namun pelayan itu menggelengkan kepalanya, dia menjawab bahwa bunga HYDRADIE ini sudah tertanam di sini sebelum Kerajaan Dereau ini terbentuk, jadi tidak ada yang tau siapa yang telah menanamnya, para pelayan sebelumnya pun juga tidak ingin membongkar bunga ini karena mereka menyukai bunganya, sebab wanginya yang nikmat dan bentuknya yang cantik.
Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan Madalyne saat dia dipanggil oleh pelayan lainnya, mata Madalyne terus terfokus pada bunga itu, Madalyne mendekatkan hidungnya pada bunga HYDRADIE untuk menciumi bau-nya. Madalyne kembali terperanjat saat tau bau bunga tersebut sama persis dengan aroma teh yang diminumnya 3 hari yang lalu. Madalyne berpikir bahwa bunga inilah yang menyebabkan dia bisa bertukar warna rambut dengan Berdine, ternyata mitos yang dikatakan oleh pelayan tadi adalah fakta. Karena Madalyne dan Berdine sudah jelas terikat, sebab mereka kembar.
Madalyne mulai memetik 2 helai kelopak bunga HYDRADIE tersebut dan menyimpannya di dalam kantong gaun merah maronnya. Madalyne kembali melangkah ke meja di mana Berdine dan Pangeran Valiant berada, mereka langsung masuk ke istana untuk menyapa raja dan ratu.
Malamnya di kamar Berdine, Madalyne terus menatap kelopak bunga HYDRADIE yang dipetiknya tadi sore di taman kerajaan. Madalyne berpikir apa dia bisa kembali mendapatkan warna rambut aslinya setelah memakan bunga itu, tapi dari awal Madalyne sama sekali tidak berminat merasakan kembali hidup kelamnya dengan identitas dirinya sebagai Madalyne, namun di sisi lain, Madalyne tidak tau sampai kapan identitasnya sebagai Berdine ini bertahan, apakah mungkin bunga HYDRADIE ini juga mempunyai batas waktu untuk menukar warna rambut mereka? Jika itu terjadi, maka Madalyne harus memanfaatkan 2 kelopak bunga yang ada di genggamnya saat ini. Dan 2 kelopak bunga itu... memang harus digunakan Madalyne setelah 4 hari kemudian.
Saat terbangun dari tidurnya, Madalyne terdiam seketika melihat perubahan warna rambutnya, dengan cepat Madalyne langsung ke kamar aslinya yang kini dipakai oleh Berdine, Madalyne menghela nafasnya melihat Berdine yang masih tertidur pulas setelah dicambuk oleh ayahnya malam kemaren. Madalyne langsung memasukkan satu kelopak bunga itu pada air minum yang ada di sebelah Berdine, dan perlahan meminumkan setengah untuk Berdine dan setengah lagi untuk dirinya.
Tiste yang ada di balik pintu, melihat apa yang sedang dilakukan oleh Madalyne, Madalyne yang dari awal memang sudah mengetahui keberadaan Tiste, menyuruh Tiste untuk masuk. Tiste langsung menuruti perintah Madalyne.
Sedari awal Madalyne sudah menduga bahwa Tiste pasti tau tentang dirinya yang sebenarnya, karena selama ini Tiste lah yang merawat luka-lukanya. Pasti setelah kejadian seminggu yang lalu, Tiste terkejut saat tau tubuh wanita yang sedang di obatinya tidak ada bekas luka sama sekali, sedangkan nonanya memiliki banyak bekas luka. Tidak hanya itu, Berdine terkenal akan dirinya yang hanya sibuk belajar, tanpa memperhatikan pelayan-pelayan yang ada di kediaman, tidak sekali pun Berdine pernah menyapa atau tersenyum pada pelayannya. Karena itulah saat melewati Tiste, Madalyne menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis, senyuman yang selalu dilihatkan Madalyne pada Tiste saat bahagia.
Hari itu, Berdine meminta Madalyne untuk menepati janjinya, tentang bagaimana cara agar warna rambut mereka segera kembali, namun Madalyne menjawab dia tidak menemukan caranya, Berdine mendengus sebal dan meminta Madalyne untuk mengakui pada semua orang bahwa warna rambut mereka telah tertukar tanpa sebab, jelas Madalyne menolak hal itu.
Berdine mulai geram pada Madalyne, dia sudah terlampau muak terus mengayunkan pedang setiap hari seorang diri di halaman belakang, sudah muak dengan rasa sakit yang ditahannya saat dicambuk oleh ayahnya yang selama ini menyayanginya. Berdine melontarkan banyak kata-kata buruk tentang Madalyne, betapa bodohnya Madalyne yang mau dicambuk setiap saat oleh ayahnya, tentang betapa bodohnya Madalyne yang tidak mau memamerkan bakatnya itu di kerajaan, tentang betapa bodohnya Madalyne karena tidak membunuh ayahnya yang tega menyakitinya, tentang betapa bodohnya Madalyne yang mau saja mengantikan posisinya selama seminggu penuh itu karena Berdine sudah terlampau malas untuk belajar, dan tentang seberapa bodohnya Madalyne yang tidak pernah tau alasan kenapa ayahnya begitu membencinya adalah karena Berdine, dia mampu merangkai kata-kata yang membuat Kepala Keluarga Pristio membenci bakat yang ada pada adiknya, semua itu bukan karena ayahnya takut kemampuannya tersaingi oleh putrinya sendiri, tapi karena ayahnya tidak ingin Madalyne sampai terluka jika suatu saat dia ikut berperang, atau mungkin mati dalam peperangan pada usianya yang masih muda, alasan ini pulalah yang membuat ayah mereka melarang Madalyne untuk keluar dari kediaman, membiarkan Madalyne untuk mengasah sendiri kemampuaanya, agar suatu saat Madalyne menjadi pendekar hebat yang tak mampu terkalahkan, agar tidak ada seorang pun yang tau bibit unggul yang ada dalam diri putrinya yang masih kecil, karena jika sampai ada yang tau, kemungkinan besar orang-orang di luar sana akan membunuh Madalyne karena bisa menggoyahkan kerajaan lain dengan kekuatannya, namun lama-kelamaan, rasa ingin melindungi putrinya itu, menjadi rasa benci akibat racun hati yang selalu dimasukkan oleh Berdine setiap saat pada teh ayahnya.
Berdine langsung membungkam mulutnya saat sadar dengan apa yang baru saja dia katakan, Tiste yang hendak masuk membawa air mengurungkan niatnya, berbeda dengan Madalyne yang kini matanya melotot tajam pada Berdine yang tengah gemetaran. Madalyne berusaha untuk menahan emosinya, walau dia tidak pernah menduga selama ini, bahwa yang alasan kenapa dia tidak bisa membenci ayahnya adalah karena sekasar apapun perlakuan ayahnya selama ini, setidak di anggap apapun dirinya di dalam keluarga, itu adalah demi kebaikan dirinya sendiri. Alasan kenapa dia hanya bisa menerima cambukan ayahnya jugalah karena ayahnya melakukan hal itu bukan dari hati murninya, Madalyne jadi menyadari tentang rasa bencinya yang muncul pada saat ayahnya mencambuk Berdine dulu, semua itu bukan karena dia sudah muak pada ayahnya, namun karena dia muak pada dirinya sendiri yang tidak mengatahui fakta yang menyakitkan ini.
Madalyne yang langsung menampar pipi Berdine dengan keras, sekeji apapun hal yang telah dilakukan Berdine padanya, tetap saja Berdine adalah saudaranya sendiri. Madalyne hanya meminta satu hal pada Berdine, agar Berdine tidak memasukkan racun hati itu lagi pada ayah mereka, bukan karena Madalyne ingin mendapatkan perhatian ayahnya, namun karena Madalyne tidak ingin jika ayahnya mengonsumsi racun itu terus-menerus, itu bisa merusak organ tubuhnya yang lain.
Bukan karena Madalyne baik hati sampai ingin memaafkan kesalahan Berdine padanya, hanya saja Madalyne tau bahwa Berdine iri pada bakat yang dia miliki. Madalyne menuangkan kembali air pada gelas yang dipakainya tadi, Madalyne memasukkan kelopak bunga HYDRADIE yang tersisa ke dalam gelas itu. Setelah menyeruput setengah gelas, Madalyne menyerahkan setengah gelas yang tersisa pada Berdine.
Berdine menghabiskan sisa air yang ada di gelas itu, tak butuh waktu lama warna rambut mereka kembali seperti semula, tidak seperti saat mereka pertama kali menyeduh minuman yang di campur dengan bunga HYDRADIE itu, karena tubuh mereka sudah kebal dengan efek dari bunga HYDRADIE tersebut.
Madalyne mengambil pedangnya dan langsung keluar dari kamar membiarkan Berdine seorang diri di kamarnya sendiri. Berdine menatap punggung Madalyne yang menjauh dari pandangannya dengan air mata yang mengalir deras.
Saat hendak berjalan ke halaman belakang, langkah Madalyne langsung terhenti karena mendapati Evrard sedang duduk menyandar di pohon besar bersama Tiste. Evrard melambaikan tangannya pada Madalyne dengan tatapan hangat.
Tiste langsung pergi meninggalkan halaman belakang setelah melihat Madalyne datang dengan pedangnya.
Dalam 2 minggu yang terasa sangat lama bagi Madalyne yang hanya sibuk mengayunkan pedang di halaman belakang seorang diri, karena Evrard hanya bisa mengunjungi dirinya 1 kali dalam seminggu tanpa alasan yang jelas, dalam 2 minggu ini Berdine selaku calon menantu kerajaan menetap di istana karena persiapan acara pernikahan Pangeran Hilaire dengan Putri Yvon, mungkin hal ini jugalah yang membuat Evrard tidak bisa setiap hari mengunjungi Madalyne karena status Evrard sebagai Jenderal Muda Kerajaan Yvon, dan Kepala Keluarga Pristio juga tidak diizinkan pulang belakangan ini, mengingat statusnya yang hanya prajurit biasa kerajaan, bukan lagi Jenderal Utama, sedangkan nyonya muda Keluarga Pristio hanya sibuk bersolek, sekali-sekali menemani Berdine di istana, itu pun atas suruhan suaminya.
Akhirnya hari H pernikahan Pangeran Hilaire dan Putri Yvon pun datang, Madalyne ikut menghadiri pesta pernikan pangeran dan putri, karena menerima undangan dari kedua belah pihak. Madalyne hanya berdiri memandangi Putri Yvon yang duduk sendirian di pelaminan, Pangeran Hilaire belum kelihatan dari tadi, sedangkan Berdine, kedua orangtua mereka, raja dan ratu, serta Evrard berdiri di samping Putri Yvon.
Sudah 10 menit berlalu, tapi ketiga pangeran kerajaan itu sama sekali belum kelihatan batang hidungnya, tak berapa lama kemudian March keluar dari salah satu pintu di balik tirai istana, membisikkan sesuatu pada raja dan ratu. Raja dan ratu nampak tersentak kaget, ratu langsung berlari meninggalkan aula istana diikuti oleh March, sedangkan raja tengah berbisik pada kedua orangtua Putri Yvon.
Para tamu undangan sibuk berbisik-bisik, menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang terjadi. tak berapa lama kemudian pandangan Putri Yvon nampak kosong, Berdine dan Ratu Yvon mencoba menenangkan Putri Yvon yang kini sedang berlinang air mata. Raja langsung memberi titah pada beberapa pimpinan kerajaan untuk membubarkan pesta, acara pernikahan yang meriah itu kini dibatalkan.
Para tamu undangan kembali ke kediaman mereka masing-masing, dengan segenap pertanyaan yang tertinggal di kepala mereka. Seorang prajurit kerajaan mendekati Madalyne yang tidak tau apa-apa. Prajurit itu mengajak Madalyne untuk ke ruang tunggu kerajaan, karena status Madalyne sebagai saudara Berdine yang merupakan tunangan pangeran.
Beberapa anggota keluarga Kerajaan Yvon sudah ada di ruang tunggu istana, Madalyne melirik kiri-kanan, namun dia tidak melihat Evrard sama sekali. March mengenggam tangan Madalyne, dan mengajak Madalyne untuk duduk di sebelahnya. Madalyne berbisik pada March, menanyai apa yang sebenarnya telah terjadi. Madalyne sungguh tak menyangka bahwa Pangeran Hilaire terbunuh, ditembak dengan anak panah beracun, saat ini para prajurit beserta Pangeran Valiant dan beberapa Jenderal Kerajaan sedang mengejar pelaku.
Madalyne jadi teringat dengan pelayan yang mencoba menaruh racun pada minuman Pangeran Hilaire saat pesta pemilihan calon istri untuk Pangeran Valiant dulu, kemungkinan besar pelakunya adalah orang yang sama. Namun Madalyne sudah menduga bahwa pelayan itu pasti sudah dibunuh, berhasil atau gagal pun misinya saat itu, dia pasti akan dibunuh karena memegang rahasia besar.
Raja dan beberapa pengawal mulai masuk ke ruanga tunggu kerajaan untuk menyampaikan kabar duka tersebut.
Esoknya pemakaman tertutup Pangeran Hilaire dilakukan, alasan pemakaman dilakukan secara tertutup adalah karena cara kematian Pangeran Hilaire bukanlah kematian yang terhormat, bukan pula karena penyakit, atau mati dalam peperangan.
Sedangkan pelaku yang menembakkan anak panah beracun pada pangeran tidak ditemukan, Madalyne berpikir bahwa pembunuhan ini adalah rencana orang dalam kerajaan. Tapi siapa yang di untungkan dengan kematian Pangeran Hilaire?
Terlebih ini bukan pembunuhan yang dilakukan karena rasa cemburu pihak ketiga terhadap Pangeran Hilaire atau Putri Yvon, karena sebelum pernikahan ini dilangsungkan sudah ada yang ingin mencelakai Pangeran Hilaire. Madalyne hanya berpikir bahwa ini bukan urusannya, namun saat melihat mata March yang bengkak, Madalyne pun turut sedih, karena selama ini March sudah membantunya, sekali saja Madalyne ingin membalas kebaikan March.
Para keluarga khusus kerajaan sudah bubar satu persatu, sedangkan Putri Yvon dan Pangeran Valiant masih berada di makam Pangeran Hilaire, Pangeran Valiant terus mencoba menenangkan Putri Yvon, beberapa saat setelah itu mereka masuk ke dalam istana.
Madalyne yang hanya ingin mencoba memikirkan tentang siapa pembunuh Pangeran Hilaire, bertahan di atas pohon bagian timur istana tempat Pangeran Hilaire dimakamkan. Melihat Pangeran Valiant dan Putri Yvon yang sudah meninggalkan makam, Madalyne berniat langsung turun dari pohon dan kembali ke dalam istana.
Masih di bagian timur istana, Madalyne melihat Jenderal terbaik Kerajaan Dereau yang menggantikan posisi ayahnya mengendap-endap menuju bagian selatan istana. Insting Madalyne mengatakan bahwa dia harus mengikuti jenderal itu, namun sebuah tangan menarik Madalyne. Berdine menyakan apa yang sedang dilakukan oleh Madalyne, namun Madalyne menggelengkan kepalanya dan ikut bersama Berdine ke masuk istana.
Madalyne kembali ke kediaman Keluarga Pristio bersama nyonya besar Keluarga Pristio, setelah tadi Madalyne sempat bertemu dan berbincang sejenak dengan Evrard. Pangeran Valiant mengantarkan Madalyne dan ibunya sampai ke kareta kuda istana yang akan mereka tumpangi. Pangeran Valiant mencium punggung tangan Madalyne dengan lembut, Madalyne jadi tersentak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran Valiant, apakah wajar seseorang yang akan menikah dengan saudarinya malah bermesraan dengannya? Madalyne langsung menepis tangan Pangeran Valiant dan masuk ke dalam kareta kuda.
Sebelum Madalyne mulai menaiki kareta, Pangeran Valiant berbisik pelan pada Madalyne, ‘Permainanan pedangmu sungguh indah.’ Madalyne melotot tajam menatap Pangeran Valiant dan langsung menaiki kareta kuda.
Madalyne mulai bermenung di depan kaca kamarnya, menatap lama wajahnya. Tak berapa lama kemudian Madalyne kembali teringat dengan Jenderal Kerajaan Dereau tadi, apa yang disembunyikan oleh jenderal itu? Jika saja Berdine tidak muncul, mungkin Madalyne tidak akan kepikiran sampai seperti ini. Mata Madalyne melirik ke punggung tangannya. Madalyne mencoba menciumi bau tangannya, tempat Pangeran Valiant menciuminya tadi. Hanya bau logam yang tercium di tangannya, sedangkan Madalyne tidak sekali pun pernah menyentuh barang logam yang memiliki bau sepekat ini, seperti bau kepingan uang logam.
Madalyne langsung berdiri dari duduknya, hentakan meja yang dipukulnya terdengar cukup keras, seorang Pangeran tidak akan mungkin memegang langsung kepingan uang logam tanpa keperluan apa-apa, sedangkan dari tadi Pangeran Valiant hanya mengurusi pemakaman, tak akan ada waktu untuk berbelanja atau memberi upah para pelayan, kecuali ada seseorang yang harus dibayarnya hari ini juga.
Pikiran Madalyne langsung tertuju pada tuan jenderal yang tadi mengendap-endap, Madalyne jadi berpikir bahwa pembunuh Pangeran Hilaire adalah adik beliau sendiri, Pangeran Valiant. Namun walau dugaan Madalyne benar sekali pun, dia tidak tau apa alasan Pangeran Valiant membunuh kakaknya sendiri, dan tentang maksud Pangeran Valiant menciumi tangannya.
Di waktu yang sama, Berdine meminta agar Pangeran Valiant mau membantu ayahnya untuk kembali pada jabatan lamanya sebagai Jenderal Utama Kerajaan Dereau. Mendengar permintaan Berdine, Pangeran Utama langsung tersenyum dan menciumi bibir Berdine, setelah berjanji akan mengambalikan posisi Kepala Keluarga Pristio itu dalam 2 hari kepada Berdine.
Berdine tersenyum puas mendengar jawaban Pangeran Valiant dan membalas hangat ciuman calon suaminya itu.
Esoknya Madalyne kembali mengayuni pedangnya seperti biasa, menebas udara yang tak tampak. Bunyi hentakan kaki yang terdengar di balik pohon besar yang ada di belakang Madalyne membuat Madalyne menolehkan kepalanya. Madalyne tersenyum tipis menatap laki-laki yang kini mulai berjalan mendekat ke arahnya. Evrard menyandarkan keningnya di bahu Madalyne sambil menghela panjang nafasnya.
Pangeran Valiant mulai berkumpul dalam satu ruangan tertutup bersama beberapa prajurit istana, didampingi oleh Jenderal Kerajaan Dereau.
Selesai mengadakan perkumpulan pada malam itu, Pangeran Valiant mulai melangkah menuju Kepala Keluarga Pristio yang kini sedang berjaga di gerbang utama. Pangeran Valiant langsung mengutarakan maksud buruknya pada Kepala Keluarga Pristio itu, mengajak beliau untuk bergabung dengannya menyerang Kerajaan Yvon, serta membunuh Raja Dereau, yang merupakan ayahnya sendiri.
Kepala Keluarga Pristio langsung menolak dengan tegas ajakan Pangeran Valiant, dan mengancam akan mengadukan tujuan Pangeran Valiant pada raja. Namun Pangeran Valiant balik mengancam Kepala Keluarga Pristio, jika dia berani menolak maka Pangeran Valiant tidak akan segan-segan itu melenyapkan putrinya, Berdine.
Sebelum itu Pangeran Valiant sudah menyuruh bawahannya untuk mengurung Berdine sebagai tahanan atas perjanjiannya dengan Kepala Keluarga Pristio, sebagai jaminan agar Kepala Keluarga Pristio tidak memberontak padanya.
Esok malam para Prajurit Kerajaan Dereau sudah melemparkan bom api pada pemukiman penduduk Kerajaan Yvon dan Istana Yvon. Orang-orang di Istana Yvon yang tidak tau akan ada penyerangan dari Kerajaan Dereau yang sudah menjadi partnernya sudah lama, mereka sama sekali tidak memiliki persiapan untuk melawan perang, bahkan kemungkinan Kerajaan Yvon untuk menang pun, itu mustahil.
Kerajaan Yvon sama sekali tidak mengetahui siapa dalang di balik peperangan ini, mereka hanya menduga bahwa penyerangan ini titah langsung dari Raja Dereau, namun Pangeran Valiant yang biasanya selalu berada di garis terdepan dalam peperangan kini tidak nampak. Orang-orang Kerajaan Yvon sungguh tak menduga bahwa Kerajaan Dereau akan mengkhianati mereka, bahkan sampai membuat Putri Yvon menangis karena ditinggal saat hari pernikahannya. Kerajaan Yvon berpikir bahwa pernikahan itu hanya salah satu cara untuk membuat mereka lengah, bahkan sampai membunuh Pangeran Dereau itu sendiri, Kerajaan Dereau sungguh busuk. Begitulah isi kepala orang-orang Kerajaan Yvon saat ini, di ujung kekalahannya.
Di waktu yang sama Pangeran Valiant pergi ke penjara rahasia Kerajaan Dereau, memastikan keadaan Berdine saat ini. Berdine yang ada di dalam jeruji besi itu langsung berdiri saat Pangeran Valiant sudah berdiri di hadapannya. Berdine menangis terisak-isak atas apa yang dilakukan calon suaminya itu pada dirinya. Pangeran Valiant mulai membuka kurungan Berdine dan memeluknya sambil mengucapkan kata maaf. Pangeran Valiant membisikkan sesuatu pada Berdine yang langsung membuat Berdine tersentak kaget, Pangeran Valiant menjanjikan posisi Permaisuri Kerajaan Yvon pada Berdine, asal Berdine mau menuruti perintahnya untuk membunuh raja dan ratu.
Berdine yang gila akan kekuasaan, kekuatan, dan takhta langsung tercengang atas tawaran pangeran. Berdine menolak tawaran Pangeran Valiant karena dia tidak mau membunuh raja dan ratu yang merupakan penguasa negri ini sekaligus calon mertuanya sendiri. Namun Pangeran mengatakan pada Berdine, jika dia tidak membunuh raja dan ratu segera, maka dirinya lah dan pangeran yang akan terbunuh, karena Pangeran Valiant sudah mengerahkan pasukan untuk menyerang Kerajaan Yvon demi memperluas kekuasaan dan kekuatan.
Ayah Berdine juga akan dibunuh karena sudah mengkhianati Raja.
Berdine tak pernah mengira bahwa laki-laki yang ada di hadapannya saat ini sungguh gila. Berdine yang bodoh pun mengikuti permainan pangeran, ilmu yang dipelajari Berdine selama ini adalah sesuatu yang sia-sia, dia tidak pernah tau bahwa Pangeran Valiant hanya memanfaatkan dirinya untuk memperoleh kekuasaan. Tidak sekali pun Pangeran Valiant pernah mencintai Berdine, dari awal Pangeran Valiant sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Madalyne, adik kembar Berdine.
10 tahun yang lalu, raja pernah menyuruh Pangeran Valiant untuk ke kediaman Keluarga Pristio demi melatih ilmu pedangnya. Hari itu adalah pertama kalinya Pangeran Valiant jatuh cinta, dia langsung jatuh cinta dengan seorang gadis cilik yang sedang mengayunkan pedang panjangnya dengan rambut merah kehitaman yang terurai dengan cantik.
Setelah hari itu, dalam satu kali setahun, Pangeran Valiant mengunjungi kediaman Keluarga Pristio demi melihat gadis yang dicintainya, namun tak sekali pun Pangeran Valiant melihat Madalyne, hingga Pangeran memerintahkan salah seorang prajurit untuk mencaritahu tentang Madalyne Pristio. Pangeran Valiant sungguh tak menduga bahwa Madalyne begitu dibenci dalam keluarganya.
Berdine mulai mendekati raja dan ratu yang tidak tau dengan keadaan di luar sana saat ini, sedangkan Pangeran Valiant kini pergi mengunjungi Madalyne. Pangeran Valiant berniat setelah membunuh Berdine dan ayahnya, dia akan menguasai kedua kerajaan dan menjadikan Madalyne sebagai istrinya, sekaligus meminjam kemampuan Madalyne untuk menguasai dunia bersamanya.
Raja dan ratu menoleh pada Berdine yang berjalan mendekat ke arah mereka, tidak ada seorang pun pengawal di luar yang menjaga kediaman raja dan ratu. Raja menanyai maksud kedatangan Berdine sambil tersenyum. Berdine mengatakan terus terang maksud kedatangannya setelah menusuk perut raja dengan pedang tajam yang diberikan oleh Pangeran Valiant padanya. Ratu kaget melihat apa yang baru saja dilakukan Berdine, ratu langsung menjerit keras-keras dan berlari menjauh dari Berdine.
March yang tadi mendengar teriakan ratu langsung ke kamar orangtuanya itu, March langsung merinding melihat Berdine menebas leher ibunya.
March langsung bersembunyi di balik pintu, masih tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya. Tanpa sengaja March menjatuhkan vas bunga yang ada di depan kamar raja dan ratu, Berdine melirik keluar dan langsung berjalan mendekat ke sana.
Pupil Berdine melebar melihat March, dia sungguh tidak kepikiran tentang March, namun karena March sudah melihat hal yang seharusnya tidak boleh di lihat, Berdine langsung tersenyum sumringah menatap March, mata pisau yang sudah berlumur darah itu mulai menggores perlahan leher March.
March berpikir dia belum boleh mati saat ini, pecahan vas yang tajam tadi langsung diraih oleh March, March langsung melemparkan pecahan yang diraihnya tadi pada Berdine.
Darah mengalir deras di wajah Berdine, lemparan March tepat mengenai wajah Berdine. Berdine menjadi semakin geram pada March, pedang yang dipegang Berdine mulai membabi-buta, March jadi punya banyak kesempatan untuk menyerang Berdine.
March kembali meraih pecahan vas yang terjatuh tadi dan langsung melemparkannya berulang-ulang pada Berdine. Berdine mulai merintih kesakitan dan melempar pedang berat yang dipegangnya tadi.
March menolehkan kepalanya pada pedang yang dilempar Berdine tadi, namun pecahan kaca yang dilemparkan oleh March pada Berdine tadi mulai menggoreskan kembali wajah March, Berdine memanfaatkan kelenggahan March untuk membuat dirinya menang. March langsung melayangkan tendangannya ke kepala Berdine, lalu dengan cepar March meraih pedang yang dilemparkan oleh Berdine, dan menebas perut Berdine dengan cepat.
Madalyne masih sibuk mengayunkan pedangnya di halaman belakang, suara hentakan kaki yang mendekat ke arahnya membuat Madalyne menolehkan pandangannya ke sumber suara. Madalyne menatap tajam Pangeran Valiant yang kini sedang melambaikan tangan padanya. Dengan terus-terang Pangeran Valiant menyampaikan alasan kedatangannya pada Madalyne. Mendengar penjelasan dari Pangeran Valiant membuat Madalyne tersentak kaget.
Hampir saja mata pedang Madalyne mengenai jantung Pangeran Valiant, Pangeran Valiant tersenyum tipis pada Madalyne, lalu menarik tangan Madalyne untuk masuk ke dalam pelukannya.
Pangeran Valiant mengatakan bahwa dia sangat tahu tentang situasi yang selalu di alami Madalyne di kediaman Keluarga Pristio itu. Tak sekali pun dia bermaksud jahat pada Madalyne, dia ingin Madalyne menjadi permaisurinya, dan bersama-sama membangun kerajaan baru, serta menguasai dunia.
Madalyne langsung melepas pelukan Pangeran Valiant, setelah Pangeran Valiant mengatakan bahwa saat ini Kerajaan Yvon sedang diserang oleh pasukannya. Madalyne langsung mengambil kudanya dan melesat cepat menuju Kerajaan Yvon tanpa mempedulikan kehadiran Pangeran Valiant, yang terlintas dipikiran Madalyne saat ini hanyalah Evrard.
Pangeran Valiant pun juga tak pantang kalah, dia langsung mengikuti Madalyne ke Kerajaan Yvon. Penasaran dengan apa yang ingin dilakukan Madalyne di sana.
Madalyne menarik kudanya tepat di depan Kerajaan Yvon, setelah melompat dari kuda Madalyne langsung memasuki istana dengan menebas para prajurit yang menghalangi jalannya. Madalyne masih belum melihat keadaan Evrard, suasana hati Madalyne semakin kacau setelah melihat pria yang berdiri sambil tersenyum tipis di belakangnya ini, siapa lagi kalau bukan Pangeran Valiant. Madalyne mengancam akan mengangkat pedangnya jika Pangeran Valiant masih mengikutinya. Pangeran Valiant tidak menghiraukan ancaman Madalyne.
Sebuah mata pedang kini mulai tembus di jantung Pangeran Valiant, bongkahan darah keluar dari mulutnya. Matanya saat ini melotot dengan ekspresi menahan sakit yang amat dalam, perlahan Pangeran Valiant menolehkan kepalanya kebelakang, kepada siapa yang berani menusuk jantungnya.
Florry Yvon, mantan tunangan Pangeran Hilaire. Matanya menatap tajam Pangeran Valiant, dengan kasar dia kembali menarik pedangnya yang sudah menembus jantung Pangeran Valiant. Pangeran Valiant langsung terjatuh, mata pedang itu kini mulai menusuk pembuluh hati Pangeran Valiant, hidup pangeran biadab itu, berakhir di tangan Putri Yvon, Florry Yvon.
Florry Yvon melepas pegangan pedang yang digenggamnya, dia mulai bersimpuh dengan tatapan kosong sambil bergumam bahwa dia dia telah berhasil melenyapkan orang yang telah membunuh tunangannya, sekaligus otak dari penyerangan terhadap kerajaannya saat ini.
Tatapan kosongnya kini beralih pada Madalyne yang berdiri dengan ekspresi datar di hadapannya, tak berapa lama kemudian Florry Yvon terjatuh dan pingsan. Madalyne segera menolong Florry Yvon.
Kerajaan Yvon mengalami kerugian yang amat besar, untungnya Raja Dereau berhasil diselamatkan, walau Ratu Dereau tidak bisa diselamatkan. Kerajaan Dereau meminta maaf pada Kerajaan Yvon, dan berjanji akan mengganti rugi semua kerugian yang diderita Kerajaan Yvon.
Mereka juga menjelaskan bahwa peperangan ini sama sekali tidak diketahui oleh Raja Dereau.
Mayat Pangeran Valiant dibakar di depan orang-orang Kerajaan Yvon, Raja Dereau tidak sudi jika mayat Pangeran Valiant dikubur di istananya, mayat seorang pengkhianat besar. Jenderal dan prajurit-prajurit yang berada di pihak Pangeran Valiant langsung dihukum mati oleh Raja Dereau, sedangkan March di usianya yang masih 14 tahun, diberi gelar putra mahkota. Karena sudah menyelamatkan raja.
Berdine masih dirawat oleh tabib istana, seharusnya Berdine langsung dihukum mati karena sudah membunuh ratu dan menyakiti raja serta pangeran. Namun raja ingin Berdine untuk tetap hidup, karena hukuman mati terlalu ringan untuk Berdine. Selama hidupnya, Berdine harus merasakan siksaan sebagai ganjaran atas perbuatannya.