Namanya Niken Aliana Putri, tapi teman-temannya suka panggil dia Ninik, gak tahu kenapa sering panggil Niken dengan sebutan Ninik padahal Orang tuanya susah-susah mikir 9 bulan buat namain dia Niken yang endingnya cuman dipanggil Ninik sama teman-temanya, tapi si Ninik mak Enjoy aja, Ninik emang orangnya santai namun sekali ngajak dia ribut bakal kaya nenek sihir kesurupan.
Ia hobinya teriak-teriak dikelas, godain cowok-cowok jomblo yang suka curi-curi pandang sama gebetannya, Ninik sering banget tuh pengen di cincang sama cowok-cowok di kelasnya gegara dia suka bocorin rencana kencannya, yang awalnya mau jadi kejutan eh...malah Ninik bikin ribut teriak-teriak bocorin semuanya, gak tahu tuh anak dapet info dari mana. Muka Ninik sih gak jelek-jelek amat malah tergolong cantik, rambutnya suka diikat kuda buat ngundang cowok-cowok kelasnya waktu kesel sama Ninik yang suka ngehancurin rencana orang, dengan terus narik-narik kepangan Ninik. Meskipun Ninik cantik namun mata kaum adam yang di kelasnya mak udah katarak gegara tingkah Ninik persis macan tutul kesurupan ada aja tingkahnya,
' Ninik cewek tapi bukan cewek '
seperti itulah para cowok kelasnya nyebut dia, di saat teman ceweknya selalu bersolek dikelas saat jam istirahat atau jam kosong dengan segala macam make up yang entah apa aja itu, Ninik malah lari-lari ngegodain para cowok, ia suka naik-naik meja kelas saat ngejar para cowok yang sering nanggepin godaannya dengan balas godain dia, cewek-cewek kelasnya suka teriak-teriak saat Ninik mulai beraksi naik-naik meja teman-temannya saat berbagai macam alat make up tengah bertengger rapi disana, namun peduli apa Ninik dengan wajah tanpa dosanya ia hanya melangkahi semua make up saat ia menjelajahi meja.
Hanya satu yang di takuti Ninik yaitu kuning, dia bencinya minta ampun sama tuh warna ia suka teriak histeris saat lihat warna kuning. Pernah waktu itu ia duduk dibangku kelasnya dan teman satu bangku yang notebanenya sama halnya dengan yang lain yaitu suka bersolek dengan wajah tanpa dosa mengeluarkan bedak keluaran prancis yang niatnya mau dipamerkannya pada Ninik malah Ninik tendang itu bedak dari tangan temannya lalu menjerit histeris sampai menghancurkan seisi kelas karena melihat warna kuning yang menjadi wadah dari bedak itu saat keesokan harinya Ninik demam tinggi gegara itu, dan akhirnya dari sanalah teman-temannya tahu apa yang Ninik gak sukai'i, pernah ada niat sekali temannya mau ngerjain Ninik dengan kasih Ninik sesuatu yang berbau warna kuning namun diurungkan niat itu saat teman-teman lainnya nasihatin kalo Ninik bisa aja menjambak rambutnya kalo itu sampai terjadi mengingat bedak kesayangannya dari prancis yang harganya kaya satu buah Telivisi 21 inchi, Ninik gak segan-segan menghancurkannya apa lagi kalo ada aksi nekat temannya ngerjain dia bisa habislah.
Alasan Ninik gak suka warna kuning karena ia trauma, pernah sekali saat ibunya buat masakan sayur bayam jagung, Ninik dengan rakusnya makan tuh semua masakan ibunya yang katanya enaknya minta ampun tapi saking rakusnya Ninik sampe keselek bonggol jagung yang senggaja ibunya potong agak kecil biar gampang makannya eh... Malah ngebuat Ninik hampir nelen tuh bonggol yang udah mampir hampir kekerongkongan yang bikin seisi rumah panik takut Ninik mati yang pada akhirnya Ninik hanya sekarat masuk UGD dan tuh bonggol jagung akhirnya bisa keluar dari kerongkongan saat dokter yang menanganinya memukul leher belakangnya dengan lumayan keras dan sukurnya bonggol itu Ninik berhasil muntahkan kembali Absurd sih tapi itulah Ninik, ia tak suka sesuatu yang membuatnya kesakitan nyaris mati dan sampai akhirnya ia benci jagung seumur hidupnya dan membenci warna kuning yang selalu membayanginya saat melihat warna itu adalah mengingatkannya pada jagung.
"NIKEN ALIANA PUTRI!" itu panggilan kesekian kali walikelasnya yang hampir stroke saat melihat Ninik tak menanggapi panggilannya sejak 10 menit lalu, gadis itu dengan suka cita tanpa perasaan bersalah menoleh pada wali kelasnya yang tengah berdiri di samping mejanya dengan melihat Ninik tengah asyik menyantap siomay, memang saat ini adalah jam istirahat jadi wajar untuk sifat Ninik yang tak menanggapi gurunya, Ninik hanya pasang kuping untuk gurunya saat jam pelajaran saja namun untuk yang lain jangan harap, buat Ninik hal-hal yang sangat membahagiakan adalah saat jam istirahat karena ia terbebas sejenak dari pelajarannya dan baginya berarti terbebas dari para guru.
Wali kelasnya menghela nafas beratnya melihat muridnya yang menurutnya sangat menjengkelkan hanya melirik sekilas padanya lalu dengan santainya melanjutkan santapan siomay, wali kelasnya ingin sekali meledak namun mengingat penyakit darah tingginya jadi ia menngurungnya dengan mengganti mengatakan. " Hari ini kelas kita kedatangan murid baru, ia pindahan dari belanda dan saya mau kamu sebagai ketua kelas memberi intruksi pada teman-teman untuk menyambutnya" yah...Ninik memang ketua kelas yang dipilih teman-temannya hanya karena Ninik memiliki tingkah seperti anak cowok dan gak punya urat rasa malu makanya temannya memilihnya supaya ia bisa memimpin temannya dan memberi perintah pada temannya, dan saat ada teman yang tak mau mendengarkan perintah dari ketua kelas Ninik tak segan-segan menggeplak kepalanya meskipun itu cowok atau cewek sekalipun, Ninik tak merasa takut.
Ninik mengangguk lalu mengayunkan jari tangan kirinya yang tak ia gunakan untuk makan,, antara ibu jari dengan jari telunjuk di satukan membentuk hurup 'o'. " Oke."
oOoOoOoOo
Ninik merapikan seragamnya lalu berdiri dari duduknya untuk bersiap memberi intruksi pada temannya saat nanti walikelas dan murid baru yang dimaksud datang kekelasnya dan memberi sambutan. Ninik sejak tadi sudah mulai bosan saat ia memberi tahu semua teman-teman kelasnya bahwa hari ini ada pria bule dari belanda yang kesasar dan masuk kelasnya yang notebane mengaku sebagai murid baru, teman-temannya yang mendengar itupun otomatis mulai ribut mereka sibuk berbenah diri bergantian antri didepan cermin yang berada tepat disamping pintu masuk yang gunanya memang untuk merapikan diri dengan bertuliskan 'rapikan dirimu', cewek-cewek dikelasnya berbondong-bondong mengeluarkan benda keramatnya yaitu make up dan mengabaikan semua tata aturan sekolah yang tak memperbolehkan berdandan secara berlebihan, namun toh aturan dibuat nyatanya untuk dilanggar gak pernah ada sejarahnya aturan dibuat untuk ditaati, itulah pikiran versi anak sekolahan. Sedangkan cowok-cowok dikelasnya yang tengah antri didepan cermin dan berebut sisir untuk merapikan diri, mereka berdadan karena mereka tak mau kalah saing dengan murid baru yang kenyataannya adalah pria bule yang pastinya dipikiran mereka semua bule tampan-tampan nan juga gagah, para cowok bersumpah gak mau kehilangan gebetannya bagaimanapun caranya. Well hanya Ninik yang tetap waras disini, ia tak sudi bersolek diri hanya untuk menarik perhatian, baginya seorang cowok bila suka sama cewek ya langsung suka gak harus ribet-ribet dandan dan mengotori wajahnya dengan benda berbahan kimia, yah...itulah pikiran Ninik yang rasional untuk pikiran yang lain mak ia lewat, Ninik hanya punya IQ dibawah 110 makanya ia cukup menjadi gadis terbodoh dikelas dengan peringkat nomer dua dari bawah.
"Otw dateng woy." itu suara Rio, teman sekelasnya yang tengah bertugas berdiri didepan pintu untuk mengawasi sang wali kelas datang.
Teman-teman yang mendengarnya langsung berbondong-bondong membereskan alat make upnya dan menyimpan kedalam ransel, si para cowok tengah membenarkan letak seragamnya agar terlihat keren ala-ala anak sekolah.
Bu Dwi yang merupakan walikelas mulai memasuki kelas, para murid mulai antusias melihat sang murid baru yang berada di belakang walikelas saat berjalan.
Ninik hanya memutar bola mata jengah melihat keantusiasan teman-temannya yang menututnya sangat menjijikkan, ia mulai melirik sesosok yang berada dibalik punggung walikelasnya, sebenarnya Ninik pun cukup penasaran dengan tampang murid bule itu. Dan...saat walikelas mulai berbalik dan terlihatlah si murid bule itu dan....
1
2
3
Tanpa disangka Ninik menjerit sekeras air Tsunami yang siap mengguncang dan merobohkan seisi kelas, ia mulai berteriak histeris saat memandang pria bule itu, atau lebih tepatnya rambut yang tengah meliuk-liuk pelan dari atas kepala sang bule. Rambut kuning, si bule berambut kuning dan Ninik benci itu. Ninik menjerit lalu menutup seluruh mukanya dengan kedua telapak tangan dan mulai berlari memojok disudut kelas. Teman-teman yang melihat itu hanya melongo. Sedangkan sang walikelas yang melihatnya mulai menenangkan suasana kelas yang tak kondusif lagi akibat teriakan Ninik, Bu Dwi mulai mendekati Ninik yang tengah berjongkoh disudut ruangan dan diikuti sang murid bule.
"Are you Okay, Ladies?" si bule ikut berjongkok bersama walikelas, dan bertanya pada Ninik apakah cewek itu baik-baik saja.
Ninik menggeleng lalu menjerit lagi saat menyadari si bule berambut kuning tepat berada disampingnya.
"SUMPAH! GUE BENCIIII KUNINGGGGG!!!"
oOoOoO
Hari demi hari sudah terlewati, sejak kejadian itu Ninik menjadi pendiam dan dirinya sekarang tak banyak ulah, setiap diruang kelas ia selalu menundukkan pandangannya, ia berjalan juga terus menunduk, takut melihat rambut kuning yang meliuk diatas kepala seorang bule. Sikap itu memang membuat teman-temannya sedikit bersyukur karena tak ada lagi cewek urakan yang selalu menghancurkan kelas dan menggodai semua orang, namun karena itu juga kini suasana ruang kelasnya menjadi senyap, tak ada lagi jeritan cewek-cewek kelas dan desisan kejengkelan para cowok karena ulah si Ninik.
Si Murid baru bule yang bernama Robert itu yang kini sudah mengetahui sebab kejadian itu mulai merasa bersalah. Mr. Bule itu merasa bersalah mengetahui ada cewek yang membencinya hanya karena warna rambut. Dan kini si Mr. Bule Yellow itu berniat meminta maaf pada Ninik.
Robert mulai mendekati Ninik yang tengah asyik membaca komik kesukaannya diatas meja. Dengan menutup kepalanya menggunakan topi agar Ninik tak merasa takut lagi si bule mulai menjulurkan tangan kanannya kepada Ninik.
" Iam so Sorry, Ninik. Karena aku kamu jadi takut" dengan suara aksen khas bulenya Robert mulai meminta maaf.
Ninik hanya diam saja, cewek itu tak menanggapi ucapan maaf Robert. Cewek itu tak mau menatap Robert.
Robert menghela nafasnya" No problem, kamu still angry with me". Robert yang tetap tak menerima tanggapan dari Ninik lalu berbalik dibangkunya. Namun dalam hatinya kini ia mulai berjanji bahwa Robert akan menjadikan Ninik menyukai kuning lagi.
"Sialan Loe Robert." Ninik berteriak ditengah pagi buta saat ia baru mulai memasuki ruang kelas, dibangkunya kini sudah ada tempat minum berwarna kuning bertengger diatas meja. NInik mengerang frustasi, sudah 4 hari si Mr.Yellow itu sering menerornya, memberi Ninik berbagai benda dengan warna kuning dan Ninik hanya bisa berteriak histeris lalu menyingkirkan segala benda kuning itu, dari mulai ia diberi ikat rambut warna kuning, mengganti sampul buku Ninik tanpa ijin dengan warna kuning dan kini memberi Ninik tempat minum warna kuning, ya Tuhan Ninik ingin sekali mencakar-cakarnya, Mr. Yellow itu benar-benar suka mengganggunya. Teman-teman yang melihat itu hanya tertawa cekikikan dan langsung mendapat tatapan tajam dari Ninik.
" Bule sialan. Awas ya Loe!" Ninik mendesis marah lalu berdiri diatas kursi dan menendang tempat minum sejauh mungkin dari pandangannya, dan tanpa disangka tempat minum yang ia tendang mengenai pak Jefri guru sejarahnya yang ingin memasuki ruang kelasnya. Ninik langsung mengumpat kesal, ia lalu berusaha melarikan diri dari pak Jefri sebelum mendapat semprotan dari sang guru. Ninik menyembunyikan diri dibawah kolong meja, ia mulai berdoa memohon agar tuhan tak mempertemukannya dengan pak Jefri.
Disisi lain, pak Jefri yang merasakan dahinya seperti kejatuhan atap kelas mulai mengerang marah, beliau berteriak "SIAPA YANG BERANI MELEMPAR SAYA?!" suara pak Jefri menggelegar diseluruh penjuru kelas, yang membuat para murid diam seribu bahasa, dan Ninik yang masih dibawah kolong meja mulai mengerang dalam hati ' Tamatlah Riwayat ku'
" Ninik, Mr. Dia melempar face anda dengan tempat Minum. " itu suara si bule kuning, dengan tampang tanpa bersalah Mr. Yellow itu membeberkan semuanya. SIALAN, erang Ninik.
Oooooooo
Sudah 3 hari Ninik ditugasi pak Jefri untuk membersihkan halaman sekolah, atau lebih tepatnya ia dihukum oleh pak jefri karena kejadian kemarin. Sedangkan si bule yang setiap saat mengganggu hidup Ninik mulai menampakkan rambut kuning yang semakin menambah kadar benci Ninik pada si bule itu, Mr. Yellow tanpa perasaan bersalah selalu muncul dihadapannya, menggoda Ninik dengan memamerkan Ninik rambut kuning jagungnya itu, yang pada akhirnya membuat Ninik selalu berteriak ketakutan dan menghancurkan seisi sekolah. Teman-teman kelasnya pun hanya tertawa lepas yang menurut Ninik itu merupakan ejekan untuk Ninik, dan sedangkan si Mr. Yellow hanya terkekeh puas melihatnya.
Benar-benar Sialankan, umpat Ninik.
Namun berkat itu, Ninik sedikit mulai terbiasa melihat rambut si bule Robert, ia mulai sedikit tak histeris seperti dulu saat melihatnya. Apakah Ninik mulai terbiasa melihat rambut kuning itu? Dan yahhh semoga saja Ninik berharap ia dapat sembuh dari rasa traumanya dengan warna kuning itu.