Gadis berhidung mancung, bermata bening berwarna hitam dengan tatapannya yang lembut itu, berhasil membuat Ethan jatuh hati padanya.
Dialah Rebecca Anastasya, orang tuanya sering memanggilnya Becca. Tapi sejak kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya, Becca sekarang menjadi anak yatim piatu.
Dia terpaksa ikut tinggal dengan bibinya di kota kecil Bornherg yang ada di Swedia.
Sudah satu minggu Becca sekolah di kota Bornherg, tapi dia terlihat masih belum punya teman. Dia selalu terlihat sendirian. Bibinya yang menjadi keluarga satu-satunya saat ini, juga tidak begitu memperlakukannya dengan baik.
Ethan sudah lama memperhatikan Becca, dia begitu tetarik pada gadis itu, mungkin karena gadis itu berbeda dari gadis-gadis lainnya.
***
"Ambil aja Claire!" kata Katy salah satu teman Claire.
"Sini tas kamu!" ucap Claire sambil mencoba merebut paksa tas yang dipakai Becca.
"Jangan!" Becca memegang tasnya dengan erat.
"Lepasin tangan kamu!, anak baru itu harus tahu diri dong!" Claire masih berusaha merampas tas Becca.
Membuat Becca mulai merasa tidak tahan lagi terhadap perlakuan Claire padanya, dia pun mendorong Claire sekuat tenaga. Seketika Claire jatuh terduduk menabrak tempat sampah di belakangnya.
"Awas kamu ya!" Claire berdiri sambil melotot ke arah Becca, dia terlihat sangat marah. Bahkan kedua temannya Katy dan Eva juga ikut-ikutan melotot ke arah Becca.
Melihat hal itu, Becca langsung mengambil tasnya dan segera melarikan diri.
"Kejar dia!, nggak akan kulepasin pokoknya!" ucap Claire sambil melangkahkan kakinya untuk mengejar Becca.
BRAKK!
Becca terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Dia mencoba berdiri, namun tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dengan paksa ke dalam kelas. Becca membelalakkan matanya melihat Ethan, saat dia ingin melawan Ethan.
"Psstt!"
Ethan langsung menyuruh Becca untuk diam, dengan memberikan isyarat lewat jari telunjuknya yang dia letakkan di bibirnya, sambil menyuruhnya menunduk untuk bersembunyi.
Becca pun mengurungkan niatnya untuk melawan, karena melihat Claire dan teman-temannya sangat dekat dengan keberadaannya.
"Dimana dia?" Claire kebingungan mencari Becca.
"Aku yakin dia tadi lari kesini!" sahut Katy yakin.
"Mungkin dia bersembunyi disekitar sini!" ucap Eva.
"Kau benar, ayo cari dia!" perintah Claire pada teman-temannya.
Becca masih terdiam dan mencoba tidak bersuara agar tidak ketahuan. Tiba-tiba dia dibuat kaget ketika melihat Ethan terus menatapnya. Dia pun melangkahkan kakinya untuk mundur dan menjauh dari Ethan.
"Kumohon jangan menatapku seperti itu!" ucap Becca pelan sambil menundukkan wajahnya.
"Maaf. . ." jawab Ethan lirih sambil menyeringai.
"Terima kasih" ucap Becca sambil melangkahkan kakinya untuk segera pergi dan meninggalkan Ethan.
"Itu dia!" teriak Eva yang ternyata masih berada di sekitar tempat itu. Mendengarnya Becca langsung berlari sekuat tenaga.
Tanpa menengok ke belakang dia terus berlari. Hingga dia kelelahan dan berhenti sambil menyentuh kedua lututnya.
Becca menoleh ke belakang, dan dia langsung tersenyum lebar ketika tidak melihat siapa pun di belakangnya.
"Syukurlah. . ." gumamnya sambil memegangi dadanya. Dia pun kembali berjalan untuk segera pulang ke rumah.
***
Saat Becca menuruni tangga di stasiun bawah tanah yang agak sepi, dia melihat segerombolan lelaki yang sedang duduk di tangga.
Ketika itu dia merasa segerombolan lelaki itu menatapnya dan saling berbicara satu sama lain. Becca memberanikan diri untuk melewati mereka. Tiba-tiba salah satu lelaki itu melemparkan rokoknya ke arah Becca, dan mengenai tangannya.
"Aw!" respon Becca kesakitan, sambil memegangi tangannya. Segerombolan lelaki itu malah cekikikan melihat Becca yang sedang kesakitan.
Becca ingin sekali melawan, tapi dia mengurungkan niatnya karena jika dia melakukan itu maka masalah akan semakin tambah panjang. Lagi pula bagaimana bisa seorang gadis melawan segerombolan lelaki, kecuali jika gadis itu punya ilmu bela diri. Dia pun kembali berjalan untuk segera naik kereta api bawah tanah.
Mata Becca mulai berkaca-kaca, karena mengingat ayah dan ibunya. Setelah orang tuanya tiada, dia tidak memiliki siapapun yang peduli padanya.
Perlahan dia meneteskan air mata di pipinya, lalu langsung mengusapnya karena dia menyadari sedang berada di tempat umum. Dia hanya berharap suatu hari nanti bisa memiliki seseorang yang peduli padanya.
Buk Dhuak! Buk Dhuak!
Tiba-tiba suara keributan terdengar dari tangga yang tadi Becca lewati, semua orang tampak berkerumun untuk melihat.
Dua lelaki yang berpakaian security berlari melingus melewati Becca yang sedang termenung.
Becca pun ikut mendekati kerumunan itu karena penasaran. Dia pun dibuat kaget melihat segerombolan lelaki yang tadi mengganggunya sudah tergeletak tak bernyawa.
Tubuh mereka seperti membeku dan terdapat ada gigitan di leher mereka, membuat Becca melangkah mundur dengan wajah yang ketakutan. Dia langsung berlari memasuki keretanya yang akan segera berangkat.
***
Saat duduk di dalam kereta, Becca memergoki seorang lelaki yang terus menatapnya dari jauh. Dia tahu lelaki yang memiliki tubuh bugar dengan wajah yang tampan itu adalah Ethan.
Becca mengernyitkan dahinya, pikirannya bertanya-tanya memikirkan Ethan. Saat pintu kereta terbuka, Becca langsung cepat-cepat keluar kereta dan berlari dengan cepat. Dia berharap pertemuannya dengan Ethan di dalam kereta hanya kebetulan.
"Fiuh!" Becca menghela nafas panjang, karena ketika dia menoleh ke belakang tidak ada Ethan yang mengikutinya. Dia rasa dugaannya salah tentang Ethan.
Saat menatap ke depan, Becca langsung terperanjat melihat Ethan yang sudah berdiri di depannya sambil bersandar di pohon memberikan senyumannya dengan lebar.
"Bagaimana kau. . ." ucap Becca kebingungan.
"Kenapa?" ucap Ethan sambil berjalan mendekati Becca.
"Kau mengikutiku ya?" Becca mengernyitkan dahi.
"Tidak, itu rumahku," ucap Ethan sambil menunjuk rumah yang ada di depannya.
Becca pun mengangguk-anggukkan kepalanya dan berjalan melewati Ethan seakan dia tidak peduli.
"Tunggu!" teriak Ethan, yang membuat Becca berhenti melangkahkan kakinya.
"Namaku Ethan, bisasakah aku jadi temanmu Becca?" Ethan berharap.
"Maaf, tapi aku sedang tidak ingin berteman dengan siapapun" jawab Becca sambil melangkahkan kakinya. Ethan hanya bisa tersenyum tipis setelah melihat respon Becca padanya.
***
Keesokan harinya saat di sekolah, Becca dikejutkan dengan kabar bahwa Claire meninggal dunia. Semua murid tampak berduka, karena dia merupakan salah satu murid yang cantik dan populer di sekolah.
Becca berlari ke dalam toilet dan merasa sangat ketakutan, dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi?. Kenapa semua orang yang berusaha mengganggunya tiba-tiba kehilangan nyawanya?.
Para guru pun mengosongkan pelajaran hari itu, agar para murid bisa pergi melayat. Meskupun Claire memperlakukan Becca dengan jahat, Becca tidak pernah dendam padanya karena itu dia menghadiri acara pemakamannya Claire.
Becca tiba-tiba menghentikan kakinya di depan rumah Claire. Dia merasa bingung untuk memilih masuk atau tidak.
Setelah berpikir lama, Becca mencoba berjalan untuk memasuki rumah Claire. Tapi tiba-tiba Ethan memegang lengan Becca untuk menghentikannya masuk.
"Jangan, kau mungkin akan diperlakukan yang tidak-tidak lagi oleh mereka," ucap Ethan pelan.
"Aku tahu, tapi aku juga tahu tidak semua orang memperlakukanku begitu," balas Becca sambil melepaskan lengannya dari cengkraman Ethan.
"Tapi apa kau tahu, Eva dan Katy mengatakan bahwa kaulah yang telah membunuh Claire" ucap Ethan.
"Tapi bukan aku!" balas Becca yakin.
"Iya memang bukan kau, tapi aku. . ." Becca langsung membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan Ethan.
"Ke-ke-kenapa?" Becca mulai ketakuatan melihat lelaki yang sedang berdiri dihadapannya itu.
"Karena aku mencintaimu Becca, sejak awal kau datang ke kota ini!" ucap Ethan menatap Becca dengan penuh nafsu.
"Tapi apa yang kau lakukan itu salah!"
"Itu memang sudah ada dalam darahku Becca, ketika vampir marah dia tidak akan segan-segan menghisap darah orang itu,"
"Vampir?" Becca tampak semakin ketakutan.
"Jadi kau membunuh mereka karena aku?" sambung Becca lagi sambil melangkah mundur secara perlahan, untuk menjauh dari Ethan karena merasa takut.
"Kumohon jangan menatapku seperti itu Becca!" Ethan terlihat marah ketika melihat tatapan Becca yang menatapnya dengan penuh ketakutan.
"Sudahku bilang itu karena aku mencintaimu Becca!" teriak Ethan pada Becca yang berlari menjauh darinya.
***
BRAKK
Becca menutup pintu kamarnya dan langsung menguncinya dengan tangan yang gemetaran.
"Sudah kubilang aku mencintaimu!" Becca dibuat kaget dengan Ethan yang sudah berada di belakangnya.
"Apa maumu!" teriak Becca sambil merengek ketakutan.
"Kamu, aku mau kamu Becca. . ., bukankah kau sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini," ucap Ethan sambil berjalan mendekati Becca, dan mendekatkan wajahnya perlahan pada wajah Becca sambil berkata lagi, "Aku mencintaimu."
Becca terdiam, meskipun saat itu dia takut tapi dia juga terpana melihat wajah lelaki yang saat itu sangat dekat dengan wajahnya. Perlahan Becca memberanikan diri untuk menatap Ethan. Ethan pun memberikan senyuman lebarnya lagi pada Becca.
Sejak saat itu Ethan dan Becca tidak pernah terlihat lagi di kota Bornherg, mereka berdua menghilang seperti ditelan bumi.
~TAMAT~