Amira Syahira, perempuan muda yang sekarang tengah menempuh pendidikan di Universitas Alaska.
Gadis itu sekarang tengah melangkah anggun menyusuri koridor kampusnya.
Setiap mata memandang banyak pujian yang terdengar hanya untuk memuji keindahan ciptaan Tuhan yang ada dihadapan mereka.
Siapa yang tak mengenal gadis itu? Mahasiswa berprestasi dengan Wajah cantik yang sangat tenang dan enak di pandang. Lekuk tubuh yang tak dapat mereka ketahui hingga membuat siapa saja akan penasaran
Ini adalah kampus swasta bebas namun, gadis itu selalu saja menggunakan gamis dan sarung tangan menutup hampir seluruh bagian tubuhnya.
Tak ada aturan manusia yang melekat namun, aturan Tuhan begitu ketat menjaga nya.
" Assalamu'alaikum. Aiss " sapa Amira mendekati sosok gadis dengan jilbab pendek yang tak menutupi dadanya dan baju kaos putih yang berpadu dengan celana kulot berwarna jingga.
" Wa'alaikumussalam Ra... " Jawab Aisyah menatap gadis anggun yang satu bulan ini berhasil meraih prestasi tingkat nasional dan membanggakan kampusnya.
Tak cuman prestasi yang membuat Amira menjadi begitu diketahui banyak mahasiswa namun, juga karena sosok Elziano Erlangga.
Laki-laki yang beberapa tahun ini menyukai sosok Amira namun, tak begitu di pedulikan gadis itu
Mereka dekat namun, tak bisa dikatakan mereka adalah sepasang kekasih karena Amira sangat menentang hubungan itu.
Jika dikatakan sahabat sungguh tak layak rasanya seorang perempuan bersahabat dengan yang bukan mahram nya
Amira tak bisa melarang kegigihan Ziano yang terus berusaha mendapatkan hatinya namun, ia juga sering tegas agar laki-laki itu tak kelewatan batas
" Ziano dari tadi nyariin kamu. Kayaknya dia ada kegiatan sore jadi dia nyariin pagi banget " lapor Aisyah membuat Amira hanya tersenyum tipis
" Aku tak ada jadwal kampus hari ini tapi, aku ada latihan dengan buk Daniah untuk persiapan lomba minggu depan " jawab Amira membuat Aisyah mengangguk faham
" Ya sudah aku ke ruang buk Daniah dulu " pamit Amira lalu mengucapkan salam kepada sahabat nya itu
Amira kesini hanya ingin menyapa Aisyah sebelum pergi latihan ke ruang dosennya.
" Amira!! " Panggil sosok pemuda tampan menghampiri Amira yang hendak membuat ruangan dosen
" iya? "
" Aku sekarang ada latihan basket buat tanding minggu depan kamu bisa kasih semangat gak? " tanya Ziano berharap pujaan hatinya bisa datang melihat nya disaat latihan
" Aku juga ada latihan untuk minggu depan kalo kamu lupa " ingat Amira membuat Ziano menepuk jidatnya. Laki-laki itu tampak melupakan jika pujaan hatinya juga mengikuti salah satu lomba minggu depan.
" Ya sudah. Sepertinya karena aku sudah melihat mu aku lebih sedikit semangat " ujar pemuda itu dengan senyum pepsodent nya.
Amira mengangguk pelan lalu tersenyum tipis
" Kalo gitu permisi " pamit Amira membuka pintu ruang dosen lalu meninggalkan Ziano yang masih diam memandangi pintu kayu yang sudah tertutup rapat itu
" Selalu cantik " pujiannya sembari tersenyum lalu melangkah pergi melanjutkan latihan yang sempat tertuda karena ingin menemui sang pujaan hati
Berhari-hari latihan tampa bertemu dan hanya berjumpa saat melakukan penyambutan lomba kala itu sekarang mereka sudah menyandang sang juara dan berhasil meraih begitu banyak penghargaan untuk universitas Alaska.
Sekarang universitas itu tampak menjadi perbincangan publish setelah mendapatkan banyak penghargaan dari lomba 2 bulan terakhir ini.
Lomba telah usai sekarang kedua nya tak lagi bertemu karena Amira yang disibukkan dengan urusan pesantren di pondok milik abinya sedangkan Ziano tentu seringkali mencari keberadaan gadis itu di kampus dan tak menemuinya
" El... Lo yakin suka sama Amira anak fakultas Bahasa? " tanya David sahabat karib Elziano
"Yakin. " Jawab pemuda itu membuat ke tiga sahabat nya mengangguk pelan lalu saling tatap satu sama lain.
" Kalo gw yang naksir sih ada peluang yah. Tapi, kalo lu tipis kemungkinan El... " ucap Farhan sedikit bercanda membuat Ziano menatap tajam laki-laki itu
" Gw bakal berusa dapatin Amira. Besok kayaknya dia udah mulai masuk gw bakal nembak dia hari itu " tegas Elziano yakin sedangkan ketiga sahabatnya hanya mendesah pelan
" Tuhan aja udah beda gimana kalia mau bersama " sindir Belvin yang memiliki mulut begitu pedas dan lidah yang tajam
Elziano tertohok mendengar sindiran sahabat nya sedangkan dua orang pemuda tampak terkekeh melihat ekspresi muram milik Elziano
" Apa salahnya mencoba? " ujar laki-laki itu santai membuat sahabatnya mengumpati laki-laki itu didalam hati
Gila? Bodoh? Dan sebagai umpatan untuk laki-laki itu kian memenuhi relung batin sang sahabat sedangkan si dalang dengan santai memainkan game online di handphone nya.
Satu hari berlalu sekarang Amira sudah mulai mata kuliah. Gadis itu sekarang tengah menyimak dosen yang memberi arahan didepan sana sembuh mencatat poin-poin penting di buku berukuran kecil yang selalu ia bawa.
" Ra, habis ini kamu mau kemana? " tanya Aisyah yang baru saja datang menghampiri sahabat nya di perpustakaan
Keduanya berbeda jurusan namun, sudah kenal dekat dari SMA. Amira bersekolah di sekolah madrasah umum di Sumatera lalu pindah ke jakarta untuk melanjutkan pendidikan nya.
Terlebih kedua orang tuanya yang meminta agar gadis itu balik kejakarta setelah lulus SMA. Sedangkan Aisyah memang mendapatkan beasiswa full si universitas Alaska karena memang dari dulu gadis itu bermimpi untuk sekolah disini.
" Hmm... Mau ke tempat pengeprint an dulu Ais lalu aku mau ke mesjid buat Sholat zuhur " jawab Amira menutup buku Sastra yang baru saja ia baca.
Gadis itu memilih menatap sang sahabat yang baru saja bertanya kepadanya.
" Kamu sendiri aja gak papa? Sebenarnya aku mau nemenin kegiatan kamu hari ini tapi, ibuk sama bapak aku dari kampung hari ini nyampe " ujar Aisyah takut membuat Amira kecewa namun, sahabat nya itu malah tersenyum tipis
" iyah gak papa, lagian itu niat kamu bukan janji kita. Kalo pun udah janjian sekalipun aku juga gakpapa kok, orang tua kamu lebih penting Ais... " perempuan itu tampak menatap Aisyah yang cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal
Aisyah hanya takut Amira kecewa karena tak menemani gadis itu setelah beberapa minggu mereka tak pernah jalan-jalan bareng. Namun, ia sedikit lega saat sahabat nya begitu pengertian dengan pilihan nya.
" Aku pulang dulu yah " pamit Aisyah mendapat anggukan pelan dari Amira
" Hati-hati " ujar Amira saat Aisyah melangkah pergi lalu menatap sahabatnya yang sudah menghilang dibalik susunya rak buku yang begitu banyak.
Amira kembali fokus pada tugas nya yang sempat tertunda. Gadis itu tampak fokus dengan laptop dan beberapa buku tebal yang ia pinjam dari perpustakaan itu.
" ahh selsai " desahnya puas dengan hasil kerjanya sendiri.
Gadis itu merapikan bukunya dan mengembalikan semua buku yang tadi ia pinjam lalu memberikan tanda tangan di buku pengunjung.
Amira melangkah keluar perpustakaan Alaska University. Tujuan nya saat ini adalah tempat print yang berada tak jauh dari area fakultas.
Langkah yang anggun serta wajah tenang membuat intensi beralih padanya.
Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang menyapa Amira karena mengenal gadis itu dan ada juga mahasiswi yang menatap tak suka karena menyukai sosok Elziano si panglima kampus.
Dikatakan panglima karena laki-laki itu paling ditakutin dan paling kuat di antara mahasiswa lainnya. Bahkan sebelum mengenal Amira laki-laki itu kerap sekalian melakukan tauran di luar area universitas atau sekolah nya.
Sifat brandal nya sudah sejak SMP dan tiba-tiba berubah seketika setelah mengenal sosok Amira Syahira.
" Gimana El? Lo yakin? " tanya David menatap sahabat nya yang sekarang tengah duduk di atas jok motor nya
Keempat laki-laki itu sekarang berada di depan gang yang tak jauh dari universitas, mereka tak ada jadwal matkul hanya saja Elziano yang hendak menyatakan perasaan nya membuat ketiga manusia itu yang menjadi kesusahan dibuat nya.
Elziano tau apa konsekuensi dari tindakan nya saat ini namun, ia setidaknya hanya mencoba apa salahnya?
"Eh itu si Amira " teriak Farhan memukul pundak Elziano dan Belvin yang memang berada di sisi kanan kirinya.
Amira tampak keluar dari toko print lalu melangkah ke arah mereka. Sebenarnya mereka tau jika perempuan cantik itu hendak kemesjid dan tentu harus melewati tempat mereka berdiri terlebih dahulu
" Amira!! " panggil Elziano keluar dari gang kecil itu dan menghampiri Amira yang sekarang tampak menghentikan langkah nya
" ya? " heran gadis itu menatap Elziano dengan penuh tanda tanya
Sudah beberapa minggu tak berbicara dengan laki-laki itu membuat Amira sedikit canggung.
"Aku mau ngomong " ucap Elziano dengan nada serius
" apa? "
" hmm... Aku suka sama kamu " ujar El membuat Amira meremas buku yang ia pegang
"Aku tau " gumam Amira pelan yang masih terdengar oleh Elziano.
Gadis itu bukan nya tak peka dengan perasaan sosok Elziano selama ini, bahkan dia sangat tau bagaimana peran laki-laki itu membantu dibelakang nya sebelum benar-benar berani berkenalan dengan nya waktu itu.
Amira cukup sadar jika mereka tak akan bisa bersama. Bahkan gadis itu tau dengan hatinya yang ikut nyaman dengan perhatian pemuda itu.
Sebagai seorang perempuan tentu mudah sekali terpikat dengan laki-laki yang tutur kata lembut dan memberikan perhatian lebih untuk nya
Dan sebagai manusia tentu wajar jika ia jatuh cinta kepada lawan jenis nya.
Dia juga manusia biasa yang tak bisa menahan untuk tak jatuh cinta dan juga tak tau kemana rasa itu akan singgah.
" Lalu? Kamu mau kita - "
" pacaran? " potong Amira membuat Elziano mengangguk pela
" Aku tak ingin terjerumus terlalu dalam El... Agama ku melarang untuk itu " jawab Amira membuat Elziano mematung. Ia tau larangan dalam agama Amira lalu menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan
" Aku akan melamar mu " ujar Elziano penuh keyakinan membuat Amira terkekeh pelan lalu menggelengkan kepalanya
" dengan keimanan yang berbeda? " tanya Amira membuat laki-laki itu semakin tertohok
Amira menatap laki-laki di depan nya dengan mata yang sudah berair hingga membasahi pipi mulus miliknya.
Dia mencintai Elziano sama seperti perasaan laki-laki itu untuk nya. Namun, ia lebih mencintai Tuhan nya dan menghargai kedua orang tuanya.
Hatinya sesak saat mengingat hubungan yang tak jelas diantara mereka berdua.
Begitupun Elziano yang tampak hancur mengingat cinta nya tak bisa disatukan dengan mudah.
" Kita saling mendoakan yah, supaya bisa bersama " lirih Elziano menatap sedu pujaan hatinya itu
" Kamu merayu Tuhan mu dan Aku merayu Tuhan ku? Dan kamu yakin kita bisa bersatu? " pertanyaan yang keluar dari mulut Amira membuat Elziano kesulitan bernafas.
Sedangkan ketiga sahabat Elziano yang sedari tadi mendengar perbincangan kedua manusia itu ikut tertohok mendengar pertanyaan dari Amira.
Sedangkan ketiga sahabat Elziano yang sedari tadi mendengar perbincangan kedua manusia itu ikut tertohok mendengar pertanyaan dari Amira.
" Aku sangat kasiha dengan dua manusia itu " ujar David prihatin.
" Cinta yang terhalang Tuhan itu ternyata menyakitkan " ucap Balvin ikut prihatin dengan kisah sahabat nya.
Amira tersenyum tipis menatap sosok laki-laki yang sudah berhasil mengisi relung hatinya itu.
" Sudah kan? Kalo begitu aku akan pergi " ujar Amira dengan suara pelan dan sedikit gemetar.
Tak ada jawaban dari Elziano karena laki-laki itu tampak mematung dan tak begitu mendengar perkataan Amira.
Amira yang tak mendapat jawaban dari Elziano langsung melangkah pergi meninggalkan pemuda itu. Tujuan gadis itu adalah mesjid karena 5 menit lagi azan akan berkumandang.
" El... " panggil David menghampiri Elziano yang masih terdiam di susul oleh Farhan dan Belvin.
Ketiga laki-laki itu menatap iba sahabat nya yang sekarang tengah galau karena di tolak secara tidak langsung oleh Amira.
" udah gw bilang dari awal lo nya malah ngeyel " ucap Farhan menepuk punggung Elziano pelan.
Laki-laki itu tak bergeming lalu berbalik menatap mesjid yang menjulang tinggi tak jauh dari tempat mereka berdiri.
" Lo mau join? Yok bisa yok ashadu" canda Farhan saat melihat Elziano yang menatap bangunan indah itu dengan tatapan yang sulit di artikan
" Kayaknya kita bakalan kekurangan sohin ke gereja deh Vin" bisik David yang pada Belvin namun, masih terdengar oleh Farhan dan Elziano.
Farhan tampak tertawa lepas mendengar penuturan David barusan.
" Sejak kapan Lo sama El rajin ke gereja? Setau gw kalo gak nemenin Oma atau Bokab lo pada gak bakal injakin kaki di parkiran gereja " cetus Belvin menyindir dengan terus terang.
Yah pasalnya duo manusia itu sangat jarang mengunjungi gereja bahkan bisa dikatakan sesekai saja.
" Eh. Udah mau azan, gw sholat dulu yah. Dadahh " Farhan melambaikan tangannya sembari melangkah meninggalkan ketiga sahabat nya itu.
Allahuakbar allahuakbar...
Suara kumandangkan azan begitu syahdu terdengar di telinga ketiganya. Ketiga laki-laki itu langsung beranjak pergi meninggalkan area mesjid menuju tempat biasa mereka nongkrong untuk menunggu Farhan selsai sholat.
Seperti mahkluk hidup tak bernyawa Elziano tampak diam tak seperti biasanya.
Bayangan perpisahan dengan Amira membuat nya kian sesak mengingat penghalang diantara mereka.
Disisi lain.
Gadis yang sekarang tengah selsai melaksanakan sholat fardhu tampak menampung kedua tangannya.
Ya rabb... Tak pernah aku melantunkan do'a perihal cinta. Tak pernah aku ucapkan permohonan perihal rasa... Kini, hamba mu yang penuh dosa ini telah begitu larut dalam rasa dan tengah dilema.
Aku tak meminta dia, aku hanya meminta yang terbaik menurut mu... Namun, bisakah kau hapus rasa jika memang bukan takdir bersama untuk aku dan dia.
Perempuan mana yang tak jatuh cinta jika begitu mendapatkan keistimewaan untuk nya.
Aku manusia biasa yang tak luput dari dosa, jika takdir menyatakan aku untuk bersamanya maka ijinkan aku bersamanya tetap dalam lindungan mu.
Namun, jika takdir menyatakan bahwa hanya menjadikan pertemuan dan cinta ini sebuah pelajaran. Kuat kan dan ikhlaskan hati ini ya Allah...
Berikan ridhoMu...
Hati nya kian menjerit bercerita kepada Tuhan. Mengadu kepada pemilik jasad dan merayu pencipta umat.
Pipi putih nya tampak memerah begitu pula hidung mancung nya. Derai air mata terus membasahi pipinya dan dadanya kian sesak di setiap pengucapan kata.
Dia hanya membatin tapi, rasanya begitu berat hingga enggan terucap bahkan di dalam hati sekalipun.
Nafsu syahwat meminta paksa cinta agar tetap bersama. Otak meminta rasa memikir ulang perihal perpisahan yang sudah terucap tampa sengaja dan hati meminta Tuhan yang memutuskan segalanya.
Amira mengusap wajahnya kala lantunan al-fatihah di penghujung do'a sudah usai ia bacakan.
Gadis itu tetap diam menatap tabir pembatas sholat antara perempuan dan laki-laki di depan sana.
" Amira!! " panggil seorang pemuda membuat gadis itu berbalik menatap sosok yang ia kenali tengah berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari nya.
Gadis itu memberikan isyarat agar menunggu sejenak lalu merapikan mukena dan langsung menghampiri laki-laki yang tadi memanggilnya
" Ada apa gus? " tanya Amira menatap laki-laki tampan di depannya
" Tentang pengajuan mu di Qatar university. Aku sudah mendapatkan pengumuman jika nama mu lolos mendapatkan beasiswa disana " ujar laki-laki itu membuat senyum Amira terbit seketika
" Kamu tetap melanjutkan Sastra bukan? Sepertinya bulan depan kamu sudah bisa terbang ke Doha setelah ujian semester " lanjut nya membuat Amira mengangguk pelan
" Terimakasih atas bantuan gus Abiyan " ujar Amira sungguh-sungguh
Qatar University adalah impian nya selama ini. Dan sekarang iya lolos di kampus yang ia impi-impikan dan tentu itu membuat hatinya sangat senang.
" Maaf tadi mengangguk waktu zikir mu mungkin. Aku tengah terburu-buru untuk ke pondok pesantren Al-hidayah. Disana juga ada beberapa santri yang harus aku urus penerbangan nya ke Doha dan Kairo " ujar Gus Abiyan sedikit segan karena kenganggu waktu ibadah Amira
" tidak apa-apa gus. Sepertinya gus juga sangat sibuk, saya memaklumi nya " ujar Amira dengan sopan. Mau bagaimanapun gus Abiyan adalah putra dari pemilik pondok pesantren terkenal di jakarta dan orang tua laki-laki merupakan sahabat karib abinya dan ummi nya.
" Kalau begitu aku pamit dulu, karena masih banyak lagi yang harus aku selsaikan sebelum kembali ke Doha " ujar laki-laki itu mendapat anggukan pelan dari Amira.
Abiyan melangkah pergi meninggalkan gadis itu begitu pun Amira yang melangkahkan kakinya meninggalkan area mesjid.
Dia hendak kembali ke pesantren untuk menyampaikan berita baik ini kepada abi dan ummi nya.
" El... Lo yakin? " tanya Farhan was-was. Setelah selsai sholat zuhur tadi ia langsung menemui sahabat nya di tempat biasa mereka nongkrong. Namun, hal yang mengejutkan harus ia dapatkan dari ketiga manusia itu.
Mereka menatap bagunan sederhana berbentuk sekolah itu lalu melangkah masuk.
" Assalamu'alaikum pak kiyai, ini teman saya mau berbicara dengan kiyai Rohman " ujar Farhan sopan kala mereka sudah duduk di ruangan yang sepertinya adalah ruang guru atau kepala sekolah.
" Iya. Ada apa nak? "Tanya Kiyai Rohman membuat ketiga manusia itu tampak gugup.
Elziano mengutarakan maksud dan tujuan nya kesini dan alasan yang memperkuat maksud tersebut.
Kiyai Rohman tampak berfikir lalu sesekali menganggukkan kepalanya dan terus mendengar penjelasan dari pemuda di hadapannya
" Apa kamu yaki nak? " tanya Kiyai Rohman meyakinkan pemuda itu
" Yakin Kiyai " jawab nya mantap membuat ketiga sahabat nya yang keringat dingin
" Assalamu'alaikum Abi... " teriak laki-laki muda yang tampak senang menghampiri sang abi.
" Ada apa nak? " tanya lembut Kiyai Rohman menatap putra bungsunya itu
" Rakha dapat info dari bang Biya kalo mbak Amira lolos di universitas Qatar " lapor laki-laki itu senang dan menampilkan wajah sumringah nya
" Alhamdulilah " syukur kiyai Rohman bangga dengan putri semata wayang nya itu.
" dimana mbak mu? " tanya Kiyai Rohman menatap putra nya yang sudah duduk di samping nya
" didepan. Sama ustadzah Diyah dan Ummi lagi ngobrol tr-"
" Assalamu'alaikum " ucapan Rakha terhenti kala tiga orang wanita yang berbeda usia mengucapkan salam dan masuk keruangan Kiyai Rohman.
" Waalaikumsalam " Jawab tiga orang laki-laki yang berada di dalam ruangan itu sedangkan tiga orang laginya hanya diam menatap sosok yang datang.
Elziano tampak diam membisu terlebih mengetahui maksud percakapan ayah dan anak tadi membuat jantung nya semakin tak karuan.
Diruangan tampak seperti biasa dan tak ada pembahasan selain keberangkatan Amira ke Doha. Mereka tampak senang kecuali Elziano yang tampak murung.
Ketiga sahabat nya menatap prihatin laki-laki itu.
2 jam berlalu sekarang mereka sudah menyelesaikan urusan masing-masing.
Elziano sengaja meminta bertemu dengan Amira diluar pondok karena ingin menanyakan suatu hal kepada gadis itu.
" Selamat karena bergabung di pondok Abi " ujar Amira dengan senyum tipis.
Setelah acara diam-diaman Amira berniat memecah keheningan dengan memberikan selama kepada pemuda itu
" terimakasih " jawab El lirih
" Jika aku memeluk agama yang kau anut. Apa masih tak bisa bersama? " Tanya El dengan penuh harap
" Jika kau mengganti Tuhan mu karena aku, apakah itu pantas dan tidak terlalu lancang? Tanya hati mu terlebih dahulu.
Aku tak ingin merenggut paksa kepercayaan seseorang yang kedepan nya aku tak bisa menjanjikan suatu hal yang ia inginkan untuk beralih keyakinan
Jodoh, maut, rezeki sudah ditetapkan Allah. Takdir manusia sudah ditentukan walaupun bisa dirubah.
Jika berjodoh maka akan dipertemukan kembali, jika tidak maka takdir akan mempertemukan mu dengan hal yang lebih baik.
Terimakasih telah mencintai ku" ujar Amira dengan nada gemetar.
" Terimakasih kembali karena juga mencitai ku " ujar El karena tau perasaan Amira juga sama untuk nya.
Tak ada perbincangan setelah itu hingga mereka benar-benar berpisah.
Itu adalah kali terkahir keduanya bertemu. Amira yang fokus menyelesaikan persiapan ke Doha dan Elziano yang fokus dengan pendidikan pesantren nya.
Dia belum memeluk Islam namun, ia hanya belajar Islam lewat pendidikan di pesantren secara langsung.
Cinta nya untuk Amira belum berakhir walaupun keduanya sudah dipisahkan oleh takdir.
Begitu pula Amira yang masih menggengam erat rasa nya untuk sosok Laki-laki tampan yang tak lain adalah Elziano Erlangga.
Amira bukan menolak laki-laki itu namun, ia tak ingin keyakinan laki-laki itu hanya karna dirinya.
Selesai.