Malam Rabu 02 Mei
"Ma pengen nanas tadi di sana buanyak nanas yang kecil itu nanas madu kan ya"
"Iya"
"Pengen"
"Beli si kalo ada uang nya"
"AHAHA mana minta"
"Dih kaya ada aja uang nya minta ke bapa kamu tu"
"Huuuuu pa pengen nanas"
"Ngambil aja ngapain beli banyak kan"
"Iya banyak sampe ke pinggir jalan lagi di kemas itu di iket lima lima"
"Iya ngambil aja gak bakal ketauan"
"Dih maling itu ma"
(Sungguh sulit untuk mendapatkan nanas)/batin
Malam Kamis 03 mei
"Mama pengen nanas"
"Nanas nanas Mulu beli sana"
"Mana uang nya"
"Ga ada"
"Huuuu"
Tidak lama kemudian
"Ni" menyodorkan 1 ikat nanas
"Hehe bukain"
"Ke mama"
"Ya udah"
"Maaa bukain"
"Ke bapa aja"
(Heleh)/membatin sembari memutar bola mata
"Paaa kata mama juga bapa aja"
"Ya udah ambil piso nya"
"Shaap"
"Ni bukain" bapa menyodorkan buah nanas kepada mama
"Hih ambilin tempat sampah sama piring nya"
"Ahaha iya"
Malam Sabtu 05 mei
Pukul 22.30
"Ma mau pulang"
"Jagain warung aja gantian mana yang di rumah beres beres kamu di warung aja"
"Terus nanti mau tidur nya gimana? Di tutup?"
"Hih ya udah sana besok pagi pagi ke sini langsung"
"Iyaaa"
Subuh
Pukul 04.45
Tok tok tok suara ketukan pintu dan memanggil manggil namaku ya ku fikiran hanyalah itu suruhan mama agar aku bangun sekarang langsung mandi dan bergegas kesana
"Udah bangun belum kata mama juga buruan kesana"
"Iya nde bentar bangunin si Dede dulu" *nde sama juga seperti uwa*
"Iya"
Aku pun sudah berusaha bergegas tetapi sayang panggilan alam yang sangat menyebalkan aku memutuskan untuk kekamar mandi tanpa memberi tahu.
"Buruan nanti kewarung"
"Iyaa bentar lagii" (ni astaga buruan dong lama bener)
Setelah selesai aku pun bergegas mengunci pintu dan mematikan lampu tidak lupa mengeluarkan motor dan pergi ke warung.
Sesampai nya di warung
"Kamu ngapain dulu si lama amat"
"Ya gimana lagi kalo ada panggilan alam aneh"
"Udah sana itu gorengan angkatin dulu kompor nya matiin"
"Hmm"
Aku pergi kedalam bagian dapur warung untuk melakukan perintah mama setelah itu keluar dan melihat bapa yang sedang berbaring seperti orang yang sangat kedinginan, aku membantu menggosokkan minyak kayupuih kepada kedua kaki nya.
"Coba si telfonin bibi"
"Gada nomor nya nanti telfon ke Ade Yuna aja" (anak bibi, jauh lebih tau dari ku, mengapa di panggil Ade? karna bibi adalah adik mama jadi setua apapun anak nya bibi yang pertama dia tetap di panggil Ade)
"Ada ga itu orang nya takut nya dah berangkat kuliah lagi"
"Ga tau kalo gada di rumah nya ya kasih tau aja biar nanti di kasih tau ke bibi"
Setelah menunggu beberapa menit akhir nya telfon pun di anggat
"Ade Yuna di mana?"
"Di rumah kenapa?"
"Tolong hp nya kasih dulu ke bibi"
"Hmm"
Pov percakapan 2 adik kakak
"Bi coba bi kesini tolongin kak Aji dari malam bibi, bibi, terus" (kak Aji nama bapa) terisak dalam tangisan
"Iyaa iyaa"
"Buruan"
Back pov
Setelah itu mematikan telfon dan aku melihat ke arah bapa dengan tau wajah yang sangat campur aduk tidak tahu mengapa terlintas di benak ku yang negatif.
Apa yang terjadi? mengapa begini? Aku harus bagai mana? Semua pertanyaan terlintas dalam otak ku.
"Kamu si udah di bilang buruan ngapain lama lama di rumah bapa kamu kaya gini"
"Ya siapa juga yang mau be*ra*k dulu coba kalo bisa di kendaliin juga udah dari tadi ke sini"
"Ya suru siapa waktu malam pulang kalo waktu malem ga pulang bapa kamu ga kaya gini"
"...-!!"
Aku terdiam aku fokus menggosokkan kaki bapa, kaki nya sangat dingin seketika terlintas kembali jika sampai dia tidak ada aku harus seperti apa?, Bagai mana aku melalui hidup ku?, Fikiran ku tertuju kepada kematian meski aku berusaha untuk menyikirkan nya sekuat mungkin.
"Coba si telfonin kak Hendra suru Nde kamu kesini"
"Iya"
Aku pun bergegas menelfon kak Hendra dan memberikan hp ku kepada mama.
"Dra tolongin kak Aji dra nde suru ke sini"
Aku melihat mama menangis rasa nya sangat menyayat hati tidak luput dari fikiran ku, apa memang ini salah ku?, Lalu aku harus bagai mana?.
"Itu awal nya gimana kok bisa kata gitu kak Aji orang waktu malem masih baik baik aja masih ngobrol itu sama kita"
"Iya kata nya sakit kepala aja terus waktu subuh pas mau ke masjid bengong dulu terus tak bilang bukan nya buruang ke masjid Mala bengong"
Aku mendengarkan cerita kejadian tadi pagi seblum ini kejadian.
"Iya terus?"
"Terus kata nya sakit kepala kata aku udah lah ga usah becanda mau masak buat jualan, di situ kak Aji minta tolong gitu tolong, tolongan tapi kan iya kak Aji suka becanda jadi cuma di jawab ga usah becanda sana ke masjid terus makin di denger suara nya makin lemes, iya langsung panik terus tak samperin"
(Berarti yang salah bukan aku doang ibarat pertolongan pertama sama mama tapi gak di hiraukan) aku berfikir keras letak salah ku di mana jika cerita rinci nya seperti itu.
"Di situ kak Aji jatuh kepala nya kebentur kursi" isakan tangis yang terus menyayat rasa nya ingin berteriak sekuat tenaga.
Karna keadaan semakin memburuk jadi memutuskan untuk di bawa ke puskesmas terdekat aku tetap di warung karna mustahil jika tutup posisi juga sekarang sedang ramai jadi aku diam di warung menunggu kabar.
Setelah beberapa saat bapa pergi saudara yang di minta untuk ke sini sudah sampai dan aku memberi tahu mereka bahwa bapa sudah di bawa ke puskesmas terdekat.
Fikiran ku masih berkalut pada kematian, jika bapa tidak ada aku harus seperti apa, padahal sebentar lagi aku akan merayakan kelulusan, lalu bagai mana dengan adik ku, semoga saja ini hanya firasat pada akhir nya air mata yang sudah ku tahan lolos dengan sendiri nya.
"Gak boleh nangis semoga aja gak kejadian" tersenyum dalam kesedihan sendiri sangat menyakitkan aku langsung menghapus air mata.
Saat aku sedang merenung ada sebuah pesan chat dari mama dia memberi tahu sedang di bidan Iis sedang di infus sementara karna dia hanya sekedar bidan dan tidak bisa mengurus Pasian untuk inap juga memberi tahu untuk mengantar kan kepada rumah sakit pusat agar di rawat di sana.
Aku membalas chat dengan tangan gemetar bapa memang tidak pernah sakit tapi sekali nya sakit dia akan di bawa ke rumah sakit tetapi tetap prasaan ku tidak tenang aku berharap insting ku kali ini salah.
Mama meminta aku untuk menelfon supir mobil ambulan yang ada di hp bapa aku pun segera mencari kontak nya, juga tidak lupa mengirim pesan chat kepada pak lurah jika bapa sedang keadaan genting, mama juga meminta untuk menyiapkan air aqua 6 botol, aku langsung menyiapkan nya.
Next?
I hope you support me (。•̀ᴗ-)
See you in the next one