Perisai besi yang selalu kugenggam erat berharap akan melindungiku, nyatanya berkarat duri hingga melukai tanganku!
Mahligai pernikahan penuh bahagia yang kuanggap sempurna, nyatanya hancur tak bersisa karena dusta yang suamiku sembunyikan. Semuanya palsu, semuanya semu, perlakuan manisnya padaku hanya sebuah kedok untuk menutupi kelakuan bejad yang dia mainkan di belakangku!
Ya, dia mengkhianatiku. Di saat pernikahan kami memasuki usia 10 tahun, mengarungi bahtera pernikahan selama itu kukira akulah wanita paling beruntung di dunia ini karena memiliki pendamping setia seperti Mas Akbar. Hidupku berjalan dengan sangat baik, pernikahanku terasa sangat mulus tanpa cacat cela. Kami dikaruniai satu orang putra yang usianya menginjak 9 tahun bernama Fatih, juga seorang putri cantik yang kami beri nama Nashwa berusia 4 tahun.
Hubungan pernikahan kami terbilang sangat harmonis, walau pastinya ada kerikil-kerikil kecil seperti perdebatan ringan mengenai pola asuh anak, atau sekedar perbedaan pendapat sepele lainnya. Itu semua hal yang lumrah bagi pasangan suami-istri. Ditambah lagi sifat Mas Akbar yang selalu mengalah dan lembut padaku, terutama pada ana-anak.
Sebanyak apa pun kesalahanku, laki-laki berusia 40 tahun yang masih terlihat tampan dan segar itu tidak pernah benar-benar marah padaku. Yang dilakukannya hanya akan menegurku dengan cara yang halus dan begitu lembut.
"Gak apa-apa, Bun. Asal jangan diulangi, ya!"
Selembut dan sebaik itulah dia memperlakukanku. Sebagai seorang istri, aku tentu mereasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Mas Akbar. Tetapi, itu semua sebelum kebusukan yang disembunyikannya rapat-rapat dariku terbongkar.
Aku sendiri yang menyaksikannya, melihat dengan mata kepalaku sendiri. Suami yang selalu kubanggakan karena sikap dan tutur katanya yang semanis madu, sedang bercinta dengan seorang pembantu di rumah tetanggaku.