Tatapan matanya begitu tajam seperti hendak menerkamku. Bola matanya membulat dengan warna amber yaitu cokelat kekuningan atau keemasan dengan semburat warna tembaga. “Mata yang indah,” Pikirku ketika aku tak sengaja bertemu mata dengannya. Seseorang yang duduk tepat disebelahku dengan gayanya yang cool serta badan yang kekar membuat semua gadis jatuh cinta kepadanya.
Namanya Aldrick Wolfin, nama yang unik. Semua orang akan bertanya-tanya jika mendengar namanya begitupula dengan aku. “Mirip seperti serigala,” Kataku dalam hati. Wolf dalam bahasa inggris adalah serigala. Tapi aku segera menepis semua pikiran khayalanku. Aku memang suka pada tokoh werewolf yang sering aku tonton di televisi atau aku baca di novel fantasy. Werewolf adalah sebuah mitos dari eropa kuno berupa monster setengah manusia dan setengah serigala. Konon manusia serigala akan berubah pada saat bulan purnama tiba saat kekuatan mistiknya mencapai puncaknya. Mereka juga bisa berubah wujud menjadi manusia. Aku tertarik pada kisah itu.
‘Pletak!’ Aku tak sengaja menjatuhkan pena ke lantai saat sedang menulis. Tanganku menggapai benda tersebut namun sulit kujangkau. Aku tak melihat ke arah sana karena pena itu jatuh tepat dibawah mejanya. Tiba-tiba saja sebuah tangan kekar menyodorkan pena ke arahku.
“Ini.” Suaranya menggelegar ditelingaku. Aku menoleh. Ia tersenyum namun aku mendadak begidig melihat senyumnya. Padahal ia biasa saja. Entah mengapa aku merasakan kengerian dari sudut bibirnya.
“Makasih.” Jawabku singkat sambil buru-buru meraih pena itu.
Suatu hari, aku semakin sering bertatap muka dengannya. Ketidaksengajaan itu seperti sudah direncanakan dengan matang. Hingga lama kelamaan kami menjadi dekat. Kata-kata yang kami ucapkan bertambah banyak dari biasanya. Aku menyukai matanya. Sangat indah dan terlihat kuat. Sorot matanya yang tajam membuatnya menjadi lebih gagah.
“Kamu cantik, senyummu sangat indah, dan aku menyukainya,” Tiba-tiba ia mengatakan itu padaku. Aku terperanjat. Seperti ada aliran listrik yang mengalir dari telapak kaki merambat ke kepalaku. Ia memujiku dengan sorot mata yang tajam.
“Te,,terimakasih,” Jawabku terbata-bata.
“Kamu mau jadi kekasihku?” Mataku semakin membelalak mendengar ucapannya tersebut. Jantungku berdegup kencang seperti mau runtuh. Tanpa aku sadari kepalaku bergerak tak terkendali. Aku mengangguk dengan wajah yang memerah. Dan mulai sejak saat itu ia adalah kekasihku.
Pada suatu hari, aku sedang kesulitan mengambil buku mata pelajaran sejarah yang terletak di rak paling atas. Kakiku berjinjit dan tanganku menggapai-gapai namun tidak juga bisa. Tiba-tiba ada sebuah badan besar yang berada dibelakangku dan tangan kekarnya bergerak mengambil buku sejarah itu. Aku terpaku sejenak karena terkejut.
“Ini?” Katanya dengan suara yang berat, ia menyerahkan buku itu kepadaku.
“Terimakasih.” Aku menunduk dengan malu.
“Aku Gerry Edward, panggil saja aku Gerry.” Ia mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan.
“Kinara Carlisle,” Jawabku seraya meraih jabatan tangannya. Ia tersenyum. Jantungku berdebar otomatis ketika melihatnya tersenyum. Matanya mirip sekali dengan mata Aldrick.
Sudah tiga kali aku melihat mata yang seperti itu. Mata yang berbeda dari orang lain, bahkan mataku. Yang satunya adalah mata milik Rachelle Wolfin~Adik kandung dari Aldrick. Aku pikir mereka memiliki mata yang sama karena mereka adalah saudara kandung. Namun Gerry bukanlah saudara mereka. Bahkan mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Dan mereka memiliki mata yang sama. Siapa sebenarnya mereka?
Suatu hari sekolahku mengadakan acara perkemahan. Sudah rutin dilakukan setiap tahunnya. Dan kini giliran angkatan kami yang mengadakan perkemahan rutin tersebut. Kami berkemah didekat sebuah hutan yang lokasinya cukup strategis. Dekat dengan jalan raya namun juga dekat dengan hutan belantara. Meskipun kami hanya berkemah dipinggiran hutan namun suasana hutan yang mencekam sangat terasa bagi kami.
“Kinara, tolong kamu ambilkan kayu ranting untuk membuat api unggun nanti malam,” Perintah pembina kami.
“Baik, kak.” Aku segera bergegas mencari kayu ranting. Aku berjalan menyusuri hutan sambil terus membungkuk untuk mencari-cari kayu ranting yang tercecer ditanah. Saking asyiknya melihat kebawah aku tak sadar telah masuk jauh kedalam hutan. Kemudian langkahku terhenti, aku bersembunyi dibalik pohon besar didekatku. Mataku terbelalak sambil menutup mulut agar tak bersuara sedikitpun. Sosok besar dan bertaring panjang itu sedang asyik melahap kelinci mentah-mentah. Badanku gemetar, mendadak membeku seperti batu. Tokoh fiksi yang sering aku baca di novel telah muncul dihadapanku. Ini bukan mimpi bahkan aku berkali-kali mencubit pipiku. Aku sadar. Manusia serigala itu nyata didepan mataku.
Aku memekik tatkala seekor semut merah dan besar itu menggigit tanganku. Sosok besar dan bertaring itu menoleh ke arahku. Mataku terbelalak, nafasku seolah berhenti, jantungku berdetak tak karuan, aku ingin lari namun sulit. Aku tak bisa mengangkat beban tubuhku lagi. Sosok itu berjalan kearahku. Aku berteriak meminta tolong namun hanya didalam hati. Suaraku tidak bisa keluar. Tiba-tiba sosok menyeramkan itu berubah menjadi sosok laki-laki tampan yang sangat aku kenal. Pandanganku mendadak gelap kemudian aku merasakan kakiku lemas dan roboh. Aku merasakan sebuah tangan besar menangkap tubuhku. Aku tak sanggup lagi menghindar, aku pasrah jika aku akan menjadi santapannya.
Mataku terbuka perlahan-lahan, aku melihat kesekeliling. Masih dihutan yang sama seperti sebelum aku jatuh pingsan. “Aku masih hidup,” Pikirku. Aku menatap kedepan. Aku melihat ada tiga sosok manusia serigala sedang bertarung. Aku terkejut dan segera berlari menjauh. Namun langkahku terhenti. Terbesit dalam pikiranku untuk melihat siapakah mereka. Lalu aku bersembunyi dibalik pohon sambil memperhatikan mereka bertarung.
Pertarungan yang sangat sengit. Berkali-kali mereka saling cakar dan menggigit. Darah mengalir dari tubuh mereka yang terluka. Aku begidig ngeri. Mereka yang sama-sama serigala saja terkoyak apabila terkena gigitan dan cakaran apalagi tubuhku yang hanya manusia biasa. Aku memperhatikan gerak gerik mereka. Ternyata ada dua serigala yang menyerang satu serigala. Manusia serigala yang pertama kali aku lihat itu sedang diserang oleh dua manusia serigala yang entah datangnya dari mana.
Manusia serigala yang pertama kali kulihat itu jatuh tersungkur dengan lemas. Badannya berlumuran darah. Ia sudah tidak sanggup lagi berdiri. Perlahan-lahan tubuhnya berubah menjadi manusia biasa. Manusia yang pernah aku kenal. Dia adalah Gerry. Gerry ternyata manusia serigala. Aku terkejut namun aku merasa kasihan kepadanya. Gerry tidak pernah punya niat untuk membunuhku. Jika memang membunuh, aku pasti sudah tidak berdiri disini lagi sejak tadi. Kedua manusia serigala itu mendekati Gerry dan bersiap untuk membunuhnya. Dengan sekuat tenaga aku berusaha keluar dari persembunyian.
“Stop!!” Mereka menghentikan ayunan tangannya dan menoleh ke arahku. Jatungku berdegup kencang namun aku memberanikan diri dan berjalan mendekati mereka.
“Dia sudah tak berdaya, kenapa kalian masih ingin membunuhnya, manusia saja punya hati nuraini kepada sesamanya yang lemah, kenapa kalian tidak?” Kataku dengan suara bergetar.
Mereka mengurungkan niatnya untuk membunuh Gerry. Gerry sudah lemah. Ia menatapku dengan matanya yang berwarna kecokelatan itu. Aku mendekatinya. Duduk didekatnya. Tangannya terangkat hendak menyentuh wajahku namun kesulitan. Aku memegang tangannya kemudian meletakkan dipipiku.
“Maaf aku membuatmu takut, jaga dirimu baik-baik, aku sempat menyukaimu sejak pertama bertemu diperpustakaan, namun kau telah menjadi kekasih musuhku, aku menyerah, dia lebih kuat dariku, selamat tinggal Kirana Carlisle,” Setelah berkata begitu ia menghembuskan nafas terakhirnya. Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya namun tak bergerak sama sekali. Aku menoleh ke arah dua manusia serigala yang sejak tadi memperhatikan kami.
“Siapa kalian?” Tanyaku dengan penuh selidik. Perlahan-lahan mereka berubah wujud. Mulutku menganga saat melihat siapa mereka. Orang yang selama ini aku cintai adalah sosok manusia serigala. Pantas saja mereka bertiga memiliki mata yang sama karena mereka adalah manusia serigala.
“Kenapa kalian membunuh Gerry?”
“Karena dia hendak merebut kekasihku.” Jawab Aldrick.
“Gerry juga telah membunuh kekasihku, dulu semenjak kami mengenalmu ratusan tahun yang lalu,” Kata Rachelle kepadaku. Sorot matanya terlihat sedih. Aku menjadi iba kepadanya.
“Gerry adalah putra dari Waston Edward. Seekor manusia serigala yang membunuh kedua orang tua kami.” Kata Aldrick. Aku terkejut.
“Jadi dia adalah musuh keluarga Wolfin?”
“Ya. Dan dia berhak mati karena selalu mengganggu kehidupan kami.” Aku tersentuh. Merasa kasihan kepada nasib mereka. Manusia memang memiliki hati nurani yang baik. Sehingga sanggup memaafkan segala kesalahan siapapun yang berbuat jahat.
“Aku minta maaf telah berburuk sangka kepadamu.” Kataku sambil memeluk Aldrick.
“Kau tidak takut kepadaku?” Tanyanya. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. Kemudian kami saling berpelukan. Aku tidak peduli siapa dia, berasal dari mana atau sejenis apa. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Rachelle tersenyum melihat kami. Ia pun memelukku. Ia berjanji akan selalu menjagaku sebagai kekasih dari kakak kandungnya, satu-satunya anggota keluarga yang ia punya karena kedua orang tuanya telah tiada sejak ratusan tahun yang lalu.
Selesai.