Berpikirlah berkali-kali sebelum kamu mencintai sebab kamu belum tahu betapa sakitnya ketika mencintai namun tak pernah dihargai
Cressensiana adalah seorang siswi yang pandai. Seorang siswi di sebuah SMP negeri yang memiliki reputasi kurang baik di hadapan masyarakat. Meski begitu, Cressen terkenal dikalangan masyarakat karena prestasinya. Bukan hanya itu, Cressen juga terkenal akan kecantikan, keaktifan, dan keramahannya. Tubuhnya tak terlalu tinggi hanya 150 cm. Rambut coklat menyala serta lensa mata yang coklat senada degan rambutnya membuat kecantikan Cressen tidak ada duanya. Kehidupan Cressen tidak jauh beda dari siswa lainnya. Sampai suatu saat sesuatu mengubah kehidupannya yang tenang.
Kring.....
Bel tanda berakhirnya KBM berbunyi nyaring. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Para siswa kelas 7 dan 9 berbondong bondong pergi meninggalkan sekolah. Kini hanya tersisa kelas 8 yang tengah berkumpul di aula sekolah.
"Selamat siang anak anak" Suara dari seorang guru yang tengah bediri di depan menyapa kami.
"Ini udah sore pak, bukan siang lagi!" teriak salah seorang siswa dari dalam krumunan. Tak ada yang perlu mencari tahu suara milik siapakah itu. Siapa lagi jika bukan Dimas, salah seorang siswa yang tinggi dan memiliki suara seperti toa itu sudah sering kali berterik teriak.
Cressen pov
"Baiklah, karena hari sudah sore, maka saya akan menjelaskan aturan, kebutuhan, dan pembagian kelompok bus" Demikianlah Pak Andre membuka pertemuan sore itu untuk menjelaskan semuanya.
Setelah selesai, Aku langsung pulang ke rumah lalu mempersiapkan segala keperluanku.
Keesokan harinya.....
Hari ini adalah hari Minggu, 29 Oktober 2017. Sekarang sudah pukul 16.00, semua siswa nampak sudah berkumpul di halaman sekolah. Keantusiasan nampak pada wajah para siswa. Pada Study tour kali ini di ikuti oleh 167 siswa dan 15 orang guru pendamping.
Selama perjalanan para siswa bergembira. Banyak dari mereka yang memilih untuk begadang sambil berkaraoke. Aku lebih memilih untuk tidur menghemat tenaga untuk aktivitas besok.
Pukul 6.43 kami sudah sampai di kota Batu, Malang. Kami check in di hotel Grand Batu Inn. Jam 8 kami berkumpul untuk melanjutkan perjalanan.
Tujuan pertama kami adalah salah satu kebun apel di Malang.
Aku tak mengira jika Malang tidak panas seperti yang aku bayangkan. Suhu udaranya tidak berbeda jauh dari suhu udara di rumah. Nyaman. Aku berjalan seorang diri. Menelurusi setiap sudut kebun apel, mengamati lalu kemudian aku catat pada sebuah notebook yang aku bawa sebagai bahan aku untuk menyelesaikan laporan perjalanan wisata kali ini.
Aku mulai memetik buah apel. Ya di sana kami dibebaskan untuk makan buah apel. Sebuah apel yang cukup besar dan ranum menggodaku untuk mengambilnya.
Aku akhirnya meletakkan tasku di bawah pohon itu dan berniat untuk memanjat sebelum seorang guru menahannya.
"Cressen! Jangan panjat, nanti kamu jatuh!"
""Ngga apa pak, ngga bakal jatuh pak. Kalo pun jatuh, tidak terlalu tinggi"
"Kau ini ya! Sudah, cepat turun!"
Geram pak Fatoni karena ulahku.
uhh... nanggung dikit lagi dapet. ucapku dalam batin.
Tak lama setelah aku turun, Pak Fatoni memanggil beberapa anak laki laki untuk memanjat. Seorang dari mereka memanjat dan memetik beberapa apel untuk Pak Fatoni. Setelah Pak Fatoni pergi, aku beranjak mengambil tas dan hendak mencari apel di pohon lain.
"Cressen! Tunggu!"
Aku menoleh saat seorang di belakang memanggilku.
"Ini untukmu" katanya sambil memberikan sebuah aprl yang besar dan ranum itu ke dalam tanganku.
"Terimakasih Yudha" kataku sambil tersenyum. Yudha hanya tersenyum dan kembali lagi bersama dengan teman temannya.
Yudha adalah anak kelas 8E. Dia adalah temanku sewaktu SD. Dia adalah seorang yang nakal, namun pethatian. Dia juga humoris. Wajahnya tampan, bahkan aku sering mengira bahwa Yudha adalah kembaran Mas Stefan, karean mereka sekilas terlihat mirip.
Waktu berlalu begitu cepat. Setelah dari kebun apel, kami menuju ke Museum Brawijaya dan terakhir Ke Museum Angkut. Langit sudah mulai kelabu, aku memutar lagu dari ponselku. menikmati senja dengan duduk di anak tangga dekat bus yang aku tumpangi. Sambil menunggu teman teman uang lain, Aku dan Lina, teman sekelasku, membahas hal yang akan kita persiapkan besok. Suara gaduh dari bus 2 berhasil menarik perhatianku setelah sebuah suara menyambung percakapan antara aku dan Lina. Ya siapa lagi jika bukan Dimas. Aku kesal dengan sikapnya yang ikut campur. Aku kemudian diam dan membenarkan topi MTMA merah milik sepupuku yang ku pinjam beberapa waktu lalu.
Dimas keluar dengan seorang laki laki dari gengnya. Namun kenapaaku merasa asing dengan wajah itu. Seorang laki laki yang tingginya sekitar 165 cm-an dengan kulit yang sawo matang, rambut rapi, senyum yang manis dan lesung pipi yang cukup dalam, keluar dari bus 2 kemudian duduk di anak tangga bus itu.
Siapa murid itu? Dari kelas mana? Kenapa aku merasa asing dengan dia? Hampir semua gengnya Dimas aku kenal. Mulai dari Diki yang pas awal masuk sekolah sempat menarik perhatianku, Deni yang merupakan mantan A May sahabatku. Wahyu yang merupakan pacar Alfin teman sekelasku sekarang. Dan Daffa yang sekarang sedang mencoba untuk mendekati A May. Tapi siapa dia? aku tifak mengenalnya.
Obrolan antara aku, Lina, Dimas dan temannya berlangsung cukup lama. Aku sesekali memperhatikan teman Dimas yang menatapku. Aku kemudian membalas tatapannya dan kemudian dia menoleh ke arah Dimas. Aku mengamati pakaian nya. Kaos kelas yang sama denagn Dimas, Fix dia dari kelas C. Aku terus memperhatiaknya. Aku yang penasaran dengan namanya mengambil keputusan untu menanyakan secara langsung.
"Hey, temennya Dimas! Siapa nama lo?"
"Siapa? Gue? Nih baca sendiri!"
katanya sambil berdiri dan merentangkan bagian bawah kaosnya. Jelas terbaca. RIFDA.
Namanya saja aku jarang mendengar pantas kalo aku ngga kenal. ucapku dalam hati.
Kami masih terus mengobrol dengan musik dari hp-ku yang masih terus memutar lagu dari tadi, sampai Rifda bertanya.
"Ehhh.... Lo, kenapa Lo suka pakai kekgituan sih? Tomboy tau"
Lantas aku memandang Lina, jelas yang dia maksud bukan Lina karena Lina adalah cewek yang alim dan tertutup. Kemudian aku aaaa
melihat diriku sendiri. Tak aneh jika Rifda bertanya seperti itu padaku. Aku memakai sepatu kats, jelana Jins dan kaos kelas warna merah marun dengan sedikit doodle pada bagian depan serta topi MTMA merah yang aku pakai kebelakang dengan rambut gerai.
"Gini ya, Mau Gue pake dress, mau Gue pake celana pendek atau mau ngga pake baju, apa urusannya sama elo? Gue mau pake apa aja mau dianggap veminim lah dianggap tomboylah, ngga fhasionable, terserah mereka yang penting Gue nyaman"
"Tapi Elo cantik apa adanya kok" Kata Rifda yamg samar terdengar karena bisingnya tempat parkir dan angin kencang.
Deg..
Aku yang mendengar itu tak percaya. Aku menganggap bahwa itu hanya salah dengar. Aku bisa mendengar lagu yang kala itu mengalun dari HPku adalah lagu 'Rasa Ini' milik Vierra. Tepat saat aku merasa bahwa jantungku berhenti berdetak berdetak selama seper sekian detik.
Tepat pukul 18.00 kami sampai di hotel. Semua orang yang sudah sampai langsung menuju kamar masing masing. Ketika aku sampai kamar dapat dilihat dari kamar beberapa anak yang sudah turun untuk berenang. Akupun mengganti pakaianku kemudian berenang. Aku sempat ragu untuk turun sampai pada akhirnya Cecil dan Tari mendorongku dari belakang sehingga aku terjatuh. Aku yang belum ada persiapan untuk mengatur napas sempat dibuat gelagapan dengan air itu. Aku yang masih mengatur napas karena gelagapan di tertawakan oleh teman teman. Aku tak tinggal diam. Aku kemudian menarik Cecil dan Tari ke dalam kolam sehingga mereka berdua basah.
Setelah puas basah basahan, satu persatu kami meninggalkan kolam renang dan menuju ke kamar masing masing untuk mandi sebelum makan malam. Tepat jam 8 malam kami mulai makan. Ya karena Aku mandi paling terakhir akhirnya aku tinggal makan makanan lebih yang masih ada. Setidaknya bisa mengganjal perut.
Sekarang sudah pukul 21.45 namun banyak yang masih lalu lalang. Aku menuju bagian kantin dan membeli mie cup untuk aku makan. Sembari menunggu, Aku duduk di kursi yang ada di sana. Nampak beberapa siswa lain juga duduk di sana berbincang ria. Setelah pesananku selesai, aku langsung membawanya ke kamar untuk makan. Ternyata teman sekamarku masih sibuk berkutat dengan tas mereka. Aku duduk di kursi lalu menyantap mie itu. Waktu sedah menunjukan pukul 22.17, keadaan masih ramai sampai sebuah ketokan pintu terdengar dan menyuruh kami untuk segera beristirahat.
Keesokan harinya....
Sekarang sudah pukul 7.08 Kami sudah check out dari hotel. Kami melanjutkan perjalanan menuju Lamongan. Destinasi Wisata Goa Maharani dan WBL. Perjalanan cukup memakan waktu. Aku memilih untuk istirahat karena semalam tidak bisa beristirahat dengan nyanyak. Bagaimana tidak?, Aku tidur di paling ujung dekat dengan ac. Teman teman mengaturnya pada suhu 16°C. Aku yang ada di ujung jelas terpapar AC paling lama dan paling dingin. Sewaktu tengah malam aku terbangun akibat teman sebelahku yang tak sengaja menyenggolku dan akhirnya aku terjatuh. Sangat mengenaskan.
Sekitar pukul 11 kita sudah sampai di tempat tujuan kami. Kami Satu persatu masuk dengan tiket menuju ke Goa Maharani. Aku tidak begitu bisa beradaptasi dengan lingkungan di sini. Suhunya yang panas membuat peluh mulai muncul di pelipisku. Tidak jauh berbeda dengan Zoo lainnya, Goa Maharani juga memiliki banyak binatang di sana hanya yang membedakan ada sebuah gua yang menurutku cukup pengap. Aku masih setia berjalan mengamati bersama dengan Lina.
Aku tak sadar jika ternyata aku di ikuti oleh Dimas and his geng. Saat aku berjalan di deretan jenis orang utan, seseotang menginjak kakiku dari belakang yang nyaris membuat aku terjatuh. Untunglah ada Lina yang menopangku.
"Awww...." Pekikki yang merasakan nyeri di kakiku.
Sementara sang pelaku sudah lari meninggalkan teman temannya.
"Dimas!!!"
Orang yang merasa di panggil namanya itu hanya menoleh lalu menjulurkan lidah mengejek. Aku yang tak terima ingin mengejar dan membalasnya. Namun karena nyeri pada kakiku membuat aku mengurungkan niatku. Sedangakan Lina dan geng Dimas yang lain hanya tertawa melihatku yanng tengah menahan emosi. Aku dan Lina akhirnya berhenti sejenak membiarkan teman Dimas yang lain berjalan karena aku sangat kesal jika saja salah seorang dari mereka juga ikut mengerjai aku seperti Dimas.
Lama berjalan akhirnya Aku dan Lina sudah sampai di ujung dari tempat wisata itu yaitu di pasar tempat para pedagang menjajakan oleh oleh kepada kami, para pengunjung. Baru saja aku dan Lina berjalan, tiba tiba seorang menarik tas ku. Sontak aku yang kaget tidak bisa menjaga keseimbangan dan tertarik kebelakang. Aku berpikir bahwa aku mun5hkin akan jatuh.
Tap...
Seorang menahanku dari belakang. Sontak aku menoleh dan ku dapati bahwa itu Rifda. Sontak aku yang merasa malu langsung berdiri. Dapat ku dengar beberapa orang yang melihat kejadian itu berdeham. Panas dari terik matahari dan dari diriku yang malu membuat aku tak berani menegakkan kepalaku. Aku mengucapkan terimakasih sebelum aku pergi meninggalkan mereka.
Aku yang sudah tak tahan, meninggalkan Lina bersama dengan seorang lain. Aku berjalan melalui sebuah jembatan layang yang menghubungkan Goa Maharani dengan WBL. Aku santai berjalan seorang diri.
Ya, miris seperti anak hilang. Tak apa. Yang penting aku happy. Batinku.
Tiba tiba aku merasakan ada orang yang berlari ke arahku dan Saat Aku menoleh seseorang menginjak kakiku lagi. Siapa lagi jika bukan Dimas. Aku yang geram akhirnya mengejarnya. Dia yang memiliki kaki yang jenjang membuat aku kesusahan untuk mengejarnya. Napasku memburu, tenggorokanku kering sampai aku susah untuk menelan ludahku sendiri. Aku yang kelelahan tak menyadari bahwa seseorang menepuk Bahuku dari belakang.
"Hei, minumlah! Kamu kelelahan mengejar Dimas"
Katanya kepadaku. aku langsung menyambar botol minuman itu dan membukanya lalu aku minum.
"Terima kasih atas minuman ini nanti aku kembalikan"
" Tidak perlu" Sambil melenggang meninggalkan aku sendiri.
aku menikmati senja sebelum akhirnya kami kembali masuk ke dalam bus sebelum pulang tiba-tiba seorang mendekatiku dan berkata
"Cressen!Mamat suka sama elo"
"Asu! Diem Lo Dim! Cressen, Jangan percaya!"
"Apa sih? Gajelas"
Aku hanya menanggapi seperti itu sebelum masuk ke dalam bus. Sekitar pukul 7 malam. Banyak dari kami tertidur akibat kelelahan.
Kami samapi di sekolah sekitar pukul 5. Aku dan 5 orang teman sedusunku yang tidak di jemput memutuskan untuk berjalan sebelum akhirnya kami diantar oleh bus sampai depan gapura.
"Cressen, sini aku bantu bawa" Tawar Hasan kepadaku
"Iya, sini, biar kita berdua aja yang bawain" kata Yasin ikut menimpali.
"Tak perlu. Rumahku juga ngga begitu jauh. Kenapa kalian ngga bawain punya Cecil sama Nadia? Kan Hasan rumahnya deket sama Cecil. Terus Yasin kan searah sama Nadia. Kalo aku dama Mei kan rumahnya deket jadi ngga perlu di bantuin. Iya ngga Me?"
"Bener banget itu. Kalian gimana sih? jadi cowok kok ngga peka. Yang sejalan siapa, yang ditawarin beda lagi. Dasar Cowok!"
Kami pun tertawa. Susana yang dingin tak lagi kami pedulikan.
Tawa kami mewarnai perjalanan kami menuju rumah.
Aku samapi di rumah. Seperti biasa, ibu sudah bangun dan kini tengah mencuci pakaian. Aku langsung mandi dan kemudian tidur.
Hari berikutnya aku kembali menjalankan aktivitasku seperti biasa. Hanya saja ketenanganku mulai terusik sejak aku kenal dengan Rifda. Hampir setiap hari aku dikerjai oleh Dimas dan Rifda. Entah dengan menginjak kaki atau menarik tasku. Atau terkadang ketika aku sedang membersihkan kaca jendela belakang, kursi yang aku gunakan mereka berdua tarik.
Tak menyangka kini sudah bulan Januari. Seperti biasa, Januari tempat ini sering dilanda hujan. Sekarang hari Rabu, hujan cukuo deras di luar. Tapi hari juga semakin sore. Aku memutuskan untuk menerjang hujan dengan payung hijau kecil milikku.
Aku berjalan keluar kelas dengan tas yng kugendong ke depan, menenteng sepatu milikku dan sedikit menjijing rok panjangku. Nampak beberapa siswa terdampar di dekat kamar madi samping kelasku. Aku berjalan perlahan karena angin cukup kencang.
"Cressen! Numpang lah sampe depan gerbang!"
Kata seorang yang selalu membuat aku geram dengannya. Siapa lagi jika bukan Rifda. Orang yang awalnya aku kira adalah orang baik ternyata tidak jauh menyebalkan dari seorang yang bernama Dimas.
"Nggak! Payung Gue ngga muat berdua! Cari aja yang lain!" Kataku sewot.
Aku berjalan pwrlahan baru saja berjalan berapa langkah dan sampai di dekat tiang lapangan takraw seseorang merangkul ku. Aku sempat terhuyung dan nyaris jatuh. Tapi tangan orang yang kini tengah merangkulku menahan supaya aku tidak jatuh. Tangan kirinya memegang bahuku sedang tangan kananya memegang tangan kananku yang tengah memegang payung.
Deg...
Kutatap dia. Aku tak menyangka bila orang yang kini tengah merangkulku adalah Rifda.
"Udah cepet jalan. ngga usah liatin mulu. Ntar naksir"
Aku yang sempat terkesima dengan wajahnya langsung tersadar.
"Apaan sih! Lepasin ngga! Ini nggak muat buat berdua"
"Udah lah, cuma sampai depan gerbang juga"
Akhirnya aku yang sudah kedinginan tak lagi berniat untuk melanjutkan perdebatanku dengannya.
Kita berdua berjalan bersama di bawah payung yang sama. Derai hujan membasahi sebagian tubuhku dan juga tubuh Rifda. Banyak pasang mata memperhatikan Aku dan Rifda yang tengah berjalan mendekati gerbang.
"Cie cie.... Mamad lekas PDKT"
kata Dimas yang sudah berada di depan gerbang dengan hampir sekitar 20 orang siswa dan beberapa guru. Sontak teriakan Dimas membuat orang yang tadinya takacyh menjadi acuh kepada kita berdua. Sekujur tubuhku langsung hangat. Akibat rasa malu yang Dimas timbulkan.
Sesampainya di gerbang aku langsung meloloskan diri dan berjalan cepat lewat pingir jalan raya dengan bertelanjang kaki.
Kejadian ini tidak hanya terjadi sekali. Terakhir adalah bertiga. Aku, Rifda dan Daffa. sungguh membuaku menjadi kesal.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, Rifda mendatangiku yang tengah duduk di anak tangga samping lapbas.
"Cressen, Lo mau ngga jadi pacar Gue?"
"Hah?! Apa?! Jadi pacar lo? Hey nggak usah becanda ngga lucu. Lo pasti sekarang lagi main ToD kan?"
"Ngga, Gue serius Sen. Gw udah suka sama Lo sejak awal kita masuk SMP"
"Ngga mungkin. Gue aja kenal lo baru pas study tour kemaren. Ngga usah ngada ada lo"
"Iya, Gue tau. Lo emang baru aja kenal sama Gue. Tapi Gue udah kenal Lo dari dulu. Terserah percaya atau ngga."
"Sekalipun apa yang lu omongin itu jujur, Gue tuh nggak bisa nerima Lo karena kita masih kecil, masih SMP. Belum saatnya buat mikirin kayak gitu. Dan juga Gue udah janji sama Nyokap Gue buat nggak pacaran selama Gue SMP. Jadi Maaf Gue tetap nggak bisa nerima Lu buat jadi pacar Gue"
"Nggak papa kok, Gue siap tunggu. Siap tunggu sampai kita lulus. Tapi lu juga harus janji kalau bakal nerima Gue"
" Itu sih tergantung, kalau seandainya Lo sendiri bisa setia, Gue bakal pertimbangin. Tapi kalo lo tiba-tiba di tengah jalan melenceng, ya maaf Gue nggak bisa"
"Oke Gue janji"
"Udah Ah.... Gue mau masuk kelas"
Jujur, saat Rifda mengungkapkan isi hatinya, aku sedikit terkejut dan merasa senang. Entah karena dia adalah orang yang pertama kali menyatakan cinta padaku atau karena memang sudah ada benih-benih cinta dalam diriku. Yang pasti aku tidak ingin terlena dengan kata kata buaya darinya.
lambat laun setelah kejadian itu aku semakin dekat dengan Rifda. Namun sedikit demi sedikit juga aku mengetahui tentang kehidupannya. Tentang dia yang berasal dari keluarga broken home, ataupun dengan mantan mantan pacarnya. Sampai suatu saat, Tari berkata bahwa dia adalah salah satu Mantan Rifda, dan dia memberi tahuku bahwa saat ini Rifda ternyata juga menjalin hubungan dengan salah seorang yang bernama Clarista sudah hampir 2 tahun. Aku yang sudah mengetahui hubungan antara Rifda dan Rista perlahan menghancurkan hatiku. Aku yang selama ini menaruh kepercayaan lebih kepada Rifda seketika runtuh. Tanpa sadar air mataku mengalir. Rasa sakit menikam hatiku. 2 tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku tak percaya bahwa ternyata orang yang selama ini aku kagumi telah memiliki seorang pasangan. mulai dari saat itu itu aku menghindar dari Rifda karena aku takut jika orang-orang akan mengataiku sebagai seorang PHO.
Aku perlahan menjauh. Mungkin Rifda sadar bahwa aku semakin menjauh. Dia bertanya padaku kenapa aku menjauh. Lalu aku hanya mengatakan bahwa aku tidak ingin mengganggu hubungan antara dia dengan Rista.
"Nggak! Ini pasti salah paham. Aku tidak pernah mencintai dia. Aku hanya butuh waktu buat ngomong sama dia secara baik baik. Aku bakal putusin dia kalo kamu mau"
Aku bingung, apakah yang dikatakannya jujur? Kalau kalian cermati, Dia berkata 'aku bakal putusin dia kalau kamu mau'. Jelas tampak sebenarnya dia tidak ingin melepaskan. Rasanya sakit, benar-benar sakit. Aku yang tak pernah merasakan rasa mencintai lawan jenis merasa telah dipermainkan olehnya.
Aku diam tak menanggapi. Aku berdiri dan hendak berjalan, namun Dia menahanku.
"Tolong jangan pergi. Beri aku waktu buat ngomong sama dia. Karena dulu yang menembak Dia Bukan Aku, tetapi Wahyu adik kelas kita. Dia menyukai Rista. Namun dia menembak menggunakan akun Facebook ku sehingga Rista mengira bahwa akulah yang menembak dia"
" Lalu kenapa kamu pertahankan?"
"Aku sebenarnya tidak ada niatan untuk mempertahankan hubungan ini tapi aku tidak pernah menemukan waktu yang pas untuk mengatakan semuanya kepada Rista"
Aku hanya diam dan pergi meninggalkan dia seorang diri. Tak lama setelah kejadian itu aku mendengar kabar bahwa Rifda dan Rista telah putus. Rifda datang dan meminta maaf padaku. Dia berharap aku memberinya kesempatan lagi. Dengan bodohnya aku beri dia kesempatan lagi.
Waktu berlalu begitu cepat. Sekarang aku sudah kelas 9. Aku tak lagi di kelas A namun sekarang aku di kelas 9B. Tapi tetap saja tidak berubah sama sekali. 25 siswa dalam kelas 9B tetaplah sama dengan sewaktu kelas 8A dulu. Di saat kelas lain benar benar di rombak. Hanya kelas kami yangbmasih bertahan dengan aku yang menjadi bendahara kelas selama 3 tahun.
Bagaimana dengan hubunganku dan Rifda?
Ya kami masih dekat. Namun tidak sedekat dulu, karena aku takut jika suatu saat dia akan menyakitiku lagi. Kami juga lama telah Lost contact. Tapi hubungan kami di sekolah tetaplah seperti biasa.
Satu semester sudah aku kelas 9. Banyak hal baru menjadi rutinitasku. Namun hubunganku dengan Rifda kini telah renggang. Setelah aku mendengar bahwa Rifda dekat dengan Laila teman sekelasnya. Hal ini tidak menyurutkan niatku untuk memberikan coklat kepada Rifda, karena dulu aku pernah berjanji padanya. Pada saat ulang tahunku, Aku akan memberikan coklat padanya. Hari ini tepat hari ulang tahunku yang ke 15 tepatnya tanggal 12 Desember 2018. Dan jangan tanyakan lagi. Itu adalah interaksi antara aku dan Rifda terakhir sebelum aku menjauhinya.
Sekarang sudah bulan Februari. Aku kini mulai fokus berlatih mengerjakan soal soal UN. Hari ini sekolah meniadakan jam tambahan dikarenakan ada acara. Akhirnya semua berhamburan keluar kelas dan pulang. Aku berjalan seorang diri. Aku menangkap 2 sosok yang tak asing bagiku. Siapa lagi jika bukan Rifda dengan seorang cewek fhasionable yaitu Adel. Jujur aku merasa kesal dan sakit hati melihat mereka. Sambil berjalan Rifda merangkul Adel dan mereka bercanda eia tanpa peduli dengan irang yang ada di sekitar mereka.
Hatiku seakan hancur lebur. Bukan lagi berbentuk pecahan namun sudah menjadi serpihan. Hati yang baru saja aku obati kini telah lebur. Bagaimana tidak? Baru beberapa minggu lalu Rifda berkata bahwa dia menyesal telah berhianat dariku dan meminta kesempatan lagi padaku. Dia berkata bahwa ternyata Laila tidaklah sebaik diriku. Dia memohon terus menerus padaku sampai aku tak tega. Aku berpikir bahwa dia telah mendapat kan balansannya. Namun ternyata salah. Sekali lagi aku terjebak dalam buaian bualan manis dari nya. Namun sekali lagi hatiku menjadi korban. Korban kebutaanku. Aku sudah tak sanggup lagi. Ku sudahi semuanya. Kucuba lagi menata hati yang telah hancur. Memulai lembaran baru. Biarkan pena kehidupan yang menorehkan tinta pada lembar kehidupanku. Percayalah, bahwa dibutakan oleh cinta mampu membuat kita kehilangan akal. Jangan sampai di perbudak oleh rasa karena dapat meninggalkan bekas luka.
Semoga dengan membaca ini kalian jadi sadar. Terimakasih.
Ini adalah sepenggal kisah dari author. Buat para readers silahkan tap love atau pun tinggalkan komen. Terimakasih