"Selamat datang... Zero!" Ucap Frank. Dia mengelus lembut rambut anak laki-laki kecil dihadapannya.
"Ayo, katakanlah sesuatu." Kata Frank dengan tegang, tidak sabar. Anak laki-laki itu mencoba menggerakkan bibirnya.
"Ha-halo profesor..." Sapanya.
Frank terkejut kagum, lalu berteriak girang. Sangat senang. Zero, anak kecil itu adalah humanoid buatan Frank selama sepuluh tahun terakhir ini.
-->000<--
Seminggu kemudian.
Zero semakin tahu banyak hal. Frak pun juga semakin senang dengan humanoid buatannya itu berkembang.
Hari ini Frank berniat membawa Zero pulang kerumahnya. Mereka sudah bersiap-siap pergi di depan laboratorium Frank.
"Profesor, kita akan kemana?" Tanya Zero dengan polos.
"Hari ini kau tinggal bersama ku. Kau akan punya teman disana." Jawab Frank.
"Teman? Apakah dia baik?" Tanya Zero lagi, begitu semangat.
"Tentu saja, kau bisa berkenalan dengannya nanti. Ayo masuk, kita akan berangkat." Ujar Frank. Zero mengangguk, lalu segera naik ke mobil.
Mereka sampai saat siang hari.
Zero turun dari mobil, tidak sabar melihat banyak hal baru dan juga teman barunya disana.
"Papa!!!" Teriak gadis kecil sambil berlari menghampiri Frank. Gadis itu memeluk kaki jenjang papanya.
Frank melepaskan pelukan putri kecilnya itu. Lalu berjongkok, dan mengelus kepala putrinya.
"Eh, papa itu siapa?" Tanya putrinya begitu melihat Zero dibelakangnya.
Mereka saling menatap bingung satu sama lain.
Frank tertawa kecil, gemas dengan ekspresi dua bocah polos itu.
"Laura, perkenalkan ini Zero. Dia akan jadi kakak kamu." Kata Frank memperkenalkan Zero pada putrinya yang bernama Laura.
"Halo, aku Laura." Laura memperkenalkan dirinya, sambil mengulurkan tangan.
"Aku Zero." Balas Zero juga sambil menjabat tangan Laura.
-->000<--
Sekitar hampir 3 tahun berlalu.
Zero dan Laura semakin tidak bisa dipisahkan. Mereka sudah seperti saudara.
Selalu saja bersama-sama kemanapun. Dimana ada Zero disitu ada Laura, dan begitu pun sebaliknya.
"Zero? Bangun dong. Ayo main." Kata Laura sambil mencolek-colek pipi Zero. Zero membuka matanya. Terbangun.
"Emangnya mau main apa?" Tanya Zero yang masih mengantuk.
"Main apa ya? Petak umpet aja yuk." Jawab Laura.
Mereka melakukan suit sebelum mulai. Batu... Kertas... Gunting!
"Yey! Kamu jaga." Kata Zero dengan semangat.
"Ugh, aku pasti bakal nemuin kamu." Ujar Laura sedikit kesal.
Laura berdiri menghadap tembok. Mulai menghitung mundur dari angka 10. Zero melihat sekeliling, mencari tempat bagus untuk bersembunyi.
Zero mulai melangkah, berjalan pelan. Menuju ke arah meja makan.
'Bruk!' Zero tiba-tiba jatuh.
Laura berbalik. Ia terkejut. Melihat Zero tidak sadarkan diri, dengan tubuh yang menjadi dingin.
"Zero?! Zero bangun! Papa!!! Zero nggak bangun!!!" Jerit Laura sambil menangis.
-->000<--
Satu jam kemudian.
Zero terbaring lemah di tempat tidur. Sedang menjalani transfusi darah. Kulitnya pucat seperti mayat. Detak jantungnya juga lemah. Membuat Frank dan Laura sedih.
"Kenapa bisa begini?" Tanya Frank dalam pikirannya.
Sedangkan di balik pintu kamar. Laura berdiri termenung, menatap lantai.
"Zero sakit apa? Kenapa papa nggak kasih tau?" Gumamnya.
"Uhuk-uhuk!" Seseorang batuk. Sepertinya Zero sudah sadar. Tapi Laura masih tidak boleh masuk. Dia hanya dapat menguping dari balik pintu.
-->000<--
8 tahun kemudian.
Tidak terasa Zero dan Laura sudah remaja. Mereka menempuh pendidikan sekolah menengah bersama-sama.
"Papa! Kami berangkat ya!" Kata Laura sambil menggandeng tangan Zero.
Mereka berjalan bersama, berangkat kesekolah.
"Aku males banget belajar matematika." Keluh Laura dengan wajah lesu.
"Yaudah aku lulus sendirian aja." Kata Zero iseng.
"Heh?! Nggak mau!!!" Balas Laura.
Disisi lain.
Dua orang pria berpakaian serba hitam mengikuti Zero dan Laura tanpa diketahui. Salah satu diantaranya selalu memegang ponsel. Seperti memberi tau seseorang apa saja hal-hal yang mereka lihat.
"Tuan, dia masih selalu bersama seorang gadis. Sulit sekali untuk menangkapnya saat sendirian." Kata salah satu diantara mereka yang memegang ponsel.
"Tangkap saja dia sekalian." Kata seorang pria dalam telepon.
"Mmm!!!" Laura memberontak. Seorang laki-laki mencengkeram kedua tangannya dan menutup mulutnya.
Sedangkan Zero pingsan karena dibius. Laura terbelalak, kemudian perlahan pandangannya kabur. Dan akhirnya juga pingsan karena telah dibius.
-->000<--
Frank, dia sekarang sudah semakin menua. Dia lebih sering dirumah, dan tidak membuat eksperimen lagi.
Ponselnya berdering. Ada panggilan telepon masuk.
Frank mengangkatnya.
"Halo profesor Frank. Sudah lama ya tidak bertemu." Sapa seorang pria dalam panggillan telepon tersebut
Frank tertegun. Cangkir kopi yang dia pegang jatuh. Pecah, berserakan di lantai.
"A-arnold?" Katanya tidak percaya.
"Yah, ini aku. Ngomong-ngomong, percobaan humanoid mu itu berhasil hidup ya?" Tanya pria bernama Arnold itu.
"Apa yang kau inginkan dari ku?!" Tanya Frank balik, dengan amarah.
"Jual karya mu itu padaku. Dan gadis ini akan selamat." Jawab Arnold sambil menyeringai. Memainkan sedikit rambut Laura disampingnya.
"Laura?! B-baiklah!" Kata Frank panik dengan keadaan putrinya yang ada dalam genggaman Arnold.
Segera dia lari ke mobil, dan pergi ke tempat Arnold berada.
"Hah, Frank. Seharusnya kita bisa bekerjasama dengan baik dulu." Kata Arnold, sambil memandang Zero dari rekaman CCTV.
-->000<--
Zero tersadar. Pandangan kabur. Samar-samar melihat dua orang penjaga terus mengawasi dirinya di dekat pintu keluar.
Zero memandangi kulit tangannya. Pucat. Terulang ketiga kalinya setelah delapan tahun yang lalu.
"Aku butuh darah..." Gumamnya. Zero hidup dari darah manusia lain. Terkadang kelakuannya seperti vampir, makhluk kuno penghisap darah.
"Aku akan mati..." Gumam Zero lagi. Ia merasakan jantungnya semakin pelan berdetak.
"Aku tidak ingin mati..." Gumam Zero sekali lagi. Ia menatap dua penjaga di depannya. Menelan ludah.
"Apa aku bisa dapat darah dari mereka?" Tanya Zero dalam pikirannya. Semakin lemas, dirinya tak sanggup berdiri.
Salah seorang penjaga melihat. Dia menghampiri Zero.
"Kau kenapa?" Tanyanya. Zero menatap penjaga itu. Hap! Dia menarik tangan penjaga itu dengan kuat.
Kehilangan akal sehat, dia dia menggigit pergelangan tangan si penjaga hingga berdarah. Menghisap darah seperti vampir. Penjaga itu tidak bisa melepaskan dirinya. Zero terlalu kuat.
Temannya panik. Segera dia berlari dan menghubungi Arnold.
"Tuan! Humanoidnya menggigit Dave!!!" Katanya begitu panik.
"Apa?!" Laura terkejut. Sedangkan Arnold terlihat marah.
-->000<--
Frank akhirnya datang. Di ruangan Arnold, dia melihat putrinya disandera.
"Papa!!! Tolong Zero!!!" Pekik Laura begitu melihat papanya ada di ambang pintu.
Disisi lain.
Arnold menatap tajam Zero yang sekarang sudah di ikat. Entah bagaimana keadaan penjaga tadi. Dia kehilangan banyak darah karena Zero.
"Aku tadi berbaik hati padamu. Tapi, kau malah mengamuk?" Kata Arnold.
"Aku tahu kau hanya humanoid. Tapi kau rusak. Frank juga menganggap mu begitu. Dia hanya ingin kau menjadi bonekanya Laura yang hidup." Ujar Arnold. Mata Zero membelalak. Terpengaruh oleh ujaran Arnold.
"Arnold!!! Apa yang kau lakukan pada Zero?!" Teriak Frank. Dia berhasil masuk ke ruang khusus ini setelah melewati penjaga.
Arnol menyeringai. Lalu berbalik, menatap Frank.
"Jadi, apa kau menjual barang rusak ini padaku?" Tanya Arnold.
"A-apa?!" Frank menatap Zero. Tapi, Zero tidak membalasnya. Benci.
Frank mengacungkan pistol ke Arnold. DOR!!! Arnold terjatuh, tidak bernyawa lagi.
"Zero? Kamu tidak apa-apa?" Tanya Frank sambil melepaskan ikatan di tangan Zero. Zero menangis. Sedangkan tubuhnya yang lemas itu masih kekurangan darah.
"Zero, kita pulang. Aku akan mengobati mu." Kata Frank. Zero memalingkan pandangannya dari Frank.
"Apa tujuan mu menciptakan ku?" Tanya Zero. Frank tersentak.
"Menjadikan aku boneka hidup, yang bisa kau di perjual belikan?" Tanya Zero lagi.
"Itu tujuan ku dulu. Tapi, aku terlanjur sayang padamu. Aku ingin kau bisa bahagia bersama putri ku." Jawab Frank seadanya.
Hati Zero tersentuh. Dia ingat Frank sangat menyayanginya.
-->000<--
Zero duduk di ranjang. Baru saja selesai menjalani transfusi darah. Laura memperhatikan kulit Zero disampingnya. Masih pucat.
"Zero. Kamu kayak vampir." Katanya. Zero menoleh.
"Kamu kayak Cinderella, tapi beda." Balas Zero.
"Bedanya apa?" Tanya Laura.
"Jika Cinderella punya kakak tiri yang kejam. Kamu punya kakak tiri yang mencintai mu." Jawab Zero.
"Iih! Gombal!!" Balas Laura, dengan pipinya yang memerah.
"Dia belajar dari mana?" Gumam Frank, sambil membersihkan beberapa alat bedah.
-->0- THE END -0<--