Iya Yah kenapa?"
"Abang Bu,"kalimat yang di ucapakan Yuda menyiratkan sesuatu.
"Kenapa dengan Abang Yah?"pertanyaan Tari seolah ingin mendapat jawaban segera dari Yuda.
Namun Yuda tidak langsung menjawab,ada helaan napas berat sebelum Yuda menjawab pertanyaan Tari.
"Ayah mergokin Abang merokok di rumah Bu,Ayah tadi pulang kerja lebih cepat,Abang merokok bareng teman-temannya.Seisi rumah penuh sesak dengan asap rokok."
Tari hanya mampu beristighfar dalam hati berurang -ulang,seluruh tubuhnya serasa lemas,bagaimana tidak lemas,seminggu ini dengan yang di sampaikan Yuda berati sudah tiga informasi yang didapat Tari mengenai ulah anak sulungnya Amar.
"Apa yang Ayah lakukan ke Abang pas tau Abang merokok di rumah?"Tari menanyakan sikap Yuda.
"Ayah hanya mendiamkannya Bu,"Tari bersyukur Yuda bisa menahan emosinya dan tidak berbuat sesuatu yang bisa membuat menyesal dikemudian hari.
Tari menutup pembicaraan dengan Yuda di telepon tadi dengan penuh sesak.Tari memutuskan besok untuk pulang ke rumah,untuk membereskan masalah yang di buat Amar.
Seusai sholat isya,Tari,Yuda dan Amar mereka langsung makan malam,setelah makan malam selesai,seperti biasa Yuda akan bersantai di ruang keluarga sementara Amar langsung masuk ke kamarnya, dan Naimar karena sudah jadwalnya tidur Tari pun menemaninya hingga Naimar telelap .Ya hari ini Tari memutuskan pulang,Tari tidak langsung mencerca Amar,Tari ingin membicarakan dan menyelesaikan ulah Amar dengan tenang,tidak dengan emosi,dan Tari pun ingin memberitahukan pada Yuda tentang informasi yang Tari dapat dari adiknya mengenai Amar,yang sepertinya Yuda belum tau tentang ulah Amar yang lain.
Tari memanggil Amar untuk ke ruang keluarga,di sana Yuda sudah duduk dengan tenang.Amar duduk di kursi yang posisinya di samping kanan kursi yang di duduki Yuda,sementara Tari duduk di sebelah Yuda.
"Abang tau kenapa ibu manggil Abang?pertanyaan Tari hanya di jawab gelengan kepala oleh Amar.
"Bang,Ayah kemarin nelpon Ibu,ayah bilang Abang merokok di rumah,sejak kapan Abang mulai merokok?"Amar tidak menjawab,Amar hanya menunduk dengan jari tangan saling terjalin.
Pandangan Tari beralih ke Yuda.Tari ingin mengatakan semuanya pada Yuda tentang ulah Amar.
"Yah ,maafkan ibu,sebenarnya ada hal yang belum ibu sampaikan sama Ayah mengenai Abang,sebelum Ayah nelpon Ibu ,bilang kalau Ayah mergokin Abang merokok di rumah.Ima nelpon Ibu juga beberapa hari sebelum nya,Ima bilang Abang ngambil uang dan rokok di warung nya Bi Mimin,Abang juga katanya ngambil uang di bengkelnya Mas Wawan,saat benerin rante motor.Mas Wawan bilang ke Ima,soalnya nggak ada lagi yang benerin motor hari itu kecuali Abang.Jadi Mas Wawan berkesimpulan yang ngambil uang ya Abang."Yuda diam beberapa saat setelah mendengar cerita dari Tari mengenai Amar,Yuda menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan matanya seolah merasakan lelah yang teramat,lelah pikiran tentunya.Sementara Amar makin menunduk tidak berani sedikitpun untuk menatap kedua orang tuanya.
Pandangan Tari kembali ke Amar.
"Dan Abang juga ngambil uang Ibu,ngambil uang Nenek(ibunya Tari) juga,ya kan Bang?"Tari kembali bertanya seolah mengkonfirmasi semuanya terhadap Amar.Amar makin menunduk tidak ada jawaban sepatah kata pun dari mulut Amar.
"Yang dibilang ibu itu benar Bang?"Yuda bertanya dengan nada rendah namun penuh dengan penekanan di tiap katanya.Lagi-lagi Amar tidak menjawab hanya menunduk.
"Jawab Bang!"Amar masih tetap menunduk juga tidak menjawab,hanya jari tangannya saja yang saling meremas.
"JAWAB AMAR!"suara Yuda menggelegar,Amar nampak terkejut.
"I-iya"jawaban Amar terdengar lirih hampir tidak terdengar sambil menganggukan kepalanya lemah
Yuda berdiri dari duduknya.
PLAKK
PLAKK
Tamparan keras mendarat di pipi kanan dan kiri Amar.
"Astagfirullah Bang ... Mencuri Bang,mencuri!"Yuda hanya beristighfar dan menjeda kata mencuri di setiap suku katanya.Sementara Tari hanya bisa terdiam dengan yang dilakukan Yuda terhadap Amar.Tari tau sebenarnya Yuda sudah menahan mati-matian untuk tidak melakukan kekerasan fisik terhadap Amar.Namun sepertinya Yuda sudah tidak mampu menahan lagi begitu mendengar bahwa Amar mencuri uang.Hanya air mata lah yang mampu menggambarkan bagaimana perasaan Tari saat ini,saat semua masalah menghantam keluarganya.Semantara Amar hanya menunduk,dan Itu makin membuat hati Tari perih,tapi ini adalah konsekuensi dari apa yang di lakukan Amar.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Bang,boleh Ibu masuk?"Tari mengetuk pintu kamar Amar dan meminta ijin untuk masuk,tidak ada jawaban dari Amar.Tari memegang knop pintu kamar Amar mencoba membuka,pintu terbuka.Rupanya Amar tidak mengunci pintunya.Di lihatnya Amar sedang duduk di pinggiran kasur.Tari mendudukkan dirinya di samping Amar.
"Bang boleh Ibu bicara?"Amar hanya menunduk tidak menjawab.
"Kalou boleh tau kenapa Abang ambil uang orang?Abang pasti tau kan mengambil hak orang lain itu dosa,hmmm?"
Lagi-lagi Amar tidak menjawab hanya menunduk.
"Apa uang jajan dari Ayah kurang Bang?"Tari kembali bertanya,Amar kembali tidak menjawab.
"Kalau Ibu bertanya jawab dong Bang!"Amar menoleh ke arah Tari sekejap lalu kembali menunduk.
"Apa Abang sedang ingin sesuatu,misal barang apa gitu?"Amar menggeleng.
"Terus kenapa Abang ambil uang orang,abang beliin rokok uangnya?"Amar diam.
Tari menyadari betapa sulitnya berkomunikasi dengan anak yang saat ini sedang masa pubertas,masa-masa peralihan.Tapi Tari menyadari Amar melakukan ini pasti ada pemicunya,dan Tari harus menemukan apa pemicu yang membuat Amar berubah dan berulah seperti itu.
Tari terdiam sejenak,Amar pun masih menunduk.Tari turus mengingat hal-hal apa sekiranya pemicunya,hingga akhirnya Tari seperti mengingat sesuatu, ya "Rival Sibling",ini adalah istilah bagi saudara kandung,adik atau kakak yang merasa orang tuanya lebih mementingkan kakak atau adiknya.Apakah ini juga yang terjadi di Amar?Amar merasa bahwa Ayah Ibunya jauh lebih memerhatikan Naimar.Amar berulah supaya mendapat perhatian dari Tari dan Yuda,begitukah?.
Ya,Naimar adalah anak bungsu Tari dan Yuda.Naimar adalah penyandang Autis,anak berkebutuhan khusus.
Tujuh bulan yang lalu Tari memutuskan menerima tawaran dr Radi dan istrinya Ibu Lina.Mereka adalah pasangan suami-istri,pakar dalam ilmu terapi khusus untuk anak autis.Tari mengenal mereka dalam grup di media sosial yang khusus menangani anak Autis,singkat cerita Tari bertemu dengan mereka pada saat Tari mengikuti seminar mengenai penanganan anak autis.Nah kebetulan juga pasangan suami-istri ini juga sedang membuka tempat terapi di Bandung,dan entah seolah tau apa yang dihadapi Tari tentang beratnya biaya terapi untuk anak autis yang biaya perbulannya sama dengan harga dua motor baru.Ibu Lina menawarkan Tari untuk menjadi claning service di tempat terapi yang di Bandung,dan Naimar bisa di terapi di sana tanpa harus membayar sepeserpun, dengan syarat Tari juga Naimar harus tinggal di tempat terapi.Di sana sudah disediakan kamar untuk Tari juga Naimar.Tentu saja ini adalah rejeki yang tak terduga bagi Tari,yang tanpa babibu lagi langsung mengiyakan tawaran tersebut,Tari bisa pulang dua minggu sekali untuk bertemu Yuda juga Amar.
Tari hanya meminta ijin dari Yuda,dan tentu saja Yuda mengijinkan,Tari lupa bertanya pada Amar atau mungkin lebih tepatnya Tari tidak menanyakan pendapatnya Amar.
Namun Tari ingat sebelum berangkat ke tempat terapi Amar pernah bertanya "jadi Ibu ngak pulang -pulang?dan sampai kapan Ibu di sana?"yang dijawab Tari dengan mengatakan iya dan tidak tau sampai kapannya,Tari hanya mengatakan jika Naimar sudah sembuh.Saat mendengar jawaban Tari ada raut sedih terlihat di wajah Amar.
Setelah mengingat itu seolah Tari tersadar.
"Jadi Abang lebih suka Ibu di sini atau di sana?"pertanyaan itu meluncur begitu saja dari Tari.
"Abang ingin Ibu di sini"dijawabnya dengan suara lirih hampir tidak terdengar.
Huff ... Tari menarik napas panjang,seolah Tari memasok oksigen sebanyak-banyaknya supaya dadanya tidak makin sesak.
Di rumah jadi sepi Bu,terus kalau Abang pulang sekolah suka lapar,biasanya kan Ibu sudah masak,jadi Abang tinggal makan,"sepertinya Abang sedang mengeluarkan unek-uneknya.
Di pegangnya kedua tangan Amar.
"Bang,maafkan Ibu ya,Ibu egois.Seharusnya Ibu minta pendapat Abang.Maaf karena Ibu terlalu bahagia saat Ibu punya kesempatan untuk memberikan terapi buat Adek,dan itu tanpa biaya sama sekali membuat Ibu mengambil keputusan mengiyakan,Abang tau sendiri kan bagaimana keadaan keuangan Kita,Ibu rela jadi cleaning service asal Adek bisa sembuh. Maafkan Ibu,Nak!"sambil terisak Tari meminta maaf pada Amar,ternyata sekarang sulungnya sudah besar sudah mampu mengemukakan protesnya,sayang nya protesnya negatif.
Amar yang melihat Tari menangis membuat Ia melepaskan genggaman erat Tari,menubrukan tubuhnya ketubuh Tari dan memeluk Tari erat.
"Maafkan Abang juga Bu,Abang udah buat Ibu dan ayah Malu"Amar pun akhirnya jebol juga pertahananan menagis tersedu-sedu dipelukan Tari.Mereka berpelukan dan menangis cukup lama.
"Ssttt.Sudah ya Bang, yang penting Abang mau berubah kan?Abang gak akan ngambil uang lagi kan?"Tari melepaskan pelukannya dan memastikan Amar tidak akan ngambil hak orang lain lagi.Amar mengangguk.
"Abang janji?"
"Iya Abang janji Bu"Amar menjawab dengan sungguh-sungguh.
"Ya sudah,besok Abang mau kan kita temuin Bi Mimin,Mas Wawan,Nenek,kita minta maaf ya,dan nanti Ibu ganti uang nya yang Abang ambil"
Amar mengangguk,sejurus kemudian Amar bertanya pada Tari"Bukannya besok Ibu kembali ke tempat terapi Adek?"Tari menggeleng"Adek gak akan terapi lagi,sudah jangan di pikirin ya,insyaa Allah nanti ada jalan lagi buat kesembuhan Adek."
Akhirnya Tari memutuskan untuk tidak melanjutkan terapinya Naimar,sungguh keputusan yang sangat sulit bagi Tari,di saat perkembangan Naimar setelah di terapi sangat pesat,Tari dihadapkan dengan situasi Amar.
Ini mungkin bukan keputusan yang baik bagi Naimar,tapi Tari yakin ini keputusan yang terbaik bagi keluarganya terutama Amar.
Dedikasi untuk para orang tua❤️❤️