"Aku Takan melupakan mu, karena Kau pernah menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidupku." teriakku di pinggir jalan.
Jalan itu terletak di lereng gunung, kanan kiri jalan terlihat jelas sebuah jurang yang mempunyai kedalaman 50 meter. Saat itu hujan deras menemaniku dan Saat itu adalah pukul 17.00. Hari itu tanggal 18 November 2020.
1 Tahun sebelum kejadian itu.
Namaku adalah Candra, Aku adalah seorang dokter. Aku di pindahkan tugaskan ke Puskesmas di sebuah desa, desa kecil yang masih jauh dari kata moderen. Suasana di sana sangat asri dan sejuk, desa itu juga jauh dari polusi. Letak desa itu juga jauh dari kota. Karena hal itu banyak sekali pasien yang meninggal saat keadaannya kritis.
Awalnya aku tak merasa nyaman tinggal di desa ini. Karena di sini fungsi hand phone tak bisa optimal karena terhalang oleh signyal yang jelek. Lalu desa ini juga tidak ada tempat hiburan. Hiburan warga adalah menikmati secangkir kopi dan mengobrol. Saat aku mengikuti kebiasaan mereka, Aku tak begitu nyambung dengan bahasan yang mereka bicarakan. Minggu pertama di desa itu adalah satu Minggu terlama yang pernah aku rasakan selama hidup ku.
Suatu malam aku mendapat tugas jaga. Saat pukul 20.00 ada seorang yang datang dengan keadaan terluka parah. Dia tertimpa pohon yang sudah rapuh. Setelah satu jam berjuang, akhirnya pertolongan pertama sukses aku lakukan. Saat pendarahnya sudah berhenti, dan semua lukanya sudah ku perban. Aku menuju ke toilet untuk membersihkan tubuh ku yang kotor. Kemudian aku kembali ke ruangan ku, karena bosan aku ketiduran, pukul 12.00 ada seorang perawat yang membangunkanku.
'Pak ada pasien yang sedang kritis.'
Aku bergegas menuju ke ruangan pasien tersebut. Namun kala aku masuk ruangan pasien aku sangat kaget. Aku melihat pasien kejang-kejang, Namun semua keluarganya justru tertidur pulas dan tak ada perawat yang menolongnya. Aku segera menolongnya, akan tetapi Usahaku percuma, pasien itu harus menemui ajalnya. Kala itu aku merasa kesal dengan perawat tadi, Kenapa dia tidak memberi perawatan pada pasien tersebut. Ketika aku masuk aku hanya melihat seseorang yang berjuang agar nyawanya tak hilang tanpa ada seorang yang membantunya. Esok harinya saat perjalanan pulang ke kontrakan. Aku bertemu dengan perawat yang membangunkanku malam tadi. Aku menghampirinya dan memarahinya. Dia hanya tertunduk dan diam kala itu. Aku tak tega untuk melanjutkan amukan ku. karena dia hanya diam. Aku justru mengantarnya pulang. Namun dia menolak untuk di antar Sampai ke rumahnya. Kejadian itu menjadi awal dari semua kisah indahku.
Sore harinya perawat itu mengunjungiku dan dia memngajak aku untuk berjalan-jalan berkeliling kampung. Itu sebagai tanda permintaan maafnya. Aku tak menyangka akan melihat sebuah panorama alam yang sejuk dan indah. Aku juga melihat Sebuah sungai indah yang memiliki air jernih.
Semakin hari aku semakin dekat dengan dia. Namanya adalah Arum, Gadis cantik yang selelu menemani ku. Setiap pagi Arum menyiapkan sarapan pagi untuk ku. Dia bahkan sering menemani ku kala malam hari. Arum tahu ketika malam hari saat aku tidak mendapat tugas jaga, Aku selelu merasa kepaepian. Maka dari itu dia datang dan menemaniku.
Suatu malam aku pergi ke sebuah warung makan. Malam itu Arum tak datang ke rumah, Dia mendapat tugas jaga. Saat di warung aku mendengar cerita yang membuatku cukup khawatir. Ada seorang gadis desa yang di arak karena kepergok sedang berduaan dengan salah satu pemuda. Aku takut kalau warga juga melakukan hal itu pada Arum. Paginya Arum datang ke kontrakan sembari membawakanku sarapan. Aku menceritakan kejadian semalam, Namun Arum hanya tersenyum dan bilang.
'Aku yakin orang baik akan di perlakukan dengan baik juga.'
Aku pun semakin simpatik dengan sosok Arum. Wanita lembut dan baik terlihat jelas pada dirinya. Setelah sarapan aku menuju ke puskemas untuk bekerja. Senyum dan sapaan halus aku dapatakan kala itu. Aku memang terkenal dengan sebutan dokter baik. Kemampuan terbaik selalu aku berikan pada semua pasienku. Entah Arum atau pelakuan warga pada ku yang membuat aku mulai terbiasa dan betah tinggal di desa ini. Aku mulai melupakan semua kebiasaan lama ku. Kini kebiasaan baru ku di desa ini mengalir deras di setiap pikiran dan batinku.
Malamnya aku tak bisa pulang, aku menggantikan dokter Arya untuk berjaga. Dokter Arya adalah satu-satunya dokter yang ada di puskesmas selain aku. Jadi mau tak mau aku harus menggantikan semua tugasnya kala beliau tak ada. Malam itu aku juga di temani oleh Arum, Kebetulan dia juga dapat tugas jaga. Pada pukul 20.00 ada seorang ibu hamil yang datang. Saat itu hujan sangat deras, Keadaannya sangat kritis. Aku berusaha keras untuk menyelamatkan ibu dan anak yang ada di kandungannya. Namun Ibu itu harus segera di oprasi, Alat dan obat di puskesmas desa itu tak memadai untuk melakukan oprasi. Akhirnya aku memutuskan untuk merujuknya ke kota. Setelah semua persiapan rujukan siap, Arum menghampiriku.
"Kau tetaplah di sini. Karena kau satu-satunya dokter yang ada di desa ini." ujar Arum
"Maaf rum, Aku harus mengawalnya Samapi ke kota."
Aku pun brangkat menuju kota dan tak menghiraukan perkataan Arum. Itu menjadi perjalanan yang menegangkan bagiku. Selain aku mengejar keselamatan dua nyawa, Aku juga harus melintasi Medan yang sulit dengan hujan deras disertai angin yang kencang.
Perjuangan ku tak sia-sia, Aku berhasil menyelamatkan keduanhya. Setelah itu aku kembali ke desa. Saat aku sampai di desa, Aku melihat puskesmas di penuhi banyak orang. Ternyata semalam ada sebuah bencana tanah longsor yang menimpa beberapa rumah warga. Kejadia itu memakan banyak korban luka-luka dan banyak juga yang meninggal. Bukan hanya itu, aku juga mendapat kabar bahwa beberapa obat dan infus telah hilang. Aku sanagat kecewa saat itu, seandainya aku mendengarkan perkataan Arum. Mungkin korbannya tak sebanyak sekarang.
Sorenya saat aku pulang ke kontrakan. Sebuah makanan dan teh hangat menayapa kedpulannganku. Semua itu adalah perbuatan Arum.
"Trimaksih rum." ujar ku.
"Sama-sama."
Arum menceritakan kejadian semalam. Dia dan para perwat yang ada di puskesmas hanya bisa pasrah dan berusaha sebisanya. Aku meminta maaf padanya karena tak menghiraukan perkataannya. Kemudian Arum mengeluarkan kalimat yang membuatku terenyuh dan merasa menjadi orang bodoh sedunia.
'Walau kita mencoba untuk tetap sehat agar kita tak sakit. Tapi kematian itu tak bisa di cegah.'
'Maka dari itu sholatlah dan beribadah lah agar kamu siap menerima ajal. Sebelum menyesal.'
Aku memang orang Islam. Namun aku adalah seorang muslim yang jarang sekali menunaikan kewajibanku sebagai hamba Allah. Sejak saat itu aku mulai menjalankan Sholat lima waktu, dan sejak kejadian itu aku semakin menaruh hati dengan Arum.
Dua bulan kemudian.
Dokter Arya resmi mengundurkan diri. Dia tak di izinkan oleh istrinya untuk menetap di desa itu. Akhirnya semua tanggung jawab di berikan kepadaku. Saat itu aku selalu mondar mandir ke kota untuk meminta agar puskesmas desa ini lebih diperhatikan. Aku ingin melihat alat dan perlengkapan yang layak di puskemas desa ini. Walau tak semua permintaanku di terima oleh pemerintah kabupaten, Namun beberapa ada yang di trima.
Suatu malam Arum datang ke kontrakan, Dia menangis kala itu. Dia merasa bersalah karena tak dapat menolong tetangganya. Aku memeluknya dan menenangkan dirinya. Lalu aku juga menyatakan perasaan ku padanya.
"Kalau kau hanya ingin mencari teman saat di desa ini, aku akan menerima perasaanmu." ujar Arum.
"Aku ingin kau menjadi ibu dari anak ku rum."
Arum menolakku ketika mendengar alasanku mencintainya. Dia akan menerima cintaku jika kita menjalin percintaan yang tak serius. Kala iti aku menerimanya, aku berencana untuk menumbuhkan kepercayaannya pada ku sembari menjalani pacaran. Malam itu kita jadian. Lalu Arum mengingatkanku untuk sholat, kemudian dia memyuruhku untuk melihat keadaan puskesmas. Aku pun menuruti printah kekasih baruku. Setelah sholat aku menuju ke puskesmas. Arum lebih dulu menuju ke sana, pada saat tiba aku di sambut dengan pasien kritis. Seorang wanita tua yang datang dengan keadaan koma. Aku sudah berusaha semampuku, namun takdir berkata bahwa nenek itu harus pulang ke sisi Allah.
Pagi harinya aku di bangunkan oleh Arum, Aku kaget saat itu karena langit masih sangat gelap. Dia menyuruhku untuk Sholat subuh. Aku pun mengajaknya untuk berjamaah. Namun dia bilang bahwa dia sudah sholat. Setelah sholat Arum menceritakan bahwa puskesmas lagi-lagi harus kehilanagn beberapa obat dan peralatannya.
Hari demi hari aku lalui dengan indah karena adanya kekasih baik dan cantik. Suatu hari Pemerintah mengadakan pengecekan dan penyuluhan keaehatan untuk warga. Aku menemani dokter dari kabupaten. Setelah semua warga sudah di priksa dan di cek, Kami meneruskan acara itu ke sebuah dusun yang jauh dari desa. Itu adalah desa di mana Arum tinggal. Jalan yang gelap dan terjal kami lalui, Hal itu membuatku semakin mencintai kekasihku. Aku tak membayangkan bagaiman perjuangannya. Ketika kami sampai, Aku terkejut melihat rumah yang ada di sana. Sebuah desa yang sangat primitif dan tak ada listrik yang masuk. Untuk mencapai dusun itu membutuhkan waktu 2 jam perjalanan. Karena jalannya tak bisa di lalui oleh semua jenis kendaraan. Semua warganya adalah seorang lansia, Dan warga yang masih muda hanyalah Arum. Ketika aku memeriksa penduduk sekitar. Aku melihat beberapa alat dan obat yang hilang. Itu sudah jelas adalah perbuatan Arum. Saat aku menuju ke rumah Arum, Seorang kakek tua memegang tanganku. Dia adalah Kepala di dusun itu.
"Walau caranya salah, namun niat dan tujuannya sangat mulia."
Aku akhirnya mengurungkan niat ku untuk menegur Arum. Semua penduduk dusun itu sangat kagum dengan Arum. Kebaikan dan ketulusannya untuk merawat penduduk yang sudah tua membuat cintaku padanya semakin buta. Saat itu pemerintah memberi saran untuk memindahkan semua warga yang ada di situ, jumalah penduduknya Hanya terdiri dari 13 orang termasuk Arum. Itu akan memudahkan pemindahan penduduk. Namun kepala dusun menolaknya. Warisan tanah leluhur menjadi alasannya.
Malamnya Arum menemui ku untuk meminta maaf karena telah mengambil obat dan beberapa perlengkapan. Aku lantas menyuruhnya untuk bilang padaku saat dia butuh obat dan perlengkapan medis. Aku juga mengajaknya menikah agar dia tak lagi melewati jalan yang bagi ku sangat tak layak di lewati. Namun dia menolakku mentah-mentah. Dia juga langsung pergi meninggalkan aku setelah menolak ajakanku.
1 Minggu kemudian.
Seorang wanita lagi-lagi mendapat masalah dalam persalinannya. Mau gak mau dia juga harus di bawa ke kota. Saat itu aku melihat Arum juga ikut merujuk pasien tersebut. Ke esokan harinya aku mendapat kabar yang membuatku hanya bisa menangis dan bersedih. Mobil ambulan yang membawa Arun mengalami kecelakaan dan masuk ke jurang. Aku tak bisa menghentikan air mataku. saat itu tanggal 15 November 2020, tanggal dimana semua kebahagian ku hilang seketika. Kala itu dalamnya jurang membuat tim SARS sulit menemukan ambulan tersebut.
Setalah 4 hari berjuang akhirnya mereka menemukan mobil ambulan dan semua orang yang ada di dalamnya kecuali Arum. Kesedihan ku membuatku nekat untuk mencari Arum. Entah kenapa aku yakin bahwa Arum masih hidup dan dia mencoba untuk mencari bantuan saat kejadian itu. Maka dari itu hanya dia yang tak ada di dalam ambulan.
Pagi hari di tanggal 20 November aku menuju ke lokasi di mana ambulan itu di temukan. Setelah berjalan cukup jauh, Aku di kejutkan oleh kepala dusun tempat tinggal Arum. Dia memperkenalkan dirinya, Namanya adalah pak Sutopo. Dia mengatakan bahwa Arum sudah meninggal, dia berjalan menuju ke dusun sendiri saat kejadian. Karena keadaannya saat itu terluka parah, Arum akhirnya meninggal setelah sampai di dusun. Setelah mendengar kebenaran itu aku memutuskan pulang. Karena Pak Sutopo menolak permintaanku. Permintaan untuk melihat kuburan dari kekasihku.
Sesampainya di kontrakan, Dokter Arya sudah berada di kontrakanku. Aku di tegur beliau karena seharian aku melupakan tugasku. Lalu aku menceritakan tentang perjalananku dan kisah tentang Arum. Dia pun mengucapkan bela sungkawa dan setelah itu dia pergi.
Esoknya aku menuju ke puskemas untuk menandatangani surat untuk pengambilan jenazah korban kercelakaan itu, dan aku juga mendatangani surat bantuan untuk keluarga korban. Saat itu aku meminta petugas untuk membuatkan surat bantuan untuk Arum. Karena surat bantuan untuk Keluarga Arum tak ada.
Namun lagi-lagi aku melihat sebuah kejanggalan. Semua suster dan perwat tak mengetahui Arum ikut dalam rombongan itu. Aku pun sempat berdebat panas dengan pihak puskesmas. Setelah lama berdebat, akhirnya aku harus menerima bahwa keluarga Arum tak mendapat bantuan dari pemerintah. Kejanggalan tersebut tak berhenti di situ. Ketika aku masuk ke ruanganku, dokter Arya ada di ruangan dan dia memberiku sebuah arsip.
"Bacalah, Aku harap kau segera pergi dari desa ini jika kau ingin hidup tenang."
Setelah aku membaca arsip tersebut aku sangat kaget, Aku pun tak menyangka dan masih tak percaya dengan semua kenyataan ini. Dokumen tersebut berisi tentang kematian seorang perawat yang bernama Arum, dan di dalam dokumen tersebut tanggal kematiannya adalah 15 November 1986. Aku pun langsung mencari tahu kebenaran yang membingungkan, aku menuju ke dusun dimana Arum tinggal. Aku sampai di sana saat malam hari, Aku di sambut oleh pak Sutopo. Sebelum aku bertanya tentang kebenaran, dia mengajakku kerumahnya. Setelah samapai aku di masukkan ke sebuah kamar. Di kamar itu ada sebuah kasur yang di tiduri oleh tengkorak dengan baju perawat dengan nama Arum.
'Pulang lah, sebelum aku membunuh mu. dia tak ingin aku menyakiti mu' ujar pak sutopo.
Aku memilih untuk meninggalkan dusun itu, Saat itu aku memaksa menggunakan motor untuk menuju ke dusun itu. ketika pulang motorku terpleset dan jatuh. Namun lagi-lagi aku mengalami kejadian yang ajaib. saat bangun aku sudah ada di kamar kontrakan. Lalu lagi-lagi Doktor Arya mendatangiku. Dia menjalankan semua kronologi yang terjadi. Ternyata desa tempat tinggal Arum adalah desa yang memiliki aliran sesat. Semua warga disana menolak keberadaan orang lain. Semua warga memiliki ritual pemujaan untuk setan. Lalu suatu hari anak dari kepala dusun melanggar aturan dan pergi meninggalkan desa untuk belajar ilmu kesehatan. Karena kepercayaan yang di anut membuat banayak warga yang mati karena sakit. Itu menjadi alsan Arum berani melanggar aturan dusun. Namun sayangnya Arum meninggal karena sebuah kecelakaan. Saat dusun dimana Arum tinggal mengalami bencana tanah longsor, dia menjadi satu-satunya tenaga medis yang merawat semua korban bencana tersebut. Hingga nasip sial menimpanya, dia tertimbun batu saat dia sedang mengobati salah satu warga. Karena kejadian itu kepala desa membuat peraturan agar tak boleh berhubungan suami istri agar tak ada lagi keturunan yang meneruskan pemujaan. Itu untuk menghormati keinginan Arum. Sebenarnya Doktor Arya meninggalkan desa itu karena tak tahan dengan teror dari Arum.
Jujur aku masih tak percaya dengan semua kejadian yang menimpaku. Ketika malam hari yang sunyi. Aku duduk di ruang tengah, tempat faforit Arum. Kemudian sebuah pelukanku trima. Saat itu aku tak mampu menggerakkan tubuhku. Namun aku bisa melihat dan mendengar.
'Aku tahu ayahku salah mengambil jalan. Namun dia berjanji padaku bahwa warga itu menjadi warga terakhir yang menganut aliran setan.'
'Setelah itu aku tak lagi meminta tumbal nyawa.'
Sebuah suara yang ku dengar. Aku yakin itu suara Arum.
Satu bulan kemudian.
Aku memutuskan untuk tetap tinggal di desa itu. Setiap minggu aku melihat keadaan dusun tempat Arum tinggal. Aku mengecek dan mengobati semua warga yang sakit. Setelah pertemuan terakhirku dengan Arum. Aku tahu bahwa keberadaan Arum di dunia ini harus mengorbankan nyawa seseorang saat tanggal 15 November. Dan keberadaan Arum adalah untuk merawat semua warga yang tinggal di dusun. Aku memilih untuk menggantikan tugas arum, namun dengan syarat menguburkan jasad Arum dengan layak. Setelah itu Arum tak lagi mencuri obat dan alat dari puskesamas. Kini kami hanya bisa bertemu melalui mimpi, walau setiap kali aku memimpikan dia, pasti akan ada orang meninggal setelah aku bertemu dengan Arum.
4 Tahun kemudian semua warga dusun itu sudah meninggal dunia. Bapak Arum sekaligus kepala dusun menjadi orang terakhir yang hidup. Saat upacara pemakamannya Aku melihat Arum, dia tersenyum padaku. Setelah itu aku memutuskan untuk kembali ke kota.
Tamat....