Aku tidak pernah berpikir akan hidup seperti sekarang ini. Segala kemewahan justru membuat hidupku terancam. Bagaimana tidak, di saat semua yang dibutuhkan bisa didapat dengan mudah, aku justru jadi incaran banyak orang.
"Ayara!"
Itu suara temanku yang memanggil. Ayara, itulah namaku. Aku mahasiswi di salah satu Universitas kenamaan di Ibukota. Kuliah di tempat ini, dengan mempunyai banyak teman, sedikit menghiburku yang biasa kesepian di tengah kesendirian walau memiliki deretan kemewahan.
"Ya, Hel." Aku menoleh, Rachel temanku berlari kecil menghampiriku.
"Ada surat untukmu." Dia menyodorkan amplop putih itu.
"Hah, memangnya masih jaman surat-suratan, ya?" Jelas aku tergelak.
"Entahlah." Rachel menggedikkan bahu.
Kami berjalan berdampingan menuju kelas, langkah kaki kami jelas terdengar di lorong ini, koridor yang menghubungkan antar ruangan kelas dari satu ke yang lainnya. Hanya kami berdua. Aku sempat berpapasan dengan pria berjaket yang gagah. Eh siapa itu? Batinku. Namun, tak ku hentikan langkah ini, terus memasuki ruangan.
Sore hari sekitar pukul 04.20, saat jam pelajaran telah usai, aku kembali pulang mengendarai mobilku, sendiri. Tepat di persimpangan tiba-tiba mobilku terhenti. Entah karena apa, mungkin mogok. Saking kesalnya aku turun, dan menendang ban dengan kasar. Jalanan di sini cukup ramai, aku mencari bantuan di sekitar. Tidak kutemukan keberadaan bengkel.
"Ah sial!" umpatku.
Di saat bersamaan sebuah mobil hitam mendekat. Aku, tentu saja kaget. Kupikir hanya pengendara yang kebetulan lewat. Namun, aku tersentak saat tubuhku justru ditarik kuat oleh seseorang di dalamnya. Kakiku sampai terbentur.
Pria itu? Itu pria yang tadi di kampus, dia di sini? Untuk apa menculikku? Dia masih memakai jaket yang sama dengan masker menutupi wajahnya.
"Kau terkejut, Nona?"
Suara itu ... aku seperti mengenalnya. Mulutku dibekap dan disumpel kain. Tangan dan kakiku juga diikat kuat. Aku meronta tanpa bisa mengeluarkan suara. Karena aku yang tidak bisa diam, anak buahnya memukul tengkukku hingga aku tidak sadarkan diri.
Entah berapa lama aku terpejam, namun aku begitu kaget ketika kembali membuka mata, yang kulihat, dua pria tengah terlibat baku hantam. Pria yang menculikku babak belur tetapi ia masih bisa bangkit, dua anak buahnya pun sudah tumbang. Laki-laki itu, melempar jasnya, melepas kain panjang bercorak yang melingkar di lehernya, menjatuhkannya ke sembarang tempat, lalu menggulung lengan kemeja, sebelum akhirnya kembali memasang kuda-kuda. Siap melayangkan pukulan.
Dua, tiga pukulan saja sudah membuatnya terkapar. Pria itu mengambil kembali semua benda yang ia lucuti dari tubuh kekarnya. Dada bidang berototnya terekspos karena beberapa kancing kemejanya terbuka dan itu sukses membuat mataku membola sempurna.
"Siapa dia?" gumamku.
Dia mendekat, melepas ikatan di tubuh, lengan dan kakiku, sementara ikatan di mulutku sudah terlepas, mungkin saat aku pingsan tadi. Dia mengajakku segera pergi, namun sebelum itu ia menunjuk dengan sudut matanya mengarah pada dadaku.
"Astaga!" Kancing bajuku sudah terlepas di bagian atas. Tunggu! Siapa yang menculikku? Dia berencana hendak merusakku, begitu, kah?
Dan dari mana pria ini datang, siapa dia yang menolongku? Aku menatap punggungnya sembari mengancingkan kembali kemejaku.
Saat aku hendak berjalan, kakiku terasa sakit, ini pasti karena terbentur saat tubuhku di tarik paksa masuk ke dalam mobil tadi.
"Aw!" rintihku.
Lalu tanpa komando dia, si pria misterius itu menggendongku. Aku melingkarkan tangan di lehernya sembari menatap wajahnya yang tampan. Hidung mancung, alis tegas serta tatapan mata setajam elang. Ah, membuatku meleleh. Jantungku dibuat berdetak tak karuan, seakan-akan minta keluar dari dalam rongga dadaku.
"Kau siapa?" Rasa penasaran dan kebingunganku membuat pertanyaan itu lolos dari bibirku.
Dia hanya terdiam dan terus melangkahkan kakinya. Sesekali melirikku yang masih berada dalam gendongan kedua tangan besarnya. Aku memilih membenamkan wajahku di dada bidangnya. Sudah tidak peduli lagi dengan pertanyaan yang tak dijawabnya, kesempatan ini hanya sesaat. Aku harus memanfaatkannya, bukan. Ini tidak akan kudapatkan dua kali dalam hidupku. Kapan lagi bisa bersandar pada tubuh pria setampan dia. Wangi parfum maskulinnya menyeruak masuk ke dalam lubang hidungku. Padahal perkelahian tadi membuatnya berkeringat. Bagaimana bisa masih seharum ini?
Benar-benar hanya sesaat, ketika sekian menit kemudian tubuhku sudah ia dudukkan di dalam mobilnya.
Eh, tapi, tunggu!
"Ini mobilku, kan?" gumamku masih setengah menyadari hal itu.
"Kau ini siapa?"
Dia masih diam, tangannya sibuk menstater mobil. "Kau ini siapa? Ini mobilku, kan?" Kembali aku bertanya.
Mobil sudah merangkak keluar dari area parkir, di sebuah gedung kosong. Tempat di mana aku diculik dan disekap pria misterius berjaket itu.
Aku menghela nafas berat, dia masih enggan menjawab. Kedua tangannya mencengkram benda melingkar di hadapannya, kuat-kuat. Kakinya dengan lihai menginjak gas dan rem secara teratur, mengikuti alur kendaraan lainnya. Sesekali menyalip demi memperebutkan posisi paling depan. Mobil ini membelah jalanan Kota yang masih cukup ramai di tengah malam. Rasa penat yang melingkupi ragaku, membawaku hingga ke alam mimpi. Aku pun tertidur pulas.
Sepertinya sangat pulas, sehingga saat aku terbangun aku sudah mendapati tubuhku berada di atas tempat tidur di dalam kamarku sendiri. "Apa semalam aku hanya bermimpi?"
gumamanku di tengah kegiatan menggeliatkan badan, merenggangkan otot yang terasa remuk.
"Sepertinya aku memang tidak bermimpi, tapi siapa pria itu? Yang menculik dan menyelamatkan aku. Siapa mereka?"
Saat aku masih dalam lamunan, tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Surat?" Kubuka amplop putih tak bersegel itu. Tulisannya hanya kata-kata ancaman dengan tinta seperti menggunakan tetesan darah.
"Ini hari terakhirmu!" Begitulah isi dari kertas putih yang kini kuremas kuat, lalu kulemparkan kasar ke dalam tempat sampah.
Umpatan serta makian lolos dari bibirku.
"Siapa yang berani melakukan semua itu padaku?" geramku.
Di saat bersamaan derit pintu mengalihkan atensi-ku, aku menoleh menatap benda coklat putih menjulang itu kian terbuka lebar.
"Selamat pagi, Sayang. Putri Ayah yang cantik. Bagaimana, tidurmu pulas?" Dan suara itu sukses membuatku berbinar bahagia.
"Ayah!" pekikku kaget dan kegirangan.
"Ayah kapan datang? Katanya seminggu di Bali, kok sudah pulang."
Ayahku pekerja keras, baru tiga hari lalu ia pamit ke Bali untuk tugasnya. Jangan tanya ibuku, beliau sudah tidak ada sejak aku kecil. Sudah satu bulan aku hanya tinggal bersama Ayah dan para pelayan. Tepatnya sejak ayah menceraikan istri keduanya yang tamak harta.
"Ayah datang pagi ini." Beliau selalu bisa membuatku tersenyum.
"Kau benar satu hal tentang ibu tirimu, Nak?" Ayah membelai rambut panjangku yang terurai melewati bahu.
"Maksud Ayah?"
"Dia mengancam Ayah, akan mencelakaimu karena tidak mendapatkan harta gono-gini. Itu sebabnya Ayah menyewa pengawal pribadi untukmu. Selama ini kau selalu menolak setiap Ayah memberimu bodyguard untuk melindungi mu. Kali ini Ayah harap kau tidak menolaknya."
Aku mengernyit kebingungan. "Pengawal, Yah?"
"Ya, kau sudah bertemu dengan Dev, bagaimana menurutmu, apa kau masih mau menolak?" Ayah tersenyum dengan pertanyaannya yang serius itu.
"Dev? Yang semalam menolongku?" Ayah mengangguk.
"Tentu saja aku tidak akan menolaknya," jawabku tegas.
"Bagus!"
"Tunggu! Lalu siapa yang menculikku?"
"Wisnu." Ayah melenggang pergi setelah mencium keningku. Meninggalkan aku yang masih bergeming begitu mendengar nama itu disebutkan Ayah.
Wisnu mantan kakak tiriku? Anak dari ibu tiriku? Tanganku terkepal kuat begitu mengingat berbuatannya.
Dan, Dev, dia pengawalku. Tanpa sadar aku sudah melompat, keluar kamar mencari keberadaannya.
Selesai...