Pagi yang cerah, Vania dan Lala pergi ke sebuah Rumah kosong. Mereka kesana karena memiliki tugas dan harus di selesaikan, mereka menyelidiki dan terus menyelidiki.
Saat beberapa menit menyelidiki Vania merasa sangat pusing dan akhirnya pingsan. Lala pun sadar kalo Vania menghilang dan mencarinya.
"La, apa bener ni rumahnya. Kok kayaknya nyeremin banget dah, apa lagi ini rumah kan dah lama di tinggalkan?" kata Vania takut setengah mati
"Dah lah, ada aku disini. Apa lagi yang kau tunggu ayo masuk dan selesaikan tugas kita!?" kata Lala dengan berani
"Oh ok, tapi jangan lama lama ya. Ku tak suka tempat ini, apa lagi kayak gini tempatnya" kata Vania
"Ok ok, ayo biar cepat" kata Lala dan langsung masuk
JEDERRRR...,"suara Petir menyambar keras
"Ahhh..., La aku takut. Apa lagi tadi katanya cerah dan kenapa sekarang jadi banyak petir gini sih??" kata Vania ketakutan
"Tak apa, penyiarnya salah kali. Dah yuk cepat masuk!" kata Lala
di satu sisi lainnya....
"Hehe akhirnya kau datang Vania, Ratu Putri akan bangga kepadaku karena aku sudah menemukan penerusnya" kata Seseorang
"Vania siap siap lah datang kesini dan meneruskan Tahta Ratu Putri. Dan kau jangan harap bisa lari" kata Seseorang
Di satu sisi lagi...
" La perasaanku kenapa jadi gini ya, sangat tidak nyaman sekali setelah masuk semakin dalam. Dan sekarang kepalaku pusing..." kata Vania dan tiba tiba pingsan
"Va...Vania kau dimana, Vania..." kata Lala sambil mencari Vania karena dia menghilang
Sesaat Vania pingsan dan entah menghilang kemana, Vania tiba tiba sadar dan dia bingung dia berada di mana. Karena ditempat itu banyak sekali kabut, dan anehnya kabut itu berwarna merah darah...
"Uhh..., di...dimana ini? Aku dimana sekarang dan mengapa ada kabut berwarna merah darah!?" kata Vania setengah sadar
"Hal...hallo a..apa ada orang di..sini, tolong aku. Ku mohon" kata Vania setengah sadar dan melihat seseorang. Karena badan Vania sangatlah banyak luka lecet.
"Ku mohon ban..bantu aku siapa sa..." kata Vania dan pingsan lagi
Skip...
Saat Vania pingsan, Vania masih ditanah. Dan Vania pun di bawa ke sebuah kastil kuno oleh seseorang yang dilihat Vania sebelum pingsan.
Vania sadar dan bertanya kembali dia dimana, seseorang tersebut datang dan bertanya tentang kabarnya. Tetapi Vania masih tetap bingung kenapa dia bisa disini.
"Uh..., kepalaku sakit banget dan badanku juga sakit banget. Dan aku kok bisa disini bukannya tadi aku ditanah dan banyak kabut merah ya?" kata Vania sadar
"Oh kau dah sadar ya, Vania. Apa kau baik baik saja sekarang??" kata Seseorang didekat Vania
"Hah? Kau siapa ya, dan aku dimana sekarang. Dan juga kau bisa tahu namaku, bukannya tadi aku dirumah kosong ya!?" kata Vania yang terus tidak berhenti tanya
"Aku Raka, kau berada didesa Kabut Darah. Aku bisa tahu namamu karena kau adalah keturunan Ratu Putri yang sudah meninggal beberapa hari yang lalu" kata seseorang yang bernama Raka
"Dan juga kau adalah Ratu selanjutnya yang menggantikan Ratu Putri karena kau keturunannya!" kata Raka
"Apa..., tidak mungkin aku keturunan bangsawan. Apa lagi aku hanya anak miskin?" kata Vania
"Tidak, kau beneran keturunan Ratu Putri. Kau adalah penerusnya dan kau besok malam akan dinobatkan, jadi kau tenanglah disini. Dan sebelum penobatan kau harus minum darah murni yang sudah kami siapkan, silakan kesana!" kata Raka
"Gak, gak mungkin aku minun darah. Ini pasti halusinasikukan, aku hanya anak miskin dan tidak anak bangsawan. Dan juga kenapa desa ini disebut desa kabut darah Hah!!" kata Vania takut
"Karena Ratu Putri meninggal dibunuh oleh Raja Wendi, dia adalah mantan suami dari Ratu Putri Karena Ratu putri telah menceraikannya. dan saat Ratu Putri dibunuh olehnya karena itu, Darah Ratu Putri menyebar ke seluruh desa Kabut. Dan sekarang desa ini dinamakan Desa Kabut Darah" kata Raka menjelaskan
"Apa, hanya cuma cerai sampai sampai dibunuh!" kata Vania
"Ya, dan penerus yang dipilih oleh Ratu Putri untuk melanjutkan tahta yaitu kau Vania!" kata Raka serius
"Gak, mungkin Ratu Putri memilihku. Aku hanya anak miskin dan tidak punya apa apa!? Dan juga aku tidak mau melanjutkan tahta Ratu Putri. Kenapa dia tidak memilih yang lain saja, dan kenapa harus aku??" kata Vania menangis
"Kau jangan menangis, aku ada disini. Silakan Vania minumlah darah murni ini sedikit, ini adalah darah sang Ratu Putri sebelum ia meninggal!" kata Raka
"Aku..aku tidak mau minum, aku tidak mau. Seharusnya aku tidak disini, bawa aku pulang. Hiks!" kata Vania menangis
"Maaf aku tidak bisa, ini sudah tugasku dari Ratu Putri. Kau harus menurut kalo tidak kau bisa terjadi sesuatu nanti, ayo darah ini akan membuatmu panjang umur tapi kalo kamu dibunuh tidak akan mempan" kata Raka memaksa
"GAK, AKU GAK MAU MINUM ITU"kata Vania membentak
"Oh ok, kau yang minta ya!!" kata Raka kesal
"PELAYAN TOLONG KESINI SEBENTAR DAN TOLONG PEGANG TUAN PUTRI VANIA" kata Raka yang sedang memanggil pelayan
"Baik, Tuan Raka" kata Pelayan bersamaan
"HEY, KALIAN JANGAN BERANI BERANINYA PEGANG AKU. ATAU KALIAN MAU MATI" kata Vania marah dan menangis
"Maafkan kami tuan Putri Vania, ini perintah dari tuan Raka!" kata salah satu pelayan
"Uh..., lepaskan aku kalian sudah gila ya!?" kata Vania
"Hehe..., akhirnya kau bisa tenang. Dan sekarang kamu nurut atau mau mati di sini!!" kata Raka
"Aku lebih baik mati dari pada kau suruh suruh, dan menjadi penerus Ratu Putri. Aku lebih baik matiii..., ayo bunuh saja aku. Aku akan menerimanya" kata Vania yang pasrah
"Heh.., kamu bisa bilang begitu. Tapi aku tidak akan melakukannya" kata Raka
"HEY, AKU LEBIH BAIK MATI. AYO KALO KAU BERANI BUNUH AKU, BIAR AKU BISA TENANG DARI PADA TERSIKSA SEPERTI INI" kata Vania yang marah
"Pelayan, tolong pegang mulutnya juga biar aku bisa meminumkannya darah Ratu Putri sekarang!!" kata Raka
"Baik tuan" kata pelayan bersama
"Kauuu..., uh..." kata Vania yang di minum kan darah murni itu
"Hah...hah...hah.., kau beraninya...!!" kata Vania dan langsung pingsan karena efek dari darah murni itu
"Maafkan aku Tuan Putri Vania, ini perintah dari Ratu Putri" kata Raka dalam hati
Skip...
Darah murni itu adalah darah sang Ratu, jika Seseorang yang meminum darah itu akan mempunyai efek yang mematikan. Jika Raka dan yang lain tidak waspada mungkin akan terjadi sesuatu, bisa jadi mati di tangan Vania.
Pagi berikutnya, Vania sadar dari pingsan semalam. Vania masih bingung kenapa dia di bawa ke Desa Kabut Darah. Vania terus menangis dan menangis.
"Tuan Putri Vania, ayo makan sebentar" kata Raka
"Aku gak mau makan" kata Vania dingin
"Tuan Putri Vania, harus makan. Kalo tidak bagaimana nanti malam, nanti malam adalah penobatanmu. Dan kau harus siap siap!!" kata Raka
"Aku tidak mau, biarin aku mati dalam keadaan kelaparan kalo kamu tidak mau membunuhku" kata Vania sedih
"Tuan Putri..." kata Raka yang kepotong
"JANGAN PANGGIL AKU TUAN PUTRI LAGI, DAN KAU SILAKAN PERGI DARI SINI" kata Vania marah dan menangis
"Emmm..., baiklah. Tapi Kau harus makan dan siap siap"kata Raka
"....." tidak ada balasan dari Vania
setelah Raka keluar.
"Ratu Putri, maafkan aku yang tidak bisa menjaga amanah kamu. Dan sekarang Tuan Putri Vania pun tidak mau makan karena saya yang terus memaksanya, aku sungguh minta maaf Ratu Putri" kata Raka dalam hati
Skip...
Malam tiba, Waktu penobatan akan dimulai. Saat Vania akan berdandan, tiba tiba Vania mengeluarkan hawa hitam. Karena itu Pelayang yang bertugas merias Vania, tiba tiba tidak sadarkan diri.
"Tuan Putri Vania, saatnya merias anda. Dan anda silakan mandi dulu" kata Pelayan Rias
"Baik" kata Vania dingin
Beberapa menit setelah mandi
"Tuan Putri Vania, kau akan sangat cantik malam ini. Dan kau akan menjadi wanita yang paling cantik di desa kabut darah ini" kata Pelayan Rias
"diamlah kau, dan kau pergi dari sini" kata Vania dingin disertai hawa hitam muncul
"Ha?.., apa Tuan..., uh...apa, apa ini.. A..aku tidak bisa.. Bernapas!!" kata Pelayan Rias dan langsung Pingsan
"Haha, kalian semua harus mati sekarang. Dan juga kau Raka" kata Vania
Vania telah memasuki ruangan tahta, dan saat Vania masuk di ruangan itu. Semua orang yang melihatnya jadi terpukau. Dan di satu sisi pelayan lain menemukan Pelayan Rias pingsan. Pelayan Rias berkata kepada pelayan lain kalo Tuan Putri Vania memiliki hawa hitam dan akan memusnahkan semua orang yang datang.
"Saatnya tiba, aku akan membunuh semua yang telah memaksaku" kata Vania
Saat Vania memasuki Ruangan
" wow Ruan Putri Vania sangatlah cantik hari ini" kata Seseorang
"Ya, Tuan Putri Vania tidak terkalahkan hari ini" kata Seseorang
Di satu sisi..
"Pelayan Rias, bangun lah. Kenapa kau dibawah sini, dimana Tuan Putri Vania" kata Pelayan lain
"Oh..,untung ada ka..kamu, Tu..Tuan Putri Vania memiliki Hawa Hitam. Dan dia akan mem..membunuh semua.. Orang yang me..memaksanya..." kata Pelayan Rias dan langsung meninggal
"Apa.. Tu..tuan Putri Vania mempunyai Hawa Hitam, hey sadar di mana Putri sekarang??" kata Pelayan
"Tidak mungkin. Tuan putri menjadi sekejam itu. Aku harus menghentikannya" kata Pelayan itu, pelayan itu bernama Tina
Di satu sisinya lagi
"Yang Mulia Putri Vania, saya nobatkan kamu menjadi Ratu disini..." kata Pendeta yang kepotong oleh Tina si pelayan
"HATI HATI, TUAN PUTRI VANIA SEDANG MEMILIKI HAWA HITAM" kata Tina teriak
"Heh siapa kau, ini penobatan yang mulia Vania. Kenapa kau menuduh dia hah?" kata Seseorang
"AKU BERKATA JUJUR, DAN KALIAN MALAH TIDAK PERCAYA" kata Tina teriak sekali lagi
"Huh, menyebalkan. Penjaga tolong bawa dia keluar" kata Raka
"Baik Tuan Raka" kata Penjaga bersamaan
"Kalian yang berani memegang dia, kalian akan menderita...." kata Vania
"Ha.., apa maksud kamu yang Mulia Vania??" kata Raka bingung
"Kau tidak denger ya. KALIAN YANG BERANI MENYENTUH DIA AKAN MENDERITA DAN YANG MEMAKSAKU SELAMA INI" kata Vania dan keluarnya Hawa Hitam Vania
"Tuan Putri Vania Jangan...." kata Tina
"HAHAHA, SEKARANG AKU YANG AKAN BERKUASA. KALIAN YANG PERNAH MEMAKSAKU DAN DIA, AKAN MENDERITA SEKARANG... HIAAAA" kata Vania teriak dan melepaskan hawa Hitamnya
"HAHA, RASANYA ENAK YA KAN" kata Vania
"Uh, Uang Mulia kami minta maaf. Kami salah" kata Seseorang
"Ya Yang Mulia, maafkan kami"kata Seseorang
"uhuk..uhuk...uhuk...uhuk.."suara batuk yang telah memaksa Vania
"HAHA, TERSERAH AKU SEKARANG. KALIAN SEMUA JAHAT KEPADAKU DAN INI AKIBATNYA!!!" kata Vania
"TUAN PUTRI VANIA, SADARLAH. KAU TELAH DIKENDALIKAN OLEH DARAH MURNI ITU" kata Tina
"BIARKAN SAJA, MEREKA TELAH MEMAKSAKU DAN TERUS MEMAKSAKU. KALI INI ADALAH SAATNYA, HAHAHA!" kata Vania
"Yang Mulia Vania, aku mohon lepaskan mereka yang mulia" kata Tina sedih
"Mereka hanyalah orang biasa, dan yang mulia telah berkuasa. Tolong ampuni mereka yang mulia" kata Tina memohon
"Apakah yang Mulia ingin pulang kerumah dan ingin bertemu dengan Ayah Ibu yang mulia. Nanti Saya akan memberitahu anda agar bisa kembali!?" kata Tina
"HUH MENYEBALKAN, INI SUDAH BERLANJUT. DAN MEREKA HARUNYA SUDAH TAHU AKIBATNYA KAN" kata Vania marah
"Atau kau mau seperti mereka semua hah" kata Vania
"Yang mulia ini bukan kau yang aku kenal. Walaupun yang mulia belum kenal saya, tapi saya sudah sangat kenal yang mulia" kata Tina
"Uhuk..uhuk...uhuk...," semua orang yang memaksa Vania masih tercekik, dan mereka sudah tidak kuat. Dan akhirnya meninggal semua
"Haha, akhirnya aku bebas sekarang. Kalian akhirnya tiada" kata Vania masih dalam hawa hitam
"Yang mulia...." kata Tina menangis
"Hahaha..., kalian yang mau seperti mereka kesini kalo kalian ingin mati" kata Vania
"Aku akan mengabulkan semua permintaan kalian semua, hahaha!!" kata Vania puas
"Yang mulia Vania, kau sangatlah jahat sekarang.."kata Tina
"Oh, ternyata kamu mau menantang aku yak" kata Vania
"Ok ok, akan ku kabulkan kau" kata Vania dan langsung mendekati Tina dan langsung mencekiknya
"Ya...yang Mulia sa..sadarlah, ini pas..pasti bukan yang Mulia Vania kan, saya tahu karena saya adalah teman masa kecil Vania" kata Tina kesakitan
"Apa...apa kau bercanda hah" kata Vania
"Ya..saya adalah Tina Ayu Putri, teman masa kecil mu Vania" kata Tina
"Apa, apa kau Ti..Tina Ayu Putri teman kecilku yang dulu menghilang...?" kata Vania setengah sadar
"Ya, aku kesini juga di paksa oleh tuan Raka. Dan kau akhirnya kesini, Va...Vania. Uhuk" kata Tina
"Uh..., ahhhhhhh...." kata Vania yang ingin melepaskan diri dari hawa hitam
"AHHHHHHHH....." kata Vania yang sangat kesakitan
"Uhukkk....uhuk....uhuk...." batuk Vania yang berhasil menghilangkan Hawa hitamnya, dan langsung pingsan
Skip...
Setelah Vania sadar
"Vania apa kamu baik baik saja" kata Tina yang memangku Vania
"Aku baik baik saja. Tina maafkan aku, aku tidak tahu jika kau masih hidup aku kira kau sudah tiada" kata Vania
"Gak apa apa, aku sangat merindukanmu Vania. Kau juga harus hati hati, karena diDesa kabut darah sangatlah berbahaya" kata Tina
"Ba..baiklah" kata Vania yang lemah
"Ayo Vania, kita pulang. Semua orang yang ada disini telah kau bunuh semua, dan juga tuan Raka" kata Tina
"Oh ok, aku juga minta maaf kepada kalian semua" kata Vania
Semua orang yang berada di desa kabut berdarah telah musnah semua akibat perbuatan Vania. Kecuali Tina teman masa kecil Vania.
Vania dan Tina kembali ke dunianya sendiri, tapi Vania tetaplah keturunan Ratu Putri dan akan tetap menjadi Ratu desa kabut berdarah.
...Tamat...