Tepat 12 tahun sejak kejadian itu, akhirnya aku menginjakkan kembali kakiku di tempat ini. Tidak jauh berbeda dari sebelumnya, tempat ini masih begitu pengap dan gelap. Hanya saja, jumlah anak-anak kecil semakin bertambah banyak. Aku masuk melalui pintu bawah tanah, berjalan mengendap-endap layaknya harimau yang hendak menerkam sasarannya. Mataku melirik ke segala penjuru arah, waspada akan datangnya penyerangan secara tiba-tiba. Jaket hitam yang diselaraskan dengan celana hitam membuat pergerakanku menjadi lebih leluasa dengan kontrasnya kegelapan.
Aku mulai memasuki sebuah lorong yang nampak seperti tak berujung. Desar-desir rintihan mulai terdengar bersahutan. Bulu kudukku satu-persatu berdiri tegak. Siapapun yang mendengar suara ini, pasti tidak akan bisa mengelakkan perasaan merindingnya.
"Wah... apa-apaan ini? Kamar sel?" Tangan kananku merogoh ke dalam tas, berusaha untuk mengambil senter. Terdapat banyak kamar yang terjejer rapi di sisi kanan dan kiriku. Satu per satu kamar aku terangkan menggunakan senter itu. Aku terkejut, semua kamar sel ini berisi sekelompok anak yang tengah tertidur dengan lelap. Tanpa kasur dan tanpa selimut, mereka harus menahan dinginnya suhu malam. Pakaian yang mereka kenakan tampak sudah tidak layak lagi untuk dipakai. Juga, lebam biru tercetak hampir disekujur tubuh mereka.
Aku masih menyenteri satu per satu kamar yang ada, berusaha untuk tidak melewatkan satu kamar pun. Dimana dia? Mengapa tidak ada? Aku terus melanjutkan langkahku untuk mencari dirinya, hingga aku memasuki sebuah ruangan kumuh berukuran 6 × 12 meter. Kosong, satu hal yang dapat aku simpulkan dari ruangan ini. Aku melihat seluruh sudut ruangan, berusaha menebak tempat apa ini. Saat melihat ke sudut ruangan bagian timur, aku melihat seorang anak tengah duduk dengan kepala tertunduk.
Aku menghampirinya, dia terlihat familiar. Rambut panjangnya terlihat sangat berantakan. Tubuh anak ini bergetar saat aku berusaha memegang lengannya. Ia tidak berani mengangkat kepalanya. Aku pun akhirnya mengangkat dagunya. Rambutnya aku sandarkan di daun telinganya. Wajahnya yang penuh lebam biru kini dapat kulihat dengan jelas. Tatapan mata ini, aku mengingatnya.
Nyaman menyelimuti seluruh bagian tubuhku. Akhirnya setelah 12 tahun, aku berhasil bertemu kembali denganmu. Sejenak aku kehilangan kewaspadaan. Aku tidak sadar jika ada orang dibelakangku. BUKK!! Sesuatu mengenai punggungku dengan sangat keras. Aku pun spontan menengok ke belakang, namun tidak sempat. Sebuah tendangan menyambar wajahku sangat cepat. Memang terasa sangat sakit, tapi aku harus segera bangkit agar dia tidak mendapatkan kesempatan sekecil apapun untuk menyerangku. Posisi kuda-kuda aku ancangkan dengan gagah. Satu per satu serangan aku sambarkan kepadanya. Beberapa pukulan tidak berefek. Tubuhnya yang kekar itu membuat pertahanan dirinya susah dibobol. Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku dapat mengalahkannya.
Kukira, cukup sampai sini. Segerombolan orang datang mengepungku. Jumlah mereka kurang lebih 25 orang. Aku tidak tahu pasti. Aku terlalu fokus memikirkan strategi yang cukup efektif agar aku bisa cepat mengalahkan mereka. Pukulan demi pukulan saling ditanggalkan di ruangan ini. Cucuran darah tidak dapat dihindari. Akhirnya 15 menit berlalu. Keringat bercampur darah yang tercecer di lantai terbayarkan. Mereka semua terpapar, menandakan bahwa aku menang.
Aku kembali ke tempat anak tadi duduk. Tangan kananku mengalungkan tangannya ke pundakku. Ia terlihat sangat lemah. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Saat hendak memapahnya, lagi-lagi seseorang datang menghadang. Seolah-olah mereka semua tidak berkenan membawa anak ini kembali ke rumahnya. Bapak-bapak dengan umur kepala enam berdiri sepuluh meter di depanku dengan sebilah pisau di tangan kanannya. Sikap kuda-kuda kembali kusiapkan. Sepertinya pertarungan sesungguhnya baru terjadi, karena ternyata dia adalah pemimpin dari kasus penculikan ini.
Dia berlari ke arahku. Gerakan tangannya yang sangat cepat dan lihai, berusaha meninggalkan sayatan-sayatan yang mampu membuatku merintih kesakitan seperti kuda. Tidak cukup hanya dua, dia membuat lebih banyak lagi sayatan di tubuhku. Semakin lama, lukaku semakin parah. Aku mempercepat serangan dan memperkuat pertahananku. Satu jam berlalu aku berhasil bertahan di kondisi ini. Terlihat ia juga tidak mampu lagi mengayunkan pisaunya.
Aku pun berjalan terhuyung-huyung ke arah anak tadi dengan bekas sayatan yang terasa perih. Baru setengah jalan, tiba-tiba bapak tadi mengarahkan pisaunya ke arah jantungku.
"AKHHH!!" Meleset. Ini memang meleset, tetapi tusukannua terasa sangat dalam. Sekejap, darahku mengucur sangat deras. Aku mencabut pisau itu dari punggungku dan berusaha untuk menghentikan pendarahan ini dengan membalutkan sobekan kain bajuku di bekas tusukan. Aku merasa sangat lemas. Sepertinya pendarahannya terlalu banyak. Tapi aku harus segera mengeluarkan adikku dari tempat ini. Tempat ini seperti neraka bagi anak-anak.
Hening mulai datang menghampiri ruangan ini. Semua orang sudah berhasil kukalahkan. Aku hanya bisa diam tergeletak menatap wajah adikku yang terlihat menyeka air matanya. Ia merangkak ke arahku. Tangan mungilnya menggenggam tanganku sangat erat.
"Dek, ayo cepat pergi dari sini. Tempat ini tidak aman untukmu," kataku dengan terbata-bata.
"Gak. Aku gak bakal ninggalin kak Bunga disini. Aku bakal tetep disini bareng kakak. Lagipula kita sudah aman," jawabnya dengan yakin. Akupun terlena dengan keyakinannya.
"Rambutmu sudah sangat panjang. Kamu terlihat sepeti seorang wanita. Maaf, aku terlambat datang, " ucapku padanya dengan mengukirkan senyumku dan berusaha menahan jatuhnya air mata.
"Gak kak Bunga, aku sudah sangat senang akhirnya kamu datang menjemputku. Ternyata aku masih ingat aku." Tangannya semakin erat mengenggam tanganku. Ia tidak kuasa menahan air matanya, hingga butir demi butir terjun bebas ke bawah.
Pelukan pun aku tanggalkan padanya. Perasaan rindu ini terbayarkan sudah. Menit demi menit berlalu dengan cepatnya. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk segera pergi dari sini. Indra membantuku berdiri.
"UKHH!!" Tiba-tiba Indra jatuh tersungkur setelah badannya memantul keras dengan sendirinya. Spontan aku mengecek keadannya.
Ternyata sebuah peluru mendarat di tubuhnya. Aku melihat sekeliling mencari arah datangnya peluru. Seorang penembak rahasia terlihat kabur keluar dari ruangan ini.
Tenggorokanku terasa tercekik. Tubuhnya yang sudah lemah ini, tidak mungkin bisa menahan sebuah peluru. Badannya mematung dingin dan kaku. Darah segarnya mengalir, bercampur dengan darahku. Aku tidak memiliki tenaga untuk berdiri dan melarikannya ke rumah sakit. Hanya pasrah yang bisa kulakukan.
Indra, maaf. Kakak tidak bisa menjagamu dengan baik, tidak bisa menjalankan tugas sebagai seorang kakak dengan benar, juga tidak ada bersamamu saat kamu ketakutan.
Ayah, ibu, maaf. Bunga tidak bisa menepati janji kalian untuk menjaga Indra dengan baik. Semoga Indra pulang dengan bahagia berkumpul kembali bersama kalian.
.
.
.
Terimakasih untuk yang sudah mau baca 🥺
See you next time guys👋