Dingin air menyelimuti kulitku yang terbalut kain tipis. Hempasan ombak menyeret tubuhku semakin dalam. Ku ulurkan tanganku ke atas, mencoba menggapai langit yang tampak jauh, berharap seseorang menyelamatkanku.
Nafasku kian tersengal saat aku gagal mendapatkan asupan oksigen untuk membuat paru-paru dan jantungku tetap bekerja. Pusaran air dan gravitasi semakin menarik ku ke dasar.
Aku tenggelam semakin dalam!
Disini, saat kesadaranku nyaris hilang seluruhnya.. aku masih dapat melihat bayangan hitam dengan kepakan sayapnya mengangkatku dari gulungan ombak.
Dan aku... hilang kesadaran!
***
Wajah tersenyum itu melihatku, tatapan matanya yang tajam sekaligus hangat dalam waktu yang bersamaan memandangku dengan seksama. Satu kata untuk sosok di hadapanku..tampan!
“Kau sudah sadar?” Pertanyaanya menyadarkan aku dari lamunan tentang siapakah sosok itu.
Lelaki yang bertelanjang dada itu mulai membuatku mengagumi bentuk sempurna tubuhnya.
Pandanganku mulai menjelajah ruang dingin ini, sebuah kamar mewah yang di dominasi warna hitam sedikit membuatku merasa tak nyaman. Terlebih peneranganya hanya sebatas lampu yang berwarna kuning. Benar-benar bukan tipeku.
“Dimana aku?” Ku rubah posisiku yang semula tiduran menjadi duduk di atas tempat tidurnya. Rasa pusing seketika menghantam kepalaku dengan tiba-tiba sehingga spontan ku pegangi kepalaku.
“Tenanglah, kau aman sekarang” ucapannya tak mewakili pertanyaanku.
****
Hampir satu minggu aku berada disana, di rumah Jackson yang lebih mirip kastil dari pada rumah. Kondisiku pun sepenuhnya sehat. Namun dia tetap menahanku disana dengan alasan tak ada tempat tinggal untukku di rumah.
Aku menghela nafas, ucapanya seribu persen benar. Aku bahkan di buang ke tengah laut oleh Gloria, ibu tiriku saat hari ke tujuh kematian ayahku. Aku tak dapat kembali kesana, karena sebelum ayah meninggal semua hak waris di alihkan kepadanya. Aku hanya gelandangan sekarang.
Jackson begitu baik, dia hangat, dia perhatian. Ketampananya yang bahkan jauh mengalahkan Nicolas laki-laki tertampan di kampus membuatku menyebut Jackson sebagai malaikat tanpa celah. Andai aku punya nyali mengatakanya..
Namun satu yang masih membuatku tak mengerti dirinya, aku tak pernah melihatnya di siang hari, begitu pula para pelayan yang tak terhitung jumlahnya. Semua tiba-tiba menghilang saat matahari bersinar, hanya tukang kebun yang selalu bercerita tentang hal-hal di rumah ini. Meski begitu tak sekalipun dia menjawab sosok pemilik kastil ini.
“Tuan Jackson adalah orang yang baik” hanya itu saja kalimatnya jika ku tanya tentang Jackson padanya. Well, di mataku.. Jackson memang selalu baik.
***
Senja itu, gaun sutra berwarna merah membalut sempurna tubuhku. Leher jenjang dan punggungku yang tak tertutup gaun memunculkan kesan kesexy an ku. Ku pandangi pantulan matahari dari permukaan danau buatan di taman itu. Cahaya berwarna orange di antara taburan daun di musim gugur sungguh sangat eksotis. Tiba-tiba aku di kejutkan olehnya. Entah dari mana, sosok tampan itu tiba-tiba berdiri di hadapanku.
“Ka..kau? Aku.. tak melihatmu datang.. dan..” ucapku tergagap.
“Aku di belakangmu dari tadi, memandangmu yang begitu mempesonaku”
Aku begitu bahagia ketika dia mengatakan bahwa akulah yang tercantik di antara semua wanita. Huh... wanita selalu suka pujian.
“Ikutlah..”
“Kita akan kemana?”
Tak ada jawaban dari bibirnya, dia hanya menggenggam jemariku, mengecupnya dengan mesra kemudian membawaku ke suatu tempat.
***
Di sebuah balkon di gedung pencakar langit, disanalah kami berada. Candle light dinner yang sempurna di bawah cahaya bulan purnama, dia melamarku..
Sebuah kejutan yang tiba-tiba datang begitu saja sontak membuatku gelagapan. Namun beda halnya dengan Jackson, cincin bertahta berlian bahkan sudah di persiapkan olehnya.
“Valerie, menikahlah denganku..”
Kegembiraan seolah membuncah dari dasar hatiku, bagaimana tidak beberapa bulan setelah aku tinggal bersamanya perasaan kagum itu berubah menjadi cinta. Cinta yang sangat dalam.
Ku anggukan kepalaku dengan malu. Senyum ku pun seperti kucing yang baru saja di belai majikanya. Aku bahagia... sangat bahagia.
Di genggamnya jemariku sementara tubuhnya terus mendekat hingga tak menyisakan jarak di antara kami. Mataku terkatup, kurasakan bibirku mendapat sentuhan bibirnya yang terasa lembut. Kami saling terhanyut dalam buaian malam yang dingin. Merasakan betapa nikmatnya sentuhan bibirnya.
***
Di kamarnya
Malam purnama ini seolah menjadikanya laki-laki yang berbeda dari sebelumnya. Dia lebih agresif, dan lebih mendominasi. Tapi entahlah, bagiku laki-laki seperti ini justru sangat macho di mataku.
Dia kembali melumat bibirku dengan ganasnya, melemparku ke atas kasur dan merobek gaun mewahku. Entah kenapa, aku tak dapat menolak keinginanya yang tiba-tiba seperti srigala. Aku.. menikmatinya..
Ciumanya mulai mengeksplor daerah-daerah sensitifku. Dia menciumi leher dan meremas kedua buah****ku, Aku mendesah saat sentuhanya memberi sensasi baru buatku. Namun desahan itu justru membuat birahinya semakin memuncak.
Di kul** nya kedua pay***** ku secara bergantian. Ada rasa geli sekaligus menyenangkan.
“Sayang, aku akan melakukanya sekarang. Apa kau mengijinkan?” Bisiknya di telingaku.
Ku anggukan kepalaku. Tak dapat ku pugkiri aku pun menginginkanya.
Dia mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya yang sudah sangat siap untuk memberikan serangan bertubi-tubi. Di arahkanya miliknya ke dalam ku.
Sakit!
Itu adalah hal pertama yang ku rasakan. Benda sebesar dan sekeras itu tiba-tiba membobol pertahannanku. Aku berteriak aku terisak..
“Sakit...”
“Maafkan aku, aku akan lebih pelan” jawabnya mengecup keningku.
Ku lihat bercak darah memberikan warna merah di atas kasur.
Dia mengulangi aksinya lagi. Kata pelan yang tadi di ucapkanya hanya bualan belaka. Hanya satu hentakan pasti dan dia berhasil menerobos kembali ke dalam sana. Pinggulnya mulai naik turun dengan irama yang konstan. Semakin lama, semakin kuat.. aku mendesah.. sesekali bahkan berteriak. Aku benar-benar kerasukan benda yang membuatku melayang. Aku tergila-gila dengan kenikmatan ini.
Dorongan-dorongan yang begitu menggebu bahkan memporak porandakan ranjang. Antara sadar dan tidak aku seolah melihat kuku-kukunya berubah menjadi cakar tajam dan mengoyak kasur menjadi sangat compang camping. Aku sungguh tak percaya, namun kenikmatan yang ditawarkanya seolah tak ingin ku tinggalkan. Entah berapa kali aku mengalami pelepasan. Ini sangat memuaskan.
Satu erangan panjang dari bibirnya dan semburan cairan ku rasakan membasahi rahimku sebelum dia ambruk di atas tubuh polosku.
“Trimakasih sayang...” bisiknya di telingaku.
Malam panjang ini ternyata tak selesei sampai disitu. Jackson seolah mesin yang tidak pernah merasa lelah. Dia terus melakukannya berulang- ulang. Di kamar mandi, di sofa, di ruang tengah bahkan dia tak membiarkanku keluar dari dapur ketika aku sekedar mengambil air.
***
Seperti hari sebelumnya, saat pagi menjelang aku kehilangan sosok itu lagi dan secara tiba-tiba dia akan kembali saat senja memerah. Aku mulai berfikir dia menyembunyikan sesuatu dariku.
Satu minggu berlalu dan hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya sungguh mengejutkanku. Mataku membulat sempurna setelah tanpa sengaja aku melihat dia menuangkan cairan merah kental dari kantong darah ke dalam glasswere dan meneguknya dengan sangat lahap.
Kepanikanku membuatnya menyadari keberadaanku. Aku ketakutan, aku berlari sekencang aku bisa. Nafasku tersengal, aku tak tau kemana harus menghindar dari makhluk peminum darah itu. Namun sia-sia, kemanapun aku pergi dengan mudahnya dia menemukanku.
“Valerie.. aku tak akan menyakitimu.. ku mohon jangan pergi” ucapnya memelas. Sementara aku masih ketakutan, tak dapat ku terka sosok apakah yang sedang berdiri di hadapanku.
“Si..siapa kau?!” Teriak ku tercekat. Keringat dingin mulai menjalar di sekujur tubuhku.
“Valerie maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongimu” ucapnya mengisyaratkan penyesalan yang dalam.
Dia mendekapku seolah aku adalah miliknya yang berharga. Aku mencoba menguasai rasa takutku. Ku beranikan diriku untuk mendengar penjelasanya.
Jackson, tak dapat membiarkan tubuhnya terkena cahaya matahari, dia tidak makan makanan seperti yang manusia makan, tidak pernah tidur saat malam hari, lebih dari itu dia memiliki sayap hitam yang keluar dari punggungnya, bertaring dan berkuku tajam, mata kuningnya berubah memerah.. inikah Jackson ku, Jackson yang sangat ku cintai.. makhluk apakah dia..??
Ku tutup mulutku dengan kedua tangan seolah tak percaya apa yang ku lihat. Aku terduduk lemas tak ada kekuatan tersisa disana. Tiba-tiba ku rasakan sesuatu bergerak-gerak di perutku. Di dalam rahimku..
Jackson tersenyum, dia berkata “Itu putra kita, Valerie”
Dan aku pingsan.
***
Tiga hari berikutnya, aku sudah berdiri di sebuah altar bersamanya. Mengenakan gaun pengantin berwarna hitam. Bagaimana bisa gaun hitam menjadi bagian dari upacara pernikahan? Namun inilah kenyataanya. Aku terlalu mencintai Jackson, dan ku tau dia pun begitu. Dia akan tetap membuatku menjadi manusia seperti keinginanku. Membesarkan anak2nya yang bahkan kini perutku sudah seukuran 5 bulan pada minggu ke dua kehamilanku.
Akhirnya aku tau, Kejantananya yang melebihi manusia normal dinkarenakan dia.... bukan manusia normal. Entah apa kalian menyebutnya.. namun bagiku Jackson selalu menjadi bagian dari hidupku sejak saat itu..
Karena aku... mencintainya..
**END**