Mungkin hal yang paling buruk di bayangan kalian adalah kabar ditinggal pacar nikah sama orang lain, tapi itu tak lebih buruk dari kabar yang kudapat kan ini. Kabar kematian orang yang telah kamu nanti selama bertahun-tahun dan pada akhirnya penantian itu yang akan membuatku berada dalam penyesalan seumur hidup. Tak ada kisah yang diakhiri dengan bahagia bersama, tapi ini adalah kisah di mana hanya akulah yang akan menanggung luka batin di akhir kisah.
Tangisanku tak bisa aku hentikan, mataku memerah akibat menangis tanpa henti. Bahkan ibuku saja sudah lelah membujukku menghentikan tangisan ini. Sampai suaraku pun ikut hilang karena lamanya aku menangis. Ketika tubuh ini lelah, mataku mulai memejam yang membawaku ke dunia bawah sadar.
Tidurku pun juga tak sepulas biasanya, hanya ada dia dalam mimpiku. Dalam tidur pun air mataku juga tak kunjung berhenti. Memang sakit yang kurasakan begitu dalam sampai ketulang- tulang. Apalagi untuk dia yang belum sempat untuk dimiliki makin jadi bukan main rasa sakitnya.
Aku terbangun dari tidur sesaatku ini, nafasku tidak beraturan peluhku membanjiri tubuhku. Tenggorokanku rasanya juga kering. Mata merah dan bengkak menghiasi wajahku. Sungguh sangat tak enak untuk dipandang. Sangat mengerikan jika aku mendeskripsikan diriku untuk saat ini.
Aku dengan enggan turun dari ranjang untuk berjalan ke nakas mengambil segelas air putih untuk menyegarkan dahaga. Mataku pun melihat jam yang terpasang di dinding yang menunjukkan pukul 03.00 WIB. Ternyata ini masih belum memasuki subuh, ku sempat kan untuk sholat di sepertiga malam untuk mendoakannya.
Dalam sholat pun lagi-lagi air mata ini turun dengan begitu derasnya, lantunan surat yang kubaca diiringi dengan suara isakan tangis. Ya Tuhan mengapa harus seperti ini, batinku mulai berbicara. Aku tak kuat menahan rasa sakit ini. Sungguh ini di luar kemampuanku. Kumohon beri aku kekuatan. Doa dalam hati ku ketika di tengah-tengah sholat malam ini. Aku memohon pengampunan dan tak lupa aku mendoakannya. Hanya itu yang bisa aku lakukan di waktu sekarang.
Setelah sholat pun kantuk juga tak lagi menghampiri ku. Aku yang berdiam diri ditemani lamunan yang tak seharusnya ada. Bagaikan kaset yang rusak putaran-putaran kenangan terlihat jelas di dalam benakku. Bagaimana mungkin aku sanggup untuk menahan tangis, itu terlalu indah untuk sekedar di lupakan.
Tak terasa ayam pun berkokok, tanda pagi telah hadir. Mataku masih merah, karena tangis yang tiada henti. Aku pun segera mandi dan berangkat kuliah kembali. Aku tak bisa terus meratapi takdir, karena itu hanya lah kesia-sian belakang yang tak akan pernah mengembalikan kehidupannya.
Pagi ini ku jalani seperti biasa, tapi hanya perasaanku yang membedakannya. Senyuman di bibir ku pagi ini belum tampak, apalagi wajah ceria yang kumiliki seperti hilang di telan angin. Kedua orang tua ku tak banyak bertanya padaku, tak terkecuali juga dengan abangku dia hanya bisa diam atas sikap ku pagi ini. Mungkin mereka mengerti, kehilangan seseorang memang lah suatu hal yang berat.
Aku turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama, seperti biasa aku tak bisa makan banyak di pagi hari. Hanya segelas susu dan sehelai roti selai stroberi. Aku memakan makanan dalam keheningan. Selesai nya makan aku berpamitan untuk segera berangkat ke kampus. Ku cangklong tas ku lalu pergi dengan hati yang masih di rundung kesedihan.
Aku sengaja tak membawa kendaraan pribadi, karena aku masih belum kuat untuk berkendara sorang diri. Boleh lah kalian mengatakan ku makhluk lemah, karena aku memang tak sekuat yang kalian lihat. Dalam perjalanan pun aku tak ingin banyak bicara dengan tukang ojek nya. Aku masih menikmati kesendirian yang kuciptakan ini. Mungkin nanti aku akan di cap customer yang sombong tapi apa mau dikata, mulut ku sudah tak mampu diajak untuk berdusta.
Aku pun sampai di kampus dengan selamat, tak lupa aku membayar uang ke pak gojek nya. Setelah selesai dengan urusan bayar membayar, aku memasuki kampus yang sudah beberapa hari ini tak ku masukin. Aku masih dalam suasana duka yang membuat ku enggan untuk melontarkan senyuman pada setiap orang yang ku kenal.
Dari gerbang kampus ke fakultas ku menang jarak nya agak jauh, harus melewati beberapa fakultas terlebih dahulu sebelum sampai di Fakultas ku. Apalagi harus menaiki tangga terlebih dahulu, makin jauh kan. Tapi biasanya aku tak pernah mengeluh akan hal itu, tapi berbeda dengan hari ini rasanya sungguh malas harus melewati banyak orang untuk sampai di fakultas. Aku sedang malas untuk sekedar bertegur sapa dengan orang sekitar.
Setelah berjalan yang lumayan menguras tenaga, aku akhirnya sampai di Fakultas ku. Memasuki ruang kelas matkul hari ini. Suasana ruang kelas pun nampak ramai. Banyak penghuni kelas yang telah hadir di pagi ini. Sangat berbeda dengan biasanya. Aku pun memilih bangku pojok paling belakang untuk tempat ku kali ini. Aku sedang tak berselera untuk menempati bangku depan. Dan di sinilah tempat yang tepat untuk ku menyambung lamunan ku.
Teman-teman ku pada berkumpul entah untuk membahas apa, aku tak mempedulikan hal itu. Aku hanya ingin ketenangan saja untuk kali ini. Sampai dosen matkul pun datang, aku masih berada pada zona lamunan ku. Ini sungguh bukan lah aku yang biasanya. Ketika sangat dosen mengabsen nama satu persatu muridnya, beliau kaget dengan kehadiran ku. Biasanya aku selalu duduk di barisan paling depan.
Beliau hanya bisa tersenyum kecil dengan yang kulakukan kini, seakan beliau memaklumi hal yang kulakukan kini. Mata kuliah kali ini pun juga tak dapat mengembalikan semangat ku, rasanya semua tampak membosankan. Ketika dosen menerangkan materi pun tak ada yang bisa masuk satu pun. Biasanya materi mata kuliah ini adalah hal yang paling ku suka tapi entah dengan sekarang.
Akhirnya mata kuliah kali ini telah selesai, sang dosen menutup kelas dan meninggalkan ruangan. Aku pun segera membereskan buku ku lalu segera pergi. Aku tak ingin berlama-lama di sini, hanya akan mengingatkan ku akan nya saja. Setelah semuanya beres aku meninggal kan fakultas. Tapi saat ini pulang bukan lah tujuan ku, tapi aku juga tak memiliki tujuan lain. Aku di terpa kebingungan.
Aku memutuskan untuk pergi ke taman yang letaknya jauh dari kampus ku. Entah apa yang membuat ku memutuskan untuk pergi ke sana. Aku tak lagi menggunakan ojol maupun kendaraan umum lain, aku lebih memilih jalan kaki untuk pergi ke sana.
Peluh sudah membanjiri tubuh ku, tapi aku masih kekeh berjalan hingga taman. Padahal tak ada hal yang indah di taman itu, tapi hati ku sudah berkata jadi aku tak punya lagi pilihan. Panas matahari pun kini seakan menembus kulit ku, sungguh ini sangat lah terik. Tapi tak jauh lagi aku akan sampai di taman.
Setelah perjalanan yang menguras tenaga itu, aku akhirnya sampai di taman ini juga. Aku bergegas untuk duduk di bawah pohon besar yang rindang ini. Di sana aku duduk dan bersandar ke pohon besar itu. Mataku kupejamkan, menghirup udara sebanyak-banyaknya, sungguh sangat lah nikmat. Di sini sangat lah tenang, hanya suara jangkrik yang bersautan yang terdengar di gendang telinga. Inilah yang kubutuhkan untuk waktu sekarang, sebuah ketenangan bukan ungkapan menguatkan.
Tak terasa aku berada di tempat ini begitu lama, hingga aku tak sadar sore pun mulai menjelang. Suara kicauan burung pun kini mulai terdengar, warna langit pun sudah mulai berganti petang. Dan aku pun kini memutuskan untuk kembali pulang. Keluar dari taman dengan kesendirian, tapi itu juga tak masalah.
Aku mencari angkutan umum yang menuju ke kawasan rumah ku. Setelah mendapat kan aku segera menaiki angkutan tersebut. Saat ini jam nya pulang kerja dan sekolah, pantas saja angkutan ini terasa full dan sesak. Aku pun tak mempermasalahkannya, pokoknya aku ingin segera sampai rumah.
Angkutan berjalan dengan lambat, seperti kelebihan muatan. Satu persatu orang turun di setiap pemberhentian. Sekarang lenggang pun aku rasakan, tak lagi sesesak tadi. Tiba di belokan kawasan rumah ku, aku berkata berhenti pada sang pengemudi. Aku segera membayar dan turun dari angkutan. Berjalan melewati beberapa rumah lalu tiba di rumah ku.
Aku membuka pagar dan melepas sepatu tepat di teras rumah ku. Aku masuk tak lupa salam aku ucapkan, terdengar suara balasan dari ibuku yang sedang berada di taman belakang. Aku pun menaiki tangga yang menuju kamarku, lalu aku masuk dan mengistirahat diri. Karena tubuh ku yang lelah, aku sampai lupa untuk mengganti pakaian ku. Aku dengan begitu cepat memasuki alam bawah sadar.
Dalam tidur ku, aku memimpikan dia untuk yang pertama kalinya. Dia terlihat sangat jelas dan seperti nyata. Aku terpaku ketika ia berjalan menuju arah ku. Lidah ku kelu hingga tak mampu berujar apapun. Aku tak ingin bangun dan kembali pada kenyataan yang mentakiti ku. Dia berdiri di depan ku, dengan senyum yang tak mampu kujelaskan. Dia mengenggam tangan ku dan mencoba untuk mendekap ku. Tubuh ku seakan kaku akan hal itu.
Hanya tangisan yang menjadi respon ku. Aku masih kaku dalam pelukan nya. Tangan ku tak mampu untuk membalas pelukannya. Hangat tubuh nya menyalur padaku. Aku pun merasa kan itu, aku berharap ini bukan lah mimpi. Jangan bangun kan aku pada kenyataan yang pahit itu. Aku ingin tinggal di sini, hanya di sini jika itu bersama nya.
Ketika aku masih membenam kan kepala dalam pelukan nya, dia membisikkan kalimat yang tak ingin aku dengar kan. “ Aku bahagia melihat mu bahagia, ku mohon jangan siksa aku dengan tangisan mu yang akan membuat semua orang menjadi pilu. Kembali lah seperti sedia kala, jika kau ingin kan aku tenang disana” kalimat itu yang dia bisikan padaku sebelum dia pergi di telan cahaya putih. Kini tangisan ku benar-benar pecah, tubuh ku meluruh ke tanah.
Aku terbangun di dalam kenyataan, ibuku sudah berada di samping ranjang ku. Melihat kondisi ku yang tak baik-baik saja membuat wajah nya mendung. Nafas ku masih memburu, peluh juga membasahi tubuh. Keadaan ku sungguh tidak baik-baik saja. Aku kacau, sungguh sangat kacau. Ibuku memeluk ku dan menyalurkan ketenangan padaku. Air mataku mengalir tanpa adanya peringatan terlebih dahulu.
Dia mendekap ku dalam-dalam, membiarkan ku meluapkan kesedihan yang sekarang sedang bersarang. Menyalurkan kehangatan yang saat ini sedang aku butuh kan. Semua nya ingin aku luapkan sekarang juga. Aku ingin kedamaian bukan ketakutan. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa disertai bayang-bayang yang mencekam. Aku hanya ingin bisa tersenyum bahagia walaupun itu dengan hal yang sederhana. Hanya itulah yang aku ingin kan. Tapi mengapa itu seakan mustahil untuk diwujudkan sekarang. Terlalu banyak kesedihan yang aku terima hingga lupa cara untuk menikmati kebahagiaan. Sampai pada waktu nya aku akan bilang menyerah dengan keadaan. Dan pada saat itulah aku akan berhenti berjuang.
Kini waktu pun sudah berlalu, masa-masa terburuk ku sudah aku lewati. Memang banyak hal yang ku pertaruhkan disini, tapi dari situlah aku menemukan banyak hal yang baru. Darinya aku belajar arti kehilangan yang sebenarnya dan dari dia lah aku tahu cara untuk kembali seperti sedia kala.
Aku menyelesaikan kuliah ku dengan tepat waktu, sekarang aku tinggal menunggu wisuda. Memang di awal aku pernah ingin berhenti, tapi aku sadar bahwa hidup ku tak akan berhenti saat itu juga. Aku masih memiliki orang yang peduli dengan ku. Dan karena mereka lah aku bangkit dari keterpurukan ku.
Aku sudah menerima kenyataan pahit itu dengan lapang dada. Memang sulit sih kalau di ingat-ingat, sampai buat gak doyan makan juga. Lucu sih kalau nostalgia. Tapi akhirnya mereka mampu menyadarkan ku, bahwa yang kulakukan itu gak bener. Udah gitu mereka bawa-bawa orang yang udah meninggal kan makin gimana kan. Aku pun mau mendengar kan saran dari mereka.
Tapi meskipun begitu, aku masih belum mampu untuk berkunjung ke makam nya. Terlalu sulit untuk ku lakukan, berbagai cara udah pernah aku coba, tapi tetap saja aku menyerah di tengah jalan. Itu adalah hal yang tersulit dari semua hal yang terjadi. Tapi aku ingin segera berdamai dengan keadaan.
Aku putus kan untuk pergi ke makam nya untuk pertama kalinya, aku meminta abang ku untuk menemani ku. Dengan segala tekat yang ku punya, aku pergi ke sana. Sebelum aku ke makam, aku tak lupa membelikan sebuket bunga matahari kesukaan nya. Buket bunga itu ku pegang dengan erat, rasa gugup begitu mendera. Abang ku memegang kuat tangan ku, guna menyalurkan semangat. Menghela nafas dengan keras, sungguh ini seperti aku akan sidang saja.
Melangkah melewati jalan setapak ini, dengan tangan yang senantiasa di genggam. Tubuh ku berhenti ketika tak sengaja melihat batu nisan yang bertuliskan namanya. Mata ku langsung berkaca- kaca. Tubuh ku seakan kamu untuk di gerakan. Sesulit itu memang untuk melihat kenyataan. Tepukan tangan abang ku membuat ku kembali pada kenyataan. Aku dibiarkan sendiri untuk menuju ke makam. Dengan langkah yang pelan aku menuju makamnya, tak lupa kata-kata menguatkan terapal tanpa henti dari mulut ku.
Aku berhenti tepat di sebelah batu nisan nya, rasa sesak kini mulai hadir ke permukaan. Air mata ku juga sudah menggenang di pelupuk mata. Aku berjongkok di sebelah makamnya, menaruh bunga yang sedari tadi ku pegang dengan erat. Aku mulai merapal kan doa untuk nya. Ku tangkup kan tangan dan memejamkan mata. Setelah doa selesai aku bacakan. Aku mulai bersuara, dengan tangan yang mengelus nisannya.
Hai gimana kabar mu? Maaf baru sekarang aku menampakkan kehadiran ku. Maaf juga karena selama ini aku terlalu bersikap pengecut. Aku tahu kehilangan mu adalah yang susah, tapi aku salah jika berlarut-larut dalam kesedihan. Kamu selalu bilang padaku agar senantiasa tersenyum dan berbahagia apa pun keadaan nya, tapi waktu itu aku melupakan hal itu. Hingga banyak teguran yang datang padaku, termasuk kamu yang muncul dalam mimpi ku. Sekali lagi aku minta maaf ya, aku terlalu mengecewakan dan pengecut. Tapi aku berjanji akan hidup seperti sedia kala. Aku akan selalu bahagia walaupun itu hanya dengan mengingat mu dalam ingatan ku.
Setelah selesai mengeluarkan isi hati yang selama ini mengganjal, aku pun bangkit dan berjalan menjauhi makam. Dengan langkah yang pelan, diiringi air mata yang keluar dengan derasnya. Rasanya lega tapi juga ada rasa yang tak bisa aku jelaskan. Abangku menghampiri ku, dan langsung merangkulku. Dia membiarkan ku menangis kali ini, dia menuntun ku sampai ke mobil. Dia membawa ku dalam pelukannya. Hingga aku pun lelah menangis, aku hanya bisa tersenyum tipis kepada nya.
Sekarang aku tahu jika dia bukanlah orang yang akan mendampingi ku nanti. Setelah berbagai rintangan aku hadapi, aku akhirnya sadar aku tak boleh selamanya terpaku pada hal buruk yang terjadi itu. Dan aku pun kini telah menerima kenyataan itu dengan hati yang ikhlas. Dengan berbesar hati pun aku akan menjalani hidup ku dengan baik di mulai dengan hari ini hingga maut menjemputku.