Ada apa denganku? Mengapa aku selalu merasa, apa yang selama ini aku lakukan tidaklah adil. Merasa bahwa dunia ini terlalu kejam untukku. Merasa bahwa aku yang tersakiti. Jika kau tanya apa aku lelah, kau pasti tau jawabannya. Ya, pasti, itu jawabanku.
Menjadi anak pertama, itu berat menurutku. Bagi ku, manjadi anak pertama harus dituntut untuk melakukan yang terbaik. Menjadi contoh bagi adik adiknya. Di didik untuk menjadi yang terbaik. Tapi tidak kah kau berpikir, aku masih anak remaja yang baru duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama. Berusaha menjadi yang terbaik untuk satu adik perempuan ku yang sekarang duduk di kelas 3 SD.
Ibuku bekerja sebagai perawat di puskesmas yang letaknya jauh dari rumah, mungkin kurang lebih hampir satu jam. Ayahku sekarang bekerja jauh juga, dia hanya pulang di akhir pekan. Jujur, ketika ayahku mengatakan akan kerja disana, aku hampir menangis, setelah beliau selesai berbicara aku langsung mengunci pintu kamarku dan menangis.
Ibuku mengandung empat kali, dia keguguran 2 kali dan dua duanya kembar. Aku kadang berpikir, membayangkan bahwa ada 'kakak laki laki' yang seharusnya ada disampingku saat ini. Tapi aku juga berpikir, apa kakak ku akan merasakan hal yang sama sepertiku ketika dia ada disini? Aku yakin kau selama ini ada disampingku, mengawasiku, hanya saja, tak terlihat.
Apa kau tau apa yang ingin aku lakukan sekarang?
Aku ingin menangis sekarang. Membayangkan bagaimana diriku ini. Aku ingin bercerita pada seseorang, tapi siapa? Teman? Aku punya. Tapi, aku meresa sedikit aneh(?) entahlah itu tidak bisa dijelaskan.
Aku biasa begadang, bisa sampai pagi mungkin. Seperti kemarin, aku begadang mengerjakan tugas untuk dikumpulkan esoknya. Aku mulai memejamkan mata pukul empat dan bangun pukul enam.
Kenapa? Itu semua karena tugas ku yang menumpuk. Bahkan, orang tuaku tak pernah mengawasiku saat belajar. Jujur aku iri pada mereka yang selalu dibantu saat mengerjakan tugasnya. Tapi, aku biasa sendiri, ketika ibuku menemaniku, aku akan meresa sedikit risih. Entahlah, ketika seseorang masuk ke kamarku, aku merasa risih, itu juga berlaku untuk orang rumah.
Oke, kita akan beralih ke dunia pendidikanku.
Sudah ku muatkan diatas, aku duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama. Aku buruk dalam belajar. Asal kau tau, aku sering kali mencontek. Ketika pagi hari, aku sengaja berangkat lebih awal untuk menyalin tugas temanku.
Tapi jangan lupakan bahwa aku anggota kepengurusan organisasi intra sekolah, OSIS.
Entah setan apa yang merasuki ku saat itu, aku berpikir untuk masuk OSIS. "OSIS kok terlambat", "OSIS kok kukunya panjang", dan lain sebagainya. Aku tau itu konsekuensinya, tapi aku tetaplah aku.
Menurut ku, aku orang yang cengeng, mudah sakit hati, dan menurutku juga, aku pandai menyembunyikan semua ini.
Aku cadel, aku sosok Kpopers. Apa kau tau? aku mendapat bullyan dari semua itu.
Hari itu, aku pertama kali dibully karena 'cadel'. Mungkin bukan pertama kali, tapi itulah kejadian yang benar benar menyakitiku dan membekas.
Teman lelaki ku mengejekku. Mungkin kalian tidak pernah merasakannya. Tapi itu sakit. Aku hanya diam dan fokus dengan tugas didepan mataku. Tapi telingaku fokus pada apa yang diucapkan temanku itu. Sungguh! aku ingin menangis saat itu juga! Tapi aku berusaha acuh.
Apa kita bisa lanjut ke topik selanjutnya?
Sekali lagi, aku tadi mencantumkan bahwa akh seseorang yang menyukai 'KPop'.
Menurut mu, apa yang salah dari kata 'KPop'?
Aku yakin, pasti tidak ada kan?
Tapi itu berbeda dimata teman teman sekelasku, ah tidak semua. Dimata mereka, kami, 'KPopers' seperti memiliki banyak dosa besar terhadap mereka. 'Korea teros! dosa tau!', 'Eh jangan liar Korea, nanti kena virus lho', 'Alah apaan Korea! oplas semua! plastik dasar!' Sakit, iya. Aku tau, dia baik padaku, tapi mengingat aku seorang pengagum KPop, dia menjelek jelekan ku.
Mungkin cukip untuk dunia sekolahku?
Apa kita bisa kembali ke rumah?
Aku terkadang kecewa terhadap orang tuaku sendiri. Mereka bahkan melupakan kapan aku berangkat sekolah. Aku hanya masuk dua hari salam seminggu. Itu hari Rabu dan Kamis. Mereka bahkan lupa. Siapa yang tidak sakit hati dengan itu?
Ketika aku masih kelas 1 SD, ibukku selalu menata buku ku setiap malam. Namun saat aku kelas 2 SD, aku bertanya kenapa dia tidak menatakan jadwal untuk ku lagi. Katanya aku sudah besar harus bisa nata sendiri. Sedangkan sekarang? adikku bahkan sudah kelas 3, namun, kau tau kan?
Aku juga pernah, ketika masih kecil, aku harus pulang bermain sebelum pukul 5 sore. Atau bisa bisa aku dikunci diluar. Namun itu berbanding terbalik dengan adikku. Dia bahkan main sampai pukul 8 malam, bahkan kalau tidak dipanggil pulang, dia takkan pulang.
Berebut makanan, mungkin itu hal yang sepele. Tapi bagiku, itu bisa membuatku menangis. Aku menyiman makanan dari hadiah ulang tahun ku. Aku menyimpannya didalam lemari. Hei, kau tau, aku bahkan tidak pernah jajan ke warung dirumah. Tapi adikku selalu mengambilnya. Ketika pulang sekolah, aku membuka dan jajanan itu berkurang, siapa yang tidak marah sih?
Ayahku akan menjadi penengah saat itu. 'Nanti ayah beliin lagi' tapi nyatanya? sampai sekarang pun tidak. Adikku bahkan bisa menghabiskan dua puluh ribu dalam satu hari. Sedangkan aku? hanya diberi sepuluh ribu sehari, itu pun ketika sekolah.
Mungkin, itu ketidakadilan yang sangat sepele bagimu. Tapi tidak bagiku. Setiap orang memiliki mental yang berbeda. Jangan samakan mentalmu pada yang lain. Mental mu mungkin kuat, tapi tidak untuk orang lain.
Apa kau tau? Aku senang, sedikit lega, selama ini aku hanya bercerita pada 'biasku' saja, tapi sekarang aku bisa bercerita pada kalian. Untuk kalian anal pertama seperti ku, aku harap kalian lebih kuat dariku. Untuk kalian yang memiliki sosok kakak, jagalah dia, aku juga sering bertengkar, setelahnya aku akan menangis, entahlah, entah karena kasihan, atau, perasaan ini sungguh sangat sulit dijelaskan. Aku berharap, jangan sakiti kakakmu itu. Aku yakin dia sudah berusaha menjadi yang terbaik. Jika kau tidak pernah melihat kakakmu menangis, itu artinya dia hebat.
Kadang aku berharap, orang tuaku dan adikku akan melihat dan membaca ini. Haha, aku bahkan tidak berani mengungkapkan apa keinginanku, bagaimana adikku bisa dengan mudah mengatakannya. Aku selalu berfikir berulang kali jika akan mengatakan sesuatu, membayangkan apa yang akan dijawab mereka nanti. Bahkan seringkali aku mengurungkan niatki untuk berbicara dan memilih diam.
Apa mereka tau mengapa aku selalu senang dengan hp ku? Apa mereka tau mengapa aku seperti ketergantungan dengan hp? Apa mereka tau apa alasan aku selalu mematikan lampu dan mengunci pintu dimalam hari?
Ketika aku selesai menangis, aku akan bersin berulang kali. Untungnya orang tuaku menganggap bahwa aku akan pilek, jadi aku tak perlu takut ketahuan bahwa aku menangis, haha.
Apa kau membaca sampai akhir? kuucapkan terimakasih. Tunggu dulu. Apakah aku salah dengan sikap ku yang seperti ini? Apa tak apa? Huh, aku lelah. Ini berat untukku. Tapi aku selalu yakin 'Bahwa Tuhan tidak pernah memberi cobaan yang melebihi batas kemampuan umatnya'.
Kai berkata "Jika kamu punya keluhan menceritakan keluhanmu terhadap Baekhyun, Baekhyun punya lebih banyak dibandingkan kamu" dari situ aku berpikir. Bagaimana aku bisa kalah dengan Baekhyun, padahal masalahku hanya masalah sepele, sedangkan Baekhyun mungkin memiliki banyak masalah dariku. Aku bahkan jarang melihatnya menangis.
Taemin berkata "Bagi Bakehyun yang lebih penting adalah membuat kami tertawa"
Kadang aku berpikir, bahwa menjadi sosok Baekhyun itu menyenangkan, tapi aku juga memikirkan sisi lainnya, bahwa dia menutupi masalahnya dan mementingkan membuat disekitarnya tertawa.
Aku hanya ingin kembali ke masa dimana aku masih mendapatkan kasih sayang orang tuaku tanpa dibagi. Andai aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi anak tunggal saja, mungkin itu lebih baik.
Makasih, ❤️