“Rumput tetangga itu lebih hijau”
Pepatah yang sering kali terkunyah saat dirasa butuh pembelaan atas suatu salah. Yang artinya membenarkan hal yang sudah jelas salahnya.
Kata orang jawa ada tembungnya juga, “Urip kui sawang sinawang”. Mengartikan bahwa hidup itu saling melihat. Dalam arti luasnya, kita memandang hidup orang lain selalu nikmat ketimbang hidup kita sendiri. Merasa bahwa keseharian orang lain lebih ringan dan indah ketimbang hari-hari diri sendiri.
Pengartian yang memaknai akan penglihatan. Padahal, belum tentu juga, orang yang di cap kehidupannya sebagai Sultan mulus seperti air liur yang menetes pada dedaunan.
Pada era yang canggihnya luar biasa ini, hati nurani tak lagi bisa kita jadikan pedoman untuk penilaian, apalagi nilai hidup, kehidupan orang lain.
@@@@@@@@@@@
Keluarga cemara adalah sebuah keluarga sederhana, namun penuh riuh keriangan. Sederhana menurut penglihatan, rumah sederhana. Tak kecil, jua tak besar. Hal yang paling terlihat untuk mengungkap argumen orang tentunya.
Terbentuk dari keluarga kecil, terdiri dari sepasang suami-istri dan dua pasang buah hati mereka. Sang kepala keluarga bekerja sebagai freelancer, nama kerennya adalah kuli bangunan. Dengan pendapatan dibawah seratus ribu per harinya.
Masuk dalam kategori sederhana untuk kehidupan di kota metropolitan, Jakarta. Meski dari kehidupan pengantin baru hingga beranak dua, keluarga cemara selalu berkecukupan. Dalam kesederhanaan pun, mereka tak sampai berhutang pada orang untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Dalam kesederhanaan juga membangun pola pikir keluarga cemara untuk tak neko-neko. Alfi, sang kepala keluarga, tak pernah ia mengambil sejumput dari gaji hariannya untuk sepucuk kesegaran hasrat. Bahkan merokok pun tak ia lakukan.
Agni, si istri, juga tak pernah menyalahgunakan uang yang saban hari diterimanya. Barang untuk kebutuhan mempercantik diri. Walau, dulunya ia dari keluarga mapan yang selalu tercukupi tanpa menadah tangan. Ia memahami arti status seorang istri. Tak pernah ia mengeluh kepada orang tuanya akan kesederhanaan yang ia lakoni kini.
Kedua anak mereka, Abyad dan Shahr, yang sejak dini sudah di sesapi kesederhanaan dalam segala hal. Mereka paham betul saat hal yang mereka inginkan, namun tak diperbolehkan miliki oleh Umma mereka.
@@@@@@@@@@@@
Sepasang suami-istri yang tinggal sejajar dengan rumah keluarga cemara, biasa disebut dengan keluarga Brasmana. Keluarga elit yang hartanya melimpah ruah. Bisa jadi tak habis dengan dimakan tujuh turunan mereka. Jika keluarga mereka mendapat keturunan.
Raqa adalah penerus perusahaan Bisnis Brasmana, merupakan pengusaha muda yang sukses. Di umurnya yang menginjak dua puluh lima tahun, ia mempersunting anak dari rekan bisnis sang Papa, Reeya.
Lima tahun usia pernikahan keduanya, namun Tuhan belum lagi memberi mereka kepercayaan untuk seorang penerus hadir dalam keluarga kecil mereka. Reeya bukan seorang wanita karir, namun kehadirannya di rumah mewah mereka sangat minim terpantau mata. Ia menghabiskan waktu dengan berkumpul dengan para sosialita seusianya.
Pada umur dua tahun pernikahan Raqa dan Reeya sempat diliputi tangis kehilangan. Pasalnya, Reeya yang tak mengerti jika sedang mengandung tiba-tiba mengalami keguguran. Dan hingga kini, sosok janin itu belum lagi muncul kembali dalam lingkaran keluarga mereka.
@@@@@@@@@@@@@
Suatu sore, seperti biasanya, Alfi menuju perjalanan pulang seusai bekerja. Tak sengaja ia berpapasan dengan Reeya yang juga baru pulang dari aktivitas sosialitanya. Bertetangga selama tujuh tahun, membuat Reeya terbiasa bertegur sapa dengan para tetangga.
“Baru pulang Pak Alfi?!” Reeya menegur Alfi yang berjalan sambil menunduk melihati isi kantung kresek bawaannya.
“Eh, iya Bu Reeya... Mari bu, saya duluan!” sahut singkat Alfi
Alfi memang tak pernah mampir atau mengobrol lama jika dengan tetangga perempuannya. Ia selalu menjawab singkat dengan senyum ramahnya ketika tegur sapa.
CANTIK!! Dalam batin Alfi. Sosok Reeya memang sangat menggoda mata, terkadang iman, kaum Adam. Bagaimana tidak, Reeya terlihat seperti peri yang dikerumuni cahaya, menyilaukan. Dan Alfi bergegas mendorong laju langkah kakinya lebih cepat. Sebelum pikirannya mengandai hal yang mustahil dan seharusnya tidak sama sekali boleh terlintas.
“Jika saja Mas Raqa tiap hari tak pulang larut seperti Pak Alfi...” Reeya membuka pagar pintu rumahnya dan segera masuk usai membatin.
**********
******
Pukul tujuh malam, Raqa memarkirkan mobilnya di dekat trotoar rumah Keluarga Cemara. Sengaja ia ingin memberi kejutan kepada istrinya, Reeya, karena pulang agak sore. Berdasarkan waktu menurut keluarga Brasmana. Raqa mengirim pesan kepada sang istri untuk segera keluar rumah dengan menggunakan pakaian serta riasan terbaik.
CHAT ROOM
Suayank : Sayang, kamu cepet pakai gaun buat dinner yang paling bagus. 15mnt harus udah keluar rumah, okee!! Ga pakek tanya ya sayang!!!
Isyank : Oke, Baby... WAIT ya!!
Sementara menunggu didalam mobil, Raqa tak sengaja mendengar suara gaduh tawa dari rumah keluarga Cemara. Dadanya terhanyut mendengar suara tawa lepas anak-anak keluarga Cemara. “Seandainya Reeya seperti Bu Agni, yang penurut dan banyak diam dirumah, mungkin saja aku juga bisa bersenda gurau dengan anak-anakku. Arrghhh...”. Tak lama kemudian, Reeya mengetuk kaca pintu mobil dan membangunkan Raqa dari perandaian nya.
@@@@@@@@@@@@
Suatu hari, Agni pun pernah berandai hal yang sering orang lakukan. Seandainya dulu Bisnis keluarga Alfi tidak mengalami kebangkrutan, pasti kehidupan mereka tak akan penuh tekanan seperti ini.
Namun, apapun perandaian yang dibuat masing-masing orang. Bukankah Tuhan sudah mengatur porsi kehidupan manusia. Ada yang bergelimang harta, tapi kesanggupannya mendapatkan keturunan dengan cara mengadopsi. Ada mereka yang kaya akan keturunan, namun tiap harinya mereka bersusah payah hanya sekedar memenuhi kenyang nya lambung.
Kita tak dituntut untuk menyererah pada takdir. Saat usaha keras kita yang sungguh-sungguh dilakukan, bukan tak mungkin Tuhan akan membuka jalan hal yang tadinya dalam perandaian. Kita bisa membuktikan, bahwa kita bisa menjadi manusia yang dapat mencapai keinginan dengan usaha, semangat, serta doa.
TAMAT