Bagi seorang yang telah mampu mempelajari dengan baik tahapan ilmu agama dan perilaku alami manusia Elang selalu menyadari kekurang tiap tindakan orang-orang di sekelilingnya. Ia ingin mempelajarinya dan membuat simulasi sendiri bila mana suatu saat akan jadi pengalaman langsung baginya. Maka dari itu setelah melihat kesalahan orang lain Elang akan berpikir harus seperti apakah tindakan terbaiknya, yang semestinya?
Melihat, memahami dengan pengetahuan lalu mendapatkan jawabannya.
Atas dasar keinginan untuk menjadi lebih baik lagi. Semua rintangan dan pemahaman menuntunnya ke jalan yang lebih serius.
Cinta tidak hanya tentang memuaskan hasrat.
Cinta yang sesungguhnya bila mana mampu membawa keduanya menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.
Ujian tengah semster dimulai. Selama seminggu lebih mereka para pelajar berjuang semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai terbaik. Mereka memiliki tujuan masing-masing yang ingin mereka raih. Contohnya Kirana. Apabila ia mampu mendapatkan nilai tinggi dan masuk 10 besar ponsel dan semangat untuk sang pacar akan ia dapatkan. Sekali dayung dua pulau terlewati. Kirana sangat bersungguh-sungguh. Namun dalam seminggu UTS ini mereka jarang bertemu dan hanya menyapa salam saja.
Kisah cinta yang tertunda?
Tidak Ferguso, malah disaat keduanya berkembang dan mencapai hasil masing-masing itulah buah cinta yang sebenarnya. Dimana keduanya tidak terhambat oleh perasaan semata dan masih bisa menjalani kehidupan yang nyata. Alih-alih mereka telah menghindari bagian dari kebosanan dalam berpasangan.
Kekuatan cinta terkadang bisa pudar oleh masalah. Karena mencintai adalah tentang pandangan hati tentangnya.
Ujian telah berlalu.
Kebersamaan yang sempat tertunda cukup lama kini telah terbayar oleh usaha mereka masing-masing.
Elang sudah meneguhkan hatinya dan akan membicarakan masalahnya pada Kirana untuk mendapatkan kepastian.
Sementara Kirana telah meraih nilai tinggi, menduduki peringkat ke 2 di kelasnya.
Minggu pagi, sebelum matahari terbit. Kirana dan Elang pergi ke taman kota. Mereka jalan berdua dan bersiap mendengarkan cerita satu sama lain.
Embun sedikit tebal membuat temperatur udara dingin. Cahaya lampu-lampu di taman dihinggapi oleh serangga-serangga untuk menghangatkan diri. Di tengah kesunyian dan dingin yang cukup menusuk tulang sepasang kekasih melangkahkan kaki mereka yang entah tujuannya mau ke mana.
Kirana mengambil kesempatan pertamanya. Ia raih lengan Elang dan menahannya. Elang berhenti. Mereka pun saling menatap lama.
Sedikit keraguan dan keberanian. Kirana meloloskan dirinya dan berkata apa adanya. Apa yang ia rasakan kini untuk mengobati kerinduan yang menyakitkan dada. Walau sang pujaan sudah ada di hadapan namun hatinya menginginkan sesuatu yang biasanya pasangan dapatkan.
"Kiss me." Ucap Kirana.
Detak jantung yang mulai tak karuan. Pipi terasa hangat memandang wajahnya. Separuh bawah bibir Kirana gigit dengan pelan. Jemari-jemari tangan bergerak sendirinya agar menghilangkan kegelisahan.
Elang menatap santai dan mencerna baik-baik dari sudut pandang kekasihnya.
Bagi Kirana dan Elang saat ini adalah kesempatan sangat bagus yang sayang untuk dilewatkan. Ciuman pertama dan terakhir untuk pasangan yang tepat. Kirana sendiri menawarkannya untuk Elang.
Tetapi Elang mampu menyadari keinginan Kirana yang sebetulnya masih belum bisa melupakan traumanya. Dengan cara ciuman oleh pujaan hati yang kebetulan lebih dewasa darinya mungkin saja mampu menyembuhkan sebagian dari traumanya. Sebab tawaran Kirana yang sedikit memaksa semakin membuat Elang enggan melakukannya. Walau nafsunya setuju dan mencari celah untuk menggoyahkan keyakinan. Tetapi sejak awal Elang berniat berduaan dengan Kirana adalah ingin meluruskan masalah mereka berdua. Bukan memuaskan nafsu lalu menambah dosa pacaran.
"Kamu pernah dengar, katanya kalo bermaksiat di taman sini bakalan di datangi jin seram." Elang mencairkan suasana.
Kirana merespon dengan ekspresi yang berbeda. Bukannya takut tetapi malah marah dan kecewa karena ia sudah ancang-ancang ingin melakukannya dengan Elang.
"Mukamu lucu banget tadi mau minta cium haha! seharusnya aku foto aja buat wallpaper ponsel haha!" terbahak-bahak Elang menertawakan tingkah Kirana.
Tapi Kirana juga tahu sendiri bahwa Elang takkan mungkin mau melakukannya. Kirana tersenyum dan lanjut melangkah.
"Kamu sedikit berubah." Ungkap Elang.
Mereka kembali ke tempat dimana keputusan awal yang seharusnya mereka jalin selama ini. Di taman kota ini, di bangku yang mereka duduki untuk istirahat. Ingatan mereka mulai bermunculan.
Ingatan mereka muncul ketika Elang diinterogasi oleh ibunya Kirana.
Ingatan ketika mereka saling membalas pelukan untuk menyelesaikan kesalahpahaman.
Ingatan mereka. Elang yang ingin serius membimbing dan Kirana yang menjadi seperti adik perempuan Elang. Satunya dewasa dan satunya kekanakan. Kemudian ingatan mereka lomba lari siapa yang paling cepat ke tempat parkir. Kirana yang kalah harus berhijab bila pertemuan mereka terulang lagi. Tapi Kirana tidak melakukannya.
Bukan karena lupa dan menentang keinginan Elang. Tetapi menginginkan kepastian dari sikap Elang.
"Ka, apa kaka ingat jika kita bertemu lagi aku harus berhijab karena keinginan darimu?" tanya Kirana.
Elang melupakan keinginannya itu karena ia sendiri tak memaksa dan hanya bercanda gurau saja. Tapi pertanyaan Kirana sangat tepat untuk memulai permasalahan rumit mereka.
"Saat itu aku tak berniat untuk memaksamu. Aku hanya ingin membuatmu senang saja." Balasan Elang sedikit membuat sedih Kirana.
Kirana bertanya pada Elang karena ingin tahu apakah perempuan yang berhijab merupakan salah satu tipe perempuan yang Elang suka.
"Mungkin pertanyaanmu yang tepat adalah apakah aku ingin kamu seperti yang aku harapkan? benarkan?" tanya Elang.
Pertama kalinya Elang tak acuh karena Kirana berbuat salah sejak itulah keyakinan Kirana mulai goyah pada Elang.
Jika makin berlarut pertanyaan yang akan muncul dalam benak mereka adalah ...
Buat apa kita pacaran?
...