Setelah 100 tahun menepi.
Akhirnya kami kembali ke Wellington.
"Apa kamu semangat,Naomi?
Kita akan ke rumah keluarga Ayah."
sapa Rasmuss ke putrinya yang berdasarkan usia Vampir.Naomi berumur 100 Tahun.
Namun penampilan Naomi seperti anak 10 Tahun.
"Aku senang sekali,Ayah.Akhirnya aku akan bertemu Kakek dan Nenek.
Juga Paman Gemke.
Aku tidak sabar!"
ucap Naomi semangat.
Rambut hitam lurus sebahunya terurai manis di jepit jepitan strawberri di atas telinga kanannya.
Rasmuss mendorong troli menuju keluar bandara.
Tiba-tiba Naomi berhenti tersandung sesuatu.
"Ada apa Naomi?"
Naomi mengangkat benda yang membuatnya tersandung.
Sebuah dompet wanita dewasa.
Naomi membuka dompet lipat itu.
Matanya terkejut kaget lalu mengambil dompetnya sendiri dari tas kecil di sisi pinggangnya.
Menyejajarkan dompet yang baru ditemukannya dengan dompetnya.
"A...Ayah...Ini.."
Naomi menyerahkan dompet yang baru ditemukannya ke Ayahnya.
"Ada apa Naomi?"
Rasmuss mengambil dompet yang ditemukan Naomi.
Matanya membulat kaget dengan Poto di selipan dompet.
"Na.. Naomi.."
"Bu..Bunda..." suara parau Naomi.
Rasmuss menggeleng tegas.
"Tidak Naomi!
Bunda sudah meninggal 100 tahun yang lalu."
Rasmuss mengangguk-angguk sendiri mengingatkan dirinya bahwa istrinya sudah meninggal 100 Tahun lalu.
"Ah..leganya..Akhirnya aku bisa menemukannya."
Suara seorang wanita dari belakang Rasmuss.
Naomi menutup mulutnya.
Rasmuss membalikkan tubuhnya.
"Maaf.Merepotkan kalian.Tapi..itu adalah dompetku.
Terima kasih kalian menyimpannya."
Wanita itu mengelus dadanya lega.
"Oh..ya..Ini..Dompet Anda."
Rasmuss menyerahkan dompet ditangannya.
"Terima kasih.Halo cantik.." Wanita itu lambaikan tangan menyapa Naomi.
"Siapa namamu?"
"A..Aku Naomi."
Wanita itu mengerjapkan matanya.
"Woah ..Suatu kebetulan sekali.
Namaku juga Naomi.
Jadi..Naomi..."
Naomi dewasa menoleh ke Rasmuss.
"Petersen.Namanya Naomi Rasmuss Pettersen."
Rasmuss menjawab.
"Jadi..Naomi Pettersen.
Perkenalkan.Aku Naomi Smith."
Naomi Smith mengulurkan tangannya ke Naomi Pettersen.
Naomi menerima tangan Naomi Smith.
Tersenyum dan...terharu..
Tidak lama kemudian.
Rasmuss menarik tangan Naominya.
"Maaf.Kami buru-buru.
Ayo Naomi.Kita sudah ditunggu Paman Gemke."
Naomi mengikuti Rasmuss keluar bandara.
"Ayah!Kenapa?Aku ingin bicara lebih banyak dengan.."
"Naomi!Dia bukan Bunda!
Sudah cukup bermimpi!"
Rasmuss tegas berkata.
"Hey..Rasmuss !Naomi! disini!" suara adik laki laki Rasmuss dari jauh melambaikan tangan memanggil Rasmuss dan Naomi.
"Naomi!Ahh... Kamu sudah tiba!"
Suara pria dari sebelah Rasmuss membuat Rasmuss menoleh.
"Ah..Pria itu pasti kekasih Naomi Smith tadi.
Sudahlah.Aku tidak peduli!"
Rasmuss bicara sambil lalu.
Tapi tidak dengan hati dan otaknya.
Naomi Smith sangat mirip dengan Istrinya.
Ya..Naomi Smith sama persis seperti Naomi Watson yang adalah Bunda Naomi Smith.
Rasmuss mengetuk kepalanya.
(Tidak!Itu Naomi Smith.Sadarlah Rasmuss!)
---------
Wellington masih sama seperti 100 Tahun lalu.
Bedanya.
Kini Rasmuss datang bersama Naomi anaknya.
Dia pergi dari Wellington setelah kematian Naomi.
Naomi dibunuh oleh Tim pembunuh dari Vampir Klan Timur.
Klan Timur sakit hati karena Rasmuss menolak lamaran Omega dari Klannya.
Rasmuss muda adalah Alpha ternama di Vampir Klan Barat.
Saat Naomi kecil lahir.
Vincent,Penyihir penjaga keluarga menyuruh Rasmuss untuk menyembunyikan Naomi kecil ke Vampir Klan Selatan karena masih berkerabat.
Setelah Rasmuss menitipkan Naomi kecil.
Rasmuss kembali ke Istana Klan Barat dan mendapati Istrinya sudah mati dicabik-cabik tubuhnya.
Naomi dewasa hanyalah manusia biasa yang tinggal di panti asuhan perbatasan Klan Barat dan Timur.
Saat Rasmuss tiba.
Naomi sudah kehilangan banyak darah.
Rasmuss mendekapnya dan Naomi hanya mengangkat tangannya lemah dan berkata pelan
"Aku mencintaimu selalu.Rasmuss.."
Ya..Setelah Naomi istrinya meninggal.
Rasmuss meninggalkan Wellington.
Menepi di Klan Selatan.
Memberi nama putrinya sama dengan nama istrinya karena baginya putrinya adalah pemberian terakhir dari istrinya.
Rasmuss menghela nafas dalam-dalam.
"Hallo Wellington.Aku kembali.
Berbaik hatilah kepada Anakku."
-------------
Naomi Smith menyiram tanaman seperti biasa.
"Aku begitu merindukan kalian mawar mawarku.."
sapa Naomi Smith kepada mawar mawar dihadapannya.
"Naomi! Apa kamu sudah makan?"
seorang pria baru tiba mendekati Naomi Smith.
"Aku bawakan untukmu sandwich dari Bibi."
"Terimakasih Johansen." Naomi Smith menyudahi menyiram.
Dia menghampiri Johansen.
Mengambil sepotong sandwich di meja.
"Katakan juga pada Bibi.
Terima kasihku!"
Johansen mengangguk.
Setelah menghabiskan sandwichnya.
Naomi memandang senja di danau depannya.
"Johansen.Apa aku boleh kesana?"
Naomi menunjuk ke sisi jalanan kayu tepi danau.
"Boleh.Kamu sudah dewasa lah!
Tentu saja boleh!
Kamu saja baru pulang dari tamasya ke Italia seminggu.
Tapi sepertinya tidak ada kenangan berarti disana.
Tetap saja kamu jiwanya disini?"
"Iya Johansen.
Wellington seperti memegang jiwaku.
Aku baru bisa keluar Wellington 2 Minggu yang lalu.
Karena Bibi Anne baru mengizinkannya.
Tapi..Aku rasa..Aku hanya ingin tinggal disini sampai mati."
Johansen mengambil sepotong ranting didekatnya.
Mengetuknya ke tangan Naomi.
"Tidak akan ada yang mati disini!
Jangan bicara sembarangan!"
Naomi hanya tersenyum kecil.
Dia disini sejak kecil.
Dia besar di panti asuhan di Wellington ini.
Tiba-tiba Naomi teringat pria yang bersama anaknya kemarin.
Naomi mengitari pandangannya.
"Hmmm katanya daerah sini penuh misteri.
Dapatkah aku berharap bertemu Naomi Pettersen dan Ayahnya?
Bukan berarti aku genit ya!
Aku hanya ingin mengenalnya."
Naomi bergumam pelan sendiri.
Johansen dibelakangnya tersenyum getir.
-------
"Ayah.Naomi mau main disekitar panti asuhan.
Apa boleh?"
Naomi berkata takut.
Rasmuss mengangguk.
"Biar nanti Ayah antar.
Ayah akan mengawasimu dari tepi danau."
Naomi tersenyum senang.
Akhirnya dia bisa bergaul dengan manusia biasa penghuni panti asuhan di perbatasan.
Mereka berdua tiba di sisi jalan perbatasan Klan Barat.
Anak-anak berlarian di pekarangan panti.
Rasmuss dan Naomi keluar dari mobil.
"Naomi.Kamu jangan jauh jauh dari pekarangan panti ini.
Ayah nanti akan kesini lagi sejam lagi."
Naomi mengangguk mengerti.
Langsung berlari bergabung dengan anak-anak panti berlarian.
Rasmuss berjalan menuju danau.
Menikmati senja.
"Hey.."
Rasmuss menoleh.
"Na..Naomi?"
"Ya ..Ini aku..hehe..Naomi Smith."
"Ehm..Maaf..Aku memang baru kembali kesini setelah ..beberapa tahun pergi."
"Ah..Kalau aku memang tinggal dan besar disini.
Di panti sana." Naomi menunjuk bangunan panti tidak jauh dari danau.
"Oh..ya..Anakku sedang bermain di sana.
Naomi tadi memintaku untuk berjalan-jalan dan mengajak kemari."
"Wah..Naomi kesini juga?
Aku akan menemuinya nanti.
Tapi..Bolehkah aku tanya..
Siapa nama Papa Naomi?"
Rasmuss mendeham keras .
"EHM..Aku...Saya...Rasmuss.Panggil saja Rasmuss.
Rasmuss Adam Pettersen.
Dan perlu saya jelaskan.
Saya hanya mencintai mendiang istri saya.
Jadi..ya.."
Naomi tertawa kini.
"Hey..Aku hanya tanya nama.
Bukan melamarmu!
Dan ya...Aku memang tidak bisa menggantikan istrimu.
Tapi...Kita bisa berteman kan?"
Naomi mengulurkan tangannya.
Rasmuss memandang tangan Naomi sejenak.
Akhirnya menerima uluran tangannya.
"Aku Rasmuss."
"Jadi. .Kita berteman?"
Rasmuss mengangguk.
"Ya ...Teman.."
Ting..Ting..Ting
Denting suara alarm ponsel Rasmuss berbunyi nyaring.
Rasmuss mengecek ponselnya.
"Ah..Maaf.Aku harus membawa Naomiku pulang.
Hari sudah mulai gelap."
Naomi Smith mengangguk mempersilahkan Rasmuss pergi.
Rasmuss menghampiri Naomi anaknya mengajaknya pulang.
Setelah pamit ke teman-temannya.
Naomi Pettersen memasuki mobil.
"Ayah.Terima kasih!Aku senang sekali hari ini!"
"Kamu senang? Baguslah!
Lain kali kita akan kesini lagi!"
ujar Rasmuss.
Mereka memasuki daerah perbatasan Klan Barat.
Namun perhatian Rasmuss terhenti melihat di sisi lain.
Rasmuss mencium bau...
Darah.
Rasmuss menghentikan mobilnya.
"Naomi Sayang.Kamu tetap di mobil!
Ayah akan keluar sebentar."
Naomi mengangguk.
Rasmuss keluar dari mobilnya.
Matanya langsung berubah merah beserta cakar di jarinya langsung menajam.
Rasmuss merubah diri menjadi sosok Vampir kini.
Menghampiri bau darah.
Ini masih wilayah perbatasan.
Rasmuss belum memasuki Daerah Klan Barat.
"Jangan!" gema suara pria dalam tertangkap telinga Rasmuss.
Rasmuss akhirnya menemukan sumber darah.
Tubuh Naomi Smith terkulai lemah di mulut manusia serigala.
"Letakkan dia!"
ujar pria pemilik suara dalam itu.
Pria itu memakai jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya.
Rasmuss menggeram hendak maju.
Pria berjubah itu menoleh menatap Rasmuss.
"Tidak Rasmuss!
Ini masih perbatasan.
Biar aku tangani ini."
Rasmuss mengangguk diam menahan dirinya untuk menolong.
Pria berjubah itu mengangkat tangannya.
Tidak lama kemudian.
Serigala itu melepas tubuh Naomi Smith.
Meninggalkannya dan menjauh pergi.
Pria berjubah itu menurunkan tudung kepala.
Menggoyang bahu Naomi.
"Naomi!Naomi!Maafkan aku!Aku tadi bertugas di perbatasan Timur.
Aku terlambat.Maaf!"
Rasmuss menghampiri pria itu.
"A..Apa yang terjadi pada Naomi?"
"Rasmuss.Aku Johansen.
Bisakah kamu membawa Naomi ke Tempat Vincent?
Aku harus mengatakan pada Bibi Anne penjaga panti kalau Naomi tidak pulang ke panti malam ini.
Bibi Anne begitu menyayangi Naomi."
Rasmuss mengangguk.
Mengangkat tubuh Naomi.
"Aku akan membawanya ke Vincent."
"Baiklah.Kita akan bertemu disana!"
ujar Johansen.
Rasmuss membawa Naomi ke mobilnya.
Naomi Pettersen kaget melihat Naomi berlumur darah.
"A..Ayah...Ini Tante.."
"Naomi Sayang.Kita akan ke tempat Paman Vincent!"
------
Rasmuss langsung memasuki mansion Vincent.
Meletakkan Naomi Smith di sofa.
Vincent terlihat menuruni tangga.
"Rasmuss . Tenanglah."
Rasmuss memandang Vincent tidak percaya.
"Di depanku ada wanita sekarat.
Bagaimana aku bisa tenang?
Bagaimana kamu bisa tenang?"
Vincent memejamkan matanya.
"Biar aku panggil dulu mereka."
Rasmuss dan Naomi Pettersen memperhatikan Vincent seksama.
Beberapa menit kemudian.
Beberapa orang berjubah datang.
Rasmuss melihat mereka.
"Gemke? Johansen?Kalian saling mengenal?"
Vincent mengangguk.
"Gemke kutugaskan menjaga Naomi Pettersen.
Dan Johansen kutugaskan menjaga Naomi Smith."
"Jadi...Apa maksud semua ini?"
Vincent menatap Rasmuss.
"Pada malam Naomi Watson mati.
Aku katakan padamu ada kemungkinan reinkarnasi.
Tapi bisa jadi 1000 tahun ke depan baru terjadi.
Tapi ternyata.
Itu lebih cepat dari dugaanku."
Rasmuss memandang Vincent tidak percaya.
"Jadi Naomi Smith adalah reinkarnasi Naomi Watson?"
"Ada 1 lagi.
Naomi Smith lahir dari keluarga Vampir Klan Timur.
Omega yang dijodohkan untukmu.
Hamil dan melahirkan seorang putri.
Omega itu malu karena ayah putrinya hanyalah seorang pengawal.
Dia memberikan putrinya ke panti asuhan di perbatasan.
Kami awalnya tidak tahu putri ini adalah reinkarnasi istrimu.
Namun setelah berusia 10 Tahun.
Kami mencium bau keabadian vampir darinya.
Dan dia mendapat mimpi kehidupan sebelumnya.
Dia menyebut namamu di mimpi.
Akhirnya aku menugaskan Johansen untuk mengontrol pertumbuhannya agar seperti manusia normal.
Dan ingatannya.Agar dia lupa pada kehidupan sebelumnya."
Rasmuss masih terkejut berusaha mengendalikan diri.
"Lalu...Bagaimana ini?
Dia baru saja digigit manusia serigala!
Apa yang harus kita lakukan?"
Vincent berkata tegas.
"Bangkitkan jiwa Vampir dia!"
Naomi Pettersen mendekati tubuh Naomi Smith.
Pandangannya rindu.
Seumur hidup baru melihat wujud Ibunya.
Naomi Pettersen mengelus tangan Naomi Smith.
"Bunda..."ujarnya pelan.
"Ayah..Bangunkan Bunda!"
Rasmuss mendekati Naomi Smith.
Menatap yakin memerintahkan Vincent.
"Vincent!Aku perintahkan kamu untuk membangkitkan jiwa Vampir Naomi Smith!"
Vincent memandu Gemke dan Johansen untuk mendekat.
Mengitari Naomi Smith.
Mengucapkan mantra.
Cahaya Hijau bersinar terang.
Terdengar suara nafas Naomi Smith tertarik dalam-dalam.
Matanya terbuka lebar.
"Rasmuss!!" panggilnya.
------------Selesai--------