Wanita cantik yang menyelamatkanku ternyata mahkluk mitologi yunani yang sangat haus darah.
•○•○•○•
Malam itu kembali tiba. Sudah saatnya bagi Sojun untuk berpatroli di perbatasan desa. Kali ini dia ditugaskan berjaga di perbatasan bagian timur, berhadapan langsung dengan hutan lebat yang adalah sumber penghasilan warga Desa Berkabut.
Harusnya malam ini ada dua orang yang berpatroli disana. Tapi Sojun terpaksa ikhlas pergi sendirian, karena temannya—Jouha—sedang sakit.
Sudah dua jam dia berpatroli, tapi tidak ada apa-apa disana kecuali kabut dan suara binatang nokturnal. Pedang yang disarungkan di pinggangnya tampak seperti hiasan, karena sejauh ini belum digunakan. Sojun tahu, patroli malam ini akan menjadi sangat membosankan.
SSRRKK ... SRRKK ... SSSRRKK ....
Dia terkesiap, menoleh cepat ke semak-semak yang ada di arah kiri. Semak-semak itu bergetar, bergesekan satu sama lain. Adrenalinnya langsung berpacu, takut dikagetkan oleh sesuatu yang tidak ingin dia temui. Perlahan tapi pasti, Sojun mendekati tumbuhan itu.
Ketika Sojun sampai disana, suara gesekan rumput terdengar dari arah yang berlawanan. Namun kali ini, mulai mengarah ke dalam hutan. Seolah dihipnotis, kakinya terus melangkah ke dalam hutan. Melupakan tanggung jawab untuk mengawasi perbatasan timur.
Tiba-tiba .... RHHAAUURRR! Seekor macan raksasa melompat dari arah kanan, hendak mencengkram tubuh Sojun yang kalah sanding. Akhirnya pedang yang selama ini dia asah di pagi hari bisa berguna. Namun, tenaga Sojun tidak cukup.
Macan itu terlalu besar dan agresif. Dia berlari sekuat tenaga menghindari semua serangan binatang buas itu. Namun, tidak cukup untuk membuatnya lolos. Satu demi satu cakar tajamnya menancap di kulit Sojun. Permukaan tanah mulai berlumuran darah. Dia berusaha berteriak, tapi rasa sakit mencekik lehernya kuat-kuat.
Ia terjatuh, dengan cepat ditindih oleh si macan. Pedangnya terlempar ntah kemana, membuat Sojun semakin panik. Cakar besar terangkat di udara, macan itu siap mengakhiri pertarungan mereka. Sojun menutup mata, kelelehan bertahan hidup. Percuma saja, dia sudah siap menemui ajalnya.
Ntah apa yang terjadi, yang pasti dia bisa mendengar macan itu tiba-tiba mengaum kesakitan. Tubuhnya tidak lagi ditindih, ia sedikit lega sekarang. Sojun tidak punya tenaga untuk bersuara, apalagi membuka mata.
Kira-kira beberapa jam sudah berlalu. Sojun benar-benar tidak sadarkan diri setelah macan tadi menjauhi dirinya. Kini ketika dia membuka mata, seorang wanita yang sangat cantik berjongkok di sebelah tubuhnya.
Dia melompat duduk, secepat kilat mengambil posisi siaga. Wanita itu terpaku bisu, memperhatikan Sojun yang terlihat panik. Karena tidak mendapatkan respon yang diharap, Sojun seketika teringat sesuatu. Kenapa dia tidak kesakitan lagi?
"Maaf membuatmu terkejut. Aku Xeira Empusa, baru saja menyelamatkanmu dari macan yang besar. Aku juga sudah mengobati luka-lukamu dengan obat rahasia dari keluargaku, obat itu yang membuatmu sembuh dengan cepat. Kau sudah berhutang budi, kau mau menjadi temanku, kan?" jelas Xeira menggebu-gebu.
Dahi Sojun mengerut, bingung mendengar kalimat barusan. Ia memperhatikan Xeira lamat-lamat. Gaun hitam indah, rambut hitam panjang, mata hitam penuh harap, bahkan bibirnya ikut dipoles dengan lipstik berwarna hitam. Tapi, sejauh ini Sojun belum merasa terancam dengan kehadirannya.
Xeira ikut berdiri bersama Sojun. Pria itu mengedarkan pandangan, sedetik kemudian wajahnya berubah pucat. Siapa sangka? Ketika ingin menyelamatkan diri dari serangan macan buas, Sojun malah semakin masuk ke dalam hutan. Disana sangat gelap, belum lagi pepohonan lebat menghalangi cahaya dari langit.
"Tenang, aku sudah biasa disini. Kau mau ke perbatasan timur Desa Berkabut, kan? Biar kuantarkan," tawar Xeira seraya memimpin jalan. Sojun bertambah bingung, tapi tak mau ambil pusing. Yang terpenting sekarang adalah dia bisa pulang dengan selamat ke perbatasan timur.
Setelah cukup lama berjalan, dia tersenyum cerah saat melihat dinding perbatasan timur ada di depan mereka. "Terima kasih, kau sudah membantu banyak. Kau ingin aku jadi temanmu, kan? Baiklah." Sojun tersenyum manis, lalu hendak berjalan ke dalam perbatasan.
"Tunggu!" seru Xeira, kemudian menghampiri Sojun yang berhenti. Pria itu menoleh dengan wajah bertanya-tanya. "Berteman?" tanya Xeira sambil mengulurkan tangan. Sojun mengangguk cepat, lalu menjabat tangan mulus milik wanita itu.
DEG! Jantungnya berdetak cepat, darahnya berdesir hebat. Xeira tersenyum hangat, kemudian berjalan kembali ke dalam hutan. Sojun terpaku bengong di depan perbatasan timur. Satu jabatan tangan saja berhasil membuatnya jatuh cinta.
Sejak malam itu, Sojun merasa hidupnya berubah. Tidurnya selalu diisi oleh senyuman Xeira. Hampir setiap malam Sojun terbangun sambil meneriakkan nama wanita cantik itu. Ini membuatnya cukup frustrasi.
Dia ingin tahu siapa Xeira, dia ingin membongkar rahasia misterius dibalik senyuman wanita itu. Dan yang terpenting, dia ingin Xeira menjadi miliknya. Bisa dibilang, Sojun tergila-gila dalam pandangan pertama.
Bagaimanapun, dia harus bertemu Xeira sekali lagi!
Kemudian, tibalah giliran Sojun untuk kembali berjaga di perbatasan timur. Kali ini Jouha ikut bersamanya. Tanpa undangan dari semak-semak yang berbisik, Sojun dengan senang hati akan memasuki hutan. Dia hendak mencari Xeira, lalu berbincang panjang dengannya.
"Kau yakin ingin pergi, Sojun? Aku tidak mau ikut bersamamu!" rengek pria penakut bernama Jouha. Sojun menghela napas kasar. "Huh! Aku memang tidak akan mengajakmu! Sudahlah, kau berjaga saja disini. Anggap ini sebagai imbalan karena kau tidak ikut berjaga minggu lalu. Aku mau memeriksa lebih jauh dulu. Sampai jumpa, Jouha!" Sembari melambaikan tangan, Sojun berjalan memasuki hutan yang gelap.
Setelah cukup lama berkeliling hutan, Sojun berhasil menemukan wanita itu. Namun, dengan wajah yang berbeda. Wanita itu tersenyum, mengulurkan tangan kepada Sojun yang mematung karena kecantikannya.
"Hai, tampan! Apa kau tersesat? Aku Kimna Empusa." Pria itu refleks menegak saliva, karena suara Kimna benar-benar seksi dan lembut. "A-aku ... aku ... So-sojun ...." Dia menjabat tangan Kimna yang mulus dan sedikit bercahaya.
DEG! Jantungnya kembali berdebar aneh. Tanpa sadar Sojun menyeringai bodoh, lalu menuruti Kimna yang menariknya untuk berbaring di atas rumput. Pepohonan menghalangi keindahan langit, tapi tetap saja Sojun merasa senang. Karena yang paling indah sedang berbaring di sebelahnya.
Mereka hanya diam, hingga Sojun merasa matanya semakin berat.
"AAAHHHH!!!" Sojun berteriak histeris saat cakar tajam berwarna hitam nyaris menggorok lehernya. Dia lebih kaget lagi karena seseorang menyambar Kimna yang tadi sedang menindihnya. Sojun langsung duduk dalam kepanikan. Dia melihat Xeira sedang berhadapan dengan Kimna yang nyaris berhasil menghentikan detak jantungnya.
Kimna berubah total, tampak seperti seorang siluman. Sayap kelelawar menempel di punggung, mata bercahaya kuning terang, serta kuku panjang setajam silet. Dia berdiri, mendekati mereka yang waspada terhadap satu sama lain.
"Kalian ini sebenarnya apa?! Kau itu siluman, Kimna?!" Bodoh, di saat tegang begini Sojun malah bertanya. Xeira mendecakkan lidah, yakin betul Sojun sudah dihipnotis oleh Kimna.
Xeira mengibaskan tangan ke arah Sojun yang berdiri di belakangnya. Kemudian ... WOOSSHH! Angin bertiup kencang. Sukses membuat Sojun mundur dan menjauhi arena pertarungan. Melihat itu, Kimna tersenyum miring. "Kenapa, saudariku? Kau takut manusia kecil itu terluka? Atau kau memang tidak ingin aku makan dengan mudah?"
DEG! Sojun terkesiap. Bagaimana mungkin dia tidak sadar? Nama belakang mereka berdua ternyata sama!
"Diam, kau! Hutan ini adalah wilayahku, dan aku sudah bersumpah untuk melindunginya. Kenapa kau masih mencari makanan disini?!" hardik Xeira, refleks membuat matanya berpendar kuning. Senyuman Kimna seketika luntur, tidak menyukai kalimat sarkas itu.
"KAU ADALAH EMPUSA TERBURUK DI SELURUH DUNIA! MAHKLUK MITOLOGI APA YANG MELINDUNGI MANUSIA?! APA KAU TIDAK LELAH MEMBUKTIKAN BAHWA KITA BISA BERTEMAN DENGAN MAHKLUK RENDAHAN INI?! SADARLAH, XEIRA!" teriak Kimna, suaranya menggema hebat. Sojun khawatir warga desa akan bangun dan menyerbu hutan ini.
"Cuih! Diam, kau! KAU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENASIHATIKU!" balas Xeira dengan suara tak kalah besar. Angin bertiup kencang, mengelilingi Xeira yang sudah kehabisan kesabaran. Matanya kini bercahaya kuning sempurna. Sayap kelelawar besar tumbuh dari punggungnya, merusak gaun yang digunakan. Kuku-kuku Xeira seketika memanjang, terlihat persis seperti Kimna.
Pertarungan tidak lagi terelakkan. Mereka bertarung seperti dua binatang buas. Xeira mencakar tubuh Kimna, begitu pula sebaliknya. Kimna bahkan sempat terbang ke langit, hendak melancarkan serangan mematikan. Namun Xeira dengan gesit menghindar.
BRUKH! Wanita itu terkapar saat sayap Kimna yang sedang terbang menghembuskan meriam angin raksasa. Angin itu terus menghantamnya ke tanah, membuat Xeira sulit bergerak karena sayapnya terluka. Sojun terpaku dalam rasa sakit, hanya bisa bersembunyi di balik sebuah pohon besar.
WOOSSHHH! BRUK! Serangan terakhir baru saja dilancarkan Kimna, berupa sebuah batu besar yang terbuat dari angin. Xeira terbujur kaku, menutup matanya di dalam rasa sakit. Yang membuat Sojun khawatir adalah, perutnya tidak lagi bergerak naik turun.
Kimna mendarat, mendekati Sojun yang langsung terjatuh seperti orang bodoh. Dia tertawa remeh, memandang jijik kepada pria itu. "Kau manusia rendahan yang mencintai Empusa. Kau tidak tahu? Empusa selalu memakan manusia tampan yang lemah sepertimu. Untuk itulah aku datang ke sini," jelas Kimna dengan suara serak yang sangat seksi.
GREP! "AAAHHHH!!!" Dia berteriak panik tatkala sesuatu yang lebar mengikat kuat tubuh dan sayapnya. Secepat angin dia ditarik ke langit, kemudian langsung diseret jauh dari hutan itu. Sojun menoleh panik ke tempat Xeira, ternyata wanita cantik itu masih sanggup bertahan.
Tapi ....
Air matanya mengalir deras, tak sanggup melihat darah yang terus mengalir dari bibir cantik Xeira. Sojun berjongkok di sebelahnya, berusaha mencari cara agar Xeira merasa lebih baik. Belum lagi darah dari sayap yang tadi dipotong Xeira begitu saja, demi menjauhkan Kimna dari sana. Untung saja dia sempat belajar cara mengendalikan sayap yang dilepas dari tubuh.
Karena, hanya itu pengorbanan terakhir yang bisa dia lakukan.
"Uhuk!" lagi-lagi Xeira terbatuk, menumpahkan lebih banyak darah berwarna hitam. Sojun membantu wanita itu agar dapat berbaring di kakinya. Dia tersenyum haru, menatap wajah Sojun yang menutupi cahaya bulan.
"Apa kau ... mencintaiku?" lirih Xeira. Secepat kilat Sojun mengangguk, kagum karena disaat kritis pun wanita itu bisa membaca isi pikirannya. Dia tersenyum lalu berkata dengan suara serak, "Kalau begitu ... jadilah kekasihku." Sojun kembali mengangguk cepat. Air matanya mengalir begitu deras, membasahi wajah cantik Xeira yang sudah dipenuhi bercak hitam darah.
Ini adalah cinta pertama yang paling menyakitkan bagi mereka.
"Terima kasih ...." lirih Xeira lagi, kali ini tersenyum lebih lebar. "AKU MENCINTAIMU, XEIRA! Huhuu~" Sojun menangis sesenggukan, bahkan sampai terbatuk beberapa kali. Mendengar itu, Xeira menghela napas lelah. Dia tidak bisa berteriak sekeras itu saat ini.
"Baiklah .... Kalau begitu ... anggap ini sebagai ... uhuk! Kencan kita yang pertama ... dan ... haahh ... terakhir ...."
"XEIRAAAAA!!!"
•○•○•○•
Empusa adalah wanita cantik, anak dari dewi Hekate dan Mormo. Dia menghisap darah pria ketika mereka sedang tertidur. (Sumber: Wikipedia)
Terima kasih sudah membaca!;)