Di Sebuah Taman seorang gadis Terlihat sibuk bermain dengan Hewan Hewan Alam.
Hewan dengan berbagai Jenis Itu hampir memenuhi Isi Taman itu. Tetapi Hewan yang Paling mendominasi adalah Kucing.
"Hewan yang Manis. Ayo sini bermain. Kau Sangat Lucu." Ucap Censya Gemas.
Matahari Sebentar Lagi akan terbenam. Censya Mulai memasukkan Hewan Hewan nya ke dalam Kandang yang Ia telah Siapkan Sesuai jenis Masing Masing.
Censya Menepuk nepuk pakaian nya untuk menghilangkan debu juga kotoran yang menempel. Seperti nya ia Harus mandi.
Censya Berjalan meninggalkan taman, Ia ingin ke rumahnya.
Meongg .... Meong ....
Langkah Censya Terhenti.
Ia melihat sekelilingnya Mencoba mencari darimana asal Suara Hewan yang sangat di Sukainya.
Meong .... Meong ....
Sepertinya tidak jauh dari tempat Censya Berdiri Sekarang. Ia mencari Lebih teliti lagi Dan Ketemu!!!
Kucing Itu berada di Bawah pohon besar depan Rumahnya.
Censya membuka Pagar lalu keluar Menuju Kucing Itu. Censya Menyerngit ketika telah sampai di tempat kucing itu Berada.
Kenapa Kucing Ini berwarna Hitam?
Censya menggeleng tak mau memikirkan hal itu. Ia memperhatikan Kucing itu. Ternyata kucing ini terluka.
Saat Censya Hendak menggendong Kucing Hitam Itu, Entah kenapa kucing itu menolak. Censya mengelus pelan Kepala Kucing itu agar tenang.
"Hey, Tenang lah. Aku tak akan melukai mu." Ujar Censya dengan Senyum Manis di wajahnya.
Censya mencoba menggendong nya Lagi, Dan Kali ini Kucing Itu tak menolak seperti tadi.
Censya Memeluk gemas kucing Lucu ini. Ia berlari masuk tak lupa menutup pagar rumahnya Kembali lalu membawa kucing itu bersamanya.
Ceklek ....
Censya Masuk ke dalam Kamarnya. Ia mengambil Kotak obat yang biasa ia gunakan saat merawat hewan peliharaan nya yang terluka.
"Aku akan mengobati mu. Tangan mu terluka, Pasti rasanya sangat sakit." Ucap Censya.
Ia kemudian Mengobati kucing itu dengan Pelan takut kucing itu kesakitan.
Setelah selesai, Censya Membawa kucing itu menuju tempat tidurnya lalu menidurkannya.
"Kau istirahat dulu ya? Kau belum sembuh. Jadi jangan bergerak apalagi berjalan. Tangan mu terluka parah." Ucap Censya.
Mungkin banyak orang yang mengatakannya Bahwa ia adalah gadis yang aneh. Censya sendiri menganggap bahwa itu Hal yang wajar mengingat dirinya yang sangat suka berbicara dengan Hewan seakan akan hewan itu mengerti dengan ucapannya.
Tetapi Censya sendiri tak ingin memikirkan tanggapan tanggapan dari orang orang. Ia sendiri merasa terhibur dengan itu.
Censya memasuki kamar mandi untuk bersih bersih.
****
"Hm .... Aku harus memberikan kucing itu Apa? Kucing itu makan makanan yang sama bukan dengan kucing yang lain? Ya sudah. Aku akan memberinya makanan yang sama" Ucap Censya.
Censya Berjalan menuju Lemari Berukuran sedang. Ia membuka dan terlihat lah Berbagai jenis makanan Hewan.
Censya Mengambil makanan khusus kucing tak lupa juga tempatnya.
Setelah di rasa Makanannya telah siap, Censya kembali ke kamar di mana Kucing itu Berada.
Censya duduk di tepi ranjang. Makanan yang ia bawa ia taruh tepat di depan Kucing Itu. Tangan Censya mengelus lembut kepala kucing itu.
"Kau pasti lapar bukan? Makanlah."
Seolah mengerti atau Mungkin karena memang Sedang Lapar, Kucing tersebut makan dengan Pelan.
"Cara mu makan sopan sekali. Apa kau adalah Hewan Peliharaan yang terlepas? Kau sangat Jinak. Jika kau memang Adalah Hewan Peliharaan, Setelah sembuh Nanti aku akan mencoba mencari siapa yang memelihara mu. Atau kau juga bisa tinggal di sini"
Kucing Itu menghabiskan Makanannya dengan Pelan dan Cepat.
***
Meong .... Meong ....
Censya yang sekarang tengah tidur terbangun ketika mendengar suara kucing itu.
"Hey! Kau sedang apa? Kemarilah. Kau terluka jadi jangan banyak bergerak." Ucap Censya.
Kucing Hitam Itu berdiri dekat Jendela rumah Censya yang cukup Besar. Kamar Censya berada di lantai 2. Pemandangan sekitar sangat Jelas ketika melihat dari sana.
Censya Bangkit berjalan mendekati Kucing itu. Censya Berdiri tepat di sebelah kucing itu. Kucing itu berdiri tegak seakan tangannya tak pernah terluka.
Censya mengikuti arah pandangan Kucing Itu. Bulan?
"Kau suka Bulan?" Tanya Censya. Kucing itu masih diam.
Sekarang jam menunjukkan Pukul dini hari. Censya masih dengan wajah mengantuk nya tetap berdiri dan ikut Menatap bulan yang entah perasaan nya saja berwarna Biru.
***
Keesokan harinya, Censya Membawa Kucing itu untuk bergabung bersama kucing yang Lainnya. Ia memasuki taman rumahnya.
Sebelum mengeluarkan semua Hewan peliharaannya, Censya meletakkan Kucing hitam itu terlebih dahulu di atas Meja.
Satu persatu Hewan mulai Keluar dan langsung berlari ke berbagai arah. Censya segera menyiapkan makanan makanan untuk Hewan Hewan nya.
Semua Makan dengan bersamaan. Tapi, Kucing hitam itu hanya diam dengan pandangan datar ke arah depan.
Censya Menyerngit. Ia berjalan mendekati Kucing hitam itu lalu menggendong nya.
"Mengapa kau tak ikut makan bersama yang lain? Apa kau masih tidak nyaman?" Ucap Censya. Kucing itu menutup mata ketika Censya mengelus kepalanya.
Censya duduk di kursi taman dengan Kucing hitam itu. Kenapa di saat Semua kucing bermain kucing ini hanya terdiam?
Censya memperhatikan Kucing itu secara Seksama. Bulu berwarna hitam Lebat kemudian Warna matanya berwarna Biru terang.
Apa hal itu wajar bagi seekor kucing? Ia baru pertama kali melihat Kucing berbulu berwarna Hitam dengan warna Mata biru terang.
Memilih tak ambil pusing, Censya menganggap bahwa itu hanya hal biasa.
***
"Censya!" panggil Beryln. Ibu Censya.
"Iya Ma?" Ucap Censya.
"Kemari."
Censya Berjalan mendekat.
"Ada Apa?"
"Apa kau tak rindu dengan mama mu?" Ucap Beryln.
Censya Tersenyum Lesu.
"Censya Rindu, Ma. Rindu banget. Tapi kenapa mama selalu pergi ninggalin Censya Sendiri? Censya butuh teman, Ma. Gada yang mau Temenan sama Censya hanya Karena Censya suka Hewan. Padahal Censya Suka hewan dan berteman dengan mereka karena Censya merasa kesepian. Censya punya Impian, Censya ingin suatu hari nanti Censya dapat seorang teman yang mau berteman dengan Censya tanpa Alasan apapun. Bahkan Saat Mama dan Papa ada di rumah, Censya masih aja ngerasa kalau Censya Sendiri. Censya udah ga tau gimana itu Suasana Ramai, Ma. Mama, Censya Kesepian. Censya butuh teman!"
Setelah mengatakan hal itu, Censya langsung berlari kembali ke kamarnya.
Di kamarnya, Censya langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Satu tetes, Dua tetes hingga terus berlanjut. Air mata itu terus mengalir dari kedua mata Censya.
Ya. Inilah yang ia rasakan. Semua kemauannya memang selalu di turuti, Tetapi Untuk di mengerti rasanya itu sangat sulit.
Censya tahu ia telah kelewatan. Tapi, Ia tak bermaksud menyakiti hati Mamanya. Ia hanya ingin menyampaikan isi hatinya. Apa yang ia rasakan selama ini, Ia hanya ingin memberitahu itu semua.
Air mata itu terhenti ketika Censya merasakan ada seseorang yang mengelus kepalanya. Censya mendongak, Kucing hitam?!
"Kenapa Kau menangis?" Tanya kucing hitam. Censya melotot, Ia segera menjauh.
"Ka-Kau bisa bicara?" Ucap Censya takut. Kucing hitam itu mendekati Censya. Censya semakin Menjauh.
Anehnya Saat melihat Censya semakin Menjauh, Kucing itu malah memutar bola mata yang membuat Censya semakin di buat takut karena itu.
"Ka-Kau siluman?!" Ucap Censya.
Kucing Hitam Itu duduk dengan menggoyang goyang kan ekornya. Censya Mendekat.
"Aku sepertinya Berhalusinasi ya? Mungkin akibat terlalu sedih." Ucap Censya. Tangannya kini sibuk mengelus ngelus kepala Kucing hitam itu.
"Tidak." Jawab si kucing hitam. Censya terlonjak kaget. Tapi ia tak menjauh lagi seperti tadi.
"Kau .... Kau membuatku terkejut." Ucap Censya.
Censya Kembali ke posisi semula.
"Kenapa Kucing seperti mu bisa berbicara? Mengapa bulu mu berwarna hitam? Ya. Mungkin tidak ada yang salah soal bulu mu. Tetapi Aku hanya sedikit heran karena aku baru menemukan kucing seperti mu. Dan Lagi, Matamu. Matamu kenapa berwarna biru terang? Bukankah Warna kucing biasanya tidak seperti itu?" Bingung Censya.
"Aku tidak bisa menjelaskannya secara rinci. Yang pasti aku datang ke dunia ini Untuk mencari seseorang yang berhati tulus dan murni." Jelas kucing hitam itu.
"Kenapa?"
"Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa menjelaskannya secara rinci." Jelas Kucing hitam itu.
"Jadi? Haruskah aku memberimu nama?" Tanya Censya mengalihkan pembicaraan karena tak mengerti.
"Terserah mu saja." Ucap Kucing hitam itu cuek.
"Noir!! Bagaimana?" Ucap Censya semangat.
"Ya." Ucap Noir.
"Tadi kau mengatakan bahwa kau datang ke dunia ini Untuk mencari seseorang yang berhati tulus dan murni. Lalu? Apa aku harus membantu mu?" Tanya Censya.
"Tidak perlu."
"Kenapa?" Bingung Censya.
"Karena .... Aku telah menemukan nya" Ucap Noir.
***
"Noir, Apa kau ingin mendengar ku bercerita?" Tanya Censya semangat. Ia merasa ia memiliki teman bicara sekarang.
"Apa Itu akan membosankan?" Tanya Noir. Censya cemberut,
"Kau mengesalkan sekali." Ucap Censya.
"Kau punya cerita seperti Apa?" Tanya Noir.
"Tunggu sebentar." Censya Bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju Lemari pakaian nya lalu mengambil sebuah Buku.
Censya duduk kembali.
"Kau tahu Ini Apa?" Tanya Censya. Telinga Noir bergerak gerak memandang Censya heran.
"Kau pasti tahu bahwa itu adalah sebuah Buku." Ucap Noir. Censya Mendengus,
"Aku tahu itu. Maksud ku, Ini Adalah buku cerita." Jelas Censya.
"Lalu?"
"Dengar kan aku Oke?" Tanya Censya. Noir membaringkan tubuhnya menunggu Censya memulai cerita nya.
"Judul nya Adalah .... Negeri Yang Hilang. Di Sebuah Negeri yang indah dan makmur, Sebuah Istana berdiri Dengan Megahnya. Negeri yang Makmur juga sangat rukun. Penduduk yang ramah dan baik hati. Di Negeri Ini, pepohonan juga tanaman berwarna warni membuat Negeri itu semakin Indah. Semua Hidup dengan bahagia. Negeri Yang makmur Ini di Pimpin oleh seorang Raja. Raja yang di ketahui memiliki paras yang tampan, mempesona dan Juga rendah hati. Banyak kalangan yang tak pernah Menatap atau bahkan bertemu langsung dengan Pemimpin Negeri itu. Semua berjalan dengan Baik. Tetapi, Suatu Negeri tak akan lepas dengan yang Namanya Musuh.
Pada saat Malam Hari di saat semua telah tertidur, Penyerangan terjadi. Penyerangan yang sangat tak di sangka sangka oleh mereka semua. Sihir dimana Mana membuat semua nya Semakin panik. Pemimpin Negeri yang mengetahui semua itu tak tinggal diam.
Semua berlari ke sana kemari. Raja telah mengerahkan semua pasukan Kerajaan untuk melindungi para penduduk. Negeri itu hancur.
Penyihir. Penyihir yang sejak dulu berambisi ingin menguasai Negeri itu. Penyihir yang dulunya merupakan Seorang Penduduk Negeri itu sendiri.
Pertarungan Raja Dan Penyihir Berlangsung Hebat. Negeri itu semakin Hancur akibat kekuatan keduanya.
BOMM!!!
Ledakan kuat terdengar seiring Negeri yang Hancur Juga Penduduk, Raja serta Penyihir yang Menghilang.
Negeri yang dulunya Makmur dan Indah, Kini telah hancur akibat penyerangan saat Itu. Tak ada yang mengira bahwa kehancuran itu tiba.
Kini, Negeri itu di sebut dengan Negeri yang Hilang. Semua Menghilang. Banyak yang mengira kalau Cerita ini hanya sebuah cerita karangan.
Negeri yang Di kenal dengan Negeri Deslyndania Of Rediryn. Di pimpin oleh Raja yang sampai saat ini Belum di ketahui Identitasnya.
" .... TAMAT. " Ucap Censya.
"Menurutmu bagaimana dengan Cerita ini?" Tanya Censya. Ia baru sadar bahwa wajah Noir terlihat Tegang.
Tangan Censya Terulur mengelus kepala Noir.
"Apa ada yang salah?" Tanya Censya lagi.
"Tidak. Itu semua nyata." Ucap Noir, Matanya menajam.
"Maksud mu?" Tanya Censya bingung. Noir menatap Censya dengan mata Biru terang yang entah kenapa terlihat lebih terang.
"Semua akan kembali. Negeri itu pasti akan Kembali." Ucap Noir.
***
"Noir, Apakah kau ingin makan sesuatu? Aku punya Cemilan Hewan." Ucap Censya dengan Keripik di tangan nya. Noir hanya melirik tak minat,
"Hah ... Kau ini sebenarnya kucing atau bukan? Kau tidak lapar?"
"Tidak." Ucap Noir menjilat jilat tangan nya. Censya mengangguk saja dan meletakkan kembali keripik itu.
"Jika kau telah menemukan seseorang yang kau cari, Mengapa kau belum kembali?" Tanya Censya Penasaran.
"Kau mengusirku?" Tanya Noir. Censya menggeleng,
"Aku cuman bertanya." Ucap Censya.
"Ada hal yang belum di selesaikan di dunia ini dan Sebelum aku kembali aku harus menyelesaikan nya terlebih dahulu." Jelas Noir. Kening Censya berkerut,
"Kau tak mau memberitahu ku?" Tanya Censya.
"Nanti kau Akan Tahu." Ucap Noir tidak ingin menjelaskannya.
"Ck! dasar. Kau Sangat misterius." Ucap Censya. Censya Berjalan keluar kamar untuk mengambil segelas air.
Papa?
"Papa?" Ucap Censya ketika melihat Pria paruh baya sedang duduk di sofa ruang keluarga. Censya Berjalan mendekat. Pria paruh baya itu menoleh,
"Censya? Sini." Ucap Terwin. Papa Censya.
Censya duduk tepat di samping Papanya. Papanya Tersenyum,
"Kau baik baik saja?" Tanya Terwin. Censya membalas senyum itu,
"Iya. Censya baik" Ucap Censya.
"Bagaimana keadaan hewan hewan mu?" Tanya Terwin penasaran.
"Semuanya Baik baik saja. Papa sendiri gimana?" Tanya Censya.
"Papa baik baik saja." Ucap Terwin. Censya mengangguk. Setelah itu hening.
"Maafkan Papa Ya?" Ucap Terwin tiba tiba. Censya Menyerngit bingung.
"Maaf? Papa ga ada salah nya kok. Kenapa minta maaf?" Heran Censya.
"Maafin papa suka ninggalin kamu sendiri. Kamu jadi tidak punya teman main." Ucap Terwin. Censya menggeleng,
"Papa ga salah. Censya juga ga kesepian kok. Sekarang Censya punya banyak Temen. Walaupun Censya memang suka kesepian, Tapi Sekarang Censya Udah punya Noir." Jelas Censya. Wajahnya terlihat berseri seri.
"Noir? Itu teman baru mu? Manusia?" Tanya Terwin.
"Bukan. Dia hewan." Ucap Censya.
"Noir? Papa baru dengar kamu memberi Nama Hewan Hewan kamu. Apa dia spesial?" Tanya Terwin.
"Ya. Dia spesial Pa. Papa mau lihat?" Ucap Censya semangat. Terwin terkekeh.
"Boleh?" Ucap Terwin. Censya mengangguk antusias dan berlari menuju kamarnya kembali. Noir yang berada di dekat Jendela berdesis kaget. Di tambah Censya yang tiba tiba menggendong nya dengan semangat membawanya keluar.
Censya duduk kembali di dekat Papanya dengan Noir di Pangkuannya. Noir menatap Censya penuh tanya.
"Aku akan mengenalkan mu kepada Papa!" Ucap Censya. Ia beralih menatap Papanya.
"Pa! Ini Adalah Noir. Dia yang membuat ku tidak lagi merasa kesepian." Ucap Censya. Terwin memandang Bingung Noir.
"Sejak kapan kamu punya Kucing Hitam?" Tanya Terwin.
"Censya Nemuin Noir di Pohon besar depan Rumah." Jelas Censya. Terwin mengangguk lalu mengambil alih Noir.
"Kenapa Matanya berwarna biru?" Tanya Terwin setelah mengamati Noir lebih rinci.
Censya mengedikkan Bahu,
"Censya juga ga tau." Ucap Censya. Terwin sebenarnya masih Bingung tetapi ia memilih tak ambil pusing.
"Kucing yang Manis. Censya, Jagalah Noir. Sepertinya ia Kucing yang baik." Ucap Terwin. Inilah yang di sukai Censya. Papanya selalu mendukung semua yang ia lakukan.
"Iya Pa."
***
Pagi ini Censya sibuk mencari cari Keberadaan Noir. Sejak subuh tadi ia tak menemukan kucing hitam itu. Apa ia Sudah pergi?
Censya mengelilingi rumahnya. Di taman Hewan nya pun ia telah mencari Noir, Tapi Nihil. Kucing itu tidak kelihatan.
Censya duduk sebentar meneliti Isi rumahnya. Hanya Ada satu bagian yang belum ia periksa. Kamar Mamanya, Beryln.
Sepertinya Mama nya Lagi lagi pergi entah kemana. Censya Memutuskan untuk mengecek kamar mamanya. Bukan tidak mungkin bukan, Kalau Noir tidak ada di sana.
Ceklek ....
Censya berlari masuk ketika mendapati Noir duduk tegak tepat di depan Lemari kayu yang Menurut Censya sangat Kuno. Entah dimana mamanya membeli lemari itu.
"Hey Noir! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Censya Bingung. Censya memerhatikan Noir dengan Seksama.
Mengapa lagi lagi mata biru terang Noir lagi lagi terlihat bersinar?
"Dialah. Dialah Penghancur semuanya." Ucap Noir dingin. Censya mengerjap tak mengerti, Sebenarnya Noir ini kenapa? Kenapa ia tiba tiba dingin seperti ini?
"Noir?" Panggil Censya. Noir Tak menoleh. Tiba tiba kucing itu berlari keluar. Censya yang kaget dengan gerakan tiba tiba Noir Memutuskan untuk mengejar saja tak lupa menutup kembali Pintu kamar mamanya.
"Noir?" Ucap Censya. Kepalanya Celingak Celinguk mencari keberadaan Noir di kamarnya. Kucing itu ada, Posisinya sama seperti biasa. berdiri di dekat Jendela.
Censya mendengus lalu menghampiri Kucing Itu.
"Kau sebenarnya kenapa?" Tanya Censya. Ia masih Penasaran ada apa dengan Noir. Noir menoleh menatap Censya. Matanya sudah kembali seperti semula.
"Penyihir. Dia adalah seorang penyihir." Ucap Noir datar lalu membuang muka ke arah lain. Censya semakin tak mengerti.
"Penyihir? Siapa yang penyihir?" Tanya Censya.
"Ibu mu. Dia adalah Penyihir itu." Ucap Noir menatap lurus ke depan.
Censya mengerjap,
"Mama ku? Penyihir? Ck! Noir berhentilah bermain main. Mama ku memang sudah tak muda lagi. Tetapi jangan karena cerita kemarin kau malah menganggap Mama ku Seorang penyihir." Kesal Censya. Noir Menoleh dengan mata birunya yang perlahan lahan Menajam.
"Aku tak sedang bermain main. Aku. Serius. Dengan. Apa. yang. Aku. katakan. tadi." Ucap Noir penuh Penekanan.
Censya memandang kesal Noir,
"Kau pikir aku akan tertawa dengan lawakan mu? Berhentilah bercanda Noir! Ini sama sekali tak lucu." Ucap Censya.
"Aku tidak bercanda." Ucap Noir lalu kembali menatap Ke depan.
"Kau punya bukti apa kalau Mama ku Seorang Penyihir?" Tantang Censya.
"Aku tahu selama ini kau juga merasakan keanehan pada ibumu." Ucap Noir. Kali ini ia berbicara dengan nada tenang.
Censya terdiam. Ya, Soal itu ia tak bisa mengelak.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Censya.
"Meong .... Aku bisa membaca Pikiran mu." Ucap Noir. Censya melotot,
"Noir Berhentilah mengatakan yang tidak tidak." Ucap Censya.
"Meong .... Meong ...."
"Hah .... Kenapa kau tidak berbicara? Apa karena ak-"
"Censya." Panggil Beryln tiba tiba dari arah Pintu. Censya reflek menoleh,
"Ada apa?" Ucap Censya memandang Bingung Beryln.
"Kau berbicara dengan siapa?" Ucap Beryln.
"Aku berbicara dengan Kucing ku." Ucap Censya.
"Kucing? Bukankah semua kucing peliharaan mu berada di taman Hewan?" Ucap Beryln.
"Ya. Tapi aku membawa satu kucing untuk selalu bersama ku." Ucap Censya.
Beryln beralih menatap Noir.
"Ini Noir." Ucap Censya.
"Kucing yang Aneh. Censya ayo Kita makan." Ucap Beryln lalu menghilang tetapi sebelum itu ia menatap Noir dengan dengan wajah yang sulit di artikan.
"Apa kau ingin ikut makan?" Ucap Censya. Noir, Kucing itu malah berbaring malas.
"Tidak." Ucap Noir.
Censya mendengus lalu menghilang di balik pintu kamar. Noir masih menatap Censya.
"Penyihir. Kau harus percaya kepada ku." Ucap Noir.
***
"Hey kemari di sini makanan mu."
Kini Censya berada di taman untuk memberi makan Hewan Hewan nya. Noir, Kucing itu tidak ada di sana. Noir masih bermalas malasan di kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Beryln tiba tiba.
Censya menoleh.
"Memberi makan mereka." Ucap Censya.
"Kucing Hitam Itu di mana?"
"Ada Apa?" Ucap Censya. Beryln terkekeh.
"Ayolah. Ibu cuman bertanya"
Hah .... Apa itu Lucu?
Censya berbalik menatap hewan hewan nya kembali.
"Ma-" Mamanya sudah menghilang? Ck! Mama nya sudah tua tapi langkahnya begitu Cepat.
Censya membereskan makanan makanan hewan hewan nya. Hewan Hewan itu berkeliaran ke sana kemari.
Censya merasa Ramai akan hal itu. Karena Tak tega meninggalkan Noir terlalu Lama, Censya Memutuskan untuk kembali ke kamar lalu membawa Noir kemari bersamanya.
"MAMA!!" Teriak Censya. Beryln menoleh menatap Censya Kaget. Perlahan lahan Beryln menjatuhkan Noir.
"Mama?! Mama kenapa mau bunuh Noir?! Noir Ga ada salah Apa Apa! Kenapa mama malah mau bunuh Noir? Noir bukan kucing yang Nakal. Noir temen Censya, Ma! Mama kenapa mau bunuh dia?! Mama tau ga?! Censya kesepian!! Tapi Itu dulu. Sebelum Noir ada. Sekarang Noir ada, Membuat Censya ga kesepian lagi. Dan Sekarang, Mama malah mau buat Censya kesepian lagi ya?! Censya Benci Mama!" Teriak Censya.
"Hiks .... Censya Benci Mama!!" Censya berlari menghampiri Noir yang terlihat lemas lalu berlari keluar kamar meninggalkan Beryln yang hanya menatap datar itu semua.
"Hiks .... Maafkan aku." Ucap Censya. Noir Malah berbaring santai.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Noir.
"Ck! Kau ini sangat santai. Seandainya aku tak datang, Pasti kau .... Kau akan Mati."
"Tenang lah. Aku tidak akan Mati semudah itu." Ucap Noir. Censya menghapus air mata nya.
"Mama kenapa mau bunuh kamu?" Ucap Censya.
"Mungkin karena ia tahu bahwa aku masih Hidup." Ucap Noir.
"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Censya Penasaran.
"Ya."
"Dimana?"
"Censya." Panggil Noir.
"Apa?"
"Kau harus percaya kepada ku. Ibu mu adalah seorang Penyihir. Tidak. Dia bukan Ibu mu." Ucap Noir.
"A-Apa maksudmu?"
"Aku tahu kau selama ini merasakan keanehan pada ibumu." Ucap Noir. Censya berpikir sejenak.
"Ya. Aku merasakan banyak keanehan. Saat itu Mama dan Papa pulang. Tapi .... Tatapan Papa kayak Kosong. Keanehan pertama terjadi, Saat aku tahu kalau Papa dan Mama udah ga tidur sekamar. Pas Aku tanya sama Papa, Papa bilang kalau ini semua mau nya Mama. Padahal dulu Mama ga bisa banget kalau ga ada Papa. Aku juga sempat curiga kalau mereka bertengkar, Tapi nyatanya nggak. semua baik baik saja. Kedua, Sejak waktu Mama dan Papa udah ga sekamar lagi, Lemari Kuno Itu ada di kamar Mama. Aku ga tau kapan Mama beli Lemari itu dan Bagaimana Mama bisa dapat lemari seperti itu. Setiap aku mau bersihin kamar Mama, Mama selalu melarang aku buat buka Lemari Kuno Itu. Katanya Isi nya penting. Ketiga, Aku nggak tahu Mama itu kerja apa. Mama Selalu menghilang tiba tiba dan datang seperti itu juga. Dulu, Mama itu bilang kalau ga mau kerja. Mama lebih milih jadi Ibu rumah tangga aja." Jelas Censya.
"Dan dari sini, Semua nya sudah jelas." Ucap Noir.
"Kalau itu bukan Mama .... Lalu? Mama di mana?" Ucap Censya.
"Tenang lah. Kau lebih baik tetap seperti biasa." Ucap Noir.
"Papa .... Papa gimana?"
"Censya. Tenang lah." Ucap Noir. Censya menunduk menenangkan pikiran nya yang tak teratur.
"Noir ...." Panggil Censya Pelan.
"Ya" Ucap Noir.
"Kau .... Kau Sebenarnya Siapa?"
***
"Papa!" Seru Censya. Terwin tersenyum
"Hei."
"Papa baru pulang? Cape ga?" Tanya Censya.
"Iya. Hari ini jadwal nya tidak terlalu padat jadi Papa ga cape cape banget." Ucap Terwin. Terwin menatap sekeliling.
"Papa cari Siapa?" Tanya Censya.
"Mama. Mama di mana?" Censya menggeleng tak tahu.
"Censya ga tau mama di mana setelah Censya marah tadi." Ucap Censya Pelan. Terwin menatap Censya Penasaran.
"Marah? Kenapa?"
"Kapan kapan kita Cerita bareng ya Pa. Censya punya banyak Cerita yang mau di ceritain." Ucap Censya. Terwin mengangguk mengerti.
"Ya sudah. Papa ke kamar dulu." Censya mengangguk menatap punggung papanya Sedih.
"Papa .... Sebenarnya Mama Siapa?" Gumam Censya Pelan.
"Meong ...."
"Noir?" Censya berlari menaiki anak tangga.
"Noir?! Kau baik baik saja?" Tanya Censya khawatir.
"Ya. Tapi aku lapar. Kau tak memberi ku makan sejak tadi." Ucap Noir.
"Ku kira kau kenapa." Censya kembali berjalan keluar kamar mengambil Makanan untuk Noir.
"Makanlah." Ucap Censya. Noir memakan makanan nya.
"Noir? Kau ini sebenarnya Siapa? Kau bilang kau datang ke dunia ini Untuk mencari seseorang yang berhati tulus dan murni. Kau menemukannya tetapi kau mengatakan ada hal yang belum di selesaikan di dunia ini. Kau berbulu hitam dan Matamu berwarna biru terang. Di saat semua Hewan bermain, Kau hanya diam. Kau mengatakan bahwa Mama adalah seorang Penyihir. Dan Lagi, Kau bisa berbicara seperti manusia. Kau ini Siapa?"
"Nanti kau Akan Tahu." Ucap Noir di sela sela makannya.
"Iya nanti. Tapi Nanti nya Itu Kapan?"
"Kau tidak lihat aku sedang apa?"
"Dasar Menyebalkan" Gumam Censya.
"Aku mendengarnya" Ucap Noir.
Censya mencebik, "Diam lah."
***
Cahaya Putih terang yang sangat Menyilaukan membuat Censya mau tak mau harus membuka Matanya.
Ia mengerjap berusaha menghalau Cahaya putih terang yang seperti berada tepat di depan Matanya. Perlahan lahan Censya membuka Matanya seiring dengan Cahaya putih terang itu menghilang.
Huh?! Kenapa ramai sekali?
Censya menatap sekeliling. Matanya Membulat ketika menyadari ia tengah berada di tengah tengah kerumunan orang orang yang terlihat sibuk berlalu lalang.
Aneh. Kenapa ia tidak di bangunkan? Censya Bangkit berdiri menepuk nepuk pakaian nya untuk menghilangkan pasir yang melekat.
"Permisi ...." Censya berusaha bertanya. Tapi kenapa orang orang ini seakan tak melihat dirinya?
"Permisi. Saya ingin bertanya"
Deg!
Kenapa .... Kenapa tangan nya tembus saat ingin memegang wanita paruh baya tadi? Apa ia Sudah meninggal? Censya menggeleng keras.
Ia menatap sekeliling hingga matanya menangkap seorang gadis kecil yang juga balik menatapnya. Censya tersenyum dan berjalan menghampiri gadis itu.
"Hei .... Kau melihat ku? Aku ingin- Hey Tunggu!" Censya berlari mengejar gadis itu yang tiba tiba saja berlari.
Gadis kecil itu berlari membawa Censya keluar dari Kerumunan yang lagi Lagi seakan tak merasakan jika Censya menabrak bahunya.
Krek ....
"Aw .... Sshh" ringis Censya. Ia baru saja menginjak kayu berduri yang membuat kaki nya terluka. Ia menatap kembali arah gadis kecil itu berlari, Tetapi nihil gadis kecil itu sudah menghilang.
Censya Bangkit dan memutuskan untuk tetap berjalan lurus saja. Tiba tiba Cahaya putih terang menghentikan langkahnya dan Membuat Censya terpaksa harus menutup matanya.
Censya membuka Matanya ketika Cahaya putih terang itu sudah tak ada. Istana?!
Kenapa ia bisa berada di halaman Istana? Censya menatap kaget sekeliling nya. Matanya melihat gadis kecil itu lagi yang sama melihatnya.
Gadis kecil itu berlari lagi. Censya mengejar walau kakinya terasa sakit sekali.
Mata Censya menatap Gadis kecil itu terus menerus takut ia kehilangan Jejak lagi. Tapi .... Tiba tiba saja gadis kecil itu menghilang seperti angin dan menyisakan asap tipis. Censya menggeleng tak percaya.
Ia menatap sekeliling nya. Aula Istana? Matanya tertuju pada Balkon Istana.
Ia berjalan mendekat lalu mengintip. Di depannya Seorang pemuda dengan baju juga jubah kerajaan berdiri. Rambut nya berwarna Emas. Kulit putih. tinggi dan Terlihat gagah.
Censya dapat melihat kalau pemuda itu seperti mengumumkan sesuatu kepada penduduk penduduk yang tengah berkumpul di bawah.
Cahaya terang lagi lagi membuatnya menutup Matanya. Censya kembali mengerjap, telinga nya menangkap jeritan jeritan kesakitan.
Censya reflek langsung saja membuka kedua matanya. Matanya membola ketika melihat pemandangan di depannya.
Api Api panas terlihat membakar rumah rumah yang sempat ia lihat tadi. Dari kejauhan ia dapat melihat penduduk Penduduk yang berlarian dengan pengawal Istana di belakang nya.
Pohon pohon yang indah sekarang telah tumbang juga sebagian telah hangus. Censya mencari dari mana api api itu berasal.
Ia menatap kaget ketika melihat Wanita berjubah ungu terlihat menyerang pemuda yang ia lihat di Istana tadi.
Ini .... Di mana dia sekarang?
BOM!!
Ledakan kuat mengagetkan Censya yang langsung berjongkok dan menutup kedua matanya rapat rapat.
"Censya?"
Noir?
"Bangunlah." Ucap Noir lagi.
Censya membuka Matanya dan mendapati Noir yang juga tengah menatapnya.
"Kau kenapa?" Tanya Noir.
"Hah?"
"Ada apa denganmu? Kau sedang tidur saja masih bisa menangis dan Lagi, Kau terlihat seperti ketakutan. Ada apa?" Tanya Noir penasaran.
Censya memijit pelipis nya. Sisa sisa air mata masih membekas di pipinya.
"Aku tadi bermimpi ...." Ucap Censya Pelan.
"Mimpi apa?"
"Aku juga tidak mengerti. Sebuah cahaya putih Yang sangat terang membangunkan ku. Aku berada di tengah tengah kerumunan orang yang berlalu lalang, Tapi mereka seakan tak melihat ku. Aku mencoba bertanya tetapi sama. Aku mencoba lagi menghentikan wanita paruh baya tapi tangan ku malah menembus saat ingin memegang nya. Aku melihat gadis kecil yang seperti nya ia juga melihat ku, Saat aku menghampiri nya dan berniat untuk bertanya gadis kecil itu tiba tiba saja berlari. Aku mengejarnya tetapi kaki ku menginjak kayu berduri membuatku menghentikan langkah ku terlebih dahulu. Saat aku melihat ke arah gadis kecil itu berlari, Gadis kecil itu sudah tidak ada. Aku berjalan kembali, Tetapi Cahaya putih terang yang sama membuatku menutup mata ku lagi. Saat membuka mata, Aku berada di Sebuah Istana dan aku melihat gadis kecil itu di sana. Lagi lagi gadis kecil itu berlari, Aku mengejarnya tapi tiba tiba ia menghilang seperti angin dan Hanya menyisakan asap tipis. Aku .... Aku sungguh terkejut dengan hal itu. Aku melihat sekeliling dan ternyata aku berada di Aula Istana. Di Aula ada Balkon, aku mendekat dan mengintip, Di sana aku melihat seorang pemuda dengan baju juga jubah kerajaan berdiri dengan Gagah. rambutnya berwarna Emas. kulitnya putih. Aku bisa menebak kalau dia sedang mengumumkan sesuatu. Cahaya itu ada lagi. Saat aku membuka semuanya telah hancur. Tempat di mana pertama kali aku datang hancur. Api Api membakar semuanya. Lalu, Aku melihat Seorang Wanita berjubah ungu menyerang Pemuda yang ku lihat di Aula kerajaan tadi. Ledakan terjadi, Dan aku terbangun." Jelas Censya panjang lebar.
"Kau sudah lihat?" Tanya Noir santai. Censya Menyerngit,
"Lihat?"
"Ya. Wanita yang kau lihat, Itulah ibumu." Ucap Noir.
"Kenapa kau mengatakan begitu?"
"Karena .... Akulah yang membuat mu bermimpi seperti itu." Ucap Noir.
"Tapi .... Bagaimana bisa? Maksudku Bagaimana bisa Mama ke Masa lalu?"
"Tidak. Itu bukan lah Ibu mu." Ucap Noir.
"Kau sebenarnya Siapa?" Tanya Censya.
Noir menggoyang goyangkan ekornya Menatap Censya dengan mata Biru terangnya dalam.
"Akulah pemuda yang kau lihat, Censya." Jelas Noir.
"Ma- Maksudmu kau yang ku lihat di mimpi tadi?" Ucap Censya Kaget.
"Ya. Kau baru saja melihat secara langsung dunia yang kau ceritakan kepada ku."
"Berhentilah membuatku bingung Noir!"
"Aku tidak berniat seperti itu. Aku hanya mengatakan Hal yang sebenarnya."
"Dunia yang ku ceritakan? Maksudmu Negeri yang Hilang itu?!"
"Negeri itu ada, dia tetap berada di tempatnya. Semua mengira Bahwa Negeri Itu telah menghilang, Karena Penyihir itulah yang membuatnya menjadi tak kasat mata." Ucap Noir.
"Berarti Kau adalah Raja itu?!"
"Ya."
"Benarkah?! Tapi kenapa kau seperti Ini?"
"Karena aku di kutuk oleh Penyihir setelah ledakan itu. Dia tak berhasil membunuh ku. Aku ke dunia Manusia untuk Mencari seseorang yang berhati tulus dan murni, Karena hanya orang yang seperti Itulah yang bisa membantu ku memusnahkan Penyihir itu dan Mengembalikan Negeri ku kembali."
"Kau telah menemukannya, Tapi kenapa kau belum membunuh penyihir itu?"
"Ya. Sekarang kita akan membunuhnya"
"Kita?"
"Mungkin ini adalah waktu yang tepat. Ibu mu sekarang ada Di rumah ini. Pergilah, Aku akan melindungi mu."
"Tunggu. Maksudmu aku yang harus membunuh nya?! Kau jangan bercanda Noir. Dia adalah Penyihir, Aku mana bisa membunuhnya seorang diri?!" Protes Censya.
"Aku akan melindungi mu."
"Kau kan mencari yang berhati tulus dan murni, Kenapa kau malah menyuruhku membunuhnya? Kenapa tidak kau saja dengan orang yang kau pilih itu?!"
"Kau masih tidak mengerti? Kaulah Orang itu Censya."
"APA?!"
"Kita tidak punya banyak waktu."
"Lalu Aku harus bagaimana? Aku membunuhnya menggunakan Apa?" Panik Censya.
"Kau hanya perlu membunuh nya dengan kata kata terlebih dahulu, Sesudah itu kau harus membuka Lemari itu apapun keadaan nya Kau harus bisa membukanya Dengan Lebar."
"Kenapa aku harus membuka nya?"
"Karena pada saat itulah Penyamaran nya terbongkar, Juga Kekuatan nya akan melemah karena di dalam lemari itu aku Akan mengambil sebuah Pedang. Pedang itu adalah Pedang perak, Pedang yang bisa membunuhnya dan Itu adalah Pedang ku. Saat aku telah mengambil pedang itu, Aku akan memberikan nya kepadamu. Lalu kau tau harus melakukan apa."
"Aku yang akan membunuhnya? Tapi aku tidak yakin apa aku bisa atau tidak."
"Ketidakyakinan memang selalu ada. Itulah yang melatih mu apa kau bisa percaya dengan dirimu sendiri atau tidak." Ucap Noir.
"Kenapa tidak kau saja Yang melakukannya? Kau kan pemilik pedang itu"
"Kau lupa Aku sedang berwujud seperti apa?" Ucap Noir.
"Kalau ia takut dengan Pedang mu, Kenapa pedang itu malah berada dalam lemari kuno itu? Kenapa ia menyimpannya?" Heran Censya.
"Karena ia tahu bahwa suatu saat nanti aku akan kembali. Dia mengambil pedang itu, Agar aku tak bisa membunuhnya."
"Begitu .... La-"
"Simpanlah pertanyaanmu dulu. Sekarang kita harus melakukannya."
"Kau yakin?" Ucap Censya masih ragu.
"Keraguan hanya Akan menghambat semuanya. Kalau kita bisa melakukannya sekarang, Kenapa kita harus menundanya lagi."
***
"Mama?" Ucap Censya dari luar.
Ceklek ....
"Ada apa?" Ucap Beryln.
"Censya boleh masuk ga?"
Sejenak Censya dapat melihat Kerutan kecil di Kening Mamanya. Ini Memang aneh. Karena Ini pertama kali nya Censya meminta Izin untuk memasuki Kamar Beryln Selain karena ingin membersihkannya.
"Boleh. Ayo Sini masuk." Beryln membuka lebar pintu nya mempersilahkan Censya masuk.
"Ada apa? Ga biasanya kamu kayak gini." Ucap Beryln. Censya menunduk.
"Censya cuma Kangen sama Mama aja kok. Ga boleh ya?" Ucap Censya.
"Bukan kayak gitu. Cuma Mama Heran aja, Siapa tau Kamu punya masalah yang bisa di ceritain ke mama."
Censya Mengangguk.
"Censya Pengen di bacain Cerita kesukaan Censya. Sekalian Censya juga mau minta pendapat Mama." Ucap Censya lalu berlari keluar kamar.
"Nih" Ucap Censya dengan buku di tangannya.
Beryln tersenyum mengambil Buku di tangan Censya. Censya duduk kembali.
"Negeri Deslyndania Of Rediryn?" Gumam Beryln yang terdengar oleh Censya.
"Kenapa, Ma? Mama udah pernah baca?" Tanya Censya.
"O-Oh Ng-nggak. Mama belum pernah baca. Mau di bacain sekarang?"
Censya mengangguk.
Beryln Mulai Membaca ....
" .... TAMAT." Ucap Beryln. Tak tahu kenapa Wajah nya sedari tadi tegang.
"Makasih, Ma! Jadi gimana pendapat Mama tentang Cerita nya??" Ucap Censya Senang.
"Pendapat gimana?"
"Menurut Mama, Negeri ini ada atau nggak?" Ucap Censya. Beryln terlihat berpikir.
"Mungkin? .... Mama juga ga tau."
"Mama, Kira kira kenapa ya Negeri itu menghilang? Apa karena pertempuran antara Raja dengan Penyihir itu?" Ucap Censya.
"Censya, Jangan terlalu di pikirkan. Ini cuma Cerita. Kamu ga perlu sibuk sibuk buat cari tahu. Bisa jadi bukan ini cuman Karangan?"
"Huh .... Andai Censya bisa Mengembalikan Negeri itu kembali. Mama yakin ga kalau Censya bisa Kembaliin Negeri Itu lagi?" Ucap Censya.
"Kamu mikir apa sih? Sudah. Berhenti memikirkan yang tidak tidak." Ucap Beryln. Censya mengerjap.
"Mama Marah ya? Maafin Censya." Ucap Censya menunduk. Wajah Beryln berubah menjadi datar.
"Mama sibuk. Kamu keluar." Ucap Beryln.
"Mama kenapa marah? Kan Censya cuma minta Pendapat Mama. Itu salah Ya?" Ucap Censya.
"Ma? Kalau Nanti Censya bisa Kembaliin Negeri Itu, Mama bangga ga sama Censya?"
"Censya berharap banget kalau Negeri itu bukanlah sekedar karangan. Censya Pengen Suatu hari Nanti berkunjung ke sana. Pasti di sana Censya bakal punya Banyak teman. Ga kayak di sini .... Censya cuma bisa berteman dengan Hewan." Ucap Censya.
"Ck. Penyihir itu, Gara gara dia Negeri yang sangat Indah itu Hancur!"
"CENSYA!" Censya terlonjak kaget ketika Beryln membentaknya untuk pertama kalinya ....
"Mama? Mama bentak Censya?" Tanya Censya tak percaya. Ia menatap Mamanya kecewa. Sementara Beryln, Wanita itu tak menunjukkan reaksi Apa Apa. Masih tetap datar.
"Mama bentak Censya Cuma karena Censya bercerita tentang Apa yang ada di Pikiran Censya? Kenapa Mama Marah?"
"Bukannya emang bener kalau Penyihir itu yang buat Negeri yang Indah itu Hancur?"
"KAU TIDAK TAHU APA APA!" Teriak Beryln. Nafas nya kini tak beraturan.
"Mama? Mama Kenapa sih? Censya cuma bilang kenyataan nya."
"Mama Kelihatan Marah banget. Censya Kan ga singgung apa apa tentang Mama. Kenapa Mama seperti tersinggung."
"KARENA YANG KAU MAKSUD ITU ADALAH MAMA!" Teriak Beryln spontan. Censya menatap Tak percaya.
"Mama?"
Beryln tersadar.
"Jadi bener ya yang di katakan sama Noir?" Ucap Censya Pelan. Tatapan sedih terpancar jelas di kedua matanya.
"Mama bukanlah Mama Censya, Iya?! DIMANA MAMA AKU?! KAMU MENYEMBUNYIKAN MAMA AKU DI MANA?!" Teriak Censya.
Beryln tersentak dengan apa yang di katakan Censya. Tapi sedetik kemudian Beryln Tersenyum miring. Penampilan Beryln berubah. Jubah ungu persis yang di lihat oleh Censya tersampir di kedua bahunya. Wajah nya Sangat Asing di mata Censya.
"Mama?" Ucap Censya benar benar tak percaya dengan apa yang di lihat nya.
"Ck. Kau sudah tahu ya? Rupanya Kucing Jelek itu sudah memberitahu segalanya?"
"Mama ...."
"Berhentilah Memanggil ku seperti itu, Bodoh! Aku bukanlah Ibu mu." Ucap Beryln. No, Itu bukanlah Beryln. Tapi Liona, Penyihir yang Di ceritakan Di buku Kesukaan Censya.
"Kau siapa?"
"Haruskah aku memperkenalkan diri, Huh? Kurasa tidak. Sangat Merepotkan! Berhubung kau telah mengetahui semuanya, Harus ku apakan kau? ...." Lions berjalan mendekati Censya dengan Smirk di Wajahnya.
Censya terus mundur ketika Liona terus mendekat. Punggung nya menabrak sesuatu, Lemari Kuno! Hah, Hampir saja Censya Lupa. Ini bukan waktu nya untuk bersedih. Ia harus membantu Noir.
Censya menatap Liona yang masih cukup jauh dari nya. Perlahan lahan Censya mulai membuka Pintu lemari Kuno Itu.
".... Sebenarnya aku tak berniat untuk membunuhmu. Tapi, Sepertinya kau cukup berbahaya. Haruskah aku menghabisimu terlebih dahulu sebelum 'Raja Angkuh' Itu?"
"Kenapa kau melakukan ini semua? Bukankah kau merupakan Penduduk dari Negeri itu sendiri? Kenapa Kau malah menghancurkan Negeri mu hanya Karena Nafsu mu itu?" Ucap Censya.
Liona terkekeh. Satu kata, Ngeri.
"Kau tak tahu apa apa, Gadis kecil. Berhentilah ikut campur dan pergilah bermain bersama Hewan Hewan mu itu."
"Tidak. Karena permainan di sini seperti nya Lebih menarik." Ucap Censya.
"Ohh .... Rupanya gadis kecil ini ingin ikut bermain seperti nya. Bagaimana Kalau kau yang menjadi penonton saja? Aku tak tega jika harus melibatkan manusia Lemah seperti mu. Bagaimana pun aku juga masih punya hati untuk mengasihanimu."
"Apakah aku harus berterima kasih untuk itu?" Sinis Censya. Liona memasang senyum mengejeknya.
"Kau takkan bisa membantu Kucing Jelek itu. Kau hanya Manusia lemah!" Ujar Liona mengejek.
"Benarkah? Tapi Kejahatan melawan Kebaikan, Tetaplah Kebaikan yang akan Menang. Mengapa aku harus takut hanya Karena aku adalah seorang Manusia?"
"Aku mengagumi Keberanian mu Gadis kecil." Ucap Liona.
"Kau kenapa Menghancurkan Negeri mu sendiri? Bukankah kau ingin menguasai Negeri itu? Kenapa Kau malah membuatnya hancur?" Ucap Censya Tak mengerti.
Entah kenapa Censya dapat melihat setitik kesedihan di Kedua mata Penyihir itu.
"Ya. Aku memang ingin Menguasai Negeri itu. Tapi, Untuk menghancurkannya aku sama sekali tak pernah berpikir seperti itu."
"Tapi kenyataannya Negeri itu Hancur, Bukan?"
"Kau benar. Tapi, Katakanlah kepada Kucing Jelek itu kalau aku sama sekali tak pernah menginginkan Kehancuran itu terjadi. Dan asal kau tahu, Kejadian yang sebenarnya bukanlah seperti itu." Ucap Liona.
"Bukan seperti itu? Tapi Noir memperlihatkan ku semuanya secara jelas. Aku melihat semuanya. Kau yang memulai penyerangan dan kau pula yang membuat Noir seperti itu juga Negeri itu menghilang."
"Kucing yang Bodoh! Dia rupanya tak Mengetahui yang sebenarnya. Ck! Aku terlalu malas untuk menjelaskan semua nya. Aku hanya ingin mengingatkan, Jika kalian mengira bahwa akulah yang membuat semuanya seperti ini, Maka kalian Salah. SALAH besar. Tanpa kalian ketahui seseorang yang bahkan kalian tak sangka sangka adalah Musuh yang sebenarnya."
"Maksudmu?" Tanya Censya tak Mengerti. Liona hanya tersenyum penuh arti.
"Hm .... Seperti nya Aku harus pergi? Aku sudah menyelesaikan Semuanya. Katakan pada Kucing Bodoh itu, Kalau sekarang aku tak lagi menginginkan Negeri nya. Jaga dirimu Baik baik, Censya .... Hah. Kau sudah ku anggap seperti anak ku saja." Ucap Liona.
Penyihir itu menghilang. Censya terdiam berusaha memecahkan maksud dari perkataan penyihir tadi.
Orang yang tak ku sangka juga yang tak di sangka Noir adalah Musuh yang sebenarnya? Maksudnya ....
"Censya!" Ucap Noir. Kucing itu tiba tiba muncul dari pintu.
"Noir? Kenapa kau terluka?" Tanya Censya khawatir.
"Aku tak apa." Ucap Noir.
"Noir, Maafkan aku. Aku gagal Mem-"
"Lupakan. Censya aku baru sadar satu hal. Penyihir itu bukan tidak berhasil membunuhku, Tetapi ia memang tak berniat membunuhku. Aku .... tahu yang sebenarnya."
Kening Censya berkerut. Mata biru Noir menajam dan Bersinar.
"Maksudmu?"
"Aku mendengar semua yang di katakan oleh Penyihir itu. Seseorang yang tak di sangka sangka .... Apa itu-"
Prok .... Prok .... Prok ....
Ucapan Noir terhenti.
"Penyihir itu telah memberitahu semuanya? Tak kusangka semuanya secepat ini. Bagaimana dengan Kejutan ini 'Raja'?"
Noir dan Censya Serempak menoleh.
PAPA?!
"Papa?!" Ucap Censya Kaget.
"Aku? Papa mu?" Ucap Pria yang tak lain adalah Terwin. Papa Censya.
Ha! Lelucon macam apa ini?!
"Aku bukanlah Papa mu, Gadis Kecil." Ucap Terwin dengan Senyum menyeramkan.
"Papa? Papa kenapa ada di sini?" Ucap Censya.
"Aku bukan Papa mu." Ucap Terwin. Censya menggeleng keras.
"Tidak. Kamu Papa Terwin, Iya kan? Papa kenapa sih?" Ucap Censya.
"Oh? Jadi aku masih berpenampilan Seperti Manusia tak berguna itu ya? Baiklah Baiklah aku akan berubah ke wujud asli ku."
Pria itu berubah. Dan Lagi lagi Censya menemukan Wajah asing.
"Papa?" Ucap Censya Tak percaya.
"Hey Aku bukanlah Papa mu Gadis kecil. Aku adalah Bryan." Ucap Bryan.
Censya membeku. Noir, Noir mengenal Pria itu. Dia adalah Sahabat Ayah nya dulu yang berkhianat.
"Ada Apa Raja? Kau terkejut dengan Kejutan ku ini? Sayang sekali Raja dari Negeri Deslyndania Of Rediryn Menjadi seekor Kucing? Ohh. Bukankah itu sangat tak pantas jika Negeri yang Indah itu di pimpin Oleh seekor Kucing? Bagaimana Kalau aku yang menjadi Raja? Bukankah Aku lebih pantas dari mu?" Ucap Bryan.
"Bagaimana kau bisa Memimpin Deslyndania kalau kau Sendiri yang telah membuatnya hancur? bukan kah seorang Raja membawa Kemakmuran, Bukan kehancuran?" Ucap Noir dengan Mata biru nya yang bersinar.
Censya Bisa merasakan Aura Kepemimpinan dari diri Noir.
"Raja Raja .... Kau sekarang berwujud seekor kucing! Aku bisa saja langsung membunuhmu. Tapi, Bagaimana Kalau kita Berbincang terlebih dahulu?"
"Tak perlu. Aku benci basa basi." Ucap Noir dingin.
"Jadi Kau mau mempercepat kematianmu? Ckckck. Raja yang Bodoh! Aku memberimu tawaran yang bagus, Kau malah Menolaknya." Ucap Bryan.
"Apa aku meminta?" Ucap Noir. Bryan Mengangkat satu Alisnya.
"Wow! Kau Menolakku? Sungguh? Kau membuatku bersedih." Ucap Bryan dengan muka yang di sedih sedihkan.
Noir diam. Kucing itu Menoleh menatap Censya. Censya balik menatap Noir. Mereka saling berpandangan.
"Hm .... Apa di sini aku akan di perlihatkan sebuah kisah cinta antara seekor kucing dan manusia Lemah? Kisah cinta yang menarik. Tapi aku tidak tertarik."
Sebuah paku tajam yang Entah darimana Censya dapat Melayang ke arah Bryan. Bryan menghindar dengan lihai.
"Wow! Sebuah lemparan yang bagus, Gadis kecil."
"Aku bukanlah gadis Kecil! Apa kau buta untuk melihatku yang besar seperti ini?!" Sinis Censya.
"Besar, Huh? Ya. Kau memang besar jika di bandingkan dengan Kucing itu." Ucap Bryan berusaha memancing emosi Noir.
Noir menatap tenang Bryan.
"Kau belum berubah." Ucap Noir. Bryan menyerngit.
"Benar. Aku memang tak berubah, Masih kuat seperti dulu." Ucap Bryan dengan Nada penuh kesombongan.
"Kuat? Bukankah dulu kau di kalahkan oleh Ayahku?" Tenang Noir. Air muka Bryan berubah.
"Ya. Aku memang di kalahkan oleh Ayahmu, Dan Berkat itu juga aku menjadi Kuat saat ini. Aku datang kembali Untuk merebut Semuanya dari mu 'Raja'." Ucap Bryan dengan Nada datarnya.
"Perlahan Lahan ambisi mu itu, Akan menghancurkan mu." Ucap Noir.
"Hah! Sepertinya aku salah memberi Tawaran untuk kalian berdua. Bagaimana kalau kita mulai saja sekarang? Gadis kecil, Kau mau ikut bermain juga?" Ucap Bryan tersenyum miring.
Censya Memandang Noir, Noir balik memandang Censya. Mereka akan tetap melakukan rencana mereka tadi, Tapi dengan lawan yang berbeda juga sedikit tambahan.
"Nama Mu Siapa?" Tanya Censya. Bryan Mengangkat alisnya.
"Apa aku harus memberitahu mu?" Ucap Bryan. Censya menggeleng kemudian tersenyum.
"Kalau begitu Aku akan memanggilmu Papa seperti Biasa." Ucap Censya.
"Tapi Aku bukanlah Papa mu Gadis Kecil."
"Papa Lupa ya, Namaku? Kenapa Papa panggil Censya gadis Kecil?" Ucap Censya. Bryan tersenyum miring.
"Hm .... Apa ini sebagian dari Rencana kalian berdua untuk mengulur waktu?"
"Kenapa Papa ngomong gitu?" Bingung Censya.
"Gadis Kecil .... Aku bukanlah Papa mu. Aku adalah Bryan, Orang yang Paling Kuat di dunia Ini."
"Dunia ini? Tapi ini adalah Dunia Manusia." Ucap Censya.
"Aku tahu. Manusia adalah Makhluk Lemah, Aku akan menguasai dunia ini secepat mungkin." Ucap Bryan tertawa.
"Manusia ga Selemah itu. Buktinya Manusia bisa melempar sebuah paku dan hampir mengenai sasaran." Ucap Censya dengan Senyum.
Wajah Bryan berubah.
"Cukup gadis Kecil! Aku sudah muak berlama lama dengan Kalian." Ucap Bryan dengan wajah tanpa Ekspresi.
"Papa? Bukannya Papa sendiri ya yang mau ngobrol dulu? Kok malah Papa yang ngingkar?" Ucap Censya.
"DIAM! Mulutmu sangat Tajam, Gadis kecil. Haruskah Aku menyihir mulutmu itu agar berhenti untuk berbicara?" Ucap Bryan. Censya bergidik.
"Papa, Kenapa ga pernah ajar Censya menyihir?" Ucap Censya.
"Karena Kau bukan ANAK ku." Ucap Bryan.
"Menyebalkan sekali. Kau bilang kau Muak bukan berbincang dengan ku juga Noir? Ya sudah kita Mulai." Ucap Censya.
Bryan bersedekap dada, Menunggu apa yang akan di lakukan gadis kecil seperti Censya.
"Tapi, Kau harus mendengar cerita ku dulu." Ucap Censya lagi.
"Dulu, Papa bilang sama Aku kalau ada kejahatan kita harus menghentikannya. Papa dan Mama sering bilang sama Aku kalau mau bunuh orang ngga harus pakai senjata, kekuatan atau apapun itu. Tapi cukup bunuh dia dengan kata kata. Jadi, Kau! Kesombongan mu itu akan membuat mu semakin Hancur bersama ambisi mu. Percaya diri itu memang harus, Tetapi jangan sampai itu semua membuat mu menjadi sombong seolah kaulah yang paling bisa atas segalanya." Jelas Censya.
"Begitu kah? Tetapi Aku sombong karena aku bangga terhadap diri ku. Apa itu salah?" Ucap Bryan.
"Tidak. Tapi, Kau salah karena kau terlalu merendahkan seseorang yang mungkin lebih dari mu." Ucap Censya.
Prok ... Prok ... Prok ...
"Bagus Bagus. Aku menyukai pemikiran mu Gadis kecil. Tapi aku tak peduli. Aku hanya mempercayai diriku daripada orang lain."
Bola Api muncul di tangan Bryan. Censya melihat itu. Sejenak ada secercah rasa takut dalam dirinya tetapi ketika ia mengingat Noir, Rasa takut itu perlahan lahan lenyap.
Bryan berbalik membelakangi Censya dan memainkan bola api di tangannya.
"Sepertinya aku harus membunuhmu terlebih dahulu. Kau sudah melewati batas, Gadis kecil. Kau hanya akan menjadi pengganggu." Ucap Bryan.
"Tidak sebelum akulah yang membunuhmu terlebih dahulu." Ucap Censya.
Bryan berbalik dan ....
Jleb
Mata Bryan membulat ketika melihat sebuah benda yang kini telah tertancap di dadanya, Tempat di mana jantung nya berada.
Pedang Perak. Dua kata yang membuat Bryan sadar, Bahwa dia akan Mati. Tetapi sebelum itu ia dapat melihat Noir juga Censya yang kini berada di hadapannya.
Dia tidak akan Mati sia sia. Bola Api beracun yang telah lama ia pelajari Kini Ia berusaha lemparkan ke arah Noir dan juga Censya meski kekuatannya perlahan lahan melemah.
Noir melihat itu semua.
BOMM!!!
Ledakan kuat itu terjadi. Censya menutup wajahnya dengan kedua lengannya. Ia mengerjap ketika tak ada apapun yang mengenai dirinya. Ia membuka mata dan ....
"NOIRR!!!" Teriak Censya Histeris. Noir .... Noir, Kucing hitam itu .... Censya menggeleng tak percaya melihat pemandangan di depan nya.
Tidak .... Itu tidak mungkin!! Noir?!
"Noir?! Bangun! Hey! Ayo buka mata mu. Kau bilang ingin mengembalikan Negeri mu bukan?! Kau .... Ayo Bangun!!!"
Censya berteriak mencoba membangunkan Noir yang sama sekali tak bergerak. Ia mencoba menyentuhnya. Panas. Tubuh Noir sangat Panas.
Censya Menangis. Tubuh Noir .... Tubuh Kucing itu perlahan lahan berubah menjadi biru dan .... berubah menjadi asap.
Censya mendongak mengikuti arah asap itu pergi. Ia melihatnya .... Ia melihat Sosok pemuda itu di Asap itu.
Noir?!
Wajah yang tak pernah Ia lihat ketika Noir membuatnya bermimpi tentang Negeri itu, Sekarang .... Sekarang ia Melihatnya.
Air mata Censya mengalir deras ketika Noir, Tidak. Itu bukanlah Noir, Kucing nya. Ia adalah Raja itu.
Tampan. Pemuda itu tersenyum ke arah Censya. Censya menggeleng cepat.
"Noir?! Noir Kau mau kemana?! Noir?!" Teriak Censya. Pemuda itu masih tersenyum ke arah Censya.
"Terima Kasih, Censya." Suara itu. Suara itu mirip Suara Noir.
"Noir?! Kau di mana?!" Censya melihat sekeliling tapi, Yang bisa ia lihat hanya asap biru itu. Pemuda itu masih tersenyum ke arah Censya. Air mata masih mengalir di kedua mata Censya. Kini tatapan nya tertuju kembali pada Asap biru itu, Dimana Seorang Pemuda yang sangat tampan tersenyum ke arahnya.
"Noir?!" Ucap Censya. Sejenak senyum itu luntur di gantikan dengan wajah sedih.
"Aku harus kembali, Censya. Terima Kasih telah membantu ku." Ucap Pemuda itu yang tak lain adalah Noir. Censya menggeleng cepat,
"Tidak! Kau tidak boleh pergi. Kau harus di sini bersama ku! Ajak aku juga Noir! Kau .... Kau mau melihatku sendiri lagi?!" Ucap Censya dengan tangis yang semakin kencang.
Pemuda itu menggeleng.
"Tidak, Kau tidak akan sendiri. Tujuan ku telah tercapai Censya dan Ini adalah saatnya aku pergi seperti yang aku katakan saat itu." Ucap Noir.
"Kau .... Kau jahat Noir!" Ucap Censya.
"Arion. Nama Ku Arion, Censya. Terima kasih telah membantu ku. Selamat Tinggal" Ucap Pemuda itu tersenyum seiring dengan asap itu yang kian menipis.
Censya menggeleng.
"Noir?! Kau? Kau benar benar pergi? Hiks ..." Censya Menunduk menangis berusaha menganggap bahwa semua ini hanya ilusi nya.
"Censya?" Ucap seseorang yang terdengar Oleh Censya. Tangisan Censya sejenak terhenti ketika mendengar suara itu.
Mama?
Cahaya Putih itu bersinar terang tepat di Mata Censya membuat Censya menutup Matanya.
Censya mengerjap.
"Censya, Bangunlah. Kau tak ingin sarapan?"
Censya Menyerngit ketika ia lagi lagi mendengar Suara seseorang yang sangat mirip dengan Suara Mamanya, Beryln. Ia menoleh ....
"Mama?" Ucap Censya dengan pandangan tak percaya.
"Huh? Apa sehabis tidur kau melupakan Mama? Ckckck. Anak nakal. Ayo bangun lalu sarapan." Ucap Beryln berlalu keluar dari kamar Censya.
Censya terdiam. Apa Ia bermimpi? Ia menoleh sekeliling. Terakhir kali, Ia melihat kamarnya sudah hancur akibat ledakan itu. Tapi sekarang kamar nya baik baik saja.
Benarkah bahwa semua ini mimpi, Termasuk pertemuan nya dengan Noir? Tidak, Lebih tepat nya Hm .... Arion?
"Apa ini benar benar hanya sebuah Mimpi?" Ucap Censya sedih. Ia rindu Noir. Kucing hitam dengan Mata birunya.
Sebuah kertas lusuh tiba tiba terlempar ke arah nya. Censya Menyerngit lalu melihat sekeliling kamar nya. Ia hanya sendiri. Siapa yang melempar kertas lusuh ini?
Censya bergerak membuka, Ternyata ada tulisan. Censya membaca nya, Matanya kembali memanas ketika mengetahui apa isinya.
'Terima Kasih, Censya. Senang Bertemu dengan mu.'
*****
T.A.M.A.T
Cerpen > The Black Cat
Selesai > Minggu, 22 November 2020
****
Terima Kasih telah Membaca, Semoga Terhibur:)
Mohon Mampir juga di Novel Saya🙏