⚠️⚠️⚠️WAR⚠️⚠️⚠️ 17+ Banyak Umpatan Dilarang mendekat!!!
"Hahahah ikan hiu makan tomat!"
"G*BL**K!!!"
Berapa kali dulu pihak Pilar PKBI memberikan ku edukasi bahwa jaga pergaulan itu sangaaaattt penting?!!!!
Masih ku ingat pelajaran waktu kelas tujuh mengenai sikap dan memilih teman bergaul
Masih ku ingat pelajaran kelas sembilan mengenai organ reproduksi dan bagaimana terbentuknya sebuah bayi
Masih kuingat berbagai penyakit kelamin dan resiko jika terjadi kecelakaan
Dan selalu kulihat iklan dimana-mana sampai sekarang bahwa hamil diusia dini akan merenggut semua masa depan cerah
Dan masih kuingat pula nasihat Orangtua yang jangan pernah bermain hubungan seperti pacaran jika belum dewasa
Dan jangan pernah mengaku dewasa jika belum banyak ilmunya
Masih kuingat pula peringatan dari Shakira bahwa bermain laki-laki itu merepotkan
Dan masih kuingat pula saat aku mencemooh sahabat sekaligus rivalku itu bahwa dia hanya iri tak bisa memiliki pacar yang setia, maupun tidak beruntung sepertiku bahwa dia tidak bisa merasakan manisnya kisah cinta ala remaja.
Dan sekarang aku disini, di pojok kebun dengan pohon mangga yang tengah kupanjat dengan tangga, sedang menali tali tambang, dibawah ada Shakira yang sedari tadi terus mengumpati ku, entah banyak umpatannya tapi aku lebih terfokus pada kata bodoh yang terus dia lontarkan. Dia masih tertawa, biarlah, biar dia puas dulu mengataiku, walau hal ini tidak setimpal dengan apa yang telah kuperbuat dulu kepadanya. Biarkan, tapi jengah saja mendengar dia terus mengumpat.
"G*BL*K DI PELIHARA! DASAR M*SUM! GAADA OTAK! CEROBOH! G*BL*K!" Umpat Shakira dibawah sana, setelah mengumpat dengan kesal dia akan tertawa lalu mengulangi lagi umpatannya.
"Cih! Berisik!" Kesal juga mendengar Shakira terus nyerocos sampai berbusa begitu mulutnya, Shakira masih tertawa bahagia dibawah sana,
"Gimanaa??!! Udah cetak undangan belom?! Jangan lupa sekelas diundang, guru sama kepala sekolah juga diundang! Udah nyetak berapa undangan Din?" Tanya ku sarkas, dengar ini Din! Dengar! Apa yang kulakukan ini bahkan tidak ada apa-apanya dengan hinaan yang kau berikan padaku dulu, dasar sahabat tidak berguna, diberi telinga malah dipakai sebagai hiasan doang!!! Aku tidak yakin bahwa telinganya itu masih suci, mengingat selalu kulihat ada bekas merah dileher dan ditelinganya jika dia sedang pulang menuju kerumah malam-malam kala itu. Ya, kala itu.
"Mau kubantu Din?" Tanya ku sambil berkacak pinggang dibawah sini melihat Dinda sudah siap melilitkan tali tambangnya dileher. Belum saja menggantung dengan benar, tali tambang itu terlepas dengan Dinda yang ikut jatuh kebawah,
Bruk!
"B*ngs*t!" Umpat Dinda, aku tertawa terbahak-bahak lagi hingga kurasakan perutku kram, ya Tuhan tapi ini bahkan lebih lawak dari stand up comedy di TV, bagaimana Dinda jatuh dan tertimpa tangga, betapa peribahasa sekali kondisinya saat ini.
"Gimana? Sakit gak, tali temali aja Lo gak bisa emang Lo G*bl*k sih!" Umpat Shakira sekali lagi, kutepis tangan Shakira saat dia mengulurkan tangannya padaku.
"Lo pede banget sih, orang gue mau ambil tangganya! Ngapain juga nolong elo yang dari dulu gak mau ditolong!" Ucapnya penuh sarkasme. Jengah juga, sangat jengah, panas telingaku mendengarnya terus mengumpat.
"Selain Lo udah bikin nyawa baru diperut Lo, Lo mau habisin nyawa itu juga, mau dosa apa lagi yang mau Lo lakuin? Boleh lihat daftar dosa yang mau Lo lakuin lagi?"
"Berisik k*par*t!"
"Mau gue bantu apa nih Din? Banyak loh alternatif bunuh diri, Lo mau bunuh diri yang kayak gimana? Biasa aja, tragis, aesthetic, atau misterius?"
Sahabat sekaligus rivalku yang bernama Shakira Aulia ini memang baik hati sejak dulu, bagaimana dia rela kekasihnya kurebut dan menjadi korban selingkuh, bagaimana dia masih terus saja menasihati ku dan menolongku, dan sekarang masih saja ingin membantuku mencari cara untuk mengakhiri hidup, aku harus memberi rewards padanya, tapi apa? Tidak ada satu barangpun yang pantas diberikan padanya, Shakira terlalu sempurna.
"Lo mau berharap apa sih sama cowok yang bahkan belum dapet KTP buat komitmen seumur hidup sama Lo dengan dirinya yang udah nebar benih didiri Lo dan bikin nyawa?! HAAA?? MAU BERHARAP APA?! Dibilangin ngeyel, karma kan Lo jadi selingkuhan?!"
"Stop Kir!!! Gue gak mau bahas cowok baj*Ngan itu!!!"
"Dih!!! Kemaren aja muji nyerocos bahas dia sekarang Lo gak mau bahas, ironis banget sih!!! G*bl****kkk!!!"
Lagi-lagi umpatan itu.
"Stop bilang gue G*bl*k gue tau!"
"Lo itu idiot gatau diri sakit jiwa gila edan edaaann!!!"
"Berisik!!! Gue mau muntah!"
"Muntah sana muntah!!! Biar jin dalam tubuh Lo keluar juga!!! Habis ini gue beliin obat tidur, gue beliin satu box biar Lo tidur selama-lamanya gimanaaa??! Bunuh dirinya mulus banget kan?!"
"Gue tunggu!" Ucap Dinda, lalu pergi untuk pulang, aku pun pulang dan segera menyuruh kakakku untuk mengantarku ke apotek membeli obat tidur dua puluh bungkus, tak peduli dengan tatapan tanya petugas apotek dan tatapan tanya dari Kak Erick yang bingung kenapa aku membeli obat tidur sebanyak itu.
"Itu kak, kan gue di sekolah ikut PMR, jadi sekolah minta tolong cari persediaan,"
Kak Erick tertawa lalu mengacak rambutku gemas,
"Astaga dek Lo kalo ngelawak pinter juga, sip! Lanjutkan bakat mu Komandan!" Ucap kak Erick menyindir ku, yaahh, bohonglah kalau aku ikut PMR, orang aku anak Paskibra. Gila apa!
"Lo utang cerita pokoknya dek sama gue!"
*******
Disini, di kebun yang sama tempat yang seharusnya akan menjadi TKP bunuh diri seorang Adinda Mila aku tengah duduk disampingnya sembari membawa botol Tupperware 750 Mili warna ungu milikku yang berisi air putih full, dan disampingku ada kantung kresek berisi sepuluh obat tidur yang jika dihabiskan tentu akan over.
Dinda berjalan malas kearahku dan aku menyapanya dengan ramah.
"Pagiiii!" Sapaku yang sangat bohong.
"Akhirnya gue punya alasan buat nyebut lo g*bl*g juga," ucap Dinda tersenyum sumringah, dan aku sedikit menarik sudut bibir tersenyum tulus mengingat Dinda tidak pernah tersenyum lagi sejak kejadian itu
Disiang yang terik sehabis pulang sekolah ini, aku akan menjadi saksi lagi atas percobaan bunuh diri Dinda sahabat sekaligus rivalku sekaligus PHO dalam hubunganku juga deng, lupa gue.
Kami duduk bersisian, menatap hamparan rumput yang menjadi batas antara kebun dan Padang rumput, menikmati angin yang bertiup kencang menggali udara panas disekitar kami.
"Hiks hikss ... "
Akhirnya Din ... Lo keluarin emosi Lo juga, setelah Lo jadi patung yang bisa jalan.
"Setimpal kan Kir, kelakuan gue ini?"
"Ya setimpal," jawab gue datar.
"Setimpal kan Kir, gue udah relain masa depan gue,"
"Sip! Gue gak perlu saingan sama Lo lagi, makasih pengertiannya," jawab gue datar lagi.
"Habis ini Lo bebas Kir, enak banget sih,"
"Enak lah!!! Kan gue pinter gak gobl*k kayak Lo!"
"Hiks hiksss!"
"Gue bahkan gak siap jadi ibu,"
"Tuh sadar!!! Kenapa juga bikin g*bl**kkk!!!" Umpat ku
"Sialan!" Umpat Dinda dan aku tersenyum, gue gak mau mengakui siiihhh!!! Tapi gue rindu diumpatin sama dia.
"Lo udah pernah bayangin belom jadi ibu?" Tanya Shakira padaku terdengar kalem.
"Mikir aja gak berani gue!" Dengus
"Hahahah!!! G*BL*K!!!"
"Coba kita lihat, umur Lo enam belas tahun otewe tujuh belas, Lo lagi bunting, Lo gak punya suami, di perut Lo ada zigot yang otewe jadi manusia kayak kita, Lo masih pendek, Lo gendong tas aja masih ngeluh pegel apalagi gendong anak, Lo aja jijik sama Tae! Sedangkan bayi aja belom bisa cebok, Lo aja gak punya uang buat nyewa babysitter, bapak lo aja cuma buruh, ibu Lo dagang dipasar, dan Lo anak durhaka yang lagi kena karma,"
"ARRRGGHH SIALAN! MANA OBATNYA!!! GUE MAU CEPET-CEPET MATI!" Kesal Dinda dan aku tertawa melihatnya.
"Ini Din, gue juga bawa minum, apa gue perlu campur sama racun tikus? Tapi malangnya gue lupa bawa,"
"Jingan emang Lo!" Umpat Dinda. Aku pun menoleh kesamping kiri tempat dimana kumeletakkan kantung kreseknya, dan alangkah terkejutnya kantungnya hilang,
"LAAHH WTF OBATNYA KOK GAADA??!!" Kagetku, Dinda ikut menoleh, dan kulihat ada Kakek Ipul yang tengah membakar sampah dan itu adegan tidak boleh ditiru. Jangan-jangan!!! Aku segera menghampiri kakek Ipul.
"Keeekkk kakek tau kantung kresek di samping nya Kira?" Tanyaku keras-keras karena Kakek Ipul sudah memiliki gangguan pendengaran jadi ku harus meninggikan volume ucapan.
"Gimana neng? Kantong kresek? Udah kakek bakar neng tenang aja, sampahnya udah beres,"
Definisi kuingin mengumpat tapi tak bisa.
Aku dan Dinda saling menatap.
"Yaudah Din, kayaknya Tuhan gak izinin Lo mati dulu, Tuhan mau nyiksa Lo di dunia, baru di akherat," ucap ku dengan tawa terbahak-bahak. Dinda berdecak, hingga akhirnya menangis lagi,
"Gue gak mau hidup Kir gak mauuu!!!" Isak Dinda dipelukkan ku, aku hanya menepuk pundaknya dan menuntunnya kembali ke tempat duduk tadi.
"Tenang lah Din, paansi, jelek banget nangisnya, ingus Lo jangan Lo tempelin di baju gue ya sialan! Gaada akhlak emang Lo dari dulu!!! G*bl*kkk!!" Umpat ku kesal, enak aja, baju baru ini.
Hening, kutunggu Dinda untuk meluapkan segala emosinya, menangis hingga ia merasa air matanya tak sanggup keluar lagi, sumpah!!! Matanya Dinda bengkak parah astaga kayak kesengat lebah, gue mau ketawa tapi gue masih punya jiwa kemanusiaan DIKIT KOK KALO SAMA DINDA.
"Din, karena kayaknya Lo harus lanjutin hidup Lo, gue punya alternatif lain biar lu mau betah dikit lah buat hidup,"
"Apa bazeng! Gak usah bertele-tele!"
"Ditolong jugaaaa!!!" Delikku padanya kesal.
Hening sejenak, aku menghembuskan nafas, prihatin sekali akutuh sama kondisi rival dan sahabatku sejak piyik caberawit ini.
"Kak Erick mau tanggung jawab ... "
Hening
"GILA LOOO GILAAAAA!!!" Dinda balik nangis kali ini tambah histeris.
"ABANG LO, LO JAMPI-JAMPI HAH??!! ATAU MULUT LO EMANG DARI DULU GAK PERNAH DI FILTER KALO NGOMONG??!!!" Pekik Dinda benar-benar kaget dan syok histeris.
"Yaudah sih yaa, orang nanti sore dia mau ketemu sama bokap nyokap Lo,"
Dinda menangis kini memeluk kedua lututnya,
"Dosa apa bazeng!!! Sampe kak Erick malah mau Nerima gue??!!!"
"Yahh Lo tau emang kakak gue rada miring, tapi Gapapalah!!! Gentle diaaa, gak kayak bocil kunyuk satu itu!!! Yang mainnya cuma semprot aja gak mau tanggung jawab, yaaahh kalian sama-sama go*l*kkk n m*sum sih gak heran!"
"KIIRRR!!!" Dinda menatap gue dengan air matanya yang kembali deras, kami pun berpelukkan dengan Dinda kembali tersedu-sedu.
Gila kan kami, yahhh begitulah kami, persahabatan gila itu memang kami.
Ya, kami,
Begitulah kami.
Semarang, 20 10 2010
From Dinda to her child
**************
Gimana yaaa hahahah, masalahnya emang Shakira kalo udah bener-bener marah n kecewa itu kalo ngumpat suka kelepasan, apalagi lihat kebodohan temannya yang, tak habis fikir lagii, wkwkwk, kena review dulu, duhhh tapi gimana yaaa, mau kasih edukasi ala bahasa remajanya mereka, kadang emang ucapan bisa nampar, tapi kalo ditambah perbuatan tambah mantap sih, gatau lagi lahhh, aing cuma mau hahahihi doang