"Syerhin!" Dia berlari menuju seseorang yang akan kembali kerumahnya.
"Seiya..."
"Bawalah ini, kau pasti akan lapar selama di pesawat." Orang yang bernama Seiya itu, memberikan sebuah bingkisan makanan kepada Syerhin. Hari ini, Syerhin akan pulang ke Singapura setelah dua minggu berada di Indonesia.
"Terimakasih! Ini kesukaanku!" Syerhin memeluk Seiya, dan mereka saling mencium pipi mereka untuk salam perpisahan.
"Iya, aku tahu ini akan sulit, tetapi aku juga tahu kau akan kuat. Baik-baik lah di sana, hubungi aku jika ada apa-apa. Sebagai kakakmu, aku siap membantumu apa saja" Ucap Seiya dengan lembut.
"Tentu aku akan baik-baik saja... Doakan kesembuhan papaku juga ya? Kau juga baik-baik di sini bersama Om Aaraf..."
"Tidak perlu khawatir soal itu, aku akan mendoakan kesembuhan papamu... Papamu kan, papaku juga" Seiya tersenyum hangat kepada Syerhin.
"Iya, aku pergi... Sampai jumpa Seiya, aku akan datang lagi saat Natal..." Syerhin pun berbalik, dan perlahan pergi menjauhi Seiya, dia harus naik ke pesawatnya sebelum dia terlambat. Dari kejauhan, Seiya berteriak...
"Aku menyayangimu!!!"
"Aku juga menyayangimu!!!!"
Setelah dia pulang ke Singapura. Syerhin tinggal dengan seorang ART di rumahnya, ayahnya masuk rumah sakit jiwa karena sesuatu. Syerhin harus menerima kenyataan pahit itu, dia harus terpisah beberapa bulan dengan ayahnya.
Syerhin adalah type anak yang sangat manja dengan ayahnya. Dia pasti akan merasa rindu ketika dia tidak bertemu dengan ayahnya, meskipun hanya satu hari.
Namun, berpisah beberapa bulan dengan ayahnya itu adalah keputusan yang tepat... Alasan mengapa ayahnya masuk rumah sakit jiwa karena, psikis ayahnya terganggu, sehingga dia selalu melakukan kekerasan kepada putri semata wayangnya itu.
...
Syerhin dan Seiya memiliki ibu yang sama, sementara ayah mereka berbeda. Ayah Seiya sudah meninggal dari Seiya lahir kedunia, sementara ibu Seiya langsung menikah lagi dan lahirlah Syerhin.
Seiya memang sudah tidak memiliki ayah sejak lahir, tetapi ayah Syerhin menyayangi Seiya sebagaimana dia menyayangi Syerhin. Mereka sangat harmonis, dan tidak pernah ada masalah sama sekali.
Ibu mereka bernama Violin, sementara ayah Syerhin bernama Francis. Violin lahir di New York. Dia mempunyai sebuah bisnis di Indonesia bersama dengan adiknya yang bernama Aaraf. Karena bisnis itulah, Violin dan Aaraf menetap di Indonesia, dan hanya akan kembali ke New York di Bulan Desember saja.
Violin dan Francis bersama-sama merawat dan mendidik Syerhin dan Seiya. Sama sekali tidak ada unsur pilih kasih atau apapun, benar-benar memang keluarga yang harmonis...
Namun, keluarga yang harmonis itu berubah, semenjak Violin meninggal dunia karena kecelakaan. Saat itu, bulan November 2021, di jalan Ave no.9 , daerah Brooklyn kota New York. Pada malam hari, mobil yang entah darimana menabrak mobil yang sedang dikendarai Violin dari belakang, terjadi benturan yang sangat keras, sehingga Violin meninggal dalam keadaan yang menggemaskan.
Syerhin dan Seiya sangat terpukul atas kepergian ibu mereka, Francis.
Violin meninggalkan wasiat... Karena Seiya jatuhnya tidak mempunyai kedua orang tua saat itu, hak asuhnya bukan jatuh kepada Francis, melainkan kepada adik Violin, yaitu Aaraf. Semenjak kematian Violin, Seiya berpisah dengan Syerhin dan tinggal bersama Aaraf.
Sementara itu, Syerhin tetap bersama Francis... Francis tidak mempunyai urusan apapun di Indonesia, jadi dia memutuskan untuk membawa Syerhin pulang ke Singapura.
Disitulah, Syerhin dan Seiya berpisah, dan tidak pernah satu rumah lagi.
Seiya menjalani kehidupannya bersama omnya Aaraf dengan sangat bahagia. Seiya ditinggali banyak warisan, ditambah dengan kekayaan yang diberikan oleh Aaraf. Seiya hidup sangat berkecukupan saat itu.
Begitupun dengan Syerhin... Namun, meskipun dia mempunyai kekayaan yang sangat banyak... Kehidupan Syerhin dengan ayahnya Francis sungguh, sangatlah kacau.
Karena kematian Violin, Francis menjadi lebih agresif, dia mudah marah, dan selalu melampiaskan amarahnya kepada Syerhin. Di sini lah, keluarga yang awalnya harmonis itu berakhir jadi tragis...
...
Suatu hari, Francis pulang ke rumah setelah dia selesai bekerja seharian. Nampak kemarahan dari wajahnya. Dia menuju kamar Syerhin, dan melihat Syerhin berbaring di ranjangnya sembari memainkan handphone-nya.
"Papa sudah pulang ternyata, selamat datang kembali..." Syerhin menyambut kepulangan ayahnya itu dengan penuh ceria.
"Kamu bermalas-malasan lagi?" Ketus Francis.
"Tidak. Syerhin sudah belajar tadi, sekarang Syerhin mau istirahat"
"Banyak laporan dari gurumu... Kamu tidur di kelas, bermalas-malasan, dan nilaimu turun drastis. Apa kamu tidak bisa sekali saja tidak membuat masalah?"
"Maafkan Syerhin pa... Syerhin juga kan sudah belajar. Syerhin tidak akan mengulanginya lagi"
Francis menghampiri Syerhin yang masih berbaring itu, dia merebut paksa handphone yang ada di tangan Syerhin...
"Tidak ada handphone seminggu ini. Teruslah belajar hingga kamu tidak membuat masalah lagi"
"Ta-tapi pa!" Syerhin memberontak, dia berusaha mengambil kembali handphone-nya dari tangan ayahnya itu.
"Jangan melawan... !"
"B-baiklah..."
Syerhin menuruti perkataan ayahnya, satu minggu itu dia hanya belajar untuk meningkatkan nilainya di sekolah. Selama ini, Syerhin memang dikenal sebagai anak yang pintar di sekolahnya, tetapi bukan berarti nilainya akan selalu di atas, ada kalanya nilainya dibawah...
Semenjak itu, nilai turun adalah hal yang paling ditakuti oleh Syerhin. Ayahnya akan marah besar jika dia mendapat nilai yang rendah. Oleh karena itu, kesehariannya hanya diisi oleh belajar, makan dan tidur, hanya untuk mempertahankan nilainya tetap di atas.
Dia juga jadi jarang memberikan kabar kepada Seiya di sana, ya... Seiya juga jarang memberikan kabar kepada Syerhin... Mereka berdua memang benar-benar disibukkan dengan kehidupannya masing-masing.
Karena, keseharian Syerhin yang begitu-begitu saja, yang terus terulang hingga hampir 2 tahun semenjak kematian Violin. Syerhin mengalami depresi yang sangat berat.
Ayahnya sudah seakan tidak peduli padanya, teman Syerhin pun tidak ada yang peduli padanya... Seiya sibuk dengan kehidupannya sendiri... Sehingga tidak ada yang mendukung, dan menemani Syerhin... Satu orang pun... Dia benar-benar merasa sendiri di dunia ini.
Dia sudah mencapai puncak muaknya... Syerhin lelah...
"AAAAHHHHHKKKKKKK!!!!!!" Syerhin melempar handphone-nya ke laut... Dia memang tinggal di sebuah villa mewah pinggir laut. Saking kesal dan muaknya, dia sampai bisa melempar barang berharganya itu...
Sembari terus menangis dan berteriak, Syerhin melampiaskan kekesalannya dengan melempar pasir-pasir itu ke laut...
"Aku... Tidak kuat...!!!!!" Syerhin berteriak lagi, air matanya membasahi pipinya, menetes ke hamparan pasir-pasir yang panas itu. Dia terduduk lemas, menatap ke arah laut yang menghamparkan ombak-ombaknya.
Dia bercerita kepada laut yang terus menghamparkan ombak-ombaknya... Selama ini, ayah yang dia cintai itu sudah tidak mencintainya lagi. Ayahnya mengekangnya dengan hebat, dan selalu melampiaskan setiap amarah kepadanya.
Syerhin tidak salah apa-apa... Semua ini salah ayahnya... Sifat dan sikap ayahnya berubah drastis, menjadi sangat agresif dan mudah marah, sampai-sampai seringkali melakukan kekerasan kepada Syerhin.
Syerhin memiliki banyak luka lebam, dan memar di sekujur tubuhnya... Setiap kali ayahnya pulang dengan perasaan marah, pasti ayahnya melampiaskan amarah dan kekesalan itu kepada Syerhin dengan memukul, menendang, menjambak, menampar, dan lainnya...
Syerhin tidak bisa menceritakannya kepada siapapun, dia seakan-akan selalu dibungkam untuk tetap diam. Bahkan kepada Seiya, dia tidak pernah mengadu kepada Seiya tentang apapun.
Sampai akhirnya, Syerhin tidak tahan lagi, dia menelfon Seiya, dan mengadukan semua hal yang dia alami kepada Seiya, dia memohon-mohon kepada Seiya untuk meminta bantuannya. Tentu saja Seiya membantu adiknya itu...
"Begini, kau di mana sekarang? Terbanglah kemari, aku akan menyiapkannya..."
"Tetapi, aku takut..."
"Tidak, jangan takut... Aku akan menyelesaikan masalah itu... Amankan dulu dirimu"
"Baiklah, aku akan terbang kesana... Jemput aku di bandara"
Tanpa pikir panjang, Seiya dengan dibantu Om Aaraf mengatur keberangkatan Syerhin dari Singapura ke Indonesia. Sehingga, pada Hari Senin 11 September 2023... Syerhin tiba di Indonesia dengan selamat pada 10.30 AM.
Seiya dan Om Aaraf membantu Syerhin menyelesaikan masalahnya, dan menyembuhkan psikis Syerhin yang tadinya sangat kacau...
Sepertinya, Francis menyadari kepergian Syerhin. Dia langsung menyusul ke Indonesia setelah 2 hari, dan melabrak Seiya... Dia menyangka bahwa Seiya lah penyebab Syerhin berani nekat pergi dari Singapura ke Indonesia.
Di Rumah Om Aaraf...
"Papa adalah penyebab Syerhin bisa seperti ini! Syerhin ini anak kandung papa loh! Betapa kejamnya papa melakukan hal sekejam itu kepada Syerhin!?" Seiya menggertak kepada Francis.
"Kamu tidak perlu ikut campur urusan saya dengan Syerhin!"
"Seiya berhak ikut campur! Syerhin itu adik Seiya, anak mama juga!"
"Saya dan Syerhin tidak ada urusan apa-apa di sini... Syerhin akan saya bawa pulang secara paksa" Francis menghampiri Syerhin yang berada di belakang Seiya itu... Seiya terus menghalangi Syerhin agar dia tidak di bawa oleh ayahnya...
"Jangan! Jangan bawa Syerhin! Papa harus berobat! Biarkan Syerhin sendiri! Pergi!" Seiya mendorong Francis ke belakang, tetapi tenaganya tidak bisa menyeimbangi tenaga Francis. Francis mendorong Seiya hingga terjatuh dan meraih tangan Syerhin.
"Jangan membangkang kepada papamu. Pulang!"
"Tidak mau! Syerhin tidak mau pulang! Syerhin ingin bersama Seiya! Syerhin ingin tetap bersama Seiya!" Syerhin berusaha melepaskan genggaman tangan ayahnya sembari menangis dan berteriak.
Namun, tiba-tiba Om Aaraf menghadang Francis yang akan keluar dari rumah. Francis terdiam, Om Aaraf lalu menampar keras wajah Francis, sehingga dia melepaskan genggaman tangan Syerhin. Syerhin kemudian dipeluk oleh Seiya dan dibawa menjauh dari sana.
"Apa yang kau pikirkan!? Begitulah caramu merawat anak Violin? Jika kau tidak bisa merawatnya dengan baik, berikan saja anak itu kepadaku!" Gertak Om Aaraf, dia mengancam Francis sehingga dia hanya terdiam mendengarnya...
"Bicaralah sebentar denganku secara baik, Francis... Kau tidak bisa selamanya menyiksa anak itu!"
Setelah, beberapa gertakan dan ancaman, Francis mau mengakui dosa-dosanya kepada Om Aaraf. Hanya diantara mereka... Francis menceritakan semuanya, termasuk alasan mengapa dia menjadi seorang penyiksa...
"Kau... Dihantui Violin?"
"Entah hutang apa yang kulakukan kepada Violin. Semenjak kematiannya, dia terus menghantuiku dan mengacaukan pikiranku. Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih"
"Lalu, mengapa kau menyiksa anakmu? Anakmu tidak salah apa-apa"
"Tidak tahu... Aku marah, aku kesal, dan takut karena Violin terus menjadi mimpi burukku... Secara tidak sadar aku... Melampiaskannya kepada Syerhin... Namun setelah aku menyiksa Syerhin... Aku jadi semakin gila dan dihantui rasa bersalah..."
Secara logis, memang seseorang yang sudah mati tidak bisa datang kembali ke dunia, meskipun itu sebagai hantu sekalipun... Namun, mimpi tentang seseorang yang sudah mati tidak bisa dihindari...
Francis masih belum melakukan janjinya kepada Violin... Dia terus dihantui dengan janji itu, sampai-sampai dia hampir kehilangan kewarasannya...
Francis dihantui janji Violin, ditambah dengan rasa bersalahnya yang terus bertambah setiap kali dia melakukan penyiksaan terhadap Syerhin... Membuat pikirannya menjadi kacau, frustasi, dan dia sudah masuk ke dalam golongan "Orang Dalam Gangguan Jiwa"
"Berhentilah menyiksa anakmu... Janjimu dengan Violin itu, anakmu sama sekali tidak terlibat... Kau memang sudah gila..." Om Aaraf benar-benar tercengang, dan hampir tidak percaya mendengar cerita dari Francis.
Francis hanya diam sembari menutup matanya, tak sadar bahwa dia perlahan meneteskan air mata...
"Huft... Kau adalah suami Violin sekarang... Tidak lain kau adalah kakak iparku... Aku akan memasukanmu ke rumah sakit jiwa mau tidak mau..."
"Untuk apa?"
"Menyembuhkan kejiwaanmu... Kau sudah gila sekarang... Jika kau tidak mau aku juga akan memaksamu. Ini demi anakmu."
"Hhah... Terserah saja"
Francis sepertinya sudah pasrah dengan keadaan. Terlihat keputus-asaan di dalam raut wajah dan matanya... Terlihat seperti orang yang ingin segera mengakhiri hidupnya.
"Minta maaflah kepada anakmu. Aku akan mengurus semuanya, mulai sekarang akulah yang akan merawat anakmu hingga kau siap untuk merawatnya lagi."
"Aku serahkan Syerhin kepadamu."
"Tunaikanlah janjimu dengan Violin di sana... Setelah kau keluar, pastikan Violin sudah tidak menghantuimu lagi." Pesan terakhir dari Om Aaraf, dan Francis hanya mengangguk.
12 Oktober-15 Oktober 2023. Francis dikonsultasikan ke berbagai psikolog di Indonesia, sebelum dia masuk ke salah satu rumah sakit jiwa terbaik di Singapura. Selama itu juga, Seiya berusaha mengobati luka trauma adiknya.
Seiya mengajak Syerhin bermain ke berbagai tempat yang indah, menghiburnya dengan segala permainan yang dia tahu. Menemaninya tidur, dan selalu bersikap baik kepada Syerhin. Meskipun mereka tidak benar-benar satu darah, tetapi Seiya sangat menyayangi Syerhin... Karena, sungguh hanya Syerhin lah yang dulu paaling mengerti Seiya.
15 Oktober, Francis mulai menjalani masa pengobatannya di salah satu rumah sakit jiwa terbaik di Singapura... Sementara itu, Syerhin memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Singapura beberapa tahun lagi. Dia di Singapura tinggal bersama seorang ART.
Tentunya, ART itu sangatlah baik, karena merupakan pilihan Om Aaraf, ART itu kenal dengan Om Aaraf. Dan pastinya akan memperlakukan Syerhin dengan baik.
Sebenarnya, Syerhin ingin tinggal lebih lama dengan Seiya, tetapi pendidikannya tanggung... Sekitar 4 tahun lagi, dia bisa lulus dari Sekolah Menengah Akhir. Syerhin akan menyelesaikan 4 tahun itu dengan sebaik-baiknya, meskipun tanpa ayahnya.
Syerhin tetap menyayangi ayahnya, dia tahu alasan dibalik ayahnya selalu berbuat seperti itu kepadanya... Namun, yang namanya trauma harus diobati... Syerhin pindah rumah, dan mengobati lukanya sendiri di rumah yang baru, tentunya dengan dibantu dengan Seiya, dan Om Aaraf. Mereka akan selalu mengunjungi Syerhin setiap satu bulan sekali ke Singapura.
Hidup Syerhin menjadi lebih baik setelah itu. Meskipun, hingga saat ini dia masih takut untuk melihat ayahnya lagi, tetapi dia akan tetap kuat, dan dia akan selalu mengingat ibunya, sebagai penyemangat dan motivasi dirinya ketika dia sedang bersedih...
...
"Mama... Seiya... Aku akan menjadi anak perempuan papa yang paling kuat. Aku merindukan papa, tetapi aku paling merindukan mama... Suatu hari, aku akan menyusul mama... Dan Seiya akan terus hidup bahagia..."
-END-
[Based On True Story]