Jablai
Lalu lintas di penghujung minggu ini sangat padat. Kendaraan besar dan kecil saling susul menyusul. Seolah takut tidak kebagian makan gratis di acara hajatan Pak Hamdan.
Siapa itu Pak Hamdan?
Apakah dia penyanyi dangdut terkenal itu?
Oh, bukan. Hamdan yang ini adalah juragan beras di wilayah Cidahu, sebuah kelurahan di kabupaten Sukabumi. Tepatnya di sebuah desa bernama Leuwiliang, yang berada di kawasan kaki gunung Salak. Beliau merupakan ayah dari Mai, perempuan yang akan melangsungkan pernikahan esok hari.
Lantunan suara sumbang milik Roni mengiringi perjalanan tanpa henti. Sedangkan Gozali, sang adik ipar yang menjadi supir, hanya sanggup menyumpal telinga sembari menyabarkan hati.
Di kursi belakang, tampak Ibam sedang beradu dengkur dengan Ardi. Meninggalkan Gozali sendirian yang terjaga, untuk mendengarkan suara Roni yang sanggup menghancurkan jendela.
Perjalanan tersendat dari Bandung ke Cidahu ini mereka tempuh selama lebih dari tiga jam, dan tiga kali ganti supir serta lima kali berhenti untuk beristirahat sekaligus makan dan salat.
Desa yang mereka tuju sudah tampak dekat bila dilihat dari peta. Sesampainya di pertigaan jalan ini sedikit, Gozali menjadi bingung.
"Kak, kita lurus aja atau gimana nih?" tanya pria bercambang itu sambil menunjukkan ponsel ke Roni, yang sontak berhenti berjoget.
"Di peta, kumaha?" Roni balik bertanya.
"Itu dia masalahnya, Kak. Di peta nggak ada ini. Berhenti di sini doang."
"Hmmm. Aku telepon Mai dulu, ya," ucap Roni sembari menyentuh layar ponselnya. Mencari-cari nama Mai, kemudian menelepon perempuan berparas manis yang merupakan staf di perusahaan mereka.
Mai inilah yang akan dirias oleh Roni esok hari. Sesuai janjinya, setiap karyawan perusahaan akan mendapatkan layanan rias langsung oleh Roni, bila mereka akan menikah.
Demi mewujudkan janji, Roni rela menempuh perjalanan jauh serta jalan berliku. Tak lupa untuk menyeret ketiga orang lainnya untuk menemani. Karena Roni takut untuk datang sendirian ke sini.
"Kata Mai, ambil yang jalur kanan. Jalanannya menanjak. Nanti kalau udah nyampai di lapangan bola, akan ada adiknya yang menunggu buat jadi penunjuk jalan," jelas Roni setelah memutuskan sambungan telepon.
Gozali manggut-manggut, kemudian menjalankan mobil kembali dengan hati-hati.
Banyaknya orang yang melintas di sore hari yang hangat ini membuatnya benar-benar harus menajamkan mata. Banyak anak kecil di bawah umur yang melaju kencang dengan motor. Seolah tidak takut tergelincir atau menabrak sesuatu.
"Udah nyampe?" tanya Ardi sambil menguap. Merentangkan tangan dan meninju pipi kiri Ibam yang langsung terbangun.
"Akang!" teriak Ibam. Kakinya spontan menendang kaki Ardi. Dibalas dengan jitakan di dahi oleh suaminya Andina itu.
"Woi! Malah tabok-tabokan!" hardik Roni sambil menyemprotkan pistol berisi air pada kedua penumpang itu.
Gozali mengusap dada, berusaha menabahkan hati menghadapi ketiga pria aneh ini. Mendadak dia merindukan Harry. Suami dari Nadila itu adalah satu-satunya orang yang paling sabar menghadapi tingkah aneh para pemilik perusahaan.
Sayangnya, saat ini Harry sedang menjadi suami siaga, sehingga tidak bisa ikut. Sedangkan para perempuan yang biasanya menjadi penengah, kini sedang sibuk mengurus anak masing-masing.
Walaupun sebenarnya Gozali curiga, saat ini para istri mungkin sedang berpesta, bisa menghindar dari suami masing-masing, dan menjadikan Harry sebagai pesuruh.
Seorang pria muda yang bertubuh kurus, melambaikan tangan ke arah mobil dari pinggir lapangan.
"Kang Roni?" tanyanya sambil merunduk ke kaca mobil yang dibuka Roni.
"Iya, kamu Mus kan? Adiknya Mai?" Roni bertanya balik untuk memastikan tidak salah orang.
"Iya, Kang. Saya, Mus. Ikutin saya, ya," ujar Mus sambil jalan dan menaiki sebuah motor di pinggir lapangan. Memacu motornya dengan kecepatan sedang sambil sesekali melihat ke belakang. Mungkin takut mobil bakal nyasar ke Sumedang.
Setelah menempuh perjalanan selama belasan menit, akhirnya mereka tiba di sebuah tenda besar yang menutupi halaman dua buah rumah yang berdampingan.
Seorang perempuan dewasa yang berwajah mirip dengan Mus, menyambut kedatangan rombongan Roni dengan bibir melengkungkan senyum. Menyalami keempat pria itu dan mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam rumah di sebelah kanan.
Dari dalam kamar pertama di rumah tersebut, Mai bersorak menyambut kedatangan para bos perusahaan. Memeluk mereka satu per satu tanpa rasa sungkan.
Kedekatan hubungan antara pemilik dan pegawai di perusahaan itu memang sengaja dibuat sedemikian akrab. Agar tidak ada jarak antar sesama pejuang pengais berlian.
"Kamar buat kalian ada di rumah sebelah, Kak. Nanti teh Muna yang akan mengantarkan. Sekarang, kita makan dulu, yuk," ajak Mai pada keempat bos-nya.
"Udah makan, Mai," tolak Ardi dengan halus.
"Lauknya jengkol semur," sambung Mai yang sontak membuat Roni berdecak.
"Oh, kalo jengkol sih, perut sebelah kiri masih siap menampung," sahut Ardi sambil menggosok perut.
Mai tertawa mengikik. Sudah sangat paham bila keempat pria ini adalah penggemar berat jengkol.
***
Malam semakin larut. Keempat pria itu sudah tertidur lelap di kamar paling belakang rumah. Pemilik rumah yang merupakan adik ibunya Mai, sengaja menempatkan para bos itu di kamar paling besar di rumah ini.
Tepat di sebelah kiri kamar ada dua buah kamar mandi yang berukuran besar. Di sebelah kamar mandi adalah tempat cuci, yang berbatasan dengan bak penampungan air di luar rumah.
Bila melintas ke kamar mandi, maka pemandangan bak penampungan akan terlihat jelas, karena jendelanya yang tidak ditutupi gorden.
Bagi penghuni rumah hal itu pasti sudah biasa. Akan tetapi, berbeda dengan para tamu. Terutama Roni. Dia sedikit takut untuk memandang ke luar.
Teringat cerita Mai beberapa waktu lalu. Tentang sosok pocong yang sering menampilkan diri di desa ini. Terutama sejak ada kasus penemuan jasad seorang pria di hutan, yang meninggal dunia karena dibunuh teman kencannya.
"Bro, bangun," rengek Roni sambil mengguncangkan tubuh Ardi yang masih tertidur.
"Hmmm," jawab Ardi dengan menggeram.
"Temenin gue ke kamar mandi. Kebelet nih," ucap Roni sembari menggelitik hidung Ardi dengan kaus kaki yang dia temukan di bawah kasur.
"Pergi sendiri!" bentak Ardi.
"Takut!"
"Dasar cemen!"
"Cakep!"
"Kutil!"
"Ubur-ubur!"
"Berisik!" teriak Gozali dan Ibam berbarengan.
Setelah bernegoisasi dengan cara suit, akhirnya Ibam terpilih untuk menemani Roni ke kamar mandi.
"Lu, tuh, ya. Coba sifat penakut itu dihilangin!" sungut Ibam dari kamar mandi sebelah kanan.
"Kayak dia sendiri pemberani aja," jawab Roni dari kamar mandi sebelah kiri.
"Kalau gue sih, mendingan ketemu hantu daripada ketemu banci," seloroh Ardi dari depan pintu kamar yang terbuka.
"Kalau hantunya itu mantan banci gimana?" tanya Gozali.
Ardi memandangi wajah suaminya Raina itu yang tiba-tiba memucat. Roni dan Ibam yang jalan mendekat pun ikut bingung melihat ekspresi Gozali yang aneh.
"Maksudnya, gimana?" tanya Roni.
Gozali tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke luar rumah dengan tangan yang bergetar.
Ketiga pria itu mengikuti arah telunjuk Gozali. Mereka pun ikut terpaku. Sepersekian detik terperangah dengan mata yang membelalak dan mulut menganga.
Di luar sana, tampak sesosok makhluk sedang duduk santai di atas bak penampungan air. Dia tampak sedang bernyanyi sambil membunyikan kecrekan.
Lai lai lai lai lai
Panggil aku si jablai
Akang jarang pulang
Aku jarang dibelai
Keempat pria itu masih berdiri di tempat masing-masing. Kaki mereka seolah menancap di lantai. Sulit untuk digerakkan.
Susah payah Ardi bergerak menggapai Gozali. Sementara Roni menarik ujung baju Ibam untuk berpegangan.
"Mina! Jangan konser di situ!" Terdengar suara seorang perempuan dari belakang keempat pria tersebut.
Sesosok perempuan muda yang mengenakan gaun pengantin berwarna cempaka, dengan hiasan renda di atas kepala, tampak melayang dengan santai.
Rima mengedipkan sebelah matanya pada keempat pria tampan yang semakin membekukan diri. Kemudian terbang menembus dinding ke arah luar rumah.
Pocong banci itu turun dari bak dan menyambut kedatangan sahabatnya, dengan bertepuk tangan riang gembira. Kemudian mereka mengesot bersama. Menjauh dari rumah sambil melambaikan tangan kepada keempat pria yang sedang mematikan diri.
Tamat