☺️ Selamat membaca, semoga berkesan...
✨✨✨✨
Wanita dalam masa kemelut Revolusi atau periode pergerakan nasional. Munculnya para wanita tangguh sebagai bentuk pertahanan diri akan hak yang terenggut dengan hinanya.
Bagai sebuah botol usang yang tergelak penuh lumpur di jalanan, begitu terlihat rentan terpecah, namun percayalah botol itu terbuat dari kaca tebal yang bahkan kuat saat tertendang atau terhentak pada batang pohon yang kuat.
Panas, dingin, lembab, bahkah jamur yang bersarang didalamnya, tidak akan membuat nilai kualitas botol itu berkurang sedikit pun.
Bagi seorang wanita bernama Aryani Sumirto, menikah disaat usia 16 tahun dimana masih sangat belia pada seorang pria gagah berani seorang kopral tentara pasukan perdamaian.
Pernikahan yang berlangsung selama tiga tahun, berangsur menyedihkan disaat suami tercinta gugur dalam medan perang.
Kesedihan Aryani semakin menyesakkan relung jiwa tak kala buah hati yang baru diketahui berada dalam kandungannya pun harus berakhir tak bernyawa saat dirinya mencoba menyelamatkan dirinya dari para penjajah kolonial yang ingin menangkap dan menjadikannya budak perantara nafsu belaka karena parasnya yang begitu ayu dan menarik.
“Cari wanita itu sampai ditemukan dan bawa langsung ke markas!” perkataan bernada tinggi yang selalu didengar Aryani saat mencoba bersembunyi pada sebuah tempat untuk berlindung dengan noda merah yang mengalir diantara kedua kakinya karena masih belum mengerti apa arti dari makna keguguran dalam masa kehamilan.
“Kemana aku harus pergi?” perkataan dalam benak Aryani dengan tangan dan suhu tubuh yang mulai mendingin. Bahkan bibirnya terlihat begitu pucat pasi saat melewati sebuah kaca jendela yang terpantul cahaya saat dirinya tak sengaja menghentikan langkah akibat terus berlari mempertahankan hidup.
Menatap pada kejamnya rezim kapitalisme yang tentunya tersisa budaya feodalisme, ternyata masih berada dan tumbuh dalam lingkungan keluarga atau masyarakat tanpa mereka sadari.
Menapak demokrasi yang sarat ironi bahkan nyawa yang menghilang begitu mudahnya dinegeri ini, kemana diri bisa meminta untuk pertolongan disaat yang lain pun berjuang untuk tetap bernafas dengan cara bertahan hidup mereka masing masing.
Aryani terus berlari tanpa henti hingga terhenti pada sebuah bangunan yang seingatnya digunakan sebagai bale pengobatan para rakyat biasa yang berada didalam ruang bawah tanah sebagai persembunyian dari para wanita yang bekerja sebagai palang merah disisi lain sebagai bentuk pemberontakan secara diam diam.
Merasa dirinya akan aman berada disana, Aryani memberanikan diri untuk masuk kedalam yang ternyata disambut dengan tentara nasional yang juga mengarahkan berbagai senjata saat Arjani masuk melalui pintu belakang.
“Siapa kau dan mau apa kau kemari?” tanya salah satu perwira dari pasukan perkasa yang sedang bertugas menjaga bale kesehatan pada pertengahan malam ini. Aryani berjalan begitu terhuyung lemas hingga saat akhirnya dirinya terkena pantulan cahaya yang menyala, perwira itu menyadari bahwa kondisi wanita dihadapannya saat ini berada diujung maut.
“PANGGIL BU DIAH DAN NYI KENDAR KEMARI!” teriak perwira itu saat menopang tubuh perempuan kurus berkulit sawo matang yang mulai tidak sadarkan diri. Tatapan perwira itu pun seolah tertarik masuk dalam pesona Aryani meski saat ini bersuhu tubuh dingin dengan peluh yang menetes dan wajahnya yang semakin pucat.
“Ada apa, Nak? … Siapa wanita ini?” tanya Bu Diah yang berlari dari ruangan dalam dengan Nyi Kendar yang ikut menyusul dibelakangnya. Tatapan kedua wanita yang sudah berusia 45 tahun itu pun langsung menyadari bahwa kondisi Aryani saat ini kritis akibat keguguran yang dialaminya. Dengan bantuan perwira itu yang menggendong Aryani masuk kedalam ruang perawatan di bale ini, Aryani dengan segera mendapatkan pertolongan.
Pagi hari menyambut dengan sinar matahari yang tembus melewati tirai berwarna coklat. Terlihat hembusan angin pun mengibas tirai itu, entah hari atau pukul berapakah saat ini karena Aryani mendapati dirinya yang sudah berganti pakaian dengan tertidur pada sebuah tempat tidur kayu beralaskan sebuah selimut batik tenun.
“Kau sudah bangun? … tenanglah, kau berada dikediamanku. Tidak akan ada yang berani untuk datang kemari membawa atau menculikmu,” Ucap seorang wanita berpenampilan dermawan dengan rambut berkonde, serta kebaya yang tidak pernah Aryani kenakan sebelumnya karena bahan kebaya itu hanya khusus digunakan oleh Raden kalangan atas.
“Siapa namamu? Aku adalah Nyi Kendar,” Tanya wanita itu kembali dengan terduduk lembut penuh keanggunan disamping Aryani, membantunya untuk duduk karena terlihat meringis menahan sakit pada area kewanitaannya serta perutnya. Seolah tidak memperhatikan kedudukan sosial, Aryani menatap pada Nyi Kendar penuh kekaguman.
“Apa ini milikmu? Melihat identitas ini, jelas kau berasal dari perbatasan kota. Sepertinya kau juga sudah menikah … apa suamimu masih hidup?" tanya Nyi Kendar kembali dengan tersenyum hangat sembari mengembalikan sebuah ukiran kayu yang diberikan khusus kepada istri seorang tentara dengan simbol daerah asalnya.
“Saya … baru mendapat kabar bahwa suamiku, gugur dimedan perang. Menjelang malam, tiba tiba tentara kolonial menerobos masuk kedalam rumah dan mencoba menculikku. Nama saya Aryani. Aryani Sumirto,” Aryani menundukkan kepalanya seketika sembari membelai lembut perutnya yang masih terasa sakit hingga saat ini. Nyi Kendar yang bisa menduga bahwa pernikahan Aryani saat usia belia, membuat Nyi Kendar merasa iba dan ingin menolong Aryani.
“Aku ingin mengangkatmu menjadi anakku. Apa kau bersedia Aryani?” pertanyaan mengejutkan yang diberikan Nyi Kendar pada Aryani membuatnya berkaca kaca mencoba menahan tangis. Entah berkah atau keberuntungan apakah yang ia miliki saat ini, bagai lumpur kotor yang terangkat dan berganti menjadi pasir putih dipantai yang indah.
Kehadiran Bu Diah yang juga bekerja sebagai pesuruh dikediaman Nyi Kendar, menaruh simpatik pada Aryani terlebih kemauannya dalam berjuang hidup untuk mempertahankan harga dirinya ditengah ancaman walau terdeklarasi adanya kemerdekaan yang berkumandang. Keterlibatan para wanita, sudahlah cukup untuk menyerang balik keganasan para monarki yang hanya menginginkan rasa aman dan kedudukan semata.
Aryani diobati dengan sangat baik bahkan proses kesembuhannya terbilang cepat dengan statusnya yang baru sebagai bagian dari keluarga Raden yang mendiami wilayah ibu kota. Bukan hanya tabib tradisional, melainkan teknik pengobatan dari barat pun Aryani dapatkan saat memerlukan perawatan serta obat obatan yang mahal.
Menjelang malam disaat Aryani berjalan mengitari kediaman Nyi Kendar setelah memeriksa kondisi tubuhnya yang semakin membaik, Aryani melihat sesosok pria perkasa berparas tampan yang ia ingat sebagai penolongnya kala itu. Aryani memberanikan diri untuk mendekati perwira yang bernama Pranawa itu dan mengutarakan isi hatinya.
“Apa kau masih mengingatku? Jika tidak, aku hanya ingin menyampaikan rasa terima kasihku padamu. Jika kau tidak mengijinkanku masuk dan menolongku, maka dapat dipastikan saat ini aku tidak akan berada disini,” Aryani menundukkan kepalanya penuh hormat seraya sedikit membungkuk pada Pranawa. Mencoba berterima kasih sekelas bangsawan, setelah mendapatkan pelajaran norma etika sopan santun yang diberikan Nyi Kendar.
“Tidak perlu seperti ini. Aku hanya menjalankan kewajibanku saja,” balas Pranawa dengan membalas menunduk hormat pada Aryani. Tatapan Aryani seketika terdiam setelah mendengar suara berat begitu dalam saat Pranawa berbicara. Penampilannya yang begitu maskulin dengan lengkung wajah sempurna, entah mengapa membuat Aryani merasa sedih yang tiba tiba teringat mendiang suaminya.
Tanpa membalas ucapan itu kembali, Aryani membalikkan tubuhnya dengan berjalan cepat menuju ruangan kamarnya dan terduduk termenung pada sebuah kursi didepan pintu kamarnya yang mengarah kehalaman belakang rumah.
Malam kelam nan pekat, Aryani mendapat sedikit sinar rembulan yang sempat tertutup awan gelap. Tiba tiba gemuruh petir menyambar dengan kilatannya yang bergema menghentak bumi, pertanda hujan lebat dengan angin akan datang.
Namun bagi Aryani yang saat ini masih mencari tahu tentang apa yang ingin dia cari atau dia inginkan, entah mengapa semua begitu bertolak belakang hingga akhirnya Aryani mengetahui sebuah fakta bahwa sang ibu angkat, Nyi kendar adalah salah satu pendiri dari pasukan wanita yang mereka sebut dengan Korps prajurit wanita (Estri).
Estri tidak hanya dilatih ketrampilan bersenjata dan berkuda, tapi juga mahir dalam bidang kesenian, pengobatan, dan memiliki aneka keterampilan lainnya. Bahkan, kehebatan prajurit estri diakui oleh Gubernur Jenderal tentara kolonial diwilayah ibukota ini hingga mereka tidak berani untuk mencari masalah dengan korps prajurit wanita ini.
Malam semakin larut, rembulan sudah benar benar termakan gelap awan hitam disaat hujan turun dengan derasnya. Berpikir bahwa rembulan sedang menangis, tanpa sadar Aryani pun ikut menangis pula. Kesedihan mendalam akan beban perasaannya yang begitu menyiksa, tak pernah bosan lantunan doa selalu dia ucapkan dalam hatinya yang penuh lubang luka.
Merasa doa doanya tidak terdengar setelah mengetahui bahwa anak dalam kandungannya pun terpaksa memilih untuk meninggalkannya, api panas bagai lahar gunung api menjalar diseluruh nadinya. Api yang tidak pernah dia sangka akan hadir didalam dirinya, seketika meluap bagai muntahan larva yang terlihat begitu marahnya untuk meluluh lantahkan apa pun yang ada disekitarnya hingga sebuah janji sumpah Aryani ucapkan dalam dirinya sendiri.
“Aku akan menjadi api untuk memulai perang ini. Maka jadilah aku yang akan berjuang menuntut balas pada mereka yang berhati busuk penuh dengan ironi kemunafikan.”
Menjelang pagi, Aryani segera berjalan menuju ruangan tengah dimana terdapat sebuah taman kecil yang biasa digunakan mereka untuk bercakap sembari menikmati secangkir teh. Dengan lantang Aryani menyerukan dirinya untuk bergabung dalam pasukan wanita ( Estri ) dan siap menerima pelatihan sulit.
Nyi Kendar menatap Aryani begitu serius, tahu akan usianya yang masih sangat muda karena akhir tahun ini baru akan genap berusia 20 tahun, Nyi Kendar pun merasa dengan kehadiran Aryani di Estri tentu akan sangat menguntungan terlebih Aryani dikenal sebagai sosok yang mudah memperlajari sesuatu dengan tekad yang kuat.
Namun melihat rasa dendam dalam hati Aryani saat ini, Bu Diah yang juga ikut mendengarkan permintaan Aryani memberikan masukan pada Nyi Kendar agar Aryani melakukan tes dan pelatihan yang berbeda dari pasukan Estri lainnya. Nyi Kendar yang langsung dapat menangkap maksud Bu Diah pun langsung menyetujuinya dengan Aryani yang akan mulai melakukan tes dan latihan pada besok hari.
“Luruskan perhatianmu jangan sampai fokus pada hal lain. Tekan pelatuk ini kearah kaleng itu jangan sampai melenceng!”. Ucap Bu Diah dengan begitu sangat serius pada latihan pagi hari. Dan pada siang hari, “ Aryani, jika postur tubuhmu seperti itu, kau akan mudah dijatuhkan. Posisi kuda kudamu harus kuat, kakimu harus seimbang.” Ucap Pranawa mengajari ilmu bela diri pada Aryani atas permintaan Nyi Kendar.
Dan hanya berselang beberapa waktu, seolah tidak memperbolehkan Aryani untuk beristirahat dan berehat sejenak, “ Aryani, dalam berjalan kau harus anggun. Nada bicaramu harus lembut dan sopan namun terdengar oleh lawan bicara.” Ucap Nyi Kendar begitu anggun mengajari Aryani dalam norma etika kalangan bangsawan.
Hari berlalu namun sungguh diluar perkiraan Aryani benar benar terlihat berbeda dengan hanya waktu latihan dan tes yang singkat. Berbeda dengan pasukan wanita Estri lainnya, Aryani sungguh membuat bangga Nyi Kendar dan Bu Diah yang tidak sia sia mengajar dan membimbingnya.
Nyi Kendar dan Bu Diah pun ingin melancarkan sebuah rencana dimana para wanita yang bekerja di pertambangan atau pembangunan harus dihentikan, serta wanita panggilan untuk memuaskan para tentara hidung belang, hanya bisa melayani jika sudah terikat dengan janji pernikahan.
Mendapat kabar akan sebuah acara yang akan dihadiri pejabat, kalangan atas, serta tentunya pasukan tentara kolonial, Nyi Kendar kali ini datang bersama Aryani sebagai anaknya. Penampilan Aryani yang begitu menarik perhatian karena parasnya yang cantik, membuat Aryani tiba tiba terkenal dikalangan atas bahkan permintaan pernikahan pun diterimanya.
Seperti bom atom, seketika idealisme Aryani diakui oleh Letnan pasukan kolonial yang terlanjur jatuh hati padanya dengan melepaskan semua wanita yang bekerja dipertambangan dan juga pembangunan. Aryani pun membangun sarana penyembuhan untuk para wanita yang ternistakan oleh bejatnya tentara hidung belang, hingga membuat Aryani menjadi sosok yang begitu penting dalam masyarakat hanya dalam waktu singkat.
“Anak-anak layak mendapatkan pendidikan yang sama entah itu kalangan atas atau bawah. Selama mereka mau belajar, aku ingin membangun sarana pendidikan untuk mereka,” ide lain yang diberikan Aryani kepada pasukan wanita Estri dihadapan Bu Diah dan Nyi Kendar yang kembali mendukungnya.
Namun permintaan Aryani kali ini ditentang keras oleh tentara kolonial dengan persyaratan yang begitu sulit dimana, Guru maupun kepala sekolah yang akan mengajar harus meminta izin kepada Hoofd van Gewestelijk Bestuur (Kepala Pemerintahan Daerah) dan dalam mendirikan sekolah baru, wajib meminta izin kepadanya.
Perlawanan pun tentu dilakukan oleh Aryani dan beberapa pasukan wanita Estri sebagai bentuk pemberontakan yang begitu frontal. Bahkan Aryani tidak segan mengancam salah satu pejabat daerah yang bersekutu dengan tentara kolonial dengan begitu perizinan akan mudah didapatkan.
Bukan hanya itu, Aryani bahkan memberikan kesempatan bagi para wanita untuk bergabung dalam palang merah guna semakin banyaknya tenaga medis yang membantu tentara terluka akibat perang.
Perjuangan Aryani semakin mendapat kecaman dari Letnan tentara kolonial yang kini sudah tidak lagi menaruh rasa para Aryani yang terlihat semakin dekat dengan Pranawa yang saat ini naik pangkat menjadi seorang komandan pasukan elit pertahanan depan. Sontak api kecemburuan dan hilang akal pun terjadi dengan diculiknya Aryani.
“Jensen van Reis. Aku tahu kau bisa berbahasa pribumi. Katakan apa yang kau mau dengan menculikku seperti ini?!” Aryani berkata dengan sangat tegas saat menatap pada Letnan tentara pasukan kolonial tersebut. Meski tangan dan kakinya terikat, tidak menggoyahkan keberanian Aryani yang sudah muak pada kolonialisme.
“Menikah denganku maka akan aku berikan semua yang kau mau. Jika kau menolakku, jangan salahkan jika aku mengibarkan bendera perang!” balas Jansen, Letnan tentara kolonial dengan mengarahkan sebuah senjata api kearah wajah Arjani yang masih menatap begitu lantang padanya.
Doa pun kembali Aryani panjatkan dalam hatinya. Keyakinan kepada sang pencipta begitu kuat baginya hingga sedikit pun tak merasa takut jika ajal memang sudah berada dekat dihadapannya saat ini juga. Keteguhan dan keimanan sungguh merupakan senjata terkuat yang tidak akan bisa menandingi dari apa pun itu.
Pertolongan tak terduga Aryani dapatkan dengan terdengarnya suara teriakan dari massa yang begitu bergema diluar kediaman Jessen van Reis. Langkah kaki mereka yang berlari bagai memecah bumi tanah air yang tandus akan rasa keadilan. Rasa lapar dan dahaga akan tulang tulang yang begitu menonjol keluar dari lapisan kulit mereka yang coklat akibat terbakar sinar matahari, cukup menjadi landasan untuk pemberontakan ini.
Ditengah kabut malam dengan hanya sedikit cahaya, tidak sedikit pun menurunkan perjuangan mereka mengingat sosok wanita pejuang yang selalu berada untuk membela mereka tersekap didalam bangungan mewah namun penuh dengan nilai keburukan. Tidak ingin membiarkan pejuang wanita itu sendirian melawannya, dipimpin Pranawa sebagai pemimpin pasukan, maka perkelahian dengan adu tembak pun pecah sudah dengan kobaran api panas.
Bagi Aryani yang hanya menginginkan kebebasan tanpa menyakiti atau bahkan mengambil nyawa berharga milik siapa pun, bagi Aryani yang kini benar benar merasa cukup atas seorang diktator Jessen van Reis, Aryani mengorbankan tangannya terluka saat mencoba melepaskan ikatan tali mati pada pergelangan tangannya. Merasa perhatian Letnan itu teralihkan, dengan segera Aryani menyambil sebuah senjata api diatas meja dan mengarahkannya tepat pada Letnan itu.
“Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!” ancaman Aryani dengan menodongkan senjata itu berbalas pada wajah Jessen van Reis. Merasa tersudutkan dan mengingat harta kekayaannya yang sudah dia kumpulkan, bagi Jessen saat ini menyerahkan diri lebih penting dari pada merengut nyawa ditangan Aryani.
Membuat surat pernyataan yang dibubuhi dengan lambang kerajaan kolonial, Jessen van Reis dengan ini menyerahkan bukti kedaulatan atas kemerdakaan wilayah mereka dan menarik semua pasukan tentara kolonial untuk kembali kenegara asalnya. Aryani mengambil surat itu dan melepaskan Jessen pergi.
Namun seperti saat kau menginjak kotoran binatang, maka bau itu akan terus tercium meski kau mencoba melarikan diri melalui pintu belakang. Begitu tragis nasib Jessen van Reis yang meregang nyawa ditangan amukan massa yang menaruh benci padanya dengan tidak membawa kekayaan sedikit pun ditangannya.
Kemunculan Aryani yang berjalan keluar dari kediaman itu pun disambut dengan sangat baik bahkan begitu meriah saat Aryani memperlihatkan bukti deklarasi pelepasan kekuasaan yang diberi stempel kerajaan kolonial. Pujian syukur dan doa kepada sang pencipta melantun indah kembali bergema untuk memecah dilangit. Semua tangisan, peluh, bahkan titik usaha penghabisan pun akhirnya berhasil dengan kebebasan mutlak pada daerah mereka.
Keesokan harinya tentara kolonial dipaksa mundur oleh warga pribumi dengan memperlihatkan Letnan mereka yang sudah tak bernyawa. Terlihat tidak memiliki perasaan, mereka hanya muak dengan semua penindasan ini yang sudah berlangsung sangat lama. Kini semua mendapatkan haknya secara penuh dan hidup berdampingan sesuai dengan yang mereka inginkan.
Terlepas dari itu, harapan akan Aryani yang segera menikah kembali mengingat usianya yang masih sangat muda pun mendapat restu bahkan semua warga siap untuk mengadakan upacara pernikahan besar besaran selama 3 hari 2 malam setelah Pranawa meminta ijin pada orang tua Aryani dan tentu saja mengunjungi pemakaman mendiang suami Aryani untuk memohon restu.
Balai kesehatan, pendidikan, serta rumah sakit dibangun dengan sangat baik dan kokoh dilahan luas agar dapat menampung semua warga yang ingin ikut andil didalamnya. Perjuangan yang masih harus dilakukan jika suatu waktu mereka datang kembali, maka percayalah disaat tangan ini saling menggenggam satu sama lain dengan keyakinan dan iman yang kuat. Kau tidak akan mampu menembusnya.
-Selesai-
Terima kasih sudah membaca karyaku kak
✌️☺️