Bunda ... andai kau tau tak sediktpun aku inginkan hal ini. Sedikitpun aku tak inginkan terlahir seperti ini. Bukankah semua ini takdir dari Sang Illahi Rabbi ... Bunda?
Betapapun kau jauh dariku, seperti apapun kau menyakitiku, dan sebisa apapun kau membenciku, kau tetaplah Bundaku. Bunda yang melahirkanku ke dunia, yang memberiku segenap kehidupan. Bunda ... aku sungguh menyayangimu ... dan aku ingink sekali saja kau mendekapku penuh kasih sayang dan cinta seperti engkau mendekap kakakku.
Mungkin itulah yang sesungguhnya akan dikatakan sang anak pada ibunya, yang selama ini tak sedikitpun mampu menerima keadaannya. Dia Fitri, anak berusia enam belas tahun. Meski baru berusia enam belas tahun, tetapi tak sedikit hal yang telah dialami dalam hidupnya. Fitri selama ini tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakaknya yang perempuan telah berusia sembilan belas tahun, dan adik kembarnya kini telah bersekolah di sebuah SMA negeri. Fitri terlahir kembar, tapi tak seiras. Adiknya bernama Fikri.
Tepat sebulan setelah mereka dilahirkan, Fitri diangkat oleh orang tua asuh. Harus tepisah dari orang tua dan juga adik kembarnya. Sesuatu yang tak seorang anakpun menginginkannya. Kondisi kedua orang tuanya yang tak mampu, membuatnya harus terpisah dari keluarganya. Namun, mengapa harus dia yang terpisah? Entahlah, mungkin semua itu sudah takdir.
Setahun setelah Fitri berpisah dengan kedua orang tua kandungnya, dia dibesarkan oleh orang tua asuh, yang tidak lain masih tantenya. Fitri yang tumbuh amat aktif, membuat orang tua asuhnya merasa bahagia, karena keluarga mereka memang mendambakan seorang anak perempuan.
Namun, sebuah kecelakaan terjadi. Tepat setahun lebih dua bulan Fitri terjatuh dari tangga rumah, ketika bermain dengan ibunya. Saat itulah semua penderitaan yang dialaminya dimulai. Dokter memvonis Fitri terkena gagar otak, sehingga pertumbuhan sarafnya terganggu dan membuat dia akan lebih bertindak hiperaktif, lamban dalam merespon suara, ataupun tanggapan dari orang lain. Mendengar berita tersebut orang tua asuh Fitri merasa amat sedih dan bersalah.
Ibu asuh Fitripun merasa amat bersalah atas segala kejadian ini. Begitu pula orang tua kandung Fitri. Mereka merasa amat bersalah karena tidak dapat membesarkan Fitri sebagaimana mestinya. Namun nasi yang telah jadi bubur, tak mungkin lagi dimasak, begitu pula dengan Fitri. Keadaanya yang cacat, tak memungkinkan dia dapat tumbuh dan berkembang layaknya anak – anak lain.
Sepuluh tahun KEMUDIAN ....
Sepuluh tahun kemudian, Fitri masih tak dapat bersekolah, karena kondisinya yang tidak memungkinkan, masih tetap melakukan terapi untuk perkembangan otak dan sarafnya. Meski perkembangan yang terjadi dari terapinya cukup baik, akan tetapi tumbuh kembangnya dalam merespon sesuatu masih tetap lamban.
Sebulan sebelum usianya menginjak dua belas tahun, kedua orang tua asuh Fitri meninggal dalam sebuah kecelakaan. Beruntung, Fitri tidak menjadi korban di dalamnya. Fitri yang tidak mungkin hidup sebatang kara, akhirnya harus kembali hidup bersama dengan orang tua kandungnya.
Sayang semua tak sebahagia yang seharusnya terjadi. Orang tua kandung Fitri, ternyata tak menyukai keberadaanya di rumah. Dia dianggap anak cacat yang hanya mempermalukan keluarga tersebut.
Pernah suatu ketika Fitri dengan tidak sengaja menjatuhkan sebuah gelas milik Ayahnya, bukan dia yang di khawatirkan, melainkan gelas tersebut yang justru dibenahi, dan Fitri pun di hukum tidur di kamar mandi. Sang Ibu bahkan dengan tega mengatakan, ”lebih baik Fitri mati dari pada mempermalukan dan menyusahkan keluarga kita.” Betapa kejam dan jahat keluarganya kepada dia.
Memang kehidupan kedua orang tua kandungnya yang sudah cukup membaik, ternyata bukan membuat keadaan Fitri juga membaik, melainkan membuat keadaanya semakin buruk. Orang tua kandung Fitri, tak pernah sedikitpun merawatnya sebagai anak. Fitri tak pernah lagi mengikuti terapi seperti dulu. Bajunya dibiarkan kotor dan tak terawat, bahkan untuk urusan makan, orang tuanya hanya memberinya satu kali dalam saehari.
Orang tua kandungnya pun tak pernah mengajak Fitri berpergian keluar rumah, jika keluarganya ingin pergi keluar, justru Fitri dibiarkan terkunci di kamar dengan kaki terikat, sehingga dia tidak merusak barang-barang di rumah tersebut. Betapa kejam keluarga tersebut memperlakukan Fitri. Beruntung adik kembarnya Fikri, masih memperhatikannya. Hanya dia satu – satunya orang di keluarga tersebut yang masih menyayangi dan memperhatikan Fitri layaknya manusia.
Setahun berlalu ....
Keluarga Fitri tetap tidak mampu menerima dia sebagai keluarganya, tepatnya sebagai anak dari keluarga tersebut. Fitri semakin kurus dan tubuhnya penuh luka memar, karena sering kali dipukuli oleh orang tuanya. Sebenarnya, Fikri sudah berusaha melindungi, tapi apa daya dia tidak bisa berbuat lebih karena masih kecil. Fikripun takut jika dimarahi oleh orang tuanya.
Suatu hari, saat keluarganya pergi, Fikri mencoba mengajak Fitri bermain keluar. Seulas senyum terlukis dibibir Fitri, mungkin ia bahagia bisa merasakan udara segar. Fikri ikut bahagia, senyum yang selama ini tertutup kabut airmata, kini terpancar kembali.
Namun, diluar dugaan orang tuanya pulang terlalu cepat, tetapi Fitri belum kembali ke kamar. Ayahnya yang melihat itu, merasa naik darah. Dia menyeret Fitri dengan kasar, lalu tanpa belas kasih dilemparnya ke kamar mandi. Fikri 'tak bisa berbuat apa-apa, ia dirangkul kuat oleh sang ibu. Setelah itu, guyuran demi guyuran air membasahi badan Fitri. Setelah puas melihat Fitri gelagapan, Ayahnya kembali menyeret dia ke gudang, tanpa mengganti bajunya yang basah. Diikat kedua tangan dan kakinya, lalu dikunci di dalam gudang yang gelap.
Sudah dua hari Fitri dikurung, hingga suatu ketika Fitri yang menderita demam tinggi dibiarkan saja dengan tangan dan kaki terikat dan tidur di gudang rumah mereka. Beruntung adik kembarnya memeriksa keadaannya. Segera Fitri dibawa ke rumah sakit terdekat. Selama perjalanan, sang ibu hanya menggendongnya tanpa rasa khawatir sedikitpun. Sang adik kembarnya Fikri, memegang erat tanggan Fitri yang begitu hangat. Sesampainya di rumah sakit, dokter memvonis bahwa akibat dari gagar otaknya dulu, kini berkembang menjadi kanker otak, dan mungkin waktunya tak banyak lagi.
Kedua orang tuanyapun kemudian menangisi keadaan Fitri yang terlanjur memburuk. Fikri yang selalu mendampinginya dengan sabar, seolah merasakan apa yang benar – benar dialami Fitri selama ini, jika saja usianya sudah dewasa, pasti dia mampu berbuat lebih. Satu jam setelah Fitri dirawat, akhirnya tuhan memeluknya dengan erat dan membawanya pergi ke syurga. Tepat sebelum Fitri pergi, sebuah kalimat terucap darinya. “Bun ... ak sayang Bunda ....” Sebuah kalimat pendek yang tak pernah terucap darinya. Yahh ... kondisinya yang cacat membuatnya tak mampu berkata – kata atau bahkan mengerti apa yang orang suruhkan kepadanya.
Kedua orang tua Fitri kini hanya mampu terdiam dalam duka dan menyesali mengapa mereka tak pernah merawatnya dengan baik? Mengapa mereka bersikap begitu kejam terhadapnya? Padahal Fitri juga anak kandungnya. Segala penyesalan memang selalu datang belakangan.
Semoga kisah singkat ini dapat menyadarkan kita semua, bahwa tak pernah ada manusia yang ingin diciptakan tak sempurna. Tuhan menciptakan segala keadaan bagi umatnya untuk menguji, apakah umatnya tetap mensyukuri segala yang dia berikan? Bukankah mereka dapat hidup dari kekuasaan Tuhan juga? Maka bersyukurlah untuk segalanya. Segala yng telah tuhan berikan kepada kita, karena tuhan tahu mana yang terbaik.
SELESAI ....