...You're on the phone with your girlfriend, she's upset...
Nana terus memandangi sahabat yang sejak kecil selalu bersamanya, ya...ia terus menatap Dzaki yang dari tadi sibuk dengan ponselnya.
Terdengar nada kesal dari cara Dzaki berbicara, mau bagaimana lagi, hubungannya dengan pacarnya sedang tidak berjalan baik.
"Dzaki kenapa sih Na?" Tanya Rhea.
"Iya... dari tadi mukanya ditekuk mulu, berantem sama Mona ya?" Sahut Rizki.
"Keknya sih iya" balas Nana lirih.
Kalian ingin kejujuran? Nana menyukai Dzaki, entah sejak kapan perasaan itu tumbuh, tapi yang jelas Nana menyukai...tidak Nana mencintai Dzaki, dan dia hanya bisa menyembunyikan perasaannya, tidak ingin merusak persahabatan yang telah dibangun sejak lama.
Tak lama kemudian Dzaki menyimpan ponselnya, raut wajahnya menunjukan kalau ia belum benar-benar menyelesaikan masalahnya dengan sang pacar.
"Gimana bro?" Tanya Rizki.
"Gua capek sama yang namanya drama" jawab Dzaki sambil tersenyum kecut.
"Putusin aja sih" ujar Rhea.
"Eh?" Sahut Dzaki, dan Nana kaget.
"Hubungan lo sama Mona itu makin lama makin jelek tau nggak? Hubungan lo malah berubah jadi toxic, bukan buat Mona, tapi buat lo, lo kayak nggak tau mona aja" sambung Rhea.
"Iya, kemaren gua liat cewek lo jalan sama rekan basket lo yang tingginya gak jauh beda ama lo, siapa ya? Ryan ya?" Sahut Rizki.
"Haaah a'u ah pusing gua" keluh Dzaki.
Nana hanya bisa menatap Dzaki sendu, ia sedih melihat pemuda itu semakin hari semakin terbebani dengan hubungan yang ia punya, tapi jika ia boleh sedikit egois...bolehkah ia merasa senang karena hubungan Dzaki dan Mona tidak akan berlangsung lebih lama lagi?.
...she wears short-skirts, I wears t-shirt, she's cheer captain and I'm on the bleachers...
Ini lah keseharian Nana, menonton latihan basket, hanya untuk melihat sang pujaan hati, kadang ia membuat sketsa Dzaki, tapi...jika ada basket, itu artinya ada Cheerleaders bukan? Ya... Dzaki adalah kapten tim basket, lalu Mona adalah kapten Cheerleaders, pasangan yang cocok menurut orang-orang.
Tapi dari tempat duduknya, Nana bisa melihat kalau Dzaki, dan Mona tidak sedang berbicara selayaknya sepasang kekasih, mereka kembali berargumen.
Dari yang ia dengar. Nana menyimpulkan beberapa hal, Dzaki memang bukan tipe orang yang romantis, ia tak terlalu suka hal-hal picisan bak film romansa, Dzaki lebih menyukai hal yang sederhana, tetapi...Mona menganggap sikap Dzaki itu sebagai masalah, Mona ingin hal yang berbau romantis, dan ia tidak mendapatkannya dari Dzaki.
...Can you see that im the one who understands you, been here all along so why cant you see...
Putus...
Hubungan Dzaki, dan Mona berakhir, Mona yang memutuskan hubungan itu, karena ia sudah mendapat yang lebih dari Dzaki.
Hancur...
Tentu saja Dzaki sedih, siapa yang tidak sedih saat kau diputuskan oleh kekasihmu, terlebih lagi ia sudah memiliki pengganti bahkan sebelum hubungan itu berakhir.
Baik-baik saja...
Dari luar iya, Dzaki terlihat baik-baik saja, seolah tanpa beban, tapi jika kau adalah sahabatnya, maka Dzaki akan terlihat jauh dari kata baik-baik saja.
Yang selalu ada...
Nana duduk sambil membaca buku, kini ia sedang berada di rumah, lebih tepatnya kamar Dzaki, ia menemani Dzaki, tidak ada percakapan memang, Dzaki masih tenggelam dalam rasa sedih sehingga hanya bisa berbaring tengkurap diatas kasurnya, menutup wajahnya dengan bantal, keadaannya mungkin akan kacau, jika saja Nana tidak berinisiatif untuk menemaninya.
"Na..." panggil Dzaki lirih.
Nana hanya membalasnyadengan gumaman kecil, tak beralih dari bukunya.
"Gua galau" ujar Dzaki.
Sungguh Nana ingin tertawa saat mendengar Dzaki mengatakan hal itu, jarang sekali melihat sahabatnya ini terpuruk karena suatu masalah.
Tapi Nana hanya tersenyum, ia paham, Dzaki sedang patah hati, cinta yang sudah ia perjuangkan selama 5 bulan, kini kandas, tapi bukankah itu tidak sebanding dengan patah hati yang Nana rasakan? Nana bahkan sudah merasa ditolak padahal ia belum menyatakan perasaannya, cinta Nana kandas bahkan sebelum Nana memulainya.
"Jadi...kamu mau apa biar nggak galau lagi?" Tanya Nana.
"Give me cuddles please..." jawab Dzaki.
Nana tertawa kecil, oke sejak kapan sahabatnya ini jadi manja? Apa efek patah hari seburuk itu?.
"Sejak kapan kamu jadi manja begini?" Tanya Nana.
"Lo gak mau kasih gua cuddle?" Dzaki balik bertanya.
"Nggak, bukan nggak mau, aneh aja" Jawab Nana.
"Na...stop baca buku, gua lagi butuh lo" ujar Dzaki yang mulai kesal.
Nana menghembuskan nafasnya pelan, menutup bukunya, meletaknya ke atas meja, lalu membalikkan badannya untuk menghadapi sahabatnya yang mungkin sedang berubah menjadi anak kecil berusia 5 tahun.
"Kenapa?" Tanya Nana.
"Diem disitu" alih-alih menjawab pertanyaan Nana, Dzaki justru memberikan perintah pada Nana.
Nana terdiam tak bergerak dari tempatnya, ia masih berdiri menghadap Dzaki yang kini ikut berdiri.
Dzaki mendekat, membuat jantung Nana berdebar cepat, semakin dekat Dzaki, semakin cepat jantung Nana berdebar, bahkan mungkin saja Dzaki bisa mendengar detak jantung Nana.
Dzaki tiba dihadapan Nana, jarak mereka tak sampai 15 cm.
"Dzaki kamu ke-
Tanpa aba-aba Dzaki memeluk Nana, ia memeluk tubuh yang jauh lebih kecil darinya itu, menenggelamkan wajahnya di pundak kecil Nana.
Keadaan Nana? Ia terdiam, masih memproses kejadian yang baru saja terjadi, detik berikutnya ia merasa jantungnya merosot, wajahnya mungkin sangat merah karena malu.
"Jangan tinggalin gua ya" ujar Dzaki, suaranya bergetar.
Nana belum membalas pelukan itu, ia masih terdiam, berusaha mengontrol detak jantungnya.
"Emangnya aku pernah ninggalin kamu?" Tanya Nana.
"Iya ya, lo bener...lo selalu ada buat gua" balas Dzaki.
...you belong with me...
"Na..." panggil Dzaki lirih.
Posisi mereka belum berubah, Dzaki masih memeluk tubuh mungil Nana.
"Kenapa?" Sahut Nana.
"Maaf...Gua bodoh, gua gak sadar kalau selama ini yang gua cari ada dihadapan gua, lo mau Maafin gua kan?" Tanya Dzaki.
"Maksud kamu?" Sungguh radang Nana ingin pingsan karena malu.
"Na...i belong with you"
...you belong with me...