"Jangan! Jangan tinggalkan aku..." jerit Mily dengan tangis pilunya.
Nasi sudah menjadi bubur. Darah yang keluar tak mungkin akan bisa kembali lagi ke dalam tubuh pemiliknya.
___________________________
Hari ini adalah ulang tahun Mily yang ke 18. Mily membeli sebuah kue tart berukuran kecil dari toko dekat tempat kerjanya. Walaupun kecil, itu adalah uang hasil kerja kerasnya. Jadi, menyesuaikan isi kantongnya yang hanya bekerja sebagai seorang pekerja paruh waktu.
"Tuhan! Jika kau memang ada, tolong kabulkan satu permintaanku. Aku ingin menjadi orang kaya!" teriak Mily di sela-sela doanya itu.
Untung saja tempat yang Mily pilih untuk merayakan ulang tahunnya berada di pinggiran pantai yang sepi. Jadi, tak akan ada orang yang mendengarkan teriakan konyolnya itu.
"Jika kamu ingin kaya, maka usaha! Jangan bisanya hanya meminta!" teriak seseorang dari atas pohon dekat tempat Mily duduk.
Mily mencari orang yang berteriak padanya itu. Mily merasa kesal dengan ucapan yang dilemparkan oleh orang tersebut. Sudah ia jelajahi seluruh butiran pasir di pinggiran pantai itu, tapi tak ketemu.
"Apa harus ku cari ke laut? Lalu ke hutan bakau?" gumam Mily bingung.
"Kau mencariku?" ujar seseorang itu lagi.
Kini orang itu melempar sesuatu ke arah Mily. Sebuah sapu tangan dengan ukiran sayap di salah satu ujungnya.
Melihat bahwa sapu tangan itu terlempar dari arah atas, Mily pun mendongak. Betapa terkejutnya Mily saat melihat seorang pria berpakaian serba hitam sedang bertengger di sana.
"Astaganaga!" ucap Mily terkejut hingga hampir terhuyung jatuh.
Pria berpakaian serba hitam itu turun, lalu berjalan mendekati Mily yang masih diam terpaku.
"Milyca Angelica. Seorang yatim piatu yang ditinggal oleh kedua orang tuanya saat berusia 10 tahun....Pelajar yang bekerja paruh waktu hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Bukankah begitu, Milyca Angelica?" tanya pria berpakaian serba hitam itu menyelidik.
Mily dibuat ternganga oleh pria serba berpakaian hitam itu. Tak pernah ia bayangkan akan ada orang lain yang tahu identitasnya sedetail itu. Bukannya ketakutan dan berteriak, Mily malah melangkah maju mendekati pria berpakaian hitam itu.
"Si–siapa om?!" tanya Mily dengan nada sedikit bergetar.
Pria berpakaian serba hitam itu tak menjawab pertanyaan Mily, ia malah tersenyum sarkas.
Merasa pertanyaannya diacuhkan, Mily bertanya sekali lagi dengan nada yang cukup tinggi.
"OM SIAPA?!!"
Pria berpakaian serba hitam itu tak menutup kedua telinganya. Namun, seperti ada kekuatan gaib yang melindungi bagian kepala pria tersebut.
"Om Om Om! Sejak kapan aku menikah dengan bibimu, hah? Dan juga, usiaku masih sangatlah muda. Jadi, panggil aku Oppa!" pria berpakaian seba hitam itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Mily tak menyangka, pria berpakaian serba hitam di hadapannya itu ternyata cukup cerewet juga. Padahal semula Mily menyangka bahwa pria berpakaian serba hitam itu pasti bersikap dingin, sedingin kutub selatan.
"Cih! Kau ingin kupanggil oppa? Pertemuan pertama saja sudah tak sopan! Masih mau-maunya dipanggil oppa olehku!" sentak Mily yang tak suka dengan sikap si pria berpakaian serba hitam.
"Kau bahkan tahu namaku dan juga semua detail tentang hidupku! Tapi, kamu lupa dengan sesuatu!" sambung Mily yang sudah menutup kuenya agar aman.
"KAU BELUM MEMPERKENALKAN DIRIMU!" teriak Mily dengan suara 8 oktav-nya.
Pria berpakaian hitam itu seolah terpental oleh sesuatu. Kakinya bergeser mundur sejengkal. Bahkan, suara Mily yang saat pertama berteriak padanya tak mempan itu, kini mulai memekakan telinga.
"Astaganaga! Ini suara perempuan kok kaya terompet sangkakala yah!" batin si pria serba berpakaian hitam.
"Kau tak perlu tahu namaku! Intinya, mulai saat ini aku akan mengikutimu!" ujar si pria berpakaian hitam dengan santai. Ia mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan telinga.
"Hah? Apa aku tak salah dengar? Om akan mengikutiku?" ulang Mily meminta kebenaran.
"Iya, aku akan mengikutimu! Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun!" sahut si pria berpakaian hitam menekankan di kalimat terakhirnya.
"Astaganaga lagi dah ah!!! Ini orang kenapa sih?! Udah mah tiba-tiba nongol tanpa permisi! Sekarang malah bilang akan mengikutiku lagi!" pekik Mily dalam hati.
"Fix! Om itu orang yang kabur dari RSJ! Aku tidak mau jadi donaturmu, Om! Jadi, om bisa pergi sekarang! Silakan!" cloteh Mily dengan tingkah sok polosnya.
Mily melangkah menjauh dari tempat di mana pria berpakaian hitam itu masih berdiri. Mily tak peduli dengan apa-apa yang sudah dikatakan oleh pria berpakaian serba hitam itu. Apalagi soal identitas lengkapnya, mungkin itu hanya sebuah kebetulan saja, pikir Mily.
"Hei! Aku bukan orang gila! Dan juga sudah kubilang tadi, aku bukan Om-mu!" teriak si pria berpakaian hitam.
Langkah Mily sudah semakin jauh dari tempat si laki-laki berpakaian serba hitam. Namun, Mily masih bisa mendengar dengan jelas teriakan suara pria berpakaian serba hitam itu.
"Whatever!" balas Mily dengan berteriak juga.
Mily melambaikan tangan kanannya ke udara. Semoga orang di belakang sana (pria berpakaian hitam) mengerti artinya.
.
Mily duduk bersimpuh di antara makam kedua orang tuanya. Cairan bening perlahan menetes setitik demi setitik membasahi pipinya. Mily lupa membawa tisu. Sapu tangan yang dilempar oleh pria berpakaian hitam pun ia pakai untuk menghapus air matanya.
Ajaib! Sulaman berupa sayap itu berubah warna. Yang semula berwarna perak kini menjadi keemasan. Mily tak menyadari perubahan warna sulaman sayap di sapu tangan yang berada di tangannya. Ia hanya menyadari adanya kilauan cahaya saja yang muncul dari sapu tangan tersebut.
"Tugasku sudah dimulai!" gumam si pria berpakaian hitam itu menatap Mily dari kejauhan.
.
Setelah puas menangis, Mily pun pamit kepada kedua orang tuanya. Ia beranjak bangun dari duduk bersimpuhnya. Mily mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Kepalanya mendongak menatap langit dengan mata terpejam. Seolah sedang memanjat doa untuk orang yang paling dicinta.
"Semoga mamah dan papah selalu bahagia di sana!" harap Mily di akhir doanya.
Langit seolah mengerti kesedihan Mily. Rintik hujan perlahan-lahan mulai jatuh membasahai bumi. Padahal sang surya masih sedikit menyinari.
Mily melepas jaket yang dipakainya untuk dijadikan payung. Ia berlari mencari halte bus terdekat.
.
"Aneh! Kenapa jaketnya kering? Jelas-jelas aku pakai sebagai payung tadi!" gumam Mily saat dirinya sudah berada di dalam bus.
"Hey! Apa kau lihat oppa yang membawa payung di halte bus tadi? Bukankah dia sangat cool dan tampan?" bisik salah satu penumpang di depan Mily.
"Gyaaa!! Dia benar-benar tampan! Bahkan Oppa Jongki pun kalah olehnya!" bisik penumpang lain.
"Oppa?"
Seperti ada yang mengganjal di pikiran Mily saat mendengar kata 'Oppa' di telinganya. Seperti pernah mendapat sesuatu tapi itu hanya sebuah mimpi.
"Ah iya! Dimana om tadi yah?" ucap Mily yang mulai celingukan kesana kemari.
Mily tak sadar, jika tadi saat berlari menuju halte bus, pria berpakaian serba hitam itu memayunginya. Bahkan ia sampai terengah-engah karena harus menyesuaikan langkahnya dengan langkah Mily. Sekarang, pria berpakaian itu tetap mengikuti Mily. Ia tengah duduk bersila di atap bus yang ditumpangi Mily.
.
Sesampainya di rumah, Mily langsung masuk ke dalam. Ia tak menemui bibinya bahkan sepupunya berada di rumah. Mily menghela napas lega, bersyukur dia tak akan mendapat omelan dari kedua wanita tersebut.
Saat Mily ingin menaruh sepatunya ke dalam rak, ia terkejut melihat pria berpakaian hitam itu tengah berdiri di depan pintu.
"Astaga!"
Mily melangkah mundur. Ia hampir saja terjatuh karena kakinya terantuk sekat lantai.
"Ah!"
Dengan cepat, pria berpakaian hitam itu langsung menangkap tubuh Mily yang sebentar lagi menghantam lantai.
Mata mereka saling bertemu. Tatapan si pria berpakaian hitam terkesan dingin, tapi tidak dengan Mily. Matanya membulat seolah akan keluar. Kedua tangannya bersedekap di depan dadanya. Berkali-kali Mily menelan salivanya secara kasar.
"Astaga! Ternyata jika diperhatikan lagi om ini tampan juga!" batin Mily dalam hati.
Degup jantungnya berirama tak menentu. Mily merasa jika jantungnya akan meloncat keluar untuk menari.
"Apa kau punya penyakit jantung? Kenapa detak jantungmu cepat sekali?" tanya si pria berpakaian hitam dengan polosnya.
Mily terkesiap mendapat pertanyaan seperti itu. Mily berpikir, apa pria berpakaian itu tak pernah merasakan detak jantung yang sedemikian rupa juga? Mily kesal. Ia meronta agar dirinya segera dilepaskan dari posisi seperti posisi pelukan ini.
Seperti yang Mily minta, si pria berpakaian hitam itu melepaskan tubuh Mily. Otomatis itu membuat tubuh Mily membentur lantai. Sepertinya Mily lupa jika tadi dia hampir jatuh.
"Aw!!" pekik Mily kesakitan.
Ceklek!
Seseorang membuka pintu rumah dari luar. Muncullah dua sosok wanita dari balik pintu itu.
"Siapa kau?!" teriak wanita yang lebih muda pada si pria berpakaian hitam.
"Siapa dia?!" tanya wanita yang lebih tua pada Mily.
Sepertinya kedua wanita itu adalah bibi dan sepupu Mily. Mily bingung bagaimana harus menjawabnya. Wajahnya sudah panik hingga peluh menetes di keningnya.
"Di–dia..." belum selesai Mily menjawab pertanyaan kedua
Ctiik!
Si pria berpakaian hitam menjentikan jarinya di hadapan kedua wanita beda generasi itu. Mereka terdiam termenung dengan tatapan mata kosong. Beberapa menit kemudian, mereka baru tersadar dan sikap mereka juga berubah.
"Omo! Siapa dia Mily?" tanya bibi Mily dengan nada lembut.
"Gyaaa! Ada oppa tampan di dalam rumah!" teriak sepupu Mily histeris.
"Eh?" Mily bingung dengan apa yang dilihatnya.
Kenapa sikap bibi dan sepupunya tiba-tiba berubah seketika setelah mendengar jentikan jari dari pria berpakaian hitam itu.
"Salam kenal, tante. Saya adalah kakak angkat Mily, Ji Hyun" ujar si pria berpakaian hitam pada bibi Mily.
"Wah! Ternyata dia juga bisa berbicara sesopan itu? Daebak!" batin Mily tercengang melihat perubahan sikap pria berpakaian hitam.
Bibi Mily langsung meraih lengan kekar pria yang mengaku bernama Ji Hyun itu. Ia menepuk-nepuk pelan lengan Ji Hyun.
"Hahaha...Tante baru tahu kalau Mily ternyata punya kakak angkat. Dia tak pernah membawa teman atau mengenalkannya pada tante. Mari, mari, kita makan malam bersama..." ajak bibi Mily yang masih menggandeng lengan Ji Hyun.
Mereka melangkah ke ruang makan, sepupu Mily pun ikut ke sana dengan jalan yang berjingkrak-jingkrak. Sedangkan Mily, masih terduduk termenung memikirkan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Bagaimana bisa mereka berubah sikap? Sebelumnya belum pernah mereka bersikap seperti ini." gumam Mily heran.
"Ah! Sudahlah! Jangan dihiraukan lagi! Ini pasti mimpi! Iya, ini pasti mimpi! Besok aku pasti akan terbangun dari mimpiku!" cloteh Mily meyakinkan dirinya sendiri.
***
Hari-hari berikutnya pun tetap sama seperti apa yang Mily rasakan pada malam itu. Sikap bibi dan sepupunya itu ternyata belum berubah ke semula. Mereka bahkan berubah menjadi lebih ramah pada Mily. Jika biasanya Mily diperintahkan untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, sekarang tidak. Mily hanya diperintahkan untuk fokus pada pelajarannya saja.
"Hey, om! Apa yang sebenarnya kau lakukan pada bibi dan sepupuku? Kenapa mereka bisa seperti itu?" tanya Mily penasaran dengan apa yang diperbuat Ji Hyun.
"Apa? Bukankah itu yang kau inginkan selama ini? Mendapat perhatian dan perlakuan lembut dari mereka?" Ji Hyun malah menjawab dengan bertanya balik.
"Cih! Aku memang menginginkannya, tapi tidak dengan cara seperti ini!" protes Mily.
"Jadi, kau ingin mereka perhatian dan bersikap lembut dengan usahamu sendiri?" Ji Hyun mulai berbicara serius.
"Iya!" jawab Mily singkat.
"Baiklah! Silakan berusaha dengan semaksimal mungkin!" ujar Ji Hyun sembari menjentikan jarinya.
Ctiiikkk!
Sama seperti saat awal, bibi dan sepupu Mily terdiam terpaku beberapa saat sampai akhirnya mereka sadar kembali. Begitu mereka sudah sadar, mereka langsung mengomel-ngomeli Mily dengan segala macam gaya bahasa yang sering mereka gunakan. Mily hanya tersenyum kecut mendapati segala cacian itu.
Selama perubahan sikap bibi dan sepupunya, Mily tak pernah lagi menangis. Namun hari ini, air mata Mily kini mulai menggenang kembali di pelupuk matanya. Air mata yang tertabung sekian lama akhirnya akan dikeluarkan juga.
Mily menangis sejadi-jadinya di hadapan bibi dan sepupunya serta Ji Hyun. Ia menangis sampai terisak-isak.
Bibi dan sepupu Mily bingung melihat Mily yang tiba-tiba menangis. Belum pernah mereka melihat Mily menangis kencang seperti itu di hadapan mereka. Seolah hati nurani mereka tergerak, bibi dan sepupu Mily pun mendekat ke arah Mily dan memeluknya.
Mereka pun menangis bertiga. Ji Hyun hanya menonton drama yang ada di hadapannya itu.
"Hati mereka sebenarnya juga rapuh! Namun mereka juga kesal karena kematian kedua orang tuamu, Mily. Oleh sebab itu, mereka meluapkan kekesalan mereka padamu selama beberapa tahun ini. Kau tahu? Mereka pun menangis setiap malamnya setelah mereka memaki-maki dirimu. Pandainya mereka menyembunyikan rasa sayang mereka padamu!" gumam Ji Hyun yang tengah asyik melumat permen di tangannya.
Perlahan, cahaya mulai muncul dari diri Ji Hyun. Diiringi dengan kemunculan cahaya keemasan dari sapu tangan bersulam sayap yang ada pada Mily.
Dua orang sosok berpakaian putih muncul dari balik cahaya yang menyilaukan itu. Mereka adalah kedua orang tua Mily. Seperti sedang menyalakan proyektor tiga dimensi, sosok itu benar-benar terlihat begitu nyata.
"Mily~" panggil kedua orang tua Mily bersamaan.
Mily menyeka air matanya, ia beranjak menuju proyeksi kedua orang tuanya.
"Mah, Pah, Mily rindu..." bulir-bulir air bening kini mulai menghujani pipi Mily lagi.
"Kami juga rindu sayang~ Kami selalu ada bersamamu, nak." ujar kedua orang tua Mily menenangkan anaknya.
Ji Hyun tersenyum melihat Mily yang bisa melihat kedua orang tuanya lagi, walaupun dalam bentuk proyeksi. Namun, Ji Hyun juga sedih, ini berarti tugasnya sudah selesai. Ji Hyun harus kembali ke tempat asalnya.
"Ja eun, terima kasih karena sudah membesarkan putriku, keponakanmu ini! Dan Nana, terima kasih juga karena sudah menemani sepupumu bermain setiap hari." ujar ibu Mily pada kedua wanita berbeda generasi itu.
Bibi dan sepupu Mily kembali terisak. Antara takut dan terharu dengan apa yang mereka lihat saat ini. Mereka saling berpelukan dan menangis tersedu.
"Mamah..." Mily kembali memanggil ibunya lagi.
Ibu Mily menoleh ke arah Mily. Ia mengulurkan tangannya ke arah kepala Mily seolah hendak mengelus rambut lurus milik putrinya.
"Mily sayang...Terima kasih sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa dan pribadi yang tegar, nak! Terima kasih karena Mily selalu mendoakan kami di hari ulang tahunmu dan ulang tahun kami. Maafkan mamah dan papah yang sudah tak bisa menemani di setiap Mily merayakan ulang tahun." ujar Ibu Mily dengan nada sendu.
Tangisan Mily kembali kencang. Air matanya kini sudah bagaikan anak sungai yang mengalir.
Ibu dan ayah Mily terus menerus mengelus kepala putrinya secara bersamaan. Walau tak terasa secara fisik, namun itu terasa secara hati.
Ji Hyun sedari tadi hanya diam dan memerhatikan, mulai meneteskan air matanya. Baru kali ini Ji Hyun bis meneteskan air mata. Ia menatap bingung ke arah kedua orang tua Mily yang kini sudah menatap ke arahnya juga.
"Ji Hyun, terima kasih karena sudah mau menjaga Mily untuk kami," ujar ayah Mily mendekat ke arah Ji Hyun.
Ji Hyun hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan. Ia bingung harus berkata seperti apa.
"Maaf jika putri kami ini cerewet, tapi ya... itu adalah keistimewaannya." ujar ayah Mily kemudian tertawa.
"Papah!"
Mily langsung menegur papahnya yang berkata demikian pada Ji Hyun, orang yang menyebalkan untuknya.
Lagi-lagi Ji Hyun hanya tersenyum.
"Saya titip Mily untuk dua hari ke depan lagi ya?! Dan usahakan kau berkata jujur padanya tentang identitasmu itu, Ji Hyun." ujar ayah Mily mengingatkan Ji Hyun akan waktu dan identitasnya.
"Baik!" Ji Hyun kembali menekuk wajahnya mendengar peringatan tersebut.
30 menit telah berlalu semenjak kemunculan sosok kedua orang tua Mily berupa proyeksi di hadapan ketiga manusia itu. Kini, sosok itu pun menghilang dari pandangan mereka seketika.
Bibi dan sepupu Mily jatuh pingsan dengan kejadian yang dialaminya. Sedangkan Mily masih duduk termenung melihat ketiadaan sosok orang tuanya itu.
Ji Hyun bangkit dari duduknya, ia mendekat ke arah Mily dan hendak merengkuhnya dalam pelukannya. Namun Mily dengan gesit menampik tangan Ji Hyun yang hendak meraih bahunya.
"Siapa kamu sebenarnya?!" tanya Mily dengan nada sedikit membentak.
Ji Hyun mundur beberapa langkah demi menenangkan Mily yang mendadak terlihat panik.
"Aku Ji Hyun, kau tahu itu." Ji Hyun menjawab dengan tenang.
Mily bangun dari duduknya, ia mundur beberapa langkah menjauh dari Ji Hyun.
"Siapa kamu?!!" teriak Mily dengan menodongkan pisau ke hadapan Ji Hyun.
Ji Hyun menghembuskan napas kasar. Ia sadar, sharusnya ia menjelaskan identitasnya sedari awal saja pada Mily.
"Ji Hyun itu memang namaku, aku tak berbohong." ujar Ji Hyun menjelaskan.
"Jika kau tanya identitasku, aku hanya bisa menjawab bahwa aku adalah utusan yang dikirim dari atas berdasarkan permintaan kedua orang tuamu," sambung Ji Hyun.
"Jadi, bisakah kita bicara baik-baik Mily?" bujuk Ji Hyun yang mulai melangkah maju sedikit demi sedikit.
"Berhenti!!" sergah Mily.
Mily semakin menodongkan pisaunya ke arah Ji Hyun. Walau terlihat tangannya yang bergetar saat memegang pisau itu, tapi ada kilatan amarah di manik mata milik Mily.
"Mily, kita bicara baik-baik ya? Ini keinginan ayahmu," bujuk Ji Hyun lagi dengan nada yang lebih halus.
Ji Hyun terus mendekat ke arah Mily secara perlahan. Begitu pun Mily, ia terus menghindar dari Ji Hyun. Sampai akhirnya Mily tersudutkan dan tak bisa menghindar kemana pun lagi. Ji Hyun benar-benar memiliki kesempatan untuk semakin mendekati Mily.
"Mily, aku tak akan menyakitimu, aku janji. Jadi, mari bicara baik-baik, ya?" bujuk Ji Hyun lagi untuk yang ketiga kalinya.
Mily menggeleng dengan keras. Ia benar-benar menolak semua bujukan Ji Hyun. Mily seolah tak mau mendengar apa pun yang Ji Hyun katakan, ia tak percaya.
"Mily~"
"Tidak! Sekali tidak tetaplah tidak! Enyahlah dari hadapanku!" teriak Mily sembari menutup kedua matanya.
"Mily~ Aku mo–"
"TIDAK!!!" teriak Mily lagi.
Tanpa Mily sadari, kakinya melangkah maju ke hadapan Ji Hyun. Pisau yang masih ia todongkan tadi kini masuk menembus perut Ji Hyun.
Mily sama sekali belum melepaskan tangannya dari pegangan pisau yang semula di pegang. Mily membuka matanya secara perlahan-lahan. Matanya membulat sempurna ketika melihat cairan berwarna merah kental keluar dari mulut dan perut Ji Hyun. Refleks, Mily mundur beberapa langkah sembari menarik pisau yang masih digengamnya.
"Uhuukkk!"
Cairan merah kian keluar dengan derasnya dari perut Ji Hyun. Beberapa kali ia sempat terbatuk dan menyemburkan bercak merah itu ke tempat lain di hadapannya. Ji Hyun memegangi perutnya yang dirasa cukup sakit olehnya.
Mily berteriak histeris melihat Ji Hyun yang bersimbah darah. Ia menjatuhkan pisau yang dipegangnya dan berjalan mendekat ke arah Ji Hyun. Belum sempat Mily menyentuh Ji Hyun dan menanyakan kondisinya, Ji Hyun malah terhuyung dan jatuh ke belakang.
"Ji Hyun!" teriak Mily histeris.
Mily langsung meraih tubuh Ji Hyun dan menyandarkan kepala Ji Hyun di pahanya.
"Maafkan aku! Aku minta maaf!" teriak Mily disertai deraian air mata.
Ji Hyun sudah tak sanggup untuk membuka matanya lagi. Ia hanya bisa mendengarkan Mily menangis saja.
"Ji Hyun, maafkan aku!" pekik Mily lagi.
Mily merogoh saku sweternya, ia mengeluarkan sapu tangan bersulam sayap yang diterimanya dari Ji Hyun saat itu. Mily menggunakan sapu tangan itu untuk menekan tepat di posisi pisaunya tadi menancap.
Mily menangis sesenggukan menangisi kebodohannya. Ia berkali-kali mengumpati dirinya 'bodoh' dengan lantangnya. Ji Hyun yang mendengarnya hanya tersenyum dalam hati.
Perlahan-lahan, tubuh Ji Hyun lenyap. Seperti potongan-potongan puzzle yang melayang ke udara kemudian terbakar api hingga menjadi abu.
"Tidak! Jangan pergi!" teriak Mily sembari memeluk sebagian tubuh Ji Hyun yang masih berada di hadapannya.
"Jangan pergi! Aku mohon, jangan pergi Ji Hyun!" isak Mily memohon dengan sangat.
Namun apalah daya, Ji Hyun tak bisa berbuat apa-apa pada tubuhnya. Ini adalah hukum alam baginya. Jika tubuhnya terluka parah di dunia ini, maka ia akan menghilang secara perlahan tanpa meninggalkan jejak dan kenangan.
"Tidak, Ji Hyun! Tidak!" Mily kini menggapai-gapai bagian akhir puzzle tubuh Ji Hyun yang melayang ke udara sebelum akhirnya menjadi abu.
"TIDAAAKKK!!!"
Mily berteriak histeris sekali sampai akhirnya ia jatuh pingsan karena kelelahan menangis.
Tubuh Ji Hyun kini sudah sepenuhnya lenyap dari hadapan Mily. Darah yang tadi menggenang memebasahi permukaan lantai kini menghilang tanpa bekas. Pisau yang yang terjatuh ke lantai, kembali ke tempatnya semula. Benar-benar seperti tak terjadi apa-apa.
.
Sehari setelah kejadian yang mengejutkan itu, tak seorang di rumah Bibi Ja Eun yang mengingat Ji Hyun. Bahkan saat mereka melihat proyeksi ibu dan ayah Mily dengan mata kepala mereka sendiri pun, itu mereka anggap sebagai mimpi. Hanya Mily yang mengingat semuanya.
Mily terus mencari sosok keberadaan Ji Hyun di tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Mily beranggapan bahwa Ji Hyun masih ada di dunianya. Ia pernah mendengar bahwa sisa waktu Ji Hyun di dunia ini masihlah dua hari terhitung dari hari setelah kejadian itu. Berarti masih ada satu hari lagi waktu Ji Hyun di dunia.
"Ji Hyun Oppa!" teriak Mily di taman yang luas.
Tak ada sahutan. Mily berlari lagi menuju tempat lainnya.
"Ji Hyun Oppa!" teriak Mily lagi di bukit belakang sekolah.
Krik krik krik...
Tak ada sahutan juga. Hanya suara jangkrik yang menyahuti teriakannya. Ada dua tempat yang belum Mily datangi. Pantai tempatnya pertama kali bertemu dengan Ji Hyun, dan makam kedua orang tuanya.
Mily memilih pantai tempat mereka bertemu terlebih dahulu. Siapa tahu Ji Hyun memang berada di situ di detik-detik akhir waktunya di dunia.
Mily berlari dengan kencang. Ia sempat jatuh tersandung beberapa kali akibat tali sepatunya yang lupa diikat. Matanya Mily kini menelusuri seluruh sudut pantai dengan jeli. Di atas pohon, di bawah pasir, bahkan di dalam gua pun tak luput dari pencarian mata Mily. Namun sayangnya Ji Hyun tetap tidak ditemukan.
"Ji Hyun Oppa!"
Mily lagi-lagi meneriaki nama Ji Hyun. Entah sudah berapa kali Mily meneriaki namanya dalam satu hari ini.
"Makam! Hanya makam yang belum kukunjungi!" ujar Mily disela-sela tarikan napasnya.
Mily kembali berlari lagi menuju tempat pemakaman kedua orang tuanya. Mily berdoa sepanjang jalan, semoga ia dapat menemukan Ji Hyun di sana. Mily memepercepat larinya, ia tidak mau jika sampai membuang waktu sedetik pun untuk menjumpai Ji Hyun.
.
Mily melihat sosok pria berpakaian hitam tengah bersimpuh di hadapan makam kedua orang tuanya. Jika tebakan Mily benar, itu pasti adalah Ji Hyun. Ji Hyun yang selama ini dicarinya benar-benar ada di makam kedua orang tuanya.
"Hah hah hah... Akhirnya aku menemukanmu, oppa!" gumam Mily dengan napas yang tersengal-sengal.
Mily berjalan pelan menghampiri Ji Hyun masih duduk bersimpuh. Namun langkah Mily terhenti saat ia mendengar Ji Hyun tengah menangis.
"Tuan, Nyonya, maafkan Ji Hyun yang tak bisa mengikuti keinginan terakhir kalian. Maafkan Ji Hyun yang tak bisa menjaga amanat kalian pada Ji Hyun. Tuan, Ji Hyun sudah berusaha untuk memberitahukan Mily tentang identitas Ji Hyun. Tapi Ji Hyun minta maaf karena Ji Hyun malah gagal, dan akhirnya membuat Mily malah membenci Ji Hyun." ucap Ji Hyun panjang lebar. Ia tertawa di sela-sela tangisnya.
Mily menitikan air matanya mendengar kata-kata Ji Hyun. Ini juga termasuk salahnya yang tak mau memberikan kesempatan pada Ji Hyun untuk menjelaskan.
"Tuan, jika nanti Ji Hyun kembali ke atas, dan tuan dimintai kesaksian mengenai tugas Ji Hyun, mohon katakan yang sejujurnya saja tuan. Ji Hyun siap untuk menerima segala konsekuensinya nanti."
Ji Hyun mengakhiri tangisnya. Ia berdiri dari posisi duduk bersimpuhnya setelah sekian jam itu. Ia membungkuk hormat di hadapan nisan ibu dan ayah Mily sebagai penghormatan terakhir.
Perlahan, cahaya keemasan muncul entah darimana menyelimuti tubuh Ji Hyun. Sepasang sayap berwarna perak keluar dari punggungnya. Sayap itu berukuran cukup lebar hingga mampu menutupi tubuh besar dan tinggi milik Ji Hyun. Manik matanya yang semula berwarna hitam, kini berubah warna menjadi biru muda terang.
Mily tampak terkejut melihat sosok Ji Hyun yang sekarang ini. Ternyata, Ji Hyun adalah jelmaan dari seorang malaikat.
"Ji Hyun oppa~" panggil Mily lirih.
Ji Hyun menoleh ke arah Mily, ia tersenyum.
"Mily~" sahut Ji Hyun senang.
"Mily, maafkan aku yang tak jujur padamu sejak awal. Maafkan aku..." ujar Ji Hyun penuh sesal.
"Tidak Oppa, Mily yang seharusnya minta maaf. Maafkan Mily yang tak memberi oppa kesempatan untuk menjelaskan. Maafkan Mily yang sudah menyakiti oppa." Mily mulai menitikkan air matanya lagi.
"Oppa, apakah oppa akan pergi? Sekarang?" tanya Mily yang merasa berat melepas kepergian Ji Hyun.
Ji Hyun mengangguk, "Hmm, aku harus pergi sekarang, tenggat waktuku sudah habis!" jawab Ji Hyun yang perlahan mulai mengepakkan sayapnya.
"Tunggu oppa! Mily ingin mengatakan sesuatu!" cegah Mily saat kaki Ji Hyun sudah tak menapaki bumi lagi.
"Oppa, Mily menyukai oppa!" teriak Mily lantang.
Ji Hyun tercengang mendengar pernyataan dari bocah gadis di hadapannya itu. Ia terdiam sesaat ssbelum akhirnya menanggapi pernyataan Mily.
"Sungguh? Walau kau tahu bahwa aku bukan manusia?" tanya Ji Hyun memastikan.
Mily mengangguk dengan sangat yakin.
"Meski umurku lebih tua ratusan tahun darimu?" tanya Ji Hyun lagi.
Mily sempat ternganga begitu mendengar usia Ji Hyun yang sudah ratusan tahun. Tapi ia dengan cepat tersadar dan mengangguk lagi.
"Hahaha...Sayangnya kita belum ditakdirkan bersama Mily," ujar Ji Hyun sendu.
Mily seolah mengerti perasaan Ji Hyun, ia menyemangati Ji Hyun dengan semangat ala dirinya.
"Tak apa, oppa! Jika di kehidupan sekarang kita tidak ditakdirkan bersama, semoga Tuhan menakdirkan kita menjadi sepasang kekasih di kehidupan selanjutnya!" teriak Mily penuh dengan semangat.
Semangat dari Mily ternyata sukses membuat Ji Hyun tersenyum lagi. Ia mengangguk mengiyakan keinginan Mily yang sama dengan keinginannya.
"I love you, Ji Hyun Oppa!" teriak Mily lagi di saat Ji Hyun bersiap untuk terbang.
Ji Hyun melipat sayapnya, ia berjalan ke hadapan Mily. Ji Hyun menatap lekat manik mata berwarna coklat terang milik gadis di hadapannya.
"Love you too, Mily!" bisik Ji Hyun tepat di telinga Mily.
Seketika, tubuh Mily menjadi kaku seperti kayu. Mily tak bergeming sedikit pun saat mendapat balasan atas pernyataan cintanya.
Ji Hyun yang sadar akan respon Mily pun hanya tersenyum. Ia menangkup wajah imut Mily, kemudian mengecup bibir merah muda milik gadis di hadapannya.
"I love you, Milyca Angelica!" ucap Ji Hyun dengan suara yang begitu lembut dan hangat.
Setelah mengatakan kata-kata itu, Ji Hyun melangkah mundur. Ia kembali mengepakkan sayapnya dan melayang di angkasa. Tak lupa pula, Ji Hyun melambaikan tangannya pada Mily yang masih diam terpaku namun memerhatikan kepergiannya.
"Aku akan meminta kepada Tuhan agar mengabulkan keinginan kita, Mily!" batin Ji Hyun.
"Semoga Tuhan lekas mempertemukan kita kembali, Ji Hyun Oppa!" pinta Mily dalam tangisnya.
~The End~
Terima kasih sudah membaca 🤗