Assalamu'alaikum wr. Wb.
Hai! Aku Aurel, aku seorang gadis pendiam, gak banyak omong dan yang pasti aku seorang gadis yang sedang berjuang dalam hijrahku, oke mari kita simak perjalanan cinta ku dengan orang yang baru ku kenal.
Dikeluarga ku, aku anak terakhir dari 2 bersaudara, kaka ku laki-laki namanya Muhammad Rifki sedang kan aku Aurel Lestari. Ayah ku bernama Panji angger, ibu ku bernama Agustina Bunga Ramahdewi.
Pada, saat aku lagi diposisi mengejar cinta Tuhan ku. Malah, seorang laki-laki datang dan menyatakan cinta padaku. Tentu, aku menolak.
Waktu itu tepatnya di sebuah kafe, ketika aku lagi ingin nyantai sambil meminum jus yang ku pesan.
Tiba-tiba, saja terdengar suara yang asing ditelinga ku. Dan ketika aku menoleh, aku mendapati sesosok yang gagah dan kekar.
" Assalamu'alaikum! "
Dan ia mengucapkan salam kepadaku, itu hal pertama yang aku dengar, dan ketika tau bahwa yang mengajak aku berbicara itu laki-laki. Cepat-cepat aku alihkan pandangan ku kearah lain sambil menjawab.
" Wa'alaikumussalam,Ada perlu ap? " Tanyaku tanpa mau basa basi.
Ketika aku memandang kearah lain, tapi aku sekilas melihat bahwa ketika aku menjawab, sesosok itu seperti nya tersenyum lembut. Mungkin, aku juga tidak memperhatikan nya.
" Boleh, aku minta waktunya sebentar? " Tanyanya kepada ku.
Mendengar itu, aku hanya menjawab seadanya,
" Apa! Lebih cepat lebih baik." Tegas ku agar. Dan laki-laki itu duduk didepan ku.
Lagi dan lagi, laki-laki itu seperti nya tersenyum, entah apa yang dipikirkannya. Aku rasanya ingin cepat-cepat pergi dari situ, aku sebenarnya agak risih bila ada laki-laki yang bukan mahrom ku mengajak bicara.
" Boleh, aku tau dimana rumah mu? " Tanyanya, yang membuat ku menyeritkan alisku, pertanda aku bingung dengan maksudnya.
Lalu aku menjawab sambil bertanya,
" Mengapa ingin tau rumahku? " Tanyaku seadanya.
" Sebenarnya,dari satu tahun lalu aku telah jatuh hati padamu. Tapi, karna ku tau kamu masih sekolah, itu sebabnya aku tak berani mengaku. Tapi, sekarang berbeda, kamu sudah lulus dan aku berniat ingin meminang mu. Boleh? " Tanyanya.
Mendengar kata meminang, membuat hati ku berdegup kencang. Aku, tak menyaka kalo tujuannya mencari rumah untuk meminang ku. Sebenarnya, disitu aku gugup sekali tapi aku usahakan untuk terlihat biasa saja. Lalu, ku jawab sambil,
" Kalo, emang tujuan mu seperti itu, maka jangan bertanya padaku, tapi tanyakan kepada kedua orang tua ku." Ucapku dan aku membuka tas ku, lalu mengambil buku dan pulpen, kutulis lah almat rumah dan aku langsung saja berlalu pergi dari situ.
" Assalamu'alaikum " Ucap ku sambil menyerah kan selembar kertas sobekan yang ku sobek tadi ketika menulis alamat rumah ku.
" Wa'alaikumussalam" Dan dia menjawab salam ku.
Malam harinya,
Aku sekarang lagi didalam kamarku sambil berpikir tentang perkataan laki-laki tadi sore itu.
" Hmm, apa benar ya perkataan laki-laki itu, tapi tadi aku udah bilang sama Abi, Umi, sama Abang. Kalo, dia cuman basa-basi doang, gimn ya! Hmm, udah deh mending tidur." Aku pun lebih memilih tidur dari pada memikirkan sesuatu yang belum pasti.
Keesokannya(soal sholatnya ta skip aja ya, gpp kan ya) ,
" Abang! Bang, bangun iih. Udah, pagi nih. Masa habis sholat tidur lagi. Woyy, Bang." Ucapku sambil membangunkan Abangku, karna Abi, Umi udah nunggu dibawah.
" Iya-iya, Dek. Ini, Abang bangun kok." Jawab Abang ku dengan suara khas orang baru bangun tidur, dan aku mengiya kan saja dan berlalu pergi meninggalkan kamar kaka ku.
Selang beberapa saat pun, acara makan pagi itu selesai. Lalu, Abi, Abang pada saat itu berencana ingin keluar dari rumah untuk berangkat kerja. Klo, aku sama Umi lagi cuci piring.
Tapi, iba-tiba saja seseorang mengetuk dipintu rumah kami. Dan terdengar seperti lebih dari satu orang yang datang.
Tok.
Tok.
Tok.
" Assalamu'alaikum! " Ucap seseorang dari pintu.
" Wa'alaikumussalam " Ucap kami berempat bersamaan.
" Abang! Kamu undang teman kamu kerumah? " Tanya Abi kepada kaka ku dan Rifki menggeleng.
" Ya, sudah buka kan pintu nya. Siapa tau penting." Ucap Abi ku kepada Abang.
Waktu itu, aku sama Umi udah selesai nyuci piring, otomatis aku sama Umi menghampiri Abi.
Tanya ku " Bi! Siapa diluar? "
Abi : " Gak, tau juga Dek, itu Abang mu lagi bukain."
Sedangkan, Umi cuman diam aja.
Diposisi Ka Rifki,
Ceklek.
" Iya! Ada perlu apa? " Tanya kaka kebingungan karna melihat banyak orang dan semuanya berpakaian rapi.
" Maaf, anda? " Ucap salah seorang laki-laki yang paling muda diantar rombongan itu.
" Saya, anak pemilik rumah ini." Jawab kaka ku apa adanya dan orang serombongan itu pun mengangguk-angguk dan tiba-tiba saja salah seorang laki-laki yang cukup tau tapi tidak terlalu tua berbicara tentang tujuan mereka kesitu.
" Ehemm, begini kami... " Jedanya pak tua itu.
Rifri yang paham pun lebih dulu membawa mereka masuk ke rumah,
" Masuk, aja semuanya." Ajak Rifri.
Sesampainya di tempat Abi, Umi dan yah disitu juga ada aku.
Ketika rombongan itu masuk, aku terkejut ketika mendapati salah seorang yang baru kemarin hari aku bertemu dengan nya. Yah, dia laki-laki yang kutemui di kafe. Tapi, apa tujuannya kesini! Apa perkataannya yang kemarin itu benar adanya! Pikiranku saat itu terus-menerus menebak maksud kedatangan rombongan-rombongan itu.
" Silahkan, duduk. Jangan, sungkan-sungkan " Ucap Abi ketika melihat rombongan itu, Abi pasti sudah bisa menebak apa tujuan mereka.
Lalu, semua orang pun duduk, suasa disitu jadi agak gimana ngitu ya. Aku aja, bingung mau bilang kek mana. Hehe
Tiba-tiba, saja laki-laki yang ku temui kemarin sore itu memecahkan keheningan sesaat.
" Ehemm, Pak, Buk. Kedatangan saya dan kelurga saya kesini, bermaksud baik. Saya, dan sekeluarga bukan berasal dari keluarga yang kaya raya, tapi kami Alhamdulillah mampu. Jadi, jika Bapak dan Ibu tidak keberatan, boleh saya meminang anak Bapak dan Ibu? " Ucap orang itu, pliss lah jantung ku sekarang berdetak dengan sangat kencang, aku kaget banget ketika tau klo laki-laki itu benar-benar berani mengaku alasannya.
Mendengar itu, Abi, Umi, dan Abang ku tiba-tiba saja melihat ku. Aku, yang paham hanya menyerahkan nya kepada keluarga ku saja.
" Gak, usah liatin Adek kaya ngitu, Bi, Mi, Bang. Adek, nurutin apa kata Bapak sama Umi aja." Jawab ku.
Karna, Umi dan Abi termasuk Abang tau siapa laki-laki yang melamar itu, wajar keluarga ku tau karna rumah kami hanya beberapa meter sebenarnya jaraknya. Tapi, antara aku dan laki-laki itu yang aku baru tau namanya ternyata Muhammad Bram dan sering dipanggil Bram itu,ternyata cmn kami saja yang tidak saling mengenal. Makanya, sama-sama gak tau rumah kami dimana.
" Hahhahah... Bagus-bagus, lamaran mu kami terimana anak muda." Ucap Abi ku memecahkan ketegangan diantara keluar Bram.
" Alhamdulillah." Ucap semua orang yang ada disitu kecuali aku dan Bram yang hanya diam, tapi sekilas ku liat Bram seperti orang yang kegirangan disitu.
Okeh, deh. Sampai sini habis ceritanya. Karna habis ini cuman nunggu acara nikah dan menjadi sepasang pengantin baru.
Byee 👋
Terimakasih, Salam hangat dari Author.
Wa'alaikumussalam wr. Wb.