Aku dan suamiku saling kenal untuk pertama kalinya lewat sosial media. Awalnya hanya sekedar ingin berteman. Lalu kemudian timbul rasa suka, dan seiring berjalannya waktu kamipun menikah dan kini kami telah dikaruniai seorang anak yg begitu cantik..
>
>
Pada suatu hari aku berkenalan dengan laki-laki yg kini telah menjadi suamiku.. semua bermula dari sepupu laki-lakiku yg memperkenalkan dia kepadaku. Yg dimana dia (suamiku) adalah sahabat baiknya.
Kita berkenalan lewat sosial media (WhatsApp) awalnya hanya dia yg memiliki perasaan terhadapku, aku hanya menganggap itu hanya gombalan belaka.. tetapi dia dengan bgtu gigihnya menunjukkan rasa sukanya terhadapku, akupun mulai luluh dan menerima perasaan.y.. setelah berjalan beberapa bulan, diapun melamarku untuk membuktikan keseriusannya. Akupun tanpa berpikir panjang langsung menerima lamarannya.. 1 bulan setelah lamaran kamipun menikah. Aku sangat bahagia dengan pernikahan ini, aku merasa aku adalah perempuan yg begitu beruntung mendapatkan laki-laki yg begitu menyukaiku.. aku begitu dimanja dan diratukan. Keinginanku selalu dituruti, ditambah dia ga perna mengeluh, sesekali setelah pulang kerja dia selalu membantuku untuk melakukan pekerjaan rumah.. aku sangat bersyukur mendapatkannya.
Setelah 7 bulan berlalu yg aku harap dan aku nantikan kehadiran.y akhirnya terwujudkan. Yah" akupun hamil. Kebahagiaanku semakin lengkap.. aku sangat bersemangat menjalani hari"ku menjadi seorang istri yg bahagia sembari menunggu kelahiran sibuah hati..
Tetapi........😥
Kebahagiaan itu ternyata ga bertahan lama, setelah anak kami lahir. Diapun sedikit mulai berubah. Dia mulai cuek, gampang marah dan jarang berada dirumah. Aku berpikir " Oh, mungkin ini bawaan setelah pertama kali menjadi seorang ayah" .
Tapi kok makin hari makin berubah.. pikiranku mulai dipenuhi dengan banyak pertanyaan?? Apa yg salah denganku? Apa setelah menjadi ibu aku ga cantik lagi dimatanya? Apa karena tubuhku yg ga semulus dulu? Dan masih banyak lagi.
Ditambah aku baru saja menjadi seorang ibu baru, yg dimana aku sangat membutuhkan sosok suami yg mendampingi,mensupport agar aku tetap waras menjalani hariku sebagai ibu baru.
Aku tetap berusaha berpikir positif agar aku tetap bahagia, aku ga ingin anakku merasakan kesedihan yg aku rasakan saat ini..
singkat cerita..
Semua mulai berjalan membaik, dia mulai menemaniku dan ank perempuannya.
Berjalannya waktu tiba-tiba.......
Cobaan mulai datang lagi, yah! Dia mulai cuek dan mengabaikan kami lagi.. aku masih berpikir positif dan terus bertahan dengan tingkahnya yg suka berubah-ubah. "Mungkin ini adalah salah satu cobaan rumahtangga".
Suatu hari aku mulai stress ditambah anak yg lagi sakit, sangat rewel dan hampir seharian nangis.. dan dia (suamiku) hanya asik nongkrong bersama teman-temannya sampai lupa untuk pulang kerumah.
Aku mulai ga bisa mengontrol emosi, kadang kala aku selalu melampiaskan amarahku kepada anak yg tak bersalah ini. Anak perempuanku satu-satunya, setelah amarahku terlampiaskan, akupun duduk menangis sambil menatap wajah mungilnya. Meminta maaf sembari memeluk dan mengecup keningnya atas amarah yg tidak seharusnya aku lampiaskan kepadanya...
" Ohh tuhan, aku mulai lelah dengan semuanya, rasanya aku ga sanggup lagi menjalani hari-hariku ".
.
.
Singkat cerita...
Disuatu hari suamiku pulang kerja dan seharian berada dirumah. Handphone.y ada di kasur, aku ga sengaja lihat 3 pesan masuk. Dimana itu membuat aku penasaran dari siapa pesan itu?? Karena nama kontaknya hanya menggunakan emotikon. Kebetulan suamiku lagi berada dikamar mandi.
Aku masih tetap berpikir positif "mungkin ini salah satu temannya yg jail, jadi ga dikasih nama kontak". Akupun ga membuka pesan itu, tetapi selang beberapa menit pesannya masuk lagi, bukan hanya 1 pesan tapi banyak (ngespam). Aku mulai memberanikan diri untuk membuka pesannya. Karena aku sangat penasaran, ga mungkin temannya ngirim pesan spam sebanyak itu. Mulai muncul pikiran "apa mungkin suamiku selingkuh? Ahh apaansih, ga mungkin,aku harus tetap berpikir positif" (Berbicara sendiri).
Setelah aku membuka pesan......! Aku kagett, rasanya badanku jadi kaku dan mendadak bisu.
Setelah dia keluar dari kamar mandi, aku hanya terdiam, ga mau menanyakan ini semua. Karena aku masih bingung dan ga nyangka. Laki-laki yg dulu meratukanku sekarang menduakanku. Padahal aku baru saja mendapatkan gelar menjadi seorang ibu dan dia baru saja menjadi seorang ayah. Kenapa bisa? Kok dia tega sama aku? Apa yg salah? Ahh rasanya mau nangis, marah dan menghilang dari dunia ini..
Tapi...! bagaimana dengan anakku, gimana jadinya dia tanpaku.. aku harus berusaha kuat demi anak mungil ini. Sebisa mungkin aku harus terlihat bahagia di depannya.. "Ohh anak cantikku (memeluk).
Beriring berjalannya waktu, aku mulai melupakannya, apakah semudah itu? Tentu tidak. Setiap hari aku harus bertarung dengan pikiranku sendiri.. dan yah kini aku hanya fokus ke anak aku agar dia tumbuh menjadi anak yg pintar dan sehat.
>
>
1 tahun berlalu
Akhirnya anak mungilku sudah tumbuh besar, dia sudah mulai bisa berjalan. Dan aku sangat bahagia ketika dia untuk pertama kali memanggilku dengan sebutan "IBU". Seketika aku melupakan kejadian dimasalalu. Berpikir mungkin ini awal kebahagiaanku, aku berharap kebahagiaan ini bertahan lama, klau bisa seterusnya.
Tetapi...!
Huhhh lagi-lagi kebahagiaanku sirna, padahal aku baru saja merasakan kebahagiaan ini..
Semua karena pesan yg lupa dihapus dari sosial media.y (FB).. bermula aku meminjam handphonenya untuk membuka FB.ku, karena aku ada keperluan penting dengan tmnku. Disitu paket dataku baru saja habis, belum sempat beli lagi. Jadi aku meminjam handphonenya.
Dengan berani dia meminjakn.y, sebelum mengeluarkan akunnya aku iseng buka riwayat pesan. Aku menemukan satu nama yg membuat aku penasaran untuk membukanya.. dan benar saja itu adalah selingkuhannya.
Perasaanku takaruan, setelah tau selingkuhannya adalah mantan kekasihnya dimasalalu.. Hatiku begitu hancur😭 aku kirah selingkuhan.y adalah org ketiga dikehidupan kami, ternyata akulah yg org ketiga dikehidupan mereka.
Bertanya-tanya dalam hati, kenapa harus menikah denganku kalau pada akhirnya dia masih mencintai perempuan lain yg tidak lain kekasihnya dahulu.. Apakah dari awal perasaan itu tidak ada?? Kenapa? Disaat aku sudah benar" cinta terhadapnya dia menghianatinya..
Ohh yah ternyata dari awal dia hanya sekedar suka dan penasaran tapi tidak dengan cintanya.
Padahal hati ini bukanlah sebuah permainan, yg bisa dipermainkan seenak hati, luka yg awalnya telah sembuh kembali terbuka lebar.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya tentang semua yg telah aku ketahui, sambil menahan tangis dan amarahku.
Dan yang aku dapatkan bukanlah jawaban jujur dan permintaan maaf, melainkan makian dan amarah yg bgtu besar. Padahal yg seharusnya marah adalah aku. Karena disini akulah korbannya, aku yg dikhianati..
Aku mulai muak dengan semuanya, aku memutuskan untuk berpisah. Agar aku bisa melanjutkan hidupku dengan damai.
*Jangan Mau Bersama Seseorang Yang Belum Benar-benar Selesai Dengan MASALALUNYA*
~END~