Terkurung dalam ingatan dan perasaan membuat diriku semakin hampa dan tersiksa. Tidak ada tempat bagiku untuk mencurahkan semua isi hatiku. Aku hanya bisa terdiam, menatap semu jendela kamar, membayangkan indahnya masa-masa dimana keluargaku masih hidup dan berkumpul, mungkin saja saat ini mereka sedang menghabiskan waktu bersama dengan hidangan besar menyambut hari spesial sebelum natal.
"tok..tok..tok.." suara ketukan kamarku, seperti biasa bibi Marry datang untuk memberiku sarapan sampai makan malam lalu ia pulang kerumah, dan besoknya datang kembali, hanya ia yang aku miliki, pengasuhku sejak bayi.
"aku harap kau memakan sarapanmu" ucap bibi Marry.
"...." Aku hanya diam.
"jangan terlalu bersedih Viona, kejadian itu sudah lewat 20 tahun yang lalu, dan itu kecelakaan...bukan salahmu, kami semua mengetahui itu" bibi Marry khawatir, aku hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata, bibi menghampiriku dan menggenggam pundakku dengan kedua tangannya yg sudah sangat tua sebagai bukti ia selalu berada dipihakku dan menguatkanku.
20 tahun yang lalu saat aku berusia 5tahun, aku mengambil korek milik ayahku, dan aku mencoba untuk menyalakannya, api menyala dan menyambar rambut boneka yg aku gendong, singkat cerita sebagian kamarku sudah dipenuhi api, dan akupun ikut terbakar, kakak-kakakku terjebak di dalam kamar mandi, ibu berusaha menolongku sampai akhrinya ia ikut terbakar dan membawaku kepada bibi Marry lalu ibu lemas dan tak bernyawa, ayah berusaha menolong ke dua kakakku namun api sudah sangat besar dan ayah tertimpa puing-puing rumah yang terbakar. seandainya aku tidak mengambil dan bermain dengan korek itu, seandainya hal itu tidak terjadi, mungkin kami bisa tertawa bahagia bersama saat ini, wajahku memerah, mataku mulai panas dan air mataku mengalir tanpa henti.
"tok...tok.." suara ketukan kaca jendela, aku menolehnya dan aku melihat ada seorang laki-laki yang hampir sebaya namun ia terlihat lebih tua dari ku, mungkin sebaya dengan kakak ke 2 ku Johs, seandainya ia masih hidup.
"...." aku hanya melihatnya dari dalam, dan ia memberiku tanda untuk keluar menghampirinya, aku mengabaikannya, dan lagi-lagi ia memintaku hal yang sama. sebenarnya hal ini sudah berlangsung cukup lama sejak 15 tahun yang lalu, namun aku tidak pernah menggubrisnya, entahlah kali ini aku ingin mencobanya untuk keluar menghampiri dirinya.
"kau ingin kemana?" tanya bibi Marry
"aku ingin keluar menghampirinya" jawabku sambil berjalan.
"siapa???" teriak bibi Marry dari dapur.
"Entahlah, laki-laki itu kembali lagi" jawabku
"jaaangaaaaaan vionaaaa, kembali" teriak bibi Marry sambil berlari, namun tiba-tiba saja pintu tertutup dan terkunci, aku hanya melangkah keluar menuju laki-laki tersebut dan sempat menoleh ke arah rumah, bibi Marry masih menggedor pintu dari dalam dan menangis. Aku tidak bisa menghapiri bibi Marry karena kakiku hanya bisa melangkah ke arah laki-laki itu tanpa menuruti keinginanku untuk bertemu bibi Marry kembali.
"Aku sudah lama menunggumu viona..." ucap laki-laki itu, tersenyum indah dengan wajah tampannya.
"kau siapa?" tanyaku, ia hanya tersenyum sambil mengusap pipiku yang hancur karna luka bakar.
"aku kekasihmu, Jack... yang ikut terbakar di ruang bawah tanah, saat kita sedang bermain" ucapnya sambil memelukku.
"jack..." ucapku perlahan sambil menangis, aku baru ingat saat kejadian itu kami lagi main bersama, aku, peter kk pertamaku, johs kk keduaku dan jack teman kk keduaku johs yang sejak dulu ia selalu bilang kalau nanti ia akan menikahiku. dalam permainan petak umpet, jack menjadi penjaga dan aku serta kakakku menjadi kelinci yang bersembunyi, tapi aku lupa akan permainan itu dan tertarik untuk memainkan korek milik ayahku.
"sudah saatnya kau menerima kenyataanmu viona, bila kau adalah arwah yang terjebak di dalam rumahmu, selama ini aku terus menjemputmu, agar kau tidak kesepian dan tidak menyalahkan dirimu, namun...bibi Marry selalu menghalanginya, karna ia sangat menyayangimu, dan tidak melepaskanmu dalam rumah itu"
"berarti...."
"kau adalah roh viona, jasad mu masih berada di ruang bawah tanah dan selama ini kau koma, karna bibi Marry selalu merawatmu, sudah saatnya kau pergi bersamaku viona" ucapnya sambil menggandeng tanganku dan di ujung sana ada cahaya bersinar serta ada keluargaku yg tengah menunggu. aku sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan keluargaku.
"jack...bisakah aku bertemu bibi Marry untuk berpamitan?" pintaku, wajahnya ragu namun ia mengangguk tersenyum.
ketika ku membuka mata, aku melihat ruangan putih dan banyaknya selang infus juga alat pendeteksi jantung, bibi Marry hanya menangis duduk di sisi ranjangku dan ada beberapa dokter di ruangan ini.
"Vionaaaa....aku hampir gila, aku pikir...aku kehilanganmu vionaaa..." bibi Marry menangis
"aku menyayangimu...bi...bi" mataku terpejam, tidak ada lagi suara denyut jantungku yg terdeteksi, bibi Marry menangis histeris, dokter-dokter panik mencoba menyelamatkanku, namun aku memilih untuk pergi bersama jack yg menungguku di pintu ruangan ini dan kembali kepada keluargaku.
Aku akan selalu menyayangimu dan mengawasimu bibi Marry.....
Aku
-Viona-