Nama ku Akhtar Ardhani. Yang berarti Bintang suci. Tapi berbanding terbalik dengan kisah hidup yang kujalani, aku seorang yatim piatu dari lahir. Kata pengurus panti, aku ditemukan di dalam kardus dengan sepucuk surat. Surat itu berisi bahwa orang tuaku belum siap untuk merawat ku. Hahaha... lucu sekali, Ibu dan Ayahku yang belum siap jadi orang tua, mengapa aku yang harus menanggung semua beban derita hidup?
Setelah tamat SMA, aku memutuskan bekerja sebagai tukang kasir di toko buku yang gajinya lumayan banyak. Aku yang hanya tamatan SMA kenapa bisa di terima dengan mudah di saat seseorang banyak yang ingin mendapatkan posisi ini?. Gampang saja, karena aku tampan dan postur tubuh ku sempurna. Jadi jangan heran.
Hidup sangat membosankan, mengapa aku mengatakan itu?. Siapa juga yang tidak akan bosan tinggal sendirian dan bekerja banting tulang setiap hari demi sesuap nasi?. Semenjak menjadi kasir, setiap hari toko ini ramai di penuhi pelanggan yang datang untuk melihat tampang ku, dan puluhan surat cinta ku terima setiap saat, ajakan kencan bertebaran dimana-mana. Risih, jengkel, menyebalkan. Itulah hari-hari ku yang membosankan sebelum bertemu dengan 'Gadis ini'
𝐃𝐞𝐬𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫, 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟓𝟒
"Permisi"
Hah, ya tuhan. Sekarang apa lagi, aku hanya ingin pulang dan beristirahat. Aku mengabaikan suara perempuan yang lirih terdengar dan melanjutkan perjalanan. Aku berjalan lebih cepat lagi. Tapi sepertinya, gadis itu tak menyerah. Aku masih mendengar suara langkah kakinya mendekati ku.
"Permisi, tuan"
Aku akhirnya menghentikan langkah
"Ada apa Nona?" Ucapku dengan senyum. Sebenarnya di dalam hatiku sedang emosi, tapi aku ini kan tukang kasir. Kesabaran ku sudah terlatih. Soal emosi, belakangan.
"Maaf mengganggu anda Tuan. Saat saya hendak melewati toko buku disana, tuan menjatuhkan dompet ini. Jadi saya mengejar anda dengan niat mengembalikannya"
Aku merogoh kantong ku. Benar saja, ternyata dompet ku tak ada. Aku melirik gadis yang memakai kemeja putih dan rok lipat hitam itu. Sepertinya gadis itu pekerja kantoran.
"Saya sangat ceroboh ternyata. Terimakasih atas kebaikan Nona yang berniat mengembalikan dompet saya. Saya berencana ingin langsung membelikan uang yang ada di dompet ini untuk makan malam"
Aku mengambil dompet itu dengan malu-malu kucing dan mengajak basa basi. Aku telah salah paham dengan gadis berambut gelombang itu, kupikir dia ingin memberikan semacam surat cinta atau mengajakku kencan.
Gadis itu tersenyum "Lain kali Tuan harus berhati-hati. Jika bukan saya yang menemukan dompet anda. Mungkin Tuan tidak dapat makan malam hari ini"
Senyuman nya ramah, tapi perkataannya begitu tegas.
"Jika Nona tak berat hati. Apakah Nona bisa memberitahukan nama Nona yang begitu berharga kepada saya?. Saya akan memberi tahu nama saya terlebih dahulu, nama saya Akhtar Ardhani" lirihku
"Wulan Ayu Kencana" setelah menyebutkan namanya. Dia langsung pergi.
Itulah pertemuan pertama kami. Sejak saat itu, dia yang tak pernah kulihat di toko buku. Menjadi sering menyinggahi toko buku ku dan terkadang kami berbincang-bincang.
Hari demi hari berlalu tak sangka kami jadi begitu dekat. Aku semakin tahu banyak tentang dirinya. Cara dia berbicara, tersenyum, tertawa, sedih, marah dan sosok dirinya yang sesungguhnya. Suaranya lembut tapi tak terdengar lemah, tubuhnya kecil tapi terlihat kuat dan tegar. Membuat ku jatuh cinta untuk pertama kalinya.
𝐌𝐞𝐢, 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟓𝟓
"Wulan, saya sebenarnya ingin menjadikan kamu kekasihku. Saya tahu Wulan akan menolaknya. Saya yang hanya seorang kasir dan kamu seorang gadis anak orang kaya. Saya sadar diri bahwa saya tak pantas"
Aku sungguh tidak tahu malu, beraninya menyatakan cinta kepada gadis anggun seperti mu. Kita memiliki kasta yang jauh berbeda. Kau gadis orang kaya, sedangku yang seorang rakyat biasa. Lantas, mengapa aku tetap nekat mencintaimu Wulan?. Meski penolakan adalah jawabanmu, tapi aku ingin tetap mencobanya.
"Akhtar, apa kau tahu. Saya juga sudah lama menyimpan rasa suka di dalam hati ini untuk Akhtar. Tapi saya tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya"
Aku sontak tersenyum lebar dengan pernyataannya. Jadi seharusnya pernyataan cinta ku di terima kan?.
"Terimakasih Wulan. Aku janji akan membahagiakan diri mu"
"Tapi Akhtar, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku yakin jika aku mengatakan ini, kau tidak akan menyukai ku lagi" wajah sedih terpaut di wajah Wulan.
"Wulan ku, aku akan selalu mencintaimu apapun yang terjadi".
Wulan tiba-tiba memelukku dengan erat. Menangis di dekapan ku. Aku mengelus rambutnya sembari menenangkannya.
"Wulan cintaku. Jika kau terus menangis seperti ini, hatiku semakin perih melihatnya. Apa yang membuat mu menangis".
"Aku, aku ini sebenarnya sudah lama mengidap penyakit Hipotensi akut. Aku divonis dengan sisa hidup 1 tahun saja. Aku ini hanya perempuan sakit-sakitan yang akan meninggal, mengapa kau menyukai ku Akhtar. Tapi meskipun begitu, aku mencintaimu, aku ingin bersamamu, tapi aku akan segera meninggal Akhtar..." Wulan menangis terisak-isak.
Seperti petir di siang bolong. Mengapa aku baru mengetahui gadis yang kucintai ternyata menderita penyakit akut?. Perasaan ku bercampur aduk menjadi satu, antara sedih dan kecewa.
Aku memeluknya dengan erat
"Wulan, maaf karena selama ini aku tak tahu seberapa menderita nya kau menanggung sakit itu. Mulai sekarang aku akan selalu bersama mu, menemani mu, tidak peduli jika ajal yang akan menjemput. Aku Akhtar Ardhani berjanji akan selalu berada di sampingmu"
Entah sejak kapan rasa cintaku menjadi sebesar ini. Tidak peduli apapun yang terjadi. Maupun tentang penyakit mu, atau kau yang akan segera di jemput ajal. Aku tidak bisa tidak mencintai mu. Perasaan cinta ini sudah kekal untukmu.
Mulai dari itu kami menjadi sepasang kekasih. Aku selalu berusaha untuk membuat Wulan bahagia. Senyumannya, tawanya, membuatku semakin candu ketika melihat dirinya. Apakah aku egois jika meminta pada Tuhan untuk tidak mengambil gadis ku yang malang ini.
Biarkan aku lebih banyak melihat berbagai hal tentang dirimu. Apa yang kau sukai, apa yang kau benci, apa yang membuat mu sedih, marah. Tunjukkan semuanya padaku, agar aku dapat menjadi seorang lelaki sempurna di matamu. Sehingga kau tidak mencari seseorang lagi selain aku.
𝐒𝐞𝐩𝐭𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫, 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟓𝟓
Setiap hari, aku menjemput Wulan di depan kantornya. Agar aku bisa mengantarnya hingga ke rumahnya. Wulan bekerja di kantor ayahnya yang seorang konglomerat di kota ku. Tapi meski ayahnya mapan dan tajir. Wulan selalu berpenampilan sederhana.
Aku samar-samar melihat Wulan keluar dari kantor sambil berlari ke arahku lalu memeluk ku.
"Aku merindukanmu Akhtar" Gadis itu berbisik di telinga ku.
Gadis ini adalah ujian terberat ku. Aku sangat ingin memakannya karena dia selalu menggoda ku. Tapi aku tidak akan menyentuhnya sekarang. Karena aku mencintainya menggunakan perasaan bukan nafsu.
"Aku juga merindukanmu. Bagaimana harimu hari ini?".
Tanyaku sambil menggandeng tangannya. Dan berjalan pergi.
"Hari ini aku, bla bla...".
Aku suka melihatnya berbicara. Karena saat dia berbicara, aku bisa melihat ekspresi wajahnya. Aku ingin lebih banyak melihat ekspresi nya yang lain.
"Mengapa kau melihatku seperti itu".
"Karena kau cantik".
Wulan langsung menutupi mukanya, sepertinya ia malu. Hahaha.. aku paling suka ekspresi tersipu nya, seperti anak kucing. Membuatku semakin ingin merayunya.
Aku mengecup kening nya yang tertutup poni tipis "Wulan ku manis sekali yah"
"AKHTAR! Berhenti menggodaku" Wulan berlari menjauhi ku. Tentu saja aku dapat dengan mudah mengejar nya, langkahnya begitu kecil saat berlari.
"Maaf, aku tidak akan seperti itu lagi. Masalahnya kau sangat imut" aku memeluk perutnya dari belakang agar dia tak kabur terlalu jauh. Wulan mengerutkan alisnya, pertanda dia sedang marah. Aku juga menyukai ekspresi marahnya, karena lucu. Apalagi di saat ia mengomeli ku. Hehe...
"Maaf Wulan cantik".
Akhirnya amarah nya reda dan kami melanjutkan perjalanan. Saat berjalan, aku melihat beberapa mobil berlalu lalang di jalan raya. Andaikan saja aku juga punya mobil, mungkin Wulan tidak akan terlalu lelah karena setiap hari harus berjalan kaki menuju rumahnya. Aku sungguh tak berguna sebagai kekasihnya.
Jika suatu hari nanti ia memilih orang lain dan bukan aku. Aku baik-baik saja asal dirinya bahagia.
"Maaf karena aku bukan orang kaya. Jadi kita harus berjalan kaki setiap hari seperti ini, kau pasti lelah bersama ku. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku" ucapku lirih dengan nada putus asa.
Sedetik setelah aku mengatakan itu. Wulan menghentikan langkahnya.
"Apa yang kau bicarakan Akhtar? Akhtar sayangku, lihat aku" Wulan memegang wajahku dengan kedua tangannya yang lembut itu, membuatku menatap wajah khawatirnya.
"Jangan katakan itu lagi. Aku tidak akan meninggalkan mu, aku mencintaimu, aku kekasihmu Akhtar. Jangan katakan itu lagi kumohon. Tidak peduli kau bukan orang kaya, aku akan tetap menjadi bunga hati mu".
"Tapi.."
"Ssttt, jangan bicara lagi. Lagi pula, aku lebih suka jalan kaki, karena saat jalan kaki, aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu ku dengan mu" Wulan tersenyum hangat.
Inilah alasan ku sangat mencintainya. Dia yang lembut dan selalu menyemangati ku. Wulan tidak pernah menuntut ku banyak hal. Aku bersyukur memiliki Wulan di sisiku.
Di balik jiwanya yang dewasa itu. Dia terkadang bersikap seperti anak-anak. Dan terkadang ia begitu rapuh, saking rapuhnya, ia hanya dapat menangis di pelukanku. Ini membuatku senang, karena dia hanya butuh aku. Aku berharap dia hanya membutuhkan ku seorang.
𝐍𝐨𝐯𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫, 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟓𝟓
Ah hujan, apakah Akhtar sedang menunggu ku di luar kantor? Aku harus cepat menyelesaikan tugas agar tidak membuatnya menunggu lama. Hehe, dia pasti senang karena aku pulang cepat sekarang.
Aku berjalan menuju pintu keluar kantor.
"Lihat, pria itu datang lagi. Setiap hari dia datang ke sini untuk apa?. Tapi sungguh, mengapa wajah Tuan itu tampan sekali yah, badannya juga sangat bagus tampaknya. Sungguh beruntung sekali gadis yang dapat menjadi kekasihnya".
"Benar, rupawan sekali wajah pria itu. Dia datang ke kantor ini untuk menjemput Wulan. Si Wulan anak bos Raden itu loh".
Semenjak aku menjadi kekasih Akhtar, kami setiap hari tanpa absen selalu menjadi bahan pembicaraan khalayak ramai. Aku jadi kasihan pada Akhtar. Karena aku, dia harus jadi bahan gosip orang-orang di kantorku.
"Haha, Wulan adalah gadisnya?. Tidak masuk akal, gadis penyakitan seperti Wulan?. Heh, dia saja akan segera mati, mengapa malah sibuk berpacaran".
Aku menghentikan langkah, tak sengaja mendengar perkataan mereka. Hatiku nyut-nyut rasanya. Kupikir, hinaan seperti itu membuatku terbiasa. Ternyata belum, aku harus cepat menemui Akhtar.
Aku mempercepat langkah.
"Semoga Wulan cepat mati. Supaya aku bisa mendekati lelaki itu. Meski hanya tukang kasir, tidak apa-apa lah. Yang penting tampan".
Aku menghentikan langkahku sekali lagi. Aku selalu heran mengapa mereka selalu jahat padaku, rasanya aku bernafas aja salah. Semua orang selalu mendoakan aku mati. Meskipun begitu, aku tidak apa-apa jika mereka menghinaku. Tapi jangan hina Akhtar, jangan rendah kan dia. Dia tak salah, aku yang salah karena menyeret nya ke sini.
"Hei, apa anda yakin saya akan mati?. Dan lantas jika saya mati. Apakah Akhtar ingin bersama anda?".
Ini pertama kalinya aku melawan penghinaan mereka
"Wah. Gadis ini sudah mulai berani rupanya".
Gadis itu mendekati ku, melayangkan satu pukulan yang mungkin tepat mendarat di wajahku. Hais, sepertinya aku akan ditampar lagi. Tak apalah, sekarang ilmu tubuh ku lumayan kuat, kalau menerima satu pukulan saja mungkin tak apa.
Aku membuka mat. Tapi setibanya mataku kubuka, kulihat Akhtar di depanku sambil menghalangi tamparan perempuan itu.
"Apakah kalian sesama wanita memang menggunakan kekerasan seperti ini?".
Ucapnya dengan nada datar, baru kali ini aku melihatnya marah.
"Cih, tukang kasir sok mau menjadi pahlawan. Kenapa?, Apa kau tak senang karena aku akan melukai gadismu?. Kalau kau berani, coba tampar aku juga haha..."
Ukkh, aku harus keluar dari kantor ini. Ini hanya mampu ke rumah salah
"Akhtar".
Aku berniat mengajaknya keluar. Tapi tiba-tiba dia memegang tanganku dan tanganku digerakkan oleh Akhtar untuk menampar pipi perempuan itu dengan kerasnya.
"Aku tidak memukul seorang perempuan. Tapi Wulan perempuan kan, jadi dia bisa".
Setelah mengatakan itu, Akhtar menggandeng ku sambil berlari menerobos hujan dengan sebuah payung hitam di tangannya.
"Jangan dengarkan perempuan tadi. Hmm, apa kau sudah makan? Sudah minum obat? Mau aku belikan coklat? Kalau suasana hati Wulan sedang tidak bagus, ia pasti suka makan coklat iya kan".
"Akhtar, akan lebih baik jika kau membiarkan perempuan itu menampar ku. Aku tidak ingin menambah masalah lagi. Masalahku sudah banyak".
Lebih tepatnya, aku tidak ingin membuat Akhtar terlibat. Aku sudah cukup merepotkan nya.
Akhtar mengelus pipi ku
"Jika perempuan tadi menamparmu, kau akan terluka".
Hah, terluka? Terdengar lucu sekali, baru kali ini ada seseorang yang mengkhawatirkan ku. Kebaikan hatinya membuatku semakin tidak percaya diri. Mengapa lelaki setempat ini menyukai gadis penyakitan sepertiku?
"Akhtar, mengapa kau mencintaiku?".
Akhtar hanya diam
"Jawab aku Akhtar!! Aku selalu bertanya-tanya, mengapa kau mencintaiku. Apa kau melakukan semua itu karena kasihan dengan ku? Aku sadar aku ini penuh kekurangan. Aku penyakitan, aku perempuan lemah, aku tidak begitu cantik. Lantas hal apa lagi yang engkau suka dari ku?".
Tidak.. Seharusnya aku tidak menumpahkan isi hatiku pada Akhtar, bagaimana jika dia membenciku ? Atau menelantarkan aku? Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Akhtar, tapi aku ingin mendapatkan jawabannya yang jelas. Aku tidak ingin memaksa kehadiran seseorang hanya untuk keegoisan ku. Meskipun aku mencintainya, aku tidak akan memaksanya berada di sisiku. Karena aku mencintainya
Akhtar tiba-tiba menggendongku dengan satu tangan tanpa melepas payung yang ada di genggaman nya. Iaa mendekati salah satu kursi beratap di taman, duduk dan dengan mudahnya ia mengangkat ku di pahanya. Membuatku duduk menyamping di pangkuan nya.
"Mengapa tanganmu sedingin ini?".
Akhtar menggosok tanganku untuk menghangatkan nya. Meskipun aku marah. Ia tidak akan pernah membalas amarah ku dengan marah juga. Tapi sebaliknya, ia akan membalas dengan sikap lembutnya. Aku benci ini. Setiap tindakan tulus yang ia berikan membuatku semakin terjerumus dalam cintanya. Aku tidak ingin mencintainya sedalam ini. Karena jika suatu hari kami berpisah, maka hatiku tidak akan terlalu sakit
Aku hanya menangis air mata jatuh membasahi pipi, aku tak sanggup memikirkan perpisahan kami satu hari nanti.
"Wulan, mengapa engkau menangis permata ku. Jangan menangis sayang".
Akhtar menyeka air mataku.
"Tadi kau bertanya mengapa aku mencintaimu kan. Aku akan menjawabnya".
Iya mendekati telingaku sambil berbisik pelan
"Aku ini seorang pasien, dan obatku adalah kamu. Dan obat itu membuatku kecanduan".
Ucapannya membuat jantungku berdebar. Tidak sampai di situ, ia meraih tanganku, menempelkan tanganku di dadanya. Aku dapat merasakan detak jantungnya yang berdebar-debar
"Aku mencintaimu sampai rasanya jantung ku ingin meledak".
Hujan turun membasahi tanah. Bulan menyembunyikan cahayanya dibalik awan. Hamparan dinginnya malam menusuk sampai ke tulang, aku tidak memiliki pilihan selain mencintai pria ini.
"Ayo kita menikah. Aku akan melamar mu".
Menikah? Aku tidak pernah berpikir sampai di situ.
"Apa kau yakin?".
"Tentu saja, aku akan melakukan apapun untuk bersamamu Wulan sayangku".
Akhtar menyindir kan kepalanya di bahu. Aku mengelus rambutnya dengan pelan. Bodohnya diriku meragukan cinta Akhtar. Padahal aku tahu seberapa tulus dia.
Tuhan semesta alam. Kumohon dengarkan doaku, biarkan aku meraih kebahagiaan bersama makhluk ciptaan mu ini. Ku mohon jangan ambil aku, sebelum aku membahagiakan orang yang sangat ku sayangi ini.
"Aku mencintaimu Akhtar, tetaplah bersamaku".
𝐃𝐞𝐬𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫, 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟓𝟓
Aku datang ke rumah Wulan untuk melamarnya sesuai janjiku.
"Jadi, maksud kedatangan saya ke rumah Bapak. Adalah saya berniat meminang Wulan sebagai istri saya. Saya memohon restu Bapak untuk menerima lamaran saya ini".
Aku berbicara dengan sopan, berharap beliau akan menerima lamaran ku.
"Wulan?, Wulan anak saya kah?" Pak Raden bertanya padaku dengan heran. Sambil menatap sinis Wulan.
"Ya, saya ingin menikahi Wulan".
"Oh terserah saja" Pak Raden langsung beranjak dari duduknya, meninggalkan aku dan Wulan. Sebenernya apa yang terjadi di sini. Mengapa ayah Wulan bahkan tidak peduli dengan kami?
"Pak, kalau bisa. Apakah bapak bisa menjadi wali pernikahan kami" tanyaku.
Pak Raden berbalik ke arah kami. Dan melirik sinis Wulan "Wulan, aku tidak akan menjadi wali mu. Ku tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk pernikahan mu. Kau dari dulu hanya menjadi beban keluarga ini. Dan sekarang datang-datang ingin menikah dengan tukang kasir? BODOH!!"
"Pak-" sebelum sempat berucap lagi. Ucapan ku di potong oleh Wulan.
"Tuan Raden yang agung. Saya minta maaf jika selama ini saya menyusahkan keluarga anda. Saya selalu berusaha membalas utang budi saya kepada anda. Dan kali ini, pernikahan saya tidak akan butuh bantuan anda. Dan saya tidak akan menginjakkan kaki saya di rumah anda lagi".
"Dasar anak tak tahu diri. Mulai sekarang, kau bukan lagi anakku. MULAI SEKARANG, AKU TAK MEMILIKI ANAK YANG BERNAMA WULAN AYU KENCANA".
Wulan hanya tersenyum, dan menarikku keluar dari rumah megahnya. Sejujurnya ada banyak hal yang ingin ku tanyakan. Aku tidak tahu, kalau hubungan Wulan dan keluarganya sekacau itu.
Wulan tiba-tiba memeluk ku "Akhtar, terimakasih telah mengeluarkan aku dari neraka itu. Ayo kita buat surga yang di mana hanya ada kita" ia tersenyum dengan sangat cantik. Membuatku terlena untuk kesekian kalinya.
"Apapun untukmu".
Aku akhirnya menikahi Wulan. Rasa bahagia kami benar-benar tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata. Dari sekian banyaknya ujian yang menghantam kami. Akhirnya aku berhasil menikahi gadis ku.
Kami melewati gelombang kehidupan bersama-sama. Aku yang selalu terpuruk dan sangat putus asa akan kehidupan. Tapi di sisi lain ada Wulan di samping ku. Aku menjadi lebih kuat dan yakin, jika bersama Wulan Istri ku.
𝐉𝐮𝐧𝐢, 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟓𝟔
"Sayang, aku ada kabar bahagia".
Aku berlari menghampiri istriku.
"Iya, ada apa. Mengapa kau sangat terburu-buru?"
"Aku punya dua kabar. Yang pertama, bos tempat aku bekerja meninggal dunia. Lalu yang kedua".
"Benarkah, turut berdukacita. Yang kedua apa?. Kau membuatku penasaran".
"Aku diangkat menjadi bos di tempat kerjaku!!. Karena beliau tak memiliki penerus. Beliau akhirnya mengangkat ku sebagai bos di surat wasiatnya".
"Apa? Selamat sayang" wulan memelukku dengan hangat.
"Nak, kamu lihat deh. Ayah mu hebat sekali yah" Wulan mengusap-usap perutnya.
Ya, Wulan mengandung anak pertama kami. Sekarang rasanya keluarga kecil ku akan lengkap dengan kehadiran buah hati.
𝐅𝐞𝐛𝐫𝐮𝐚𝐫𝐢, 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟓𝟕
Wulan melahirkan anak pertama kami berjenis kelamin laki-laki. Aku sangat bahagia, penantian panjang kami akhirnya terwujud. Sekarang aku sudah resmi menjadi seorang ayah.
Tapi aku sangat terpukul, karena setelah melahirkan. Wulan di nyatakan koma. Wulan mengalami kelelahan di tambah dengan sakit yang di deritanya. Ketakutan yang ku bayangkan terjadi. Aku hanya bisa berdoa pada tuhan agar semuanya baik-baik saja.
Beberapa bulan kemudian, Wulan dinyatakan sembuh. Aku sungguh bersyukur atas hal itu, kami masih bisa merawat buah hati kami berdua.
Semenjak komanya Wulan. Aku tak mengizinkan dia untuk bekerja terlalu berat. Aku yang menggantikannya memasak, mencuci, dan pekerjaan rumah lainnya. Lebih baik aku bekerja lebih daripada harus mendapati Wulan sakit lagi.
Kami menamai anak kami Febrian. Aku merawat Febrian dengan segenap hati ku, apalagi bersama dengan wanita yang ku cintai. Tidak ada lagi yang ku inginkan selain ini. Cukup dengan anakku dan istriku tercinta, dunia ku sudah cukup.
𝐉𝐮𝐥𝐢, 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟔𝟗
Lagi-lagi kesehatan Wulan menurun. Tapi kali ini kondisinya sangat parah di banding sebelum-sebelumnya. Aku sampai harus menginap di rumah sakit. Aku sering begadang untuk memastikan Wulan baik-baik saja. Kondisi Wulan sangat membuatku sedih. Hari demi hari ia menjadi lebih kurus, ia jadi pucat. Meskipun sudah 14 tahun pernikahan kami. Di mataku, Wulan adalah wanita paling cantik yang pernah ku temui. Kecantikan nya akan tetap sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya.
"Akhtar" Aku mendengar suara Wulan yang sangat pelan. Aku yang sedang lesehan di lantai, buru-buru mendekati Wulan.
"Iya sayang ada apa. Apa ada yang sakit, perlu ku panggilkan dokter?".
Wulan memegang tanganku "Akhtar, maaf karena aku sudah menyusahkan mu. Sampai sekarang aku tak bisa membuat mu bahagia. Aku hanya menjadi beban mu dengan penyakit ku".
"Tidak tidak, Wulan sayang. Jangan berkata begitu. Kau tidak pernah membebaniku sayang. Intinya sekarang kau harus sehat. Kesehatanmu adalah yang utama".
"Aku sudah tak kuat. Ini menyakitkan"
Perkataan Wulan membuatku menangis "Kumohon Wulan, bertahan lah. Demi aku, setidaknya demi anak kita".
Wulan mengelus rambut ku "Setelah aku tiada, carilah wanita lain yang dapat membuatmu bahagia yah".
"Tidak akan! Aku sudah berjanji padamu, aku akan selalu bersamamu!".
"Akhtar ku. Bintang suci ku yang indah. Sekali lagi aku minta maaf. Maaf karena jika selama ini aku terlalu banyak meminta permintaan padamu. Maaf jika selama ini aku belum membuatmu bahagia. Tapi ini adalah permintaan ku yang terakhir. Tolong jaga anak kita baik-baik. Terimakasih atas segalanya. Akhtar Ardhani, tetap akan menjadi cinta pertama dan terakhir bagi Wulan Ayu Kencana"
Setelah mengatakan itu, Wulan tersenyum padaku. Tanpa kusadari, itu adalah senyuman terakhir darinya yang takkan pernah kulihat lagi untuk selama-lamanya.
𝐌𝐞𝐢, 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟏𝟗𝟖𝟐
Aku Febrian, Anak dari ayah Akhtar dan ibu Wulan. Ibu adalah orang yang sangat baik, beliau itu adalah orang yang sangat dicintai oleh ayah. Ayah dapat melakukan apapun demi ibu. Tapi semenjak kepergian ibu, ayah merawatku seorang diri. Dan aku juga terkadang merindukan ibu. Tapi di sisi lain, aku juga merasa kasihan dengan ayah yang merawatku seorang diri. Jadi aku sering meminta ayah untuk menikah lagi agar ayah tak kewalahan menghadapi semuanya sendirian.
Aku pernah bertanya kepada ayah.
"Mengapa ayah tak menikah lagi?".
Padahal ayah itu ganteng. Jadi tak mungkin tak ada yang mau dengan ayah. Ayah ku hanya menjawab
"Orang seperti ibumu, hanya ada satu di dunia"
Aku tidak mengerti mengapa ayah begitu mencintai ibu sampai sebegitu nya. Apakah perasaan cinta dapat mengubah segalanya? Mengapa? Aku juga mencintai ibu tapi, cintaku tak sebesar punya ayah
Setiap pagi, ayah akan menatap foto ibu berjam-jam lamanya. Dan jika beliau merindukan ibu, ayah akan membaca buku hariannya yang berisikan semua hal tentang ibu. Ayah bahkan hampir setiap hari membaca buku hariannya yang sangat tebal itu. Dan setiap membaca buku hariannya, beliau pasti akan menangis. Aku tidak pernah membaca buku harian ayah karena ayah melarang ku
Dan pada tahun ini, tahun 1982. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Aku sangat terpukul dengan kepergian ayah satu-satunya keluargaku. Tapi di sisi lain, aku berharap ayah bahagia bersama ibu di sana.
Aku memasuki kamar ayah, foto-foto kami terpanjang di mana-mana. Aku melihat mainan-mainan yang sering ku mainkan saat masih kecil dulu. Piala piala, piagam serta tropi ayah yang dipajang di meja kerjanya. Dan ketika aku membukaa lemari pakaian ayah. Aku melihat pakaian serta perhiasan ibu masih tersusun rapi di sana, semua pakaian yang pernah ibu kenakan ada di lemari itu
Pandanganku terallihkan pada buku tuan dan lapuk serta tebal berwarna merah tergeletak di atas meja. Dan benar, itu adalah buku harian ayah buku yang selalu ingin aku baca.
Ketika membuka buku itu kalimat pertama yang kubaca adalah..
'Kata Terakhir Cinta'
'Dari Akhtar Ardhani Untuk Wulan Ayu Kencana'
Tanggal 29 tahun 1954
Kulihat gadis berambut panjang bergelombang dengan tas hitam di tangannya. Kemeja putih, rok lipid panjang. Ia hendak mengambilkan dompetku yang tak sengaja ku jatuhkan. Wulan Ayu Kencana. Tidak akan ku lupa nama itu
Tanggal 16 Mei Tahun 1955
Hari berlalu, tapi perasaanku padamu tak kunjung pupus. Aku menyatakan cinta kepadanya, berharap engkau tahu yang sebenarnya tentang perasaan ini. Meskipun aku tak pantas bersanding denganmu. Aku akan tetap berusaha
Terimakasih telah menerima lelaki penuh kekurangan seperti ku. Aku janji akan membuatmu bahagia karena telah memilihku. Wulan kekasihku
Tanggal 2 Agustus 1955
Apa yang lebih baik dari senyumanmu itu hmm? Akan kurelakan semuanya untuk melihat wajah cantikmu yang seindah rembulan malam tapi juga sejelita bintang di angkasa serta seelok cahaya senja.
Tanggal 1 Januari 1956
Aku berhasil menjadikanmu untuk diriku seorang. Aku menikah dengannya di atas semua penderitaan yang pernah kita lalui bersama. Terimakasih atas keputusan mu yang tidak menyesal menikahi pria ini.
Tanggal 31 Desember 1956
Tidak peduli apa kata dunia. Kita ditakdirkan untuk satu sama lain. Tidak masalah apa kata orang-orang. Kita ditakdirkan untuk bersama. Jadi, mari kita abaikan dunia. Hanya ada aku, dan kamu.
Tanggal 23 Februari 1957
Terimakasih telah melahirkan anak kita di dunia ini meski harus mempertaruhkan nyawamu yang sangat berharga sayang. Oleh karena itu, tetaplah sehat dan kita harus bahagia bersama anak kita...
Tanggal 29 Oktober 1959
Wulan sayang, aku bekerja keras siang dan malam demi membuatmu dan anak kita bahagia. Demi melihat senyumanmu yang indah itu. Jadi, jangan sakit, jangan sedih, jangan putus asa permata ku. Aku ada di sini untukmu.
Tanggal 8 Oktober 1961
Aku mencintaimu bahkan jika kau adalah satu-satunya harapanku yang tersisa.
Tanggal 17 November 1968
Terimakasih karena terus hidup hingga saat ini
Tanggal 20 Juli 1969
Kau pergi meninggalkan ku sendirian di dunia ini. Mengapa? Mengapa di saat kau di jemput sang pencipta alam kau masih harus tersenyum padaku? Apa itu hal terakhir yang ingin kau tinggalkan untukku? Apa aku tak cukup baik untuk menyembuhkanmu? Maaf, aku tak bisa melupakanmu.
Tanggal 3 Februari 1972
Hampa, sepi, hitam putih. Semenjak kepergian mu, aku selalu merasa dunia tak lagi memiliki warna. Tidak seperti saat mau masih bernafas. Saat itu, dunia terasa lebih indah
Tanggal 12 Maret 1976
Aku rindu padamu..
Tanggal 15 Maret 1978
Aku rindu...
Aku membaca setiap penggalan kata dari tinta hitam yang penuh arti disetiap kalimatnya. Tidak terasa ternyata air mataku jatuh membasahi buku yang ku baca. Aku tidak menyangka ayah semenderita itu atas kepergian ibu. Aku tidak tahu kalau ibu seberarti itu bagi ayah. Perjuangan mereka, cinta kasih mereka. Membuatku merinding membaca setiap bait-bait ini.
Dilihat dari tanggal yang dicatat oleh ayah. Sepertinya ayah menulis setiap momen serta isi hatinya yang berkaitan dengan ibu. Tak ayal jika buku ini berkisar 200 lebih lembar saking banyaknya.
Aku mengelap air mataku, membuka lembar terakhir dari buku itu yang ternyata hanya ada satu lembar saja di sana
Tanggal 11 April 1982
Setiap duka dan suka yang kita buat, aku menulis momen itu dalam buku ini, setiap momen yang terjadi akan menjadi kenangan di buku ini. Setiap pertemuan kita, sedih dan senangnya kit, saat kita menikah, saat kita dikaruniai Febrian. Setiap kejadian itu pula aku menulis semuanya di sini.
Aku rindu teramat sangat padamu. Patah hati terbesar ku adalah kehilanganmu.
Semenjak bertahun-tahun lamanya kau meninggalkanku, kau pikir aku dapat melupakanmu dengan mudahnya? Aku menyayangi anak kita, tidak membiarkannya sakit, memberinya kebahagiaan semampuku
Wulan, apa kau tahu, anak kita selalu menyuruhku menikah lagi. Tapi aku selalu menolaknya, karena aku mencintaimu sayang. Tidak akan ada perempuan di hidupku selain kamu.
Wulan, aku sudah memenuhi permintaan terakhirmu, aku sudah
menepati janjiku untuk selalu bersamamu. Jadi tolong jangan membuatku menderita lebih lama lagi
Aku setiap hari menatap fotomu dan membuka kembali buku harian ini, membuatku teringat kembali perjalanan hidup kita yang sangat berharga bagiku.
Wulan permataku , cinta ku. Sampai akhir aku akan tetap mencintaimu, meskipun dunia berakhir, cinta ini tidak akan berhenti untukmu. Jadi, biarlah ajal menjadi sandaran pelabuhan terakhir cintaku padamu, di dunia ini.
Itulah tulisan terakhir yang ditulis oleh ayahku. Kata-katanya sungguh membuatku terharu. Tapi semakin ku perhatikan, semakin ada kejanggalan di sini. Ayahku meninggal di tanggal 12 april 1982 dan tulisan terakhir di buku hariannya adalah tanggal 11 april 1982
Sedetik kemudian aku terdiam membantu berpikir sejenak dan dan akhirnya aku hanya menghela nafas.
"Ayah, kau bahkan tak takut dengan ajal demi menemui cintamu. Aku kagum dengan cinta kalian"
Aku meletakkan buku itu kembali di tempatnya dengan pelan
"Tenang saja ayah. Kisah mu abadi dalam buku harian mu yang berjudul 'Kata Terakhir Cinta'".
Kata Terakhir Cinta The End
Penulis : Deeyaa