Aku hanyalah seorang mahasiswi biasa, tak memiliki kehidupan yang berlika-liku. Yah... seperti kehidupan pada dasarnya. Hingga pertemuanku dengan pacarku itu, membawaku masuk kedalam dunia yang aku sendiri tidak percaya.
***
Awalnya aku tak percaya, bahwa pacarku itu bukanlah manusia, hampir tak terbayang di kepalaku akan hal itu. Tidak, hingga aku menyaksikan hal itu dengan mata kepalaku sendiri.
"Krauk... Krauk... Krauk..."
Takku percaya, bahwa pacarku yang selama ini terlihat dingin diluar dan hangat jika adalah seorang 'Ghoul'. Makhluk mitologi yang dipercayai suka memakan daging manusia.
"Ughh"
Sekujur tubuhnya yang bersimbah darah. Hampir ku rasa bahwa itu bukan dirinya lagi, melainkan seorang monster yang sedang dipenuhi hawa nafsu.
Hatiku yang terasa sesak dan sakit, merasa tak terima akan kenyataan yang pahit ini. Sosok laki laki itu menengokkan badannya kearahku. Aku hanya bisa terdiam dan menatapnya dengan ketakutan.
Tubuhku yang bergemetar, bahkan kakiku yang tak kuat untuk menopang tubuhku. Ia hanya berdiri dan terdiam di tempatnya, tatapan matanya yang sedih, aku melihat itu.
Ingin rasanya ku memeluknya, namun rasa takut masih menyelimutiku. Bukan takut untuk dimakan, ataupun aku membencinya. Aku hanya takut bahwa ia akan menjauh dariku.
"Elaina" Ia memanggil namaku dengan lembut.
Perlahan aku memberanikan diriku. Aku bangkit dan berjalan mendekatinya. Walau takut, aku akan melawannya.
"Brukk..."
Sosok laki laki yang ku kenal dingin, dan yang sekarang terlihat ganas itu menjatuhkan tubuhnya kedalam pangkuanku. Aku hanya terdiam dan terisak, lalu memeluknya dengan erat berharap ia tak akan pergi.
Malam yang indah dengan di selimuti cahaya dari rembulan, membuatku merasa nyaman. Walau tubuhnya yang bersimbah darah, namun aku lega karena pada akhirnya aku mengetahui dirinya.
"Maaf" Satu kata yang ia ucapkan membuatku berlinang air mata.
Entah apa yang terjadi, mataku menjadi berat dan serasa mengantuk. Aku tak tahan, dan pada akhirnya tertidur dalam pelukannya. Entah ini karena aku merasa sedih namun juga bahagia, atau ada sesuatu.
Pagi itu, aku terbangun dari tidurku. Aku terkejut, apakah dia yang mengantarkanku pulang kerumah? Tapi mengapa?
Aku beranjak dari tidurku, dan berjalan menuju ruang makan. Sesampainya di sana, aku duduk termenung, ayahku yang sedang membaca koran, dan ibuku yang sedang menyiapkan sarapan.
Banyak pertanyaan yang ingin ku ajukan, aku pun bertanya kepada orang tuaku.
"Mah, Pah, semalem yang anterin aku pulang itu Adamson?" Tanyaku dengan ragu-ragu.
Namun, ekspresi kedua orang tuaku berbeda dari yang ku harapkan.
"Adamson siapa kak? semalem yang anterin kamu pulang itu Fany" Jelas mamaku sambil meletakkannya piring makan di depan meja makanku.
"Adamson itu lho mah, pacar aku" Jelasku.
"Pacar siapa? Kamu kan belum pernah pacaran kak. Haduh... pasti kamu sering baca komik atau main game apalah itu namanya" jelas mamaku sambil menatapku dengan tatapan yang aneh.
Aku sendiri pun merasa aneh, kemarin Fany sedang absen karena sakit, bagaimana mungkin dia mengantarku pulang?! Entah apa yang terjadi, aku terburu-buru pergi ke kampus dan menanyakan kepada Fany, sahabatku.
"Fan, kamu tau kan pacarku itu, yang namanya Adamson?" Tanyaku kepadanya. Namun, sekali lagi firasat buruk datang padaku.
"Adamson siapa, Len?" Tanyanya dengan keheranannya.
Entah apa yang terjadi, saat itu aku terkejut bukan main. Mengapa semua orang tak mengenal dengannya. Apa yang terjadi?! Aku memukul pipiku berkali-kali dan berharap ini hanyalah mimpi.
Hari itu, aku merasa aneh.
***
Duduk di samping jendela dan membaca buku, adalah hal yang selalu kulakukan si setiap malam. Masih tak percaya akan hal yang terjadi hari ini. Di dalam renunganku, tiba-tiba se-kelibat bayangan lewat di depan mataku.
Aku pun meloncat dari jendela kamarku dan berusaha untuk mengejar sosok itu, karena aku percaya dia adalah orang yang ku kenal.
"Huft... Huft..." Sosok itu berlari begitu cepat, aku hampir tertinggal dengannya.
"Haduh, dia dimana sih? Larinya kok cepet banget" Keluhku dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Elaina"
Suara yang tak terasa asing itu terdengar di telingaku. Suara orang yang membuatku merasa nyaman disampingnya. Ya... dia adalah 'pacarku', Adamson. Lebih tepatnya pacar Ghoulku.
Aku berusaha untuk berjalan mendekatinya, namun semakin aku mendekatinya, semakin menjauh pula dia dariku. Yang kulakukan hanyalah tetap berdiri di tempatku, dan melihatnya dari jauh, padahal ingin sekali ku memeluknya.
"Maaf, aku telah membuatku melihat semua ini, dan membawamu kedalam hidupku." Ucapnya dengan nada lirih serta raut muka penuh menyesalan.
"Hah? Apa maksudku? Aku merasa gak apa-apa kok, walau kamu 'Ghoul' atau semacamnya." Aku semakin heran akan perkataan yang ia ucapkan.
"Aku... Maaf" Ucapnya sekali lagi dengan nada sedih.
Ia lalu berjalan mendekatiku dan aku hanya bisa terdiam. Ia pun menjatuhkan dirinya lagi kedalam pelukanku, dan memelukku dengan erat. Sesekali aku membalas pelukannya.
Ia menciumku. Ciumannya, serta bibirnya yang terasa begitu lembut, aku hanya bisa berdiri dan membalas ciumannya. Detak jantungnya yang begitu cepat terdengar olehku, serta tubuhku yang mulai terangsang olehnya.
Giginya yang tajam itu mengigit bibirku, aku yang tak bisa berbuat apa apa, ataupun membalasnya. Tenagaku hilang dibuat olehnya.
"Ughh"
"Umm"
Aroma tubuhnya yang terasa familiar menyelimuti diriku. Bukan aroma minyak wangi sebotol ataupun pewangi. Tapi, aroma tubuhnya itu lah membuatku terasa nyaman.
Perlahan kesadaranku mulai hilang dibuatnya. Aku pun menyerahkan tubuhku kepadanya dan menutup mataku.
***
[The End]
Terimakasih telah membacanya, jangan lupa berikan dukungannya kepada Thor, Ya!!!
Silahkan komen jika merasa janggal pada alurnya, kritikan dan komen kalian sangat membantuku.
Arigatou Minna~
Lisaa Lisaya