Arti Cinta
Kau pernah mengajariku akan arti cinta, mengenalkanku pada arti kebahagiaan. Kau membuatku terus melayang dalam setiap anganku tentang cinta. Membuatku hanyut dalam arus kian yang menyesatkanku.
Kata manismu mampu membutakan mataku untuk melihat kenyataan. Kenyataan yang sesungguhnya tak semanis mimpi yang kau berikan.
Kau membalikan semua keadaan dalam waktu yang singkat. Sebuah luka yang begitu dalam kau torehkan di hatiku. Luka yang tak akan pernah sembuh meski, kau mencoba tuk menyembuhkannya. Dalam seketika cinta itu lenyap.
Dan saat manusia tak lagi mengerti akan arti sebuah cinta yang sesungguhnya. Dia tak akan mampu merasakan kehadirannya. Karena hanya mereka yang mengerti arti cinta, yang mampu merasakannya.
****
Sesa Damayanti seorang mahasiswi, parasnya yang cantik membuatnya menjadi idola bagi kaum Adam. Namun, hanya ada satu lelaki yang mampu meluluhkan sang idola kampus itu. Dia adalah Abi, seorang mahasiswa di jurusan bebeda dengannya. Namun, seorang dosen yang memiliki wajah yang membuat gila para kaum Hawa, diam-diam juga memiliki rasa untuk mahasiswinya.
Awalnya tak ada rasa di hati Randi, ia selalu menganggap Sesa adalah mahasiswi yang pintar. Begitu juga Sesa, baginya Randi adalah sosok dosen yang gaul. Randi bisa bergaul dengan para muridnya. Ia pun terkenal dengan jukukan dosen tampan. Ya, hampir semua mahasiswi di sana berlomba-lomba mendekati dosen tampan itu.
Jantung Randi selalu berdegup kencang saat bersama salah satu wanita. Seorang mahasiswi yang tak perlu mengikuti cara-cara gila teman-temannya untuk mendapatkan perhatian darinya. Hanya dengan senyumnya saja itu sudah membuat dosen tampan itu jatuh hati.
Dalam diam Randi mulai mengagumi Sesa, rasa yang kian hari bertambah subur itu ia pendam dalam hati. Ia tak tahu bagaiamana harus mengungkapkannya? Ia takut, bahkan sangat takut, jika Sesa akan menolaknya karena ia tahu, siapa gadis itu. Banyak pemuda yang berlomba-lomba mengejarnya, dan yang ia tahu gadis cantik itu telah menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa di kampus sebelah, Abimanyu namanya. Randi hanya cukup menjadi pengagum rahasia Sesa.
***
Hubungan Sesa dan Abimanyu terjalin sudah sangat lama, tahun ini mereka merayakan Aniversary ke -3. Hubungan itu pun sudah melangkah terlalu jauh. Dengan mengatasnamakan cinta Sesa memberikn kesucianya sebagai lambang cintanya pada sang kekasih. Sahabat terdekatnya Mira, sudah memperingatkan agar Sesa tak gegabah dalam mengambil keputusan. Namun, semua sarannya di tentang. Sesa dengan bangga mengucapkan jika Abi panggilan sayangnya pada sang kekasih, tidak akan pernah meninggalkannya.
"Sayang ... kau mencintaiku kan?" tanya Sesa sambil bergelanyut manja di lengan Abi.
"Apa kau tak percaya? Kau meragukanku?" jawab Abi sedikit kecewa.
"Bukan itu maksudku ... aku takut jika suatu hari kau akan meninggalkanku," ucap Sesa sedih.
"Jangan pernah berpikir seperti itu. Aku mencintaimu, dan tidak akan meninggalkanmu," ucapnya, ia pin memeluk wanita yang ia cintai.
Sesa pun merasa lega dengan jawaban Abi. Ia berharap jika ucapan kekasihnya itu benar-benar serius, secara ia telah memberikan seluruh jiwa raganya hanya demi nama cinta. Namun, semua ucapan Abi berbalik seratus delapan puluh derajad saat mendengar kabar yang tak ingin ia dengar.
****
Sesa menahan nafasnya saat melihat dua tanda merah yang terlihat jelas di alat yang berada di tangannya. Tulangnya seakan melunak, sampai tak mampu menopang berat tubuhnya. Sebulir air pun menerobos keluar dari ujung matanya.
"Aku hamil? Mamah, Papah maafkan aku," ucap Sesa penuh penyesalan.
Ia mengelus perut ratanya, air matanya pun terus mengalir membasahi wajahnya. Ia terduduk di lantai kamar mandi, ia tak memperdulikan bajunya yang basah karena guyuran shower yang sengaja ia nyalakan. Hatinya merasa sangat bersalah karena telah melakukan hal yang pasti akan membuat kedua orang tuanya kecewa. Dengan kehamilannya ia telah memusnahkan impian kedua orang tuanya yang menginginkan putri mereka sukses.
Sesa keluar dari kamar mandi setelah mengganti bajunya, di raihanya ponsel yang berada di atas nakas. Ia pun mencoba menghubungi kekasihnya Abi, ia ingin memberitahukan kabar yang entah baik atau tidak bagi Abi.
"Halo, sayang apa kita bisa bertemu?" tanya Sesa memastikan.
"Ada apa sayang, baiklah ... kita bertemu di tempat biasa," jawab Abi yang membuat Sesa merasa lega.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk Sesa sampai di lokasi di mana sering mereka datangi. Sesa berdiri menunggu kedatangan Abi, ia terus menatap jam di pergelangan tangannya. Perasaaanya mulai tak enak, ia takut jika Abi tak mau menerima kehamilannya. Sesa mendongakan wajahnya saat Abi sampai di sana.
"Ada masalah apa sayang? Kenapa kau mengajak bertemu sepagi ini?" ucap Abi cemas.
"Apa kau mau berjanji jika kau tidak akan meninggalkanku?" pinta Sesa.
Sesa sangat takut jika Abi tak menginginkan anak yang berada dalam kandungannya itu.
"Aku janji, apa yang ingin kau katakan?" ujar Abi seraya menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Aku hamil."
Tiada angin tiada hujan, tetapi Abi seperti terkena sambarn petir. Ia terpaku mendengar kabar yang seharusnya membahagiakan itu, tetapi justru menjadi kabar yang buruk baginya. Wajahnya seketika pucat, otaknya pun tak bisa berpikir dengan jernih. Yang ada di pikirannya adalah menolak kehamilan itu. Ia masih ingin menyelesaikan kuliahnya, dan ia juga tak mau jika kedua orang tuanya mengetahui kabar yang pasti akan membuatnya di usir dari rumah.
"Gugurkan kandunganmu!" ucap Abi spontan.
"Kau gila! Aku tidak mau!" tolak Sesa dengan isak tangis.
"Lalu apa maumu? Kau minta aku bertanggung jawab? Aku tidak mau Sesa! Aku masih ingin melanjutkan kuliahku," ujar Abi dengan nada meninggi.
PLAK!
Sesa melayangkan sebuah tamparan ke pipi Abi. Dia pikir lelaki yang ada di hadapannya itu benar-benar mencintainya, tetapi pemikirannya salah.
"Apa yang kita lakukan adalah sebuah dosa besar, dan kau mau menyuruhku melakukan dosa lagi hah! Mungkin aku bukanlah wanita yang baik, tapi aku manusia yang masih mempunyai hati, jadi jangan pernah kau menyuruhku menggugurkan kandungan ini. Sekalipun kau tak mau bertanggung jawab aku akan tetap mempertahankannya!" ujar Sesa pebuh amarah.
"Terserah!" ucap Abi sambil berlalu pergi. Meninggalkan Sesa begitu saja.
****
"Sial! Kenapa dia bisa hamil? Kalau aku mbiarkannya begitu saja itu sangat berbahaya. Dia bisa menemui orang tuaku, tidak ... ini tidak boleh terjadi," ucap Abi sambil melajukan mobil kembali menuju tempat di mana ia meninggalkan Sesa.
Abi menghentikan mobilnya di pinggir jalan saat melihat kekasihnya yang sedang berjalan di sana. Dengan segera ia turun dari mobil dan mengajak Sesa untuk ikut dengannya. Tanpa rasa curiga Sesa mau mengikutinya.
"Kita mau mau kemana? tanya Sesa yang mulai curiga.
"Diamlah, sebentar lagi kita sampai," jawab Abi datar.
Perasaan Sesa pun mulai tak tenang. Ia mencium hal yang buruk akan terjadi, tetapi ia masih menampik pikiran itu. Mobil pun berhenti di sebuah rumah yang tak terlalu besar dan jaraknya lumayan jauh dari pemukiman warga. Abi menuntun Sesa memasuki rumah itu, di sana mereka di sambut dengan ramah oleh pemilik rumah.
"Silakhan masuk nak!" wanita paruh baya itu mempersilahkan mereka nt masuk.
Sesa mengikuti langkah Abi yang berjalan di depannya. Namun, Sesa menghentikan langkahnya ketika melihat isi ruangan itu. Sebuah ranjang lengkap dengan peralatan medis tertata rapi di sana. Ia pun tahu kenapa Abi mengajaknya ke sana. Tempat itu bukan tempat untuk memeriksakan kandungannya, melainkan untuk menggugurkannya. Sesa berlari untuk kabur dari sana, beruntung pintu utama belum di kunci sehingga memudahkan Sesa meninggalkan tempat itu.
Sesa berlari sekencang-kencangnya, ia tak mau jika harus kehilangan calon anaknya. Meski semua adalah akibat dari kesalahannya. Abi berlari mengejar kekasihnya itu, dan sampai di sebuah kebun warga Abi berhasil menangkap Sesa.
"Kau mau kemana hah!" bentak Abi yang sedang di kuasai amarah.
"Lepas! Kau bukan manusia, aku tidak akan membiarkanmu menghabisi calon anakku!" ujar Sesa dengan lantang.
PLAK!
Abi mendaratkan sebuah tamparan di pipi mulus Sesa, bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Hinga sudut bibir Sesa pun mengeluarkan darah. Namun Sesa masih tetap berusaha melawan Abi dengan mencakar wajah lelaki itu. Emosi dengan ulah Sesa Abi meninju perut Sesa, tubuh Sesa pun tersungkur di tanah. Tak hanya itu Abi juga kembali berusaha meninju lagi perut Sesa, ia pikir dengan cara itu kandungan Seaa akan keguguran. Sesa terus berusaha melindungi perutnya dengan melawan keganasan Abi, tanpa sengaja Sesa menemukan sebuah botol tepat di belakangnya. Tanpa ragu Sesa langsung memukulkan botol itu ke kepala Abi yang membuatnya tersungkur ke tanah dengan kepala yang penuh darah. Sesa pun tak mau melewatkan kesempatan emas itu, dengan sisa-sisa tenangannya ia berusaha berlari mencari pertolongan.
Meski luka di kepalanya lumayan parah, tetapi Abi masih bisa mengejar Sesa. Ia menyeret kekaihnya itu sampai ke tempat wanita yang siap menggugurkan kandungan Sesa itu. Namun Sesa kembali menyerang Abi sebelum memasuki gerbang, ia mengigit lengan Abi yang mencengkeramnya begitu kuat. Karena terkejut, Abi pun melepaskan lengan Sesa. Ia kembali berlari mencari tempat untuk bersembunyi, Sesa menahan rasa sakit yang ia rasakan di perutnya. Ia hanya berdoa semoga Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menebus semua dosa yang telah ia lakukan, dengan merawat dan membesarkan anaknya kelak.
"Tuhan ... selamatkanlah kami," doa itu yang ia panjatkan selama berlari.
Sesa berhenti saat perutnya terasa lebih sakit dari sebelumnya, ia pun mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Sesa masuk ke sebuah mobil truk yang kebetulan sedang membongkar muatan di sebuah gudang. Abi menghentikan langkahnya, karena lokasi sudah memasuki pemukiman warga. Ia tak mau di keroyok warga sekitar, Abi pun memilih kembali ke tempat semula.
Sementara Sesa masih berjuang dengan rasa sakit yang kian menyiksanya. Namun, ia tetap membungkam mulutnya. Ia tak mau jika Abi menemukannya. Truk itu pun melaju meninggalkan tempat itu, di lokasi berikutnya kernet truk kembali turun untuk menurunkan muatan di gudang berikutnya. Namun, ia terkejut karena mendapati seorang wanita yang meringkuk di sela-sela barang. Ia pun berteriak memanggil supir.
"Pak, coba lihat ini ada wanita!" teriaknya yang membuat si supir turun dan ikut mengecek.
"Astaghfirullah ... dia masih hidup, Jo. Ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" ajak supir pada kernetnya Jojo.
"Ayo pak!"
Mereka langsung menuju rumah sakit terdekat, sesampainya di sana supir berlari menuju IGD. Ia melaporkan jika ada seorang wanita yang terluka parah berada di dalam truk yang ia bawa. Ia juga meminta pihak rumah sakit nelaporkannya ke Polisi, ia tak mau jika mereka di sangka sebagai pelaku yang membuat wanita itu terluka.
Beberapa perawat pun menghampiri truk, dengan sangat hati-hati mereka memindahkan tubuh Sesa ke brangkar. Dengan segera perawat membawa Sesa yang sudah tak berdaya menuju ke IGD. Dari kejuhan seorang lelaki memperhatikan wanita yang terbaring lemas di brangakar. Ia pun berlari mendekat dan memastikan jika wanita itu bukanlah orang yang ia kenal. Tapi saat ia mendekat, nafasnya seperti tersangkut di tenggorokannya. Ia tak percaya jika wanita itu adalah Sesa, wanita pujaannya.
"Maaf, apa yang terjadi dengan wanita ini?" tanya lelaki itu yang ternyata Randi, sang dosen yang menjadi pengagum rahasia Sesa.
"Kami tidak tahu, permisi," jawab perawat itu yang dengan segera mendorong berangkar masuk ke IGD.
Dokter segera menanggani keadaan Sesa yang semakin memburuk. Mereka terkejut saat melakukan serangkaian pemeriksaan, karena hasil USG, menunjukan jika wanita yang tengah di tangani mereka sedang hamil. Dan sungguh sebuah keajaiban, dengan luka yang di perut Sesa bayi itu masih baik-baik saja.
Randi masih menunggu di depan ruang pemeriksaan Sesa. Tak lama Dokter keluar dan menghampirinya.
"Maaf, apa Anda adalah keluarga pasien?" tanya Dokter.
"Ya, saya keluarganya, Dok," jawab Randi berbohong.
"Kalau begitu mari ikut saya ke ruangan!" ajak Dokter.
Randi pun mengikuti langkah Dokter yang memasuki ruang kerjanya. Di sana Dokter menjelaskan tentang keadaan Sesa. Dan Dokter pun menjelaskan jika keadaan Sesa saat ini baik-baik saja. Namun, dari hasil pemeriksaan ada dugaan jika Sesa adalah korban dari orang yang ingin melenyapkan mereka.
Randi mengeryitkan keningnya saat mendengar kata mereka, "Mereka? Siapa yang Anda maksud dengan mereka, Dok?"
"Maaf, dari hasil USG mbak Sesa di nyatakan hamil. Usia kandungannya memasuki dua bulan. Namun, ini sungguh sebuah keajaiban karena janin yang ada di rahimnya bisa baik-baik saja," jelas Dokter panjang lebar.
Randi terduduk di kursi, hatinya terasa sakit mendengar penjelasan Dokter. Ia tak bisa membayangkan bagaiamana Sesa berjuang untuk menyelamatkan kandungannya dari serangan orang yang belum di ketahui. Namun, Randi langsung mencurigai Abi. Ia pun langsung permisi meninggalkan ruangan Dokter, dan juga ia segera menghubungi Polisi dan melaporkan semua yang di alami Sesa.
****
Abi tengah beristirahat di kamarnya, ia juga sedang memikirkan bagaimana caranya agar bisa menyelesaikan masalah ini. Namun, tiba-tiba beberapa orang berseragam Polisi masuk ke kamarnya.
"Jangan bergerak! Saudara Abi, kami menahanmu, dan ini surat penangkapanmu!" beritahu Polisi sambil memborgol pergelangan Abi.
"Apa salahku!" ujar Abi membela diri.
"Kami akan jelaskan di kantor," jawab mereka. Abi pun pasrah saat Polisi membawanya.
****
Sesa membuka matanya saat cahaya sang mentari menerpa wakah cantiknya. Siluet seorang lelaki pun nampak di depannya, ia mengucek matanya beberapa kali untuk melihat siapa lelaki itu?
Randi yang melihat Sesa sudah sadar mendekat, tetapi Sesa seperti ketakutan. Rendi pun lebih mendekat untuk menenangkan Sesa.
"Tenanglah, ini aku Randi."
Sesa mendongakan wajahnya, ia pun menatap wajah Randi. Dan akhirnya ia pun tenang kembali.
"Apa yang terjadi?" tanya Randi lembut.
"Abi, dia yang melakukan semua ini. Dia ingin bayi yang ku kandung bisa lenyap. Tapi aku berhasil menyelamatkannya," tangis Sesa pecah saat mengingat betapa kejamnya Abi padanya
Randi memberanikan diri mendekat dan mendekap Sesa yang memang sangat membutuhkan sandaran. Tak ada penolakan dari Sesa, wanita itu malah semakin menangis di pelukan Randi.
"Aku takut, Papah dan Mamah pasti akan sangat membenciku. Tapi aku tidak mau menggugurkan kandunganku," terang Sesa yang masih menangis.
"Tenanglah ... pasti ada jalan keluarnya," bujuk Randi, agar Sesa lebih tenang.
"Apa? Nama baik keluargaku akan tercemar dengan kehamilanku. Dan siapa orang yang akan mau menerimaku dalam keadan begini? Bagimana aku bisa tenang untuk menghadapi semua ini! Aku memang bodoh! Percaya dengan janji manisnya yang pada akhirnya menjatuhkanku ke jurang."
"Semua akan baik-baik saja. Dan masih ada yang mau menerima keadaanmu Sesa," ujar Randi dengan anda yang sangat lembut.
"Siapa?" Sesa melepaskan pelukan Randi.
"Aku, jika kau mengizinkan aku siap menikahimu sekarang juga. Dan asal kau tahu selama ini akulah pemuja rahasiamu. Aku mencintaimu sudah dari lama Sesa. Jadi aku akan menerimamu dengan senang hati," ucap Randi yang langsung membuat Sesa bungkam.
Sesa hanya terpaku mendengar jawaban Randi sang Dosen. Ia sama sekali tak menyangka jika Dosennya itu menaruh hati padanya. Melihat ekspresi tidak nyaman yang di tunjukan Sesa, Randi memilih untuk keluar kamar.
****
Sudah satu bulan semenjak kejadian memilukan itu Sesa tinggal di sebuah rumah kost. Abi juga telah resmi mendekam di penjara. Karena bukti-bukti yang di berikan Randi sangat memberatkannya. Sementara Sesa masih berpikir bagimana ia menghadapi kedua orang tuanya, ia pun bingung karena semakin hari perutnya semakin membuncit.
"Apa aku terima saja tawaran pak Randi? Akh ... tapi masa iya? Apa tawaran itu masih berlaku? Ya Tuhan, ampuni aku atas dosa yang telah ku lakukan, berikanlah aku jalan keluar dari masalah ini," ucapnya lirih.
"Tawaran itu masih berlaku."
Sesa membalikan badan saat mendengar suara yang tak asing baginya. Di lihatnya sang Dosen sedang bersandar pada daun pintu di depan kamar kostnya.
"Apa Anda serius?" tanya Sesa hati-hati.
"Ya, aku sudah bilang aku mencintaimu Sesa. Soal perasaanmu biar waktu yang akan menjawab, aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Dan maukan kau menikah denganku?" ucap Randi layaknya lelaki yang sedang melamar kekasihnya.
Sesa menitikan air matanya karena terharu dengan sikap Randi. Semua ini yang ia harapkan keluar dari mulut Abi, tetapi semuanya tidak sesuai dengan harpannya. Ia mengangguk sebagai jawaban atas lamaran Randi. Dari sini Sesa sadar jika cinta yang tulus itu tidak perlu mengorbankan apapun untuk membuktikannya. Karena cinta yang tulus tak pernah meminta syarat apapun.
End